Semangat Rock!
KISUTA.com - Dua puluh tahun lalu, ketika industri dan panggung rock dunia sedang ”metal-metalnya”, Indonesia mendapat kehormatan kedatangan tamu istimewa, Metallica. Grup
thrash metal paling berpengaruh dan berada di puncak kejayaannya itu menggelar konser tur dunianya di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, dua malam berturut-turut, 10-11 April 1993.
Konser bertajuk ”Nowhere Else to Roam” yang menghadirkan perangkat sound 400.000 watt dan pencahayaan 500.000 watt itu memang luar biasa. Sekitar 100.000 penonton bertemu dengan Lars Ulrich, James Hetfield, Kirk Hammett, dan Jason Newsted pada saat yang tepat --ketika mereka merajai musik metal yang menglobal.
Saat itu, Metallica benar-benar membakar Jakarta. Membakar dalam arti sebenarnya. Saking membeludaknya penonton, kerusuhan pun meledak pada hari pertama. Sedikitnya 58 mobil dibakar, 88 orang ditangkap, tak kurang dari 60 orang luka-luka, dan seorang penonton ditemukan tewas di luar arena konser. Tapi, itu dulu. Sekarang, situasi dan kondisinya tentu saja jauh berbeda. Jadi, tak perlu ada kekhwatiran ”Tragedi Lebak Bulus” akan terulang dalam konser Metallica, malam nanti, di Gelora Bung Karno Jakarta.
Rock memang unik dan sangat dinamis. Sejak tahun 1950-an, genre ini terus berkembang menjadi berbagai subgenre, seperti soft rock, glam rock, heavy metal, hard rock, progressive rock, dan punk rock, yang mencuat sepanjang dekade 1970 hingga 1980-an. Pada dekade 1980-an muncul new wave, hardcore punk, dan alternative rock. Pada tahun 1990-an rock tampil dengan rasa baru; grunge, britpop, indie rock, dan nu metal.
Meski dinamika rock begitu tinggi, apa pun kemasannya, bagaimanapun sentuhannya, rock tetap memiliki karakter, yakni keras. Elemen utamanya, yakni vokal, gitar, drum, dan bas bersatu dalam harmoni dengan beat yang kuat dan tegas. Distorsi suara juga kerap menjadi penanda musik rock, namun tetap dalam komposisi yang terjaga dan melodius.
Dengan karakternya yang khas, rock mampu melintasi generasi bahkan kerap muncul sebagai penanda zaman. Ingat dengan slogan ”Love Not War”? Slogan yang lahir pada dekade 1960-an itu tetap dipakai sebagai ikon antiperang dan antikekerasan hingga sekarang. Seruan damai itu merupakan ”perlawanan” terhadap kebijakan politik destruktif, yakni perang, yang pada kurun waktu 1960-hingga pertengahan 1980-an dilakukan oleh banyak negara.
Perlawanan itu dilancarkan oleh generasi legendaris yang dikenal dengan sebutan Flower Generation (Generasi Bunga). Mereka tak hanya yang hidup di belahan dunia barat, tapi juga di seantero dunia, mengusung bentuk perlawanan terhadap isu rasial, perang dingin dua kekuatan militer dunia, dan ancaman perang nuklir melalui aktivitas budaya, utamanya musik rock.
Kekuatan perlawanan terhadap aksi kekeran dan peperangan itu bertemu dan bersatu dalam konser musik rock Woodstock di New York, 15-18 Agustus 1969. Pergelaran musik itu diikuti musisi yang sekarang menjadi legenda dan pengaruhnya sangat kuat dalam perkembangan musik rock selanjutnya, antara lain Santana, The Grateful Dead, CCR, The Who, Jhonny Winter, dan Edgar Winter, Janis Joplin, dan pastinya sang dewa gitar Jimi Hendrix. Woodstock kemudian masuk dalam ”50 Moments That Changed the History”.
Pengaruh musik, khususnya rock, memang kuat. Rock, paling tidak semangatnya, kerap hadir dalam beberapa peristiwa besar dan bersejarah. Saat tembok besar yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur runtuh awal 1990-an, Pink Floyd melalui album The Wall, hadir dan memberi inspirasi bagi pergerakan penyatuan Jerman itu. Demikian pula saat pergerakan buruh, Solidaritas pimpinan Lech Walesa, di Polandia yang berhasil mengakhiri kekuasaan rezim militer Polandia. Atau, Scorpion dengan ”Wind of Changes”, yang mengawal sistem keterbukaan di Uni Soviet melalui gerakan Perestroyka atau Glasnost.
Dalam isu kemanusiaan, musik rock juga hadir untuk menyemangati upaya-upaya perubahan dan perbaikan kondisi. Konser Live Aids 1985, misalnya, berhasil menggerakkan kepedulian serta menghimpun potensi bantuan dunia untuk penangulangan tragedi kemanusiaan di Afrika. Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa besar yang mengubah tatanan dunia dan rock hadir sebagai dorongan semangat.
Tidak salah apa yang dikatakan Bono. Frontman U2 itu mengatakan, ”Music can change the world because it can change people (musik bisa mengubah dunia karena musik mengubah orang)”. Nah, bagaimana dengan kita sendiri? Sangat banyak persoalan mendasar di negeri ini, mulai dari kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, merajalelanya korupsi, dll. Para pemimpin negeri ini tampaknya harus lebih sering mendengar musik rock agar semangatnya lebih terpacu untuk melakukan perbaikan.
Saya jadi teringat dengan ucapan Jokowi ketika masih menjadi gubernur DKI. Dalam buku biografinya Jokowi: Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker yang ditulis Yon Thayrun, mantan Wali Kota Solo itu antara lain berkata, ”Rock adalah genre musik yang cocok bagi pemimpin... Di situ ada lirik yang mendobrak, memberi semangat. Jadi, kalau pemimpin itu suka lagu yang selalu mellow, gimana ya?” Yeahh...***


