Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Dewi Kunti

Minggu, 3 Januari 2016

KISUTA.com - Syahdan di kerajaan Boja, Dewi Kuntitalibratha dididik dengan baik dan santun oleh Prabu Kuntiboja dan permaisurinya Dewi Bondandari. Suatu hari datanglah tamu seorang maharesi bernama Druwasa ke kerajaan Boja. Dewi Kunti melayani tamu ayahnya dengan baik. Kesantunannya dan kecekatannya dalam melayani sang resi membuat Maharesi ini terkesan.

Druwasa: Wahai Putri jelita, dengan kekuatan yoga yang kumiliki, aku merasakan nasib burukmu dengan suamimu kelak.

Kunti: Duh sang Resi, kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga Dewata Agung mengutukku seperti itu?

Druwasa: Bukan kesalahanmu semata, tetapi justru keagunganmu yang membuatmu menerima karunia dan ujian sama besarnya...

Untuk membesarkan hati Dewi Kunti, Resi Druwasa mengajarkan mantra Aji Pameling Adityarhedaya. Mantra ini bisa memanggil dewa siapapun juga untuk memberikan anugrah pada Kunti. Resi Druwasa berpesan agar Kunti berhati-hati memanfaatkan ilmu/mantranya itu.

Dewi Kunti sangat berbahagia menerima ajaran ilmu itu, dan berjanji pada Resi Druwasa untuk memanfaatkannya baik-baik.

Suatu hari, Kunti merasakan demikian kesepian dan tergoda untuk mencoba ilmu tersebut. Diam-diam di dalam kamarnya Mantra Adityarhedaya kawedar, sambil menatap sinar matahari yang berkilau memasuki jendela kamarnya. Tiba-tiba muncullah sosok Dewa Surya dengan segala kemegahan gilang gemilang di hadapan Kunti, sambil tersenyum.

Kunti: Oh Dewa, siapakah paduka?

Bathara Surya: Wahai Puteri Jelita, akulah Batara Surya, Dewa Matahari. Aku terseret ke mayapada oleh kekuatan gaib mantra yang kauucapkan untuk memanggilku.

Kunti: Aa..aah..aaku..hanya mencoba merapal mantra itu, tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan denganmu...

Bathara Surya: Engkau boleh melakukan apapun dengan kehadiranku...boleh meminta apapun kepadaku wahai Kunti yang jelita...

Dewi Kunti diam seribu bahasa, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah mantra itu kawedar. Dewa Surya tersenyum maklum dengan kepolosan Kunti, diusapnya lembut punggung tangan sang jelita. Refleks Kunti menarik tangannya, pelajaran tatakrama yang ketat dari permaisuri Bondandari membuatnya sadar, tak boleh lelaki menjamahnya seperti itu.

Bathara Surya seperti memaklumi keluguan dan kepolosan Kunti, namun kejelitaan gadis ini telah menggerakkan gairah sang dewa, dengan kesaktiannya walaupun tanpa sentuhan-sentuhan berarti, Bathara Surya telah membuat Kunti mengandung seketika...Kunti memekik dan mulai menangis risau.

“Aduuuh...tobat, mengapa perutku sakit dan terus membesar...duh Dewa, tolong jangan lakukan ini, aku hanya gadis bodoh yang tak tahu akibat ilmuku...hentikan semua ini..kembalilah ke khayangan, maafkan kebodohanku.” Kunti terus menangis kebingungan menghadapi kehamilannya yang mendadak."

“Kunti, karena engkau tidak meminta apa-apa, maka aku anugerahkan putraku untukmu.. cintailah anak itu, yang akan membawa kemuliaan bagimu.” Kata Bathara Surya dengan lembut.

“Aaah...a..anak?...aduuh...aku belum dewasa...aku belum punya suami, aku masih suci...bagaimana bisa aku punya anak ?...aduh dewa kejam sekali...jangan permalukan aku seperti ini...mengapa kau beri aku aib yang sedemikian besar ?” Kunti terjatuh berlutut dan terus menangis pedih.

Batara Surya menghibur dan meyakinkan Kunti, “Tak seorang pun akan menghina-mu, karena setelah melahirkan anakku engkau akan kembali menjadi perawan suci....lihatlah Kunti, engkau tidak perlu lama mengandung, hari ini juga aku bantu kelahiran putraku melalui telingamu...jadi berilah dia nama Karna (telinga)”

Dewi Kunti melahirkan seorang bayi melalui telinga. Karna terlahir lengkap dengan seperangkat senjata perang yang suci dan hiasan telinga yang indah berkilau seperti matahari.

Kunti meletakkan putranya itu dalam kotak yang indah, menyelimutinya dengan selendang sutra dan mengalasinya dengan bantal dari bulu angsa. Perlahan-lahan Dewi Kunti beranjak dari peraduannya, menuju kali yang jaraknya cukup jauh dari istana. Masih dengan isak tangis tertahan, diam-diam Kunti menghanyutkan kotak itu, arus kecil mulai mempermainkan kotak yang dhanyutkan tadi.

Sambil berjingkat sembunyi-sembunyi Dewi Kunti terus mengikuti kotak itu sampai dilihatnya seorang laki-laki tua mengangkat kotak itu dari sungai. Laki- laki tua itu terbelalak melihat isi kotak...sesaat kemudian dilihatnya butir-butir airmata membasahi pipi lelaki tua itu. Bayinya diciumi lelaki itu dengan lembut dan penuh kasih sayang...Dewi Kunti terisak, kakinya serasa dilolosi...duhai..itu anakku...anakku...kebingungan menyergabnya, tetapi kakinya serasa terkunci ketanah oleh rasa malu dan ketakutannya akan aib yg terbongkar. Kunti kembali mengikuti lelaki tua itu, tibalah lelaki itu di sebuah gubuk kecil, aah ternyata lelaki tua itu adalah seorang sais kereta kuda.

“Anak siapa itu, Kakang? Tampan sekali dia,” seorang wanita yang hanya mengenakan kemben sederhana menyongsong lelaki itu, dan meraih anaknya dari pelukan sang lelaki.

“Entahlah, aku menemukan sebuah kotak yang terapung di kali. Saat kubuka, ternyata ada bayi tampan di dalamnya.” Kata lelaki itu.

“Inilah jawaban atas doa kita, Kakang. Inilah anak yang diberikan Dewata Agung untuk kita,” Wanita itu kelihatan sangat bahagia. Airmata Kunti terus berlinang dipersembunyiannya.

"Ooh..untunglah anakku diketemukan dua pasang suami istri yang mendamba anak.” Ada sedikit kelegaan di hati Kunti, perlahan mulai ditinggalkannya gubug kecil itu. Kunti terus berjalan kembali ke kerajaan Boja...ditanamkannya pemahaman dalam hatinya, Karna anaknya saat ini ada dalam asuhan Sais Adirata, sais kerajaan Hastinapura..sejak saat itu, diam-diam Kunti selalu mengikuti perkembangan Karna dari jauh, tanpa berani mengungkapkan jati dirinya dan hubungannya dengan anak itu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya