Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Pancalaradya Binangun

Selasa, 29 Desember 2015

KISUTA.com - Ketika Hastinapura sedang sibuk mempersiapkan generasi penerusnya. Di Wirata, Prabu Matswapati menerima kedatangan Patih Suganda dan rombongannya dari Duhyapura yang telah hancur akibat serangan Prabu Bahlika raja Siwandapura. Mengingat persahabatan antara Kerajaan Wirata dan Kerajaan Duhyapura yang telah terjalin turun-temurun selama ratusan tahun, Prabu Matswapati pun memberikan perlindungan kepada Patih Suganda beserta para pengikutnya.

Sikap Prabu Matswapati ini memancing kemarahan Prabu Bahlika dan Raden Salwarukma, yang segera mengirim pasukan menyerang Wirata. Prabu Matswapati menghadapi serangan tersebut dengan didampingi Patih Wasita dan Resi Kistawa. Maka, terjadilah pertempuran besar antara kedua pihak tersebut yang boleh dikatakan telah menjadi musuh bebuyutan.

Patih Wasita dan Resi Kistawa yang sudah sangat tua gugur dalam peperangan karena kehabisan tenaga. Kini Prabu Bahlika bergerak maju untuk menyerang Prabu Matswapati. Patih Suganda dan orang-orang Duhyapura berusaha membantu namun mereka bukan tandingan Prabu Bahlika.

Pada saat-saat genting itulah muncul Raden Kincakarupa, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala yang langsung berperang di pihak Wirata untuk menghadapi pasukan Siwandapura.

Raden Rupakincaka dan Raden Rajamala berhasil menyelamatkan Prabu Matswapati yang hampir saja tewas di tangan Prabu Bahlika. Sementara itu, Raden Kincakarupa menyerang Prabu Bahlika dan akhirnya berhasil menewaskan raja Siwandapura tersebut. Melihat ayahnya terbunuh, Raden Salwarukma segera kabur meloloskan diri.

Prabu Matswapati sangat bersyukur karena ketiga adik iparnya kini telah kembali bergabung dengannya dan berhasil mematahkan serangan Prabu Bahlika. Atas jasa-jasanya, Raden Kincakarupa pun diangkat sebagai patih Kerajaan Wirata untuk menggantikan Patih Wasita yang telah meninggal dunia. Sementara itu, Raden Rupakincaka dan Raden Rajamala diangkat pula sebagai senapati pemimpin angkatan perang Kerajaan Wirata. Mereka bertiga mendapatkan tanah luas sebagai tempat tinggal, yang diberi nama Kincapura.

Setelah peristiwa tersebut, Patih Suganda dan orang-orang Duhyapura ikut membantu memperbaiki Kota Wirata yang rusak akibat peperangan. Sebagai ungkapan terima kasih, Prabu Matswapati memberikan Hutan Pancala kepada mereka. Patih Suganda dan pengikutnya pun dipersilakan membangun kerajaan baru di sana. Patih Suganda dan para pengikutnya sangat berterima kasih atas keputusan Prabu Matswapati tersebut.

Akhirnya, Patih Suganda dan para pengikutnya mendirikan sebuah negeri baru di Hutan Pancala, yang diberi nama Kerajaan Pancalaradya. Patih Suganda pun menjadi raja di sana, bergelar Prabu Gandabayu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya