Bambang Anggana Putra
KISUTA.com - Kahyangan Suralaya sedang kisruh, Gandarwa Banujan salah seorang Raja Jin membuat onar karena keinginannya memperistri Bathari Darmastuti ditolak Bathara Indra. Sang gandarwa ngamuk, dan para dewapun dibuat kewalahan karena bala tentara mereka yang banyak dan kesaktian mereka yang luar biasa.
Hyang Manikmaya: Kakang Kanekaputra, sepertinya kita harus sambat mencari jago dari Ngarcapada, untuk mengatasi Gandarwa Banujan.
Narada: Ooeey Adi Guru...Makan mangga sisa si codot, rasanya enak lupa buruan...Kok klo kahyangan repot, jalma manusia jadi tumpuan...hehehe..tapi ya sudahlah..memang sudah jamak jadi dewa, bisa mrintah tanpa ditolak...Ooeyy, kanda usulkan Bambang Anggana Putra dari pertapaan Argabelah, dia ini putra kedua Resi Jaladara dari pertapaan Dewasana dengan dewi Anggini, masih keturunan Prabu Citragada, raja negara Magadha, ipar Arjunasasrabahu.
Manikmaya: Saya percaya pada jago pilihan kakang Kanekaputra. Panggillah Bambang Angganaputra, sampaikan padanya...kalau dia berhasil memusnahkan Gandarwa Banujan...dia boleh memilih salah seorang Bidadari Maniloka sebagai istrinya.
Bambang Anggana Putra adalah ksatria tampan berdarah putih. Kepribadiannya lurus, bisa dipercaya, penuh tanggung jawab dan selalu peduli dengan orang lain. Di luar semua kelebihannya, Bambang Anggana Putra adalah pribadi yang jenaka, suka bercanda dan tidak pernah punya rasa takut.
Atas permintaan para Dewa, Bambang Anggana Putrapun terbang ke Kahyangan melawan Gandarwa Banujan dan pasukan jinnya. Dengan kesaktiannya yang luar biasa akhirnya Bambang Anggana Putra berhasil menewaskan Gandarwa Banujan dan mengusir pasukan jin dari Kahyangan.
Pagi itu di dampar kencana Mercupunda, Sanghyang Manikmaya, Jagatnata, Batara Guru, bersabda.
Manikmaya: Anggana Putra, aku akan menganugerahkanmu seorang bidadari untuk kau persunting. Pilihlah olehmu salah seorang diantara para bidadari Maniloka ini.
Bambang Anggana Putra: (Wajahnya sumringah, senyumnya terus dikulum, betapa bangganya dia berada di tengah-tengah para dewa dan bidadari...matanya menatap para bidadari yang hadir di pasamuan...tobat, semua cantik-cantik...bingung dia diharuskan memilih...walah, sambil merempun dia akan dapat yang cantik juga....karena bidadari-bidadari itu ngga ada yang jemblem, kulit kusam, atau jerawatan..wow semua kempling, pinggangnya ramping-ramping, kulitnya bersinar...mau yang brintik atau yang lurus rambutnya, semua mempesona...pandangan mata Bambang Anggana Putra berhenti pada Bathari Uma di sebelah kanan Sanghyang Manikmaya)
Manikmaya: Anggana Putra..bagaimana ini, mengapa diam membisu...lihatlah para bidadari Maniloka ini, tidakkah ada diantara mereka yang menggetarkan rasamu?
Bambang Anggana Putra: Oooh..eh..ya..ya..wah justru semua membuat saya tergetar pukulun...sampai merinding badan saya gemetar dari ujung rambut ke ujung kaki..hehehe..ehm..ehm.
Bambang Anggana Putra berdehem untuk menentramkan hatinya yang meloncat-loncat kegirangan. Tingkah dan kepolosannya membuat para dewa dan bidadari tersenyum.
Narada: Sudah, jangan lama-lama sebutkanlah salah satu nama bidadari ini...ini kanugrahan luarbiasa, ayo cepet.
Bambang Anggana Putra : Ampun pukulun, sungguh hamba bahagia mendapat anugerah pukulun, namun melihat para bidadari penghuni Maniloka ini yang semuanya berparas jelita membuat hamba tidak mampu menentukan pilihan. Tetapi baiklah, setelah hamba timbang-timbang pilihan hamba jatuh pada Dewi Uma, bidadari yang selama ini hamba kagumi.
Blaaar!!! Pegangan tangan dampar Mercukunda hancur oleh remasan Hyang Manikmaya, tubuh Batara Guru bergetar, mukanya merah padam, hatinya menjadi panas sepanas kawah Candradimuka. Semua para dewa terkesiap mendengar ucapan Bambang Anggana Putra.
Manikmaya: Hmm... Lancang, tanpa tatakrama seperti patrap yaksa ucapanmu Bambang Anggana Putra, wajahmu yang tampan tak layak dihiasi bibir yang kotor seperti itu. Telah aku dendangkan gita pujian di atas cawan anggur bermadu, tetapi kau sodorkan cawan berbisa di depan mukaku. Bathari Uma adalah Prameswari Kahyangan istriku sendiri...berani benar engkau meminta istriku untuk melayanimu wahai jalma tidak punya aturan....Nyahlah engkau dari hadapanku...mulai sekarang tubuh dan mukamu adalah tubuh dan muka seorang Yaksa yang lebih pantas dihuni keinginan-keinginan mrosal seperti polahmu tadi.
Tangan Batara Guru mengeluarkan sinar yang berkilau dan tiba-tiba ditimpakan ke tubuh Bambang Anggana Putra...jeudhheeeeerrr !!!!.... Tubuh Bambang Anggana Putra sekan tertimpa godam 2 ton...terjengkang dan berguling-guling berubah menjadi sosok raksasa yang menyeramkan.
Anggana Putra: Ampun pukulun… Maafkan ucapan hamba, hamba tidak bermaksud menghina kewibawaan paduka, hamba hanya bersenda gurau karena pukulun menyuruh hamba memilih salah seorang bidadari penghuni Maniloka tanpa pengecualian, maka hamba mencandai pukulun, sebab Dewi Uma sendiri adalah bidadari penghuni Maniloka. Mohon pukulun memaafkan sifat jenaka hamba.
Manikmaya: Sabdaku adalah supata yang tidak mungkin kujilat kembali. Pulanglah kau ke pertapaanmu. Sesuai janjiku, aku akan memberikan seorang bidadari untukmu, aku menunjuk Dewi Darmastuti sebagai istrimu, ia akan menemani hari-harimu di Argabelah, sampai kelak jika dewi Darmastuti melahirkan seorang anak, maka ia akan kembali pulang ke kahyangan.
Anggana Putra sangat sedih, ia tidak menyangka akan mendapat hukuman sedemikian rupa. Setelah melakukan penghormatan yang terakhir kalinya, Anggana Putra lalu pergi meninggalkan kadewatan Suralaya menuju Argabelah.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


