Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Basupati Polah

Jumat, 25 Desember 2015

KISUTA.com - Alkisah, saat Dewi Watari mengabdi bersama para putra pujannya ke Praja Wirata, Dewi Sudaksina sangat bahagia, karena sejak kecil, Dewi Watarilah yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Sayang kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, diam-diam Prabu Basupati yang sudah berangkat tua, yang selama ini bisa menjaga kehormatannya untuk setia pada permaisuri Girika, ternyata dihinggapi perasaan birahi pada Dewi Watari.

Penampilan Dewi Watari yang awet muda, dengan tubuh molek telah mengganggu perasaan raja tua ini.

Dengan segala cara, Prabu Basupati berusaha menarik perhatian Dewi Watari. Berbagai hadiah pun dikirimkan ke pesanggrahan wanita itu namun semuanya ditolak dengan halus. Dewi Watari adalah istri Resi Parasara, sedangkan Resi Parasara pernah berhubungan dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basupati. Itu artinya, Prabu Basupati adalah ayah mertua Resi Parasara, sehingga tidak pantas apabila menyatakan cinta kepada Dewi Watari. Namun, Prabu Basupati membantah alasan itu karena Resi Parasara tidak pernah menikahi putrinya secara sah, sehingga tidak pernah ia anggap sebagai menantu.

Watari: Jangan begitu sang Prabu...kalau paduka mengatakan bahwa suamiku Resi Parasara tidak sah menikahi putrimu...apakah berarti paduka menganggap hubungan mereka zinah dan maksiat...dan itu berarti Abyasa cucumu anak haram? Tega sekali paduka berujar seperti itu...

Basupati: Halah Watari..itu bukan urusanmu...abaikan saja..toh Satyawati sekarang sudah mulia sebagai permaisuri Hastinapura.. sudahlah engkau sudah janda..bebas...layani saja aku...(Sang Prabu berusaha menarik selendang Watari..yang segera melengos menjauhi raja yang mulai gelap mata itu)

Watari: Sang Prabu, paduka raja agung yang selama ini bisa setia pada permaisuri Girika...aku menghormati itu...jangan nodai masa tuamu dengan nafsu bejadmu...ingatlah, Dewi Sudaksina putriku adalah istri putramu Matswapati...berarti kita ini besan.. ingatlah wahai raja agung...

Dewi Watari terus menghindar dan menolak Basupati dengan alasan-alasan yang masuk akal. Namun, Prabu Basupati membantah alasan tersebut karena Dewi Sudaksina bukan anak kandung Dewi Watari.

Karena terus-menerus ditolak, Prabu Basupati akhirnya hilang kesabaran. Ia pun berusaha memaksa Dewi Watari menerima cintanya dan mengancam wanita itu dengan kekerasan. Dewi Watari merasa ketakutan dan melarikan diri. Karena sudah dikuasai nafsu birahi, Prabu Basupati pun mengejar ke mana janda Resi Parasara itu pergi. Dewi Watari lari sampai ke pinggir telaga. Karena Prabu Basupati sudah gelap mata dan berniat memerkosa dirinya, Dewi Watari akhirnya memilih bunuh diri dengan cara terjun ke dalam telaga. Jasad sang Dewi musnah begitu masuk ke air telaga. Prabu Basupati kecewa kehendaknya tak kesampaian.

Prabu Basupati yang sangat kecewa akhirnya pulang ke istana Wirata. Ia menyesal telah menggunakan kekuasaannya untuk menindas seorang wanita demi menuruti hawa nafsu, apalagi wanita itu akhirnya memilih mati bunuh diri. Karena merasa sangat bersalah, akhirnya Prabu Basupati pun jatuh sakit.

Dewi Girika: Kakaprabu...apa yang sedang paduka sandang, menyisihkan mimpi yang mengganggu rasa hormatku padamu.. hm...apa yang paduka sembunyikan dariku?

Basupati: Aaah Girika...engkau tahu aku sangat mencintaimu.. dan sekarang aku sedang sakit...perlukah engkau tahu polahku.. yang mungkin tidak engkau sukai...padahal Dewata telah menghukumku dengan nestapa, dan polah itupun tidak pernah terwujud?

Dewi Girika: Apa maksudmu kakaprabu...selama ini kita membangun kepercayaan dengan keterus terangan...jika ada yang engkau sembunyikan, maka bangunan ini tak lagi kokoh.. karena ada bagian yang rampal....dan apakah barang yang engkau sembunyikan itu pasti tidak berbau kanda ?... utarakanlah walau pahit sekalipun...

Basupati: Ooo Girika...dengan kemampuan memahami bahasa binatang, aku tetap bisa menjaga kesetiaanku padamu...setiapkali aku berjauhan darimu, selalu aku bayangkan kemesraan kita agar tidak ada godaan lain yang masuk...hingga dengan cara seperti itu, anak-2ku Durgandana (Matswapati) dan Durgandini (Satyawati) lahir dari kamaku saat membayangkan dirimu....walau anak-2 itu disempurnakan melalui rahim Batari Andrika...(Basupati menarik nafas panjang, dari sudut matanya keluar airmata penyesalan)

Dewi Girika: Ya Kakang...dan aku bersyukur untuk kesetiaanmu itu, karena itulah aku sayangi putra putrimu layaknya anakku sendiri...sekarang...apa yang kanda sembunyikan...

Prabu Basupati menghela nafas...dengan nafas acapkali tersendat, sang Prabu mengisahkan godaan nafsunya yang hendak memaksa Dewi Watari melayaninya, hingga Dewi Watari memilih bunuh diri...Prabu Basupati meminta maaf kepada sang permaisuri Dewi Girika atas perbuatannya terhadap Dewi Watari. Begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Dewi Girika merasa sangat kecewa dan berduka...

"Betapa indahnya kisah yang dirajut dalam balutan martabat, kehormatan dan kesetiaan..Ooo kanda Basupati...telah kau nodai keindahan itu dengan patrap yang hina....hilang sudah rasa hormatku pada sosok yang selama ini aku banggakan...kakang Basupati...aku tidak bisa menemanimu menyongsong lelakumu.. hadapilah Hyang Yamadipati yang menuntut pertanggung jawabanmu....kelak aku antarkan kasedan jatimu sebagaimana lelaku istri utama...walau aku tak tahu...masihkah kita bisa dipertemukan dengan kasih yang sudah kau koyak diakhir babak kita." Permaisuri Girika berlari meninggalkan Basupati langsung menuju sanggar Pamujan.

Sepeninggal sang permaisuri, kondisi Basupati makin surut dan akhirnya meninggal dalam penyesalan yang dalam. Tiga hari setelah suaminya meninggal, Dewi Girikapun meninggal dalam kondisi bertapa di sanggar Pamujan.

Praja Wirata berduka, setelah perabuan sang Prabu Basupati dan Permaisuri Girika, raden Matswapatipun diwisuda sebagai raja Wirata didampingi oleh Patih Kincaka Rupa, Panglima Rupakinca dan Perwira Nagari Rajamala.

Suatu hari Raden Kincaka, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala duduk mengheningkan cipta di tepi telaga tempat ibu mereka meninggal. Mereka bersama-sama mendoakan arwah Dewi Watari yang meninggal karena bunuh diri supaya bisa diterima di alam baka.

Saat itulah arwah Dewi Watari muncul dan berterima kasih atas perhatian ketiga putranya tersebut. Ia sangat menyesal telah mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri sehingga tidak dapat lagi berkumpul dengan mereka bertiga. Di antara ketiga putranya tersebut, Raden Rajamala adalah yang paling disayangi. Dewi Watari pun berjanji akan selalu melindungi Raden Rajamala. Kelak apabila Raden Rajamala bertemu musuh yang sakti dan menderita luka-luka, hendaknya Raden Kincaka dan Raden Rupakincaka menceburkannya ke dalam telaga ini, niscaya mendapatkan kesembuhan. Sayup-sayup Dewi Watari mendendangkan pupuh Durma serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV..."Ngandut rukun becik ngarepan kewala, ing wuri angrasani ingkang ora-ora, kabeh kang rinasanan ala becik den rasani, tan parah-parah wirangronging dumadi"...Sudah umum orang di depan kita dia baik , tetapi di belakang dia membicarakan yang bukan-bukan. Baik buruk dibicarakan tanpa pilih-pilih. Sungguh menyedihkan.

Raden Rajamala berterima kasih atas janji dan nasehat yang diucapkan arwah ibunya tersebut. Ia pun menyebut telaga tempat arwah Dewi Watari bersemayam dengan nama Telaga Watari.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya