Kresna Dwipayana
KISUTA.com - Sinar mentari menembus sela dedaunan di Gunung Sapta Arga, indah dan agung. Cericit suara burung melengkapi suasana fajar yang cerah. Resi Abyasa terpekur dalam semedinya sampai terbangun oleh suara dari balik semak-semak.
Resi Abyasa menerima tamu, Raden Dewabrata yang memintanya datang ke Hastinapura, guna mengawini janda-janda Prabu Wicitrawirya. Setelah mendengarkan cerita dan alasan Raden Dewabrata, Resi Abyasa meminta waktu untuk membersihkan diri, karena dia merasa lusuh dan kumal setelah bertapa lebih dari 40 hari. Tetapi, Dewabrata mengajaknya segera berangkat menemui Ibusuri Satyawati, karena perjalanan cukup panjang.
Sesampainya di Hastinapura, Ibusuri Satyawati segera meminta putranya bersedia dinikahkan dengan janda-janda Prabu Wicitrawirya, agar bisa memberikan keturunan bagi Hastinapura mengingat Raden Dewabrata bertekad tetap wadat.
Abyasa: Ibu, permintaan ini sangat mendadak dan di luar dugaan ananda. Ijinkan ananda membersihkan diri lahir dan bathin agar lebih pantas berhadapan dengan para putri itu...
Satyawati: Tidak perlu Abyasa, sudah tidak ada waktu lagi..sebagai menantu Hastinapura para putri itu juga tidak dalam posisi bisa menolakmu Nak...
Akhirnya Abyasa diminta untuk mengawini Ambika terlebih dahulu, saat memasuki peraduan Dewi Ambika merasa seram melihat penampilan Resi Abyasa yang berkulit hitam legam, kumal dan lusuh. Sepanjang malam Dewi Ambika memejamkan matanya saat melayani Resi Abyasa sebagai istri. Abyasa menyadari hal itu tetapi dengan kebijaksanaannya Abyasa tidak menegur perbuatan istrinya.
Pada malam kedua Abyasa diminta untuk mengawini Ambalika. Dewi Ambalika selalu memalingkan wajahnya yang pucat pasi karena ketakutan melihat penampilan Abyasa saat melayani suaminya. Sama dengan saat menggauli Ambika, Abyasapun sadar bahwa Ambalika tidak berkenan dengan hubungan mereka, karena itu dia bersikap diam, sekadar memenuhi tugasnya dari sang Ibu.
Setelah mengawini kedua janda Prabu Wicitrawirya, Resi Abyasa untuk sementara menjadi raja Hastinapura sambil menunggu putra-putranya lahir, dengan gelar Prabu Kresna Dwipayana.
Sembilan bulan kemudian para permaisuri raja melahirkan hampir bersamaan, Dewi Ambika melahirkan bayi laki-laki yang gagah namun tunanetra (buta) sebagai akibat balak ibunya yang terus memejamkan mata saat berhubungan badan dengan Resi Abyasa. Bayi itu diberi nama Destarata. Dewi Ambalika melahirkan putra yang tampan tetapi berkulit pucat dan berkepala ‘tengeng’ akibat balak ibunya yang selalu memalingkan muka dan pucat pasi saat berhubungan badan dengan suaminya, dan diberi nama Pandu.
Ibusuri Satyawati kecewa dengan cucu-cucunya yang cacat, karena itu dimintanya menantunya melayani Prabu Kresna Dwipayana sekali lagi agar bisa lahir bayi yang sempurna.
Dewi Ambika dan Dewi Ambalika yang enggan berhubungan dengan Resi Abyasa diam-diam mengirim pelayan mereka yang bernama Ken Datri untuk menemui Prabu Kresna Dwipayana.
Sesampainya di kamar raja, Ken Datri gugup ketakutan hendak berlari keluar. Namun, dicegah Prabu Kresna Dwipayana yang tertarik melihat paras wajahnya yang memiliki tanda-tanda istimewa. Ia meramalkan kelak dari rahim Ken Datri akan lahir seorang manusia bijaksana. Maka, Prabu Kresna Dwipayana pun memutuskan untuk menjadikan pelayan tersebut sebagai selir.
Setelah sembilan bulan berlalu, Ken Datri melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Raden Widura. Sayangnya, bayi ini menderita cacat kakinya pincang sebelah sebagai balak atas perbuatan ibunya yang ketakutan dan hendak berlari saat bertemu Prabu Kresna Dwipayana di dalam kamar.
Prabu Kresna Dwipayana meminta Ibusuri Satyawati menghentikan ambisinya untuk mendapatkan keturunan yang sempurna:
Abyasa: Kanjeng Ibu...sudahlah, cukuplah ketiga anak saya ini meneruskan cita-cita ibu.. terimalah RidhoNya dengan ikhlas.
Satyawati: Ooo anakku Abyasa, sungguh engkau resi Agung seperti ayahandamu, jauhlah engkau dari libatan duniawi. Ya anakku, semoga cucu-cucuku ini akan menjadi raja-raja mulia yang akan menurunkan raja-raja sempurna di negri ini.
Sejak kecil, para putra raja tersebut dididik dengan baik, dan saat badan mereka telah kuat merekapun menjadi murid-murid Raden Dewabrata yang saat ini bergelar sebagai Bhisma yang Agung, Guru Besar Hastinapura.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


