Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Kumbayana

Minggu, 20 Desember 2015

KISUTA.com - Di seberang lautan Praja Hastinapura, Prabu Drupara di Kerajaan Duhyapura sedang berhadapan dengan Resi Baradwaja (sepupunya). Mereka sedang berbahagia karena permaisuri Prabu Drupara, yaitu Dewi Setyarini telah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Sucitra, sedangkan istri Resi Baradwaja, yaitu Dewi Padmawati juga melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Kumbayana.

Prabu Drupara ini adalah putra Prabu Sengara, sedangkan Resi Baradwaja adalah putra Resi Maruta. Ayah-ayah mereka dulu pernah datang melamar Dewi Durgandini namun dikalahkan oleh Resi Parasara.

Ketika Kerajaan Duhyapura sedang merayakan kebahagiaannya, tiba-tiba datang serangan dari Prabu Bahlika yang masih bernafsu ingin menjadikan Kerajaan Siwandapura sebagai negeri terbesar di Tanah Hindustan dan Hindia Belakang. Prabu Drupara didampingi Resi Baradwaja dan Patih Suganda segera maju menghadapi serangan tersebut. Perang besar pun terjadi. Prabu Bahlika dan putranya, yaitu Raden Salwarukma telah mempersiapkan serangan ini dengan sangat matang. Pihak Duhyapura pun kalah telak, dan Prabu Drupara gugur di tangan Prabu Bahlika.

Resi Baradwaja dan Patih Suganda tercerai berai. Patih Suganda membawa sisa-sisa pasukan yang masih hidup mengungsi ke Wirata, sedangkan Resi Baradwaja menyelamatkan keluarga Prabu Drupara menuju daerah Atasangin. Dalam perjalanan mengungsi tersebut, Dewi Setyarini dan Dewi Padmawati yang masih lemah karena baru saja melahirkan akhirnya meninggal dunia.

Resi Baradwaja yang sampai di Atasangin segera membangun padepokan sebagai tempat tinggal di atas Gunung Giri Jembangan. Di sana ia merawat Raden Sucitra bersama-sama dengan putranya, yaitu Raden Kumbayana. Ia berjanji akan mendidik Raden Sucitra supaya kelak setelah dewasa dapat merebut kembali kerajaannya.

Sebagai seorang Resi Sakti Baradwaja merasakan ikatan antara anaknya Raden Kumbayana, dan keponakannya Raden Sucitra, di masa depan berpotensi bermasalah. Karena itulah, dia merasa perlu mengikat keduanya dengan nasehat dan janji suci, agar mereka tetap setia satu sama lain sebagai saudara misanan.

Baradwaja: Anakku ngger Kumbayana, bagaimana pelajaran olah kanuragan dan latihan menggunakan senjata hari ini antara kamu dan adikmu Sucitra?

Kumbayana: Ya ayah, ananda sudah menyelesaikan semua pelajaran tentang penggunaan senjata dan mengasah bathin. Dimas Sucitra hebat sekali tenaganya, nanda tidak bisa menandinginya dalam pelajaran tendangan dan pukulan...tenaga dimas Sucitra kuat sekali...

Baradwaja: Anak-anakku kalian memang dikaruniai kekuatan yang berbeda, namun bisa saling melengkapi...Sucitra, sebagai anak raja agung, badanmu gotot, prakoso dan memiliki kekuatan bawaan yang luarbiasa. Dengan latihan olah kanuragan yang tepat engkau adalah ksatria pilih tanding dalam tangan kosong. Sedangkan engkau Kumbayana, dari kecil engkau suka tirakat, olah bathinmu bagus sekali, pandangan matamu awas, dan kecepatan gerakanmu luarbiasa...engkau anakku memiliki kekuatan untuk semua jenis senjata yang dengan mudah engkau pelajari, dan ilmu-ilmu rapalan mantra-2 sakti...

Sucitra : Benar Uwa, walaupun aku lebih kuat, tetapi kalau kakang Kumbayana sudah matek aji...aku bisa terjengkang sendiri seperti dihantam gada yang tak tampak...

Resi Baradwaja tersenyum mendengar pengakuan Sucitra, dipandangnya wajah keponakannya ini, wajah yang polos dan lugas. Baradwaja merasakan ada sedikit keangkuhan di hati keponakannya itu, mungkin karena terbawa kesadarannya sebagai anak raja. Pandangannya beralih kepada anaknya, Kumbayana ksatria yang suka lelaku tetapi cenderung lemah, mudah dipengaruhi, Baradwaja sadar kedua bersaudara ini harus saling menguatkan agar terpadu kekuatan yang saling melengkapi.

Baradwaja: Sucitra dan Kumbayana, kalian berdua tentu tahu, Bapa mendidik kalian dengan keras, karena Bapa punya tujuan, mengembalikan kemuliaan Sucitra sebagai putra Mahkota Duhyapura. Bukan aku mengajarkan engkau membalas dendam.. tetapi, mengambil kembali hakmu yang direbut dengan paksa oleh Prabu Bahlika.

Sucitra: Iya Uwa, tetapi kalau Uwa dan ayahku saja kalah...bagaimana kami bisa menang?

Kumbayana: Ya ayah, kami dapat menangkap ajaran paduka semoga kami tidak mengecewakan paduka...

Baradwaja: Yang penting harus kalian sadari tugas mengembalikan kemuliaan itu berat sekali. Lawan kalian raja yang sakti dan bengis...kalian masing-masing memiliki kekuatan dan kesaktian yang berbeda-beda..Ooo anak-anakku alangkah baiknya kalau kalian selalu rukun, saling melengkapi dan berjuang bersama untuk mencapai tujuan mulia...

Sucitra: ya Uwa...nasehat Uwa akan selalu kami jaga..Uwa telah menyelamatkan nyawaku, mendidikku hingga aku dewasa..karena itu Kakang Kumbayana bagiku bukan sekedar saudara misan...sudah seperti saudara kandungku sendiri..Uwa kalau aku berhasil menjadi Raja kembali, maka aku akan membagi kerajaanku dan separonya aku berikan pada kakang Kumbayana...

Guntur memekik di senja cerah tanpa hujan itu, Resi Bardwaja maklum, itulah tanda alam menyaksikan sumpah Sucitra. Hatinya lebih tenang kini...ditatapnya kedua anak muda itu...

Baradwaja: alam telah menyaksikan sumpah setiamu Sucitra jangan anggap remeh itu. Karena engkau putra prabu Drupara, dan saat ini engkau telah dewasa, maka disaksikan para cantrik dan saudaramu Kumbayana...aku berikan nama sepuh untukmu agar bisa menjadi nama piandel kalau kelak engkau menjadi raja..Sucitra, namamu sekarang adalah Raden Drupada...Tepuk tangan dan sorak sorai para cantrik melengkapi pentahbisan nama Raden Drupada.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya