Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Wicitrawirya Seda

Jumat, 18 Desember 2015

KISUTA.com - Menyambut kehadiran para putri Kashi, Praja Hastinapura dihias bak kahyangan Suralaya. Ibu Suri Satyawati sendiri yang memimpin penyambutan. Beliau sangat berbahagia, membayangkan putranya Prabu Wicitrawirya akan segera bersanding dengan putri-putri cantik, dan tercapailah cita-citanya menurunkan raja-raja besar Kerajaan Hastinapura.

Prabu Wicitrawirya menyambut calon istrinya di singgasana istana yang berlapis emas, ketampanan sang Prabu dan megahnya pengambutan membuat kedua putri Kashi itu terhibur hatinya dari duka kehilangan ayundanya yang tewas tragis, dan kekecewaan tidak jadi bersanding dengan Dewabrata yang gagah dan tampan.

Perkawinan Prabu Wicitrawirya dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika berlangsung mewah dan meriah 7 hari 7 malam. Rakyat Hastinapura mengagumi kecantikan para putri Kashi itu yang kelihatan serasi dengan ketampanan rajanya. Segenap tamu undangan memaklumi bahwa pasangan raja dan permaisuri ini kelak pasti akan menurunkan putra putri yang elok dengan ketampanan dan kecantikan mereka.

Berjalannya waktu, harapan seperti menguap bersama panasnya sang Surya, tak lama setelah perhelatan perkawinan, Prabu Wicitrawirya gering. Puluhan Brahmana, Resi dan Tabib yang diundang untuk mengatasi penyakit sang Prabu tidak ada yang sanggup menyembuhkannya. Makin lama tubuh sang Prabu makin kurus dan lemah. Tepat satu purnama setelah perkawinannya Prabu Wicitrawirya mangkat, tanpa sempat bulan madu.

Praja Hastinapura dilanda duka, Ibu Suri Satyawati pucat pasi mengalami duka berkepanjangan ini. Dengan sedu sedan yang tak kunjung usai, dipanggilnya Dewabrata anak tirinya.

Satyawati: Raden...hhh..maafkan ibu nak...tampaknya azab atas keserakahanku mulai menampar hidupku....setelah kematian sudarmamu yang mengenaskan karena beban malu dan derita pada keputusanmu...disusul kematian adikmu Citragada...sekarang adikmu Wicitrawiryapun pergi untuk selama-lamanya...hick..hick....hicks..Oooh Dewabrata, ternyata aku tidak bisa memaksakan keinginanku terturuti semua...duuh raden, batalkan sumpah wadatmu....kawinilah janda-2 adikmu...ibu ikhlas raden...

Dewabrata: Ibu Satyawati...sudahlah, pahamilah kejadian ini sebagai lelaku yang harus kita jalani....mungkin bukan azab untukmu ibu...baru peringatan agar kita punya waktu untuk menyadari kesalahan kita...

Satyawati: Dewabrata...duh anakku ngger, mengapa mataku buta tidak melihat kemuliaan bathinmu...tidak Nak...ibu sadar sekarang, tahta Hastinapura ini memang hakmu...sudahlah Nak, batalkan sumpah wadatmu. Baktimu pada ibu dan almarhum ayahmu, sudah cukup menjadi bukti, engkau Dewabrata...memang ksatria utama...engkau pantas menjadi kekasih dewa...dan ..dan.. walaupun hanya menjadi ibu tirimu...a..aku bangga padamu anakku...

(Pecah sedu sedan Satyawati, dengan penuh hormat dan kasih sayang ...Dewabrata merengkuh pundak ibu tirinya, dibiarkannya ibu tirinya menangis dibahunya. Sapanya lembut)

Dewabrata: Ibu...jangan buat anakmu ini menjadi ksatria yang ingkar janji...ketika ananda sumpah wadat, bumi dan angkasa menjadi saksi...aku tidak akan melanggarnya ibu. Lagipula ibu, awal sumpah wadatku adalah keinginan tulus untuk mengantarkan cita-citamu memiliki keturunan raja-2 besar....Ibu, hentikan tangismu...mari berfikir lebih jernih...bukankah sebelum menjadi istri ayahanda Santanu, Ibu sudah berputra yayi Abyasa dari Resi Parasara ?....tenangkan hatimu ibu...mengapa tidak Ibu minta yayi Abyasa menikahi janda-janda yayi Wicitrawirya ?....bukankah dengan demikian, keturunannya yang akan bertahta di Hastinapura tetaplah keturunanmu Ibu?

(Mata Satyawati yang indah terbelalak...tidak disangkanya Dewabrata tetap teguh dengan sumpahnya, dan kini menawarkan jalan keluar yang masih memberi ruang pada cita-citanya. Satyawati memeluk erat anak tirinya sebagai tanda terima kasih...katanya terbata-bata)

Satyawati: Aah raden..betapa mulia hatimu...kalau demikian masih bolehkah ibumu yang tak tahu diri ini meminta bantuanmu....Pergilah ke Wukir Retawu, ajaklah Abyasa ke sini, dan utarakan maksud kita tadi, agar putri-putri Kashi ini bisa segera memberikan keturunan bagi Hastinapura.

Dewabrata sekali lagi memenuhi permintaan Satryawati, dengan persiapan secukupnya Dewabrata berangkat membelah hutan dan lautan mencoba menghadirkan Abyasa.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya