Abyasa Krama
KISUTA.com - Sinar mentari menembus sela dedaunan di Gunung Sapta Arga, indah dan agung. Cericit suara burung melengkapi suasana fajar yang cerah. Resi Abyasa terpekur dalam semedinya sampai terbangun oleh suara dari balik semak-semak. Sang Resi menatap tajam wajah seorang pria muda yang berjalan ngesot mendekati tempatnya bertapa.
Lelaki itu mengaku bernama Jaka Hilya, ia bercerita bahwa dirinya baru saja berkeliling dunia sambil merangkak ngesot. Resi Abyasa merasa geli tidak percaya. Melihat sikap Resi Abyasa, Jaka Hilya pun menantangnya adu kecepatan. Resi Abyasa menerima tantangan itu, mengingat dirinya pernah berguru ilmu kecepatan dan meringankan tubuh pada Gandarwaraja Swala. Ia mempersilakan Jaka Hilya berlari lebih dulu, yakin dia bisa melaluinya.
Para punakawan yang menemani Resi Abyasa segera dipanggil untuk menjadi saksi. Kyai Semar ditugaskan memberi aba-aba dimulainya perlombaan.
Segera setelah aba-aba diberikan, Jaka Hilya merangkak ngesot, dan Resi Abyasa mengejar di belakang. Sungguh ajaib, meskipun kakinya lumpuh, Jaka Hilya dapat bergerak lincah dan sangat cepat. Resi Abyasa mengejar dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba Abyasa merasakan, berada di tempat yang terang benderang, tetapi tidak memiliki matahari. Juga tidak jelas mana utara, mana selatan, mana barat, mana timur, mana atas, mana bawah.
Resi Abyasa melihat Jaka Hilya memasuki cahaya warna hitam yang gelap pekat. Ia menyusul dan tubuhnya terasa seperti ditelan bumi. Sesaat dilihatnya Jaka Hilya memasuki cahaya warna merah. Resi Abyasa menyusul dan tubuhnya terasa seperti terbakar kobaran api. Disusulnya Jaka Hilya memasuki cahaya warna kuning, dan tubuhnya pun terasa seperti dihempaskan angin topan. Saat Jaka Hilya memasuki cahaya putih. Ia pun menyusul dan tubuhnya kini terasa seperti hanyut tenggelam di dalam lautan luas.
Resi Abyasa pasrah terombang-ambing hingga terdampar dalam tempat kosong luas tanpa batas. Di sana dilihatnya Jaka Hilya bangkit berdiri, tidak lumpuh lagi. Lama-lama wujud pemuda itu musnah dan yang tertinggal hanya suaranya saja, menggema di telinga Resi Abyasa. “Abyasa, akulah Sukma Sejati, kepatuhanmu mengikutiku, menunjukkan kesetiaanmu pada janji yang terucap. Engkau berjanji beradu kecepatan denganku. Walau ada keraguan di hatimu karena kecacatanku, tetapi engkau terus berlari memenuhi kesepakatan yang kita buat. Itulah tanda keluhuran pribadimu, yang tak hendak meninggalkan apa yang telah terucap. Ooo Abyasa...engkau lulus uji, sebagai pribadi tangguh, yang akan menyelesaikan setiap tugas, tanggung jawab, tanpa keluhan, pantang menyerah.”
Resi Abyasa terpekur mendengarkan dengan khidmat. Suara itu lalu menggema, mengajarkan ilmu kesempurnaan kepada Resi Abyasa. Setelah semua pelajaran selesai, tiba-tiba Resi Abyasa telah kembali ke alam nyata di mana Kyai Semar dan ketiga anaknya menunggu. Tangan Resi Abyasa pun telah menggenggam sebuah kitab. Kyai Semar mengenali kitab tersebut adalah Pustaka Kalimahusada.
Kitab tersebut sebelumnya kosong, kini tiba-tiba saja penuh dengan tulisan. Resi Abyasa membaca halaman demi halaman pada kitab itu ternyata berisi ilmu kesempurnaan yang tadi ia pelajari dari suara Sukma sejati.
Resi Abyasa bersyukur atas segala karunia Tuhan Yang Mahakuasa pada dirinya. Kyai Semar menasihatinya agar selalu rendah hati dan jangan sampai lupa diri. Resi Abyasa berterima kasih lalu mengajak para punakawan melanjutkan perjalanan.
Di perjalanan Resi Abyasa bertemu dengan ketiga adiknya Kincakarupa, Rupakinca dan Rajamala, yang mengadukan kematian Dewi Watari dan kegalauan mereka akan dendam dan keinginan mendampingi adiknya Dewi Sudaksina di Wirata.
Resi Abyasa prihatin mendengar penuturan ketiga adiknya. Namun, sebagai seorang pendeta yang berilmu tinggi, ia menenangkan diri. Raden Kincakarupa, Raden Rupakinca, serta Raden Rajamala dinasihati untuk tidak menuruti amarah. Diingatkannya bahwa Prabu Basupati sesungguhnya seorang raja yang bijaksana, namun sayang telah berbuat khilaf karena tertarik kecantikan Dewi Watari. Resi Abyasa yakin kematian Prabu Basupati adalah karena sangat menyesal atas kejadian tersebut.
Resi Abyasa menyarankan agar ketiga adiknya kembali mengabdi di Kerajaan Wirata karena ia mendapatkan firasat bahwa sebentar lagi akan datang serangan musuh hebat dan ini bisa menjadi sarana bagi Raden Kincakarupa, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala untuk mendapatkan kemuliaan.
Raden Kincakarupa menerima saran Resi Abyasa. Ia lalu mengajak Raden Rupakinca dan Raden Rajamala kembali ke Kerajaan Wirata.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


