Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Parasara Moksa

Kamis, 24 Desember 2015

KISUTA.com - Padepokan Wukir Retawu di Gunung Saptaarga, tampak Asri dan indah, sejak Resi Indradewa wafat, putri tunggalnya Dewi Watari akhirnya bergabung ke padepokan Wukir Retawu bersama Resi Parasara.

Dulu sebenarnya antara Dewi Watari dan Resi Parasara sudah dijodohkan dan dinikahkan oleh Resi Indradewa, tetapi karena Resi Parasara tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada gurunya Batari Rukmawati, maka Resi Parasara meninggalkan Dewi Watari untuk berkelana dalam keadaan Dewi Watari masih suci (perawan). Dalam pengembaraannya, Resi Parasara jatuh cinta pada Durgandini (Satyawati) yang mirip Batari Rukmawati hingga terjadilah hubungan badan yang menurunkan raden Abyasa.

Proses kesembuhan Durgandini dari lara amis, membuat Parasara memiliki beberapa anak pujan yaitu, Kincakarupa, Rupakinca, Setatama, Dewi Sudaksina dan Bimakinca, para anak pujan ini sebelumnya dititipkan ke Resi Indradewa dan Dewi Watari untuk dididik, dan hanya putra kandungnya Abyasa yang menemaninya di Wukir Retawu. Tetapi setelah Resi Indradewa, Raden Setatama dan Raden Bimakinca wafat, Dewi Watari bersama Kincakarupa dan Rupakinca pun memilih bergabung dengan Resi Parasara di Wukir Retawu.

Walaupun sudah dinikahkan dengan Resi Parasara, Dewi Watari masih suci, karena Resi Parasara tidak pernah menyentuhnya. Dewi Watari sadar, Resi Parasara tidak mencintainya. Pernikahan mereka hanyalah pernikahan yang terjadi karena persahabatan dan rasa hormat antara Resi Indradewa dan Resi Parasara. Tetapi memenuhi kewajibannya sebagai istri, Dewi Watari tetap melayani kebutuhan sehari-hari Resi Parasara, dan tulus mengasihi anak-anak Resi Parasara sebagai anaknya sendiri. Melihat ketulusan Dewi Watari, Resi Parasara mendoakan untuk kesehatan dan penampilannya, hingga Dewi Watari selalu kelihatan awet muda, cantik dan bertubuh molek bagaikan tubuh perawan sunti.

Pagi itu Resi Parasara dihadap putranya, yaitu Raden Abyasa beserta putra pujan lainnya. Hari ini Raden Abyasa genap berusia dua puluh lima tahun dan ia dinyatakan telah menamatkan segala pendidikan. Melihat bakat dan kecerdasan putranya itu, Resi Parasara pun melantik Raden Abyasa menjadi pendeta bergelar Resi Abyasa, meskipun usianya masih terhitung muda.

Parasara: Anakku Abyasa...sepertinya hanya engkau yang bisa meneruskan padepokan ini sebagai Begawan...karena aku lihat saudara-saudaramu yang lain, Kincakarupa, Rupakinca dan Rajamala lebih cenderung ke kemampuan olah kanuragan...

Abyasa: Ya Bapa...aku memang ingin meneruskan lelaku Bapa sebagai pertapa di Wukir Retawu ini...hatiku tentram dan tenang saat memuja semedi di sini Bapa.

Parasara: Abyasa, peganglah pesanku ngger "Ambeke kang wus utama, tan ngendhak gunaning jalmi, amiguna ing aguna, sasolahe kudu bathi, pintere den alingi, bodhone didokok ngayun, pamrihe den inaa, mring padha padhaning jalmi, suka bungah den ina sapadha-padha." (Pupuh XI Sinom Gatra 1 Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV)...Perilaku orang yang telah mencapai tataran sempurna tidak akan membatasi atau mencela kepandaian orang lain, kepandaiannya disembunyikan sedangkan kebodohannya ditampilkan agar dihina, jangan sampai ada yang menyebutnya pandai, ia merasa bahagia jika ada yang menghinanya.

Abyasa: Ah luarbiasa berat itu Bapa..biasanya justru orang merasa sok pandai, ingin menonjolkan kepandaiannya...kalau perlu bicara lamis setinggi gunung, supaya kelihatan hebat...

Parasara: Masih ada lanjutannya Abyasa..."Ingsun uga tan mangkana, baliku kang sun alingi, kabisan sun dokok ngarsa, isin menek den arani, balilune angluwihi, nanging tenanipun cubluk, suprandene jroning tyas, lumaku ingaran wasis, tanpa ngrasa prandene sugih carita.(Pupuh XI Sinom Gatra 2 Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV)....Aku pun tidak begitu, kebodohankulah yang aku tutupi dan kepandaianku yang aku kedepankan karena malu jika disebut bodoh oleh orang lain, padahal aku bodoh namun ingin disebut pandai sehingga tanpa sadar banyak bercerita bohong...

Abyasa: Ya Bapa...itulah yang terjadi, betapa manusia lebih suka menyimpan kebusukan, hingga mudah berbohong...dibandingkan menunjukkan kekurangan secara jujur, agar bisa memperbaiki diri...

Parasara: Menjadi tugasmu Abyasa, lurus bertindak, adil berbuat.. kedepan tugasmu akan lebih berat anakku. Waspadalah.

Resi Prasara menyerahkan pusaka Manikpramana kepada Resi Abyasa, berpesan agar Abyasa melengkapi laku batinnya dengan menjalani tapa ngrame, mengabdi pada masyarakat, dan meminta agar Dewi Watari, Kincakarupa, Rupakinca dan Rajamala, mengabdi ke Praja Wirata, karena di sana Dewi Sudaksina sedang repot memiliki putra bayi (raden Seta). Setelah Sang Resi bersamadi mengheningkan cipta. Sekejap kemudian, Resi Parasara mencapai moksa. Tubuhnya musnah, sedangkan jiwanya naik ke alam baka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya