Resi Jelita Jarwawati
KISUTA.com - Kerajaan Hastinapura di bawah pemerintahan Prabu Kresna Dwipayana, mashyur dengan ketentraman dan kemajuaannya di bidang pertanian dan perniagaan. Prabu Kresna Dwipayana yang bijak dan agung, selalu mengingatkan Bhisma yang Agung, bahwa kedudukannya sebagai raja, hanyalah sementara, untuk mewakili putra-putranya yang belum dewasa.
Bhisma memahami keputusan saudara tirinya, karena Bhisma maklum Resi Abyasa atau Prabu Kresna Dwipayana adalah Brahmana sejati, yang lebih memilih kehidupan sebagai pertapa dibandingkan kemewahan hidup sebagai raja besar.
Bhisma mendidik para putra Raja dengan penuh cinta kasih dan segenap jiwa raga.
Raden Destarasta sang Putra Mahkota, memiliki kekuatan bathin yang sangat tinggi. Cacat matanya memang membuat gerakannya terbatas, namun keseriusannya dalam menempa diri, membuat tangannya begitu ampuh dan sakti. Dengan ajian Lebur seketi, pelukan Destarasta mampu menghancurkan gunung karang.
Raden Pandudewanata putra kedua Prabu Kresna Dwipayana adalah ksatria tampan yang pandai memainkan berbagai senjata. Selain sakti mandraguna dengan kemampuan tangan kosongnya, Pandu juga menguasai berbagai ajian untuk menghancurkan lawan dari jarak jauh.
Si bungsu Yama Widura, walaupun pendiam tak banyak bicara ternyata jago dalam ketatanegaraan, ilmu pemerintahan dan kemampuan pengobatan yang tak ada bandingannya. Bersama-sama sebagai satu kesatuan, para Pangeran Hastinapura ini terkenal sebagai pangeran-pangeran elok rupa yang sakti, kaya ilmu dan berbudi pekerti luhur.
Sementara itu jauh di kaki Gunung Bandagati, pertapa putri Resi Jarwawati, sedang berhadapan dengan adiknya Jarwada dan para cantrik.
Jarwada: Mbakyu Jarwawati, kakakku yang jelita, mengapa kakanda memanggilku di pagi buta seperti ini?
Jarwawati: Adikku cah bagus, semalam kakanda bermimpi bertemu dengan seorang ksatria yang lurus budinya, pandai membawakan diri, sakti mandraguna tetapi tetap lembah manah, hormat pada saudara tua dan orang tua...aah adikku ksatria seperti inilah yang layak menerima pangabektiku...
Jarwada: Lho apa maksud mbakyu, bukankah mbakyu madeg kapanditan karena bertekad tidak krama, dan mengabdikan diri pada kehidupan agung? Mengapa berubah pikiran mbakyu...
Jarwawati: Adikku, keputusanku madeg kapanditan dulu, didorong oleh keprihatinan betapa jauh watak dan pribadi laki-laki pada umumnya untuk aku mengabdi sebagai istri. Laki-laki yang sering aku jumpai, adalah laki-laki berjiwa palsu, yang manis di bibir tetapi mulutnya menyimpan racun, untuk berdusta dan berkhianat..Ooo adikku aku ngeri menjalani hidup dengan pendamping yang tidak bisa dipercaya...tetapi, semalam dalam mimpiku, Raden Pandudewanata ini adalah ksatria utama, aku yakin pribadinya lurus dan tidak akan pernah mengkhianati istri, adikku...
Jarwada: Aaah mbakyu khan Cuma ketemu dalam mimpi...bagaimana kalau ternyata persangkaan mbakyu salah..dan Pandu bukanlah ksatria yang tepat untukmu...
Jarwawati: Tidak Jarwada, bertemu dengan Raden Pandudewanata dalam mimpi, aku yakin dialah laki-laki yang bisa menjadi belahan jiwaku...jika aku gagal menjadi istrinya, karena aku sudah madeg kapanditan, aku malu berbalik mundur...lebih baik aku mati membela keyakinanku...
Sunyi senyap buwana mendengar ucapan sang Resi Jelita. Sesaat angin berhenti bertiup, daun-daun terpaku pada keheningannya.
Dengan kekuatan bathinnya yang tinggi Resi Jarwawati berhasil mendatangkan Pandudewanata ke Pertapaan Bandagati. Sang Pangeran muda terpana, mengapa tiba-tiba jiwa dan raganya terseret ke lingkungan pertapaan yang asri, dan di hadapan telah berdiri seorang pertapa wanita yang cantik, yang menyebarkan aroma seribu bunga.
Pandudewanata: Sang Resi, maaf...di manakah ini dan siapakah andika? Bagaimana tiba-tiba aku bisa berada di sini?
