Gandamana, Jagoan para Dewa
KISUTA.com - Di sisi lain Hutan Wanamarta, Prabu Gandabayu raja Pancala Radya sedang prihatin. Istrinya Dewi Gandarini, yang sedang hamil besar, sudah 3 hari tidak bisa tidur. Wajahnya pucat, kuyu dan letih. Sang Prabu sangat khawatir pada kesehatan istrinya. Saat kekhawatirannya memuncak, di sanggar pamujan Sang Prabu di datangi bathara Narada.
Narada: Kaki Gandabayu, relakan aku membantu persalinan istrimu, dan membawa jabang bayimu yang akan menjadi jago dewa menghadapi dur angkara.
Gandabayu: Duuh pukulun istriku sedang kesakitan menunggu persalinannya. Kalau paduka bisa membantu, alangkah baiknya...tetapi...paduka katakan bayiku bisa menjadi jago para dewa? Ah...bayi yang baru lahir?
Narada: Kuatkan keyakinanmu Kaki....saat ini Suralaya sedang menghadapi seorang ksatria yang mbarang amuk, karena meminta kakaknya yang sudah suduk salira dihidupkan lagi...prilakunya yang seperti anak kecil, tidak bisa dipenggak...hanya pantas dikalahkan diasorake oleh jabang bayi yang baru lahir...agar tumpaslah jiwa-jiwa yang tidak bisa dewasa menghadapi pancarona kehidupan...
Bathara Narada mengusap perut besar sang permaisuri...ajaib, tanpa mengeluarkan darah, Sang jabang bayi tiba-tiba keluar dan sudah berada di pondongan Bathara Narada. Permaisuri Dewi Gandarini setelah bayinya lahir terlihat lega....Sang Permaisuri tertidur pulas kecapekan, ditemani suaminya dengan penuh kasih. Bathara Naradapun membawa bayi yang masih merah itu ke Kahyangan.
Di Kahyangan Suralaya, Resi Jarwada mengamuk menghadapi keroyokan para wasu dan dewa. Permintaan sang Resi agar ayundanya dihidupkan kembali ternyata ditolak oleh Hyang Jagadnata, karena keputusan mengakhiri hidupnya memang sudah pilihan nasib resi Jarwawati yang memaksakan kehendaknya. Karena permintaannya tidak dituruti, Jarwada mengamuk. Hyang Girinata melarang para Dewa utama menghadapi amukan resi ini, karena kelakuannya dianggap kekanak-kanakan, dan sebaiknya dikalahkan oleh kanak-kanak untuk tetap mempertahankan wibawa para dewa. Alhasil untuk memberi waktu Bathara Narada mencari bocah jago para dewa, diperintahkannya para wasu dan prajurit kadewatan menghadapi Resi Jarwada.
Saat pertempuran di balik kori selamenangkep masih berlangsung dengan seru, Bathara Narada datang sambil membawa bayi merah dalam pondongannya. Bayi merah ini dilemparkan Narada ke arah Resi Jarwada, Resi Jarwada terkejut, refleks ditamparnya bayi tersebut...bayi itu terpelanting jatuh ketanah....ajaib, begitu menyentuh tanah bayi itu tumbuh sebagai bocah lucu imut-imut...Jarwada kaget, ditendangnya bocah imut-imut menggemaskan itu, bukannya kesakitan bocah itu malah terkekeh geli dan tumbuh sebagai remaja...setiap kali badannya disakiti bocah itu tumbuh lebih kuat dan akhirnya membalas serangan-serangan resi Jarwada. Kewalahan menghadapi serangan-2 balik bocah itu akhirnya Resi Jarwada tewas terkena pukulan sakti sang Bocah, begitu ambruk ke bumi jasad resi Jarwada menjadi kilatan cahaya yang segera menyatu dengan Bocah Perkasa itu.
Bocah Perkasa jago para dewa putra Prabu Gandabayu ini akhirnya dikembalikan ke kerajaan Pancalaradya.
Narada: Ooeeyyy...kaki Gandabayu, sebagaimana janjiku, ini aku kembalikan putramu yang berhasil mengalahkan Resi Jarwada, dan bahkan resi Jarwada telah menitis menyatu dalam sanubarinya...hehehe..mau kamu beri nama siapa anakmu ini...
Gandabayu: Pukulun...biarlah paduka menjadi saksi bahwa putraku ini aku namakan Raden Gandamana....ngger kemarilah anakku sayang... (Gandamana menyembah takzim ayahnya dan hanyut dalam pelukan kasih sayang sang Prabu Gandabayu)
Narada: Gandabayu dan Gandamana....bahagialah kalian sebagai ayah dan anak yang saling mengasihi...sebelum aku ke kahyangan...aku tinggalkan pesanku...
(Serat Ajipama karya R.Ng Ranggawarsita pupuh Asmaradana gatra 76 – 78)
(76). Tanasing janma utami, ingkang tumrap gesangira, mring pakeken datan andor, ngugemi sagung wiyata, winedhar sang twijara, mahnani gancaring laku, linepat salir rencana...
Dasar manusia utama, yang berlaku dalam kehidupanmu, diharapkan jangan banyak praduga. Tempuhlah pendidikan yang tinggi, yang diberikan para bijak (pertapa/guru), yang akan melancarkan jalan hidupmu, mengantisipasi rencana yang keliru.
(77). Aywa nganti atatawing, ngandelken kadang sentana, dupèh maksih dharah dhéwé, nanging pasemoning nitya, tan kénging pinitaya, rongèh jlalatan ing semu, tan pantes sinung kawiryan...
Jangan sampai terhalangi, mengandalkan kenalan dan kerabat, hanya karena masih sedarah, tetapi kelihatan di mata, tidak dapat dipercaya, matanya jelalatan kelihatan kepalsuannya, tidak pantas diberikan kemuliaan.
(78). Dyan kadang lamun tan becik, nora untung rinaketan, bisa dadi kajalomprong, angajak-ajak sangsara, tiwas tuwas wuntatnya, wasna kaduwung ing kalbu, nanantya datan piguna...
Walaupun kadang kelihatan baik, belum tentu dekat dengan keuntungan, bisa jadi malah terjebak, mengajak sengsara, hingga pada akhirnya yang terjadi, mengunduh sesuatu yang tidak berguna...
Pesan Bathara Narada ini seakan ramalan yang akan mewarnai masa depan Raden Gandamana dikhianati orang terdekat karena kebaikan hatinya yang selalu memandang orang lain sebaik dan setulus dirinya...
Kebahagiaan Prabu Gandabayu dan permaisuri Gandarini bertambah, selang 2 tahun kemudian sang Permaisuri melahirkan putri jelita yang diberi nama Dewi Gandawati. Gandamana sangat mencintai adik bungsunya dan selalu melindungi adiknya ini dengan sepenuh hati.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