Jarwawati: Duh Raden Gegantilaning manah, ternyata impianku benar adanya, wajahmu memancarkan keagungan dan keluhuran budimu..Ooo satria tampan, aku resi Jarwawati dari pertapaan Bandagati....raden, sebelum bertemu dirimu di alam mimpi, aku sudah bertekad mesu diri, menutup hati dan pikiranku untuk kehadiran pria pendamping hidupku. Tetapi semalam engkau hadir dalam mimpiku...Ah raden, goyahlah keyakinanku...kini kutetapkan pilihan hidupku sesuai tuntunan mimpiku, aku akan mendampingimu raden... aku akan menjadi istrimu yang setia.
Pandudewanata : Hhmm...tunggu dulu Sang Resi. Coba renungkan dulu..engkau belum mengenalku secara baik, perjumpaanmu denganku hanya dari mimpimu yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan...aku sendiri masih tergagap-gagap tiba-tiba berada di sini..dan jujur belum ada niatku untuk menikah, karena aku masih punya seorang kakak yang seharusnya beliaulah yang menikah terlebih dahulu.
Jarwawati: Ah raden, jangan tolak permintaanku...sudah aku sampaikan sebelumnya aku sudah madeg kapanditan, karena kehadiranmulah goyah imanku dan bergeser keinginanku untuk pasrah jiwa dan raga padamu...Raden, kalau keinginan ini tidak kesampaian, lebih baik aku musnah dari hadapanmu...tidak ada gunanya aku melanjutkan kehidupanku di Ngarcapada...
Pandudewanata: (Mengerutkan keningnya, merasa tidak nyaman dengan desakan Resi Jarwawati...Pandu bergeser menjauh)...Resi Jarwawati, terima kasih atas perhatianmu padaku...tetapi sadarlah, engkau tidak bisa memaksakan kehendakmu seperti itu...aku belum berniat menikah...
Jarwawati: (Sudah menghunus cundrik dari sengkelatnya)...Duuh raden, tampaknya cukup sampai di sini pengabdianku pada kehidupan...daripada aku menjadi kotoran dunia karena kekecewaanku atas penolakanmu...lebih baik aku musnah dari hadapanmu...
Cundrik dengan cepat tertancap tepat di dada, diiringi jerit raung kesedihan Jarwada melihat ayundanya rubuh bersimbah darah ke bumi....peristiwa tragis ini berlanjut dengan serangan-serangan membabi buta penuh kemarahan Jarwada kepada Pandudewanata.
Pandu setengah hati melayani serangan Jarwada...dimakluminya hati yang penuh duka ini membabi buta diamuk dendam. Kesaktian Pandu sebenarnya jauh di atas Jarwada, tetapi karena menjaga agar Jarwada tidak terluka, sepertinya Pandu keteteran dirangsek serangan Jarwada. Saat tangan sakti Jarwada dipenuhi aji-aji mematikan yang membuatnya berkilat kemerahan seakan menyimpan bara api....Pandu waspada...bagai kilat menyambar tangan ini melayang menampar pelipis Pandu.....Dddhhhuuuuuaaaarrrrrr !!!...ledakan terjadi saat tangan Jarwada di tangkis Semar Badranaya yang tiba-tiba hadir melerai pertarungan itu...
Semar:..Ups....berhenti...sareh...sareh...Raden, jangan kau umbar kemarahanmu... Kalau engkau mau protes, tidak terima nasib yang menimpa ayundamu...bukan pada Raden Pandudewanata engkau timpakan kekecewaanmu...pergilah ke Suralaya...mintalah para Dewa menghidupkan kembali ayundamu...kalau Raden Pandu...mana bisa dia menghidupkan mbakyumu...
Mendengar kata-kata Semar Badranaya, seperti Tatit kilat menyambar, Jarwada meninggalkan Pandu dan terbang menuju Suralaya.
Pandu: Duh Wa Semar...terima kasih di saat yang tepat, engkau telah menyelamatkan nyawaku.
Semar: Sudah semestinya raden, karena aku ini pamongmu....hhmm raden, peristiwa ini memuat beberapa pelajaran hidup yang aku harapkan selalu menjadi peganganmu yaitu 10 Shila Sutasoma, yang aku sitir dari wedar Mpu Tantular.
1. Aja Sira Anglarani Ati Nin Non (Jangan Menyakiti/mengacaukan perasaan/pikiran Orang Lain).
2. Aja amidanda Tan Sabenere (Janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil).
3. Aja amalat Duwe Nin Wadwa Nira (Janganlah menjarah harta rakyatmu).
4. Aja Tan Asih Ing daridra (Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung).
5. Luluta Rin Pandita (Mengabdilah pada mereka yang sadar).
6. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya (Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu).
7. Aja Memateni Yen Tan Sabenere (Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan).
8. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati (Jadilah yang terbaik, dan jangan takut mati).
9. Sampuraha Rin Tiwas (Bersabar dalam keadaan susah).
10. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana (Yang terbaik adalah Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih).
Pandu mengangguk mendengarkan nasehat Semar, mereka menyempurnakan jasad Resi Jarwawati dan kembali ke Hastinapura.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


