Candrabhirawa
KISUTA.com - Peristiwa keberanian Bambang Anggana Putra ternyata menimbulkan dendam di hati Bathara Guru. Dia ingin menambah hukumannya pada Anggana Putra. Bathara Guru menembus Kahyangan Saptapertala, ia mengambil selongsong kulit Hyang Antaboga yang mengalami pergantian kulit setiap 1000 tahun sekali. Dengan kesaktiannya, selongsongan kulit itu dicipta menjadi Taksaka (naga) yang sangat sakti mandraguna.
Batara Guru telah memasukkan sukma Candrabhirawa yang telah ditangkapnya saat melayang-layang mencari penitisan. Taksaka lalu dititahnya untuk menghadang perjalanan Bambang Anggana Putra dengan maksud membinasakannya. Taksaka segera melesat menyusuri lapisan-lapisan bumi, mengejar Bambang Anggana Putra.
Bambang Anggana Putra masih melayang di udara dalam perjalanan pulang, Taksaka berhasil mengejarnya, ia segera menyergap tubuh Bambang Anggana Putra. Tubuh Anggana Putra diterkam dan dibanting. Anggana Putra roboh menghantam bumi, menghancurkan bebatuan cadas gunung. Tidak sampai di situ, Taksaka kembali memburu Anggana Putra yang baru bangkit. Taksaka upas/racun dan api yang keluar dari mulutnya. Tetapi, racun-racun itu tidak mampu mematikan tubuh Anggana Putra, api pun tidak mampu membakarnya. Bambang Anggana Putra digjaya, tubuhnya tidak cidera sama sekali.
Perang tanding Anggana Putra melawan Taksaka berlangsung hebat.
Akhirnya, Taksaka tidak mampu menandingi kesaktian Anggana Putra. Taksaka ditangkap, mulutnya dirobek hingga kepalanya terbelah menjadi dua. Lenyap wujud Taksaka tanpa bekas, berubah menjadi sosok raksasa.
Raksasa jelmaan Taksaka itu menyerang Anggana Putra. Dua raksasa mengadu kesaktian, mengadu kedigjayaan. Ajaib! Setiap tetes darah yang keluar dari tubuh raksasa jelmaan Taksaka, berubah wujud menjadi raksasa yang besar dan bentuknya sangat sama antara satu dan lainnya. Belum habis rasa heran Anggana Putra, raksasa-raksasa itu menyerangnya. Anggana Putra dikepung, dikeroyok, dan diserang dari segala penjuru. Anggana Putra berusaha melawan, akan tetapi setiap ia mampu melukai dan membunuh raksasa-raksasa itu, maka tetesan darah mereka berubah menjadi raksasa baru.
Karena merasa terdesak, Anggana Putra segera melompat jauh menghindari kepungan bala raksasa. Dari tempat yang jauh Anggan Putra segera melakukan meditasi, mengheningkan cipta, merapatkan kedua tangannya memusatkan seluruh panca indranya, ia meredam segala nafsunya, menyatukan cipta dan rasa, menunjukkan jati dirinya sebagai seorang yang memiliki darah putih. Semilir angin berhembus halus keluar dari setiap lubang tubuhnya, memancar cahaya putih dari tubuhnya, tubuh Anggana Putra murub ngebyar memancarkan cahaya. Saat raksasa-raksasa mengejar, dan mulai berdatangan mendekat, seketika raksasa-raksasa itu sirna melebur menjadi satu, sirna wujud berubah menjadi cahaya.
”Aduh tobat Bapa resi....tobat.... Aku, Candrabhirawa tidak sanggup melawanmu karena engkau adalah seorang yang dialiri darah putih, untuk itu perkenankan aku mengabdi kepadamu bapa resi… Jika kau membutuhkan aku panggillah aku, Candrabhirawa.”
Candrabhirawa merasuk menyusup ke gua garba, meraga sukma menjadi satu dengan Bambang Anggana Putra. Seakan sudah tersurat Candrabhirawa akan selalu mengabdi kepada manusia berdarah putih, seperti sebelumnya di jaman Arjuna Sasrabahu, ia mengabdi kepada Sukasrana, dan kini ia kembali mengabdi kepada seorang berdarah putih, Anggana Putra titisan Sukasrana.
Narada: Hmm...Adi Guru...mengapa belum reda amarahmu.. Belum puaskah adi Guru mengutuk Bambang Anggana Putra, dari ksatria muda tampan...menjadi Raksasa yang menyeramkan seperti itu? Mengapa masih Adi Guru arah patinya? Ingatlah...Bambang Anggana Putra berjasa membasmi dur angkara yang ada pada Gandarwa Banujan...tidakkah itu bisa meluluhkan hatimu? Sudahlah adi Guru...lepaskan dia.
Hyang Manikmaya: Kakang Kanekaputra...jika jalma manungsa merasa punya jasa, maka tinggilah hatinya...menganggap dirinya setara dewa...tutur kata solah bawany tidak diatur... kekurangajarannya pada istriku, wajib diberi pelajaran...
Narada: Bukankah sudah engkau kutuk...dan anak itu sudah minta maaf menyesali candaannya yang berakibat buruk...Ooo Adi Guru...jika ada orang bersalah, tetapi kemudian dia menyadari kesalahannya, dan segera minta maaf kepada orang yang terkena akibat dari kesalahannya...bukankah itu sudah cukup untuk melangkah lagi ke muka tanpa dihiasi dendam...?
Manikmaya: Hhmm...sebenarnya masih panas dadaku oleh tingkah anak ini, perkataannya yang jumawa...terus berkelebat di mataku membuatku muak dan benci padanya...
Narada: Sudahlah adi Guru...tutuplah kebencianmu, ini akan mengurangi kewibawaanmu sebagai penguasa Triloka.
Sanghyang Manikmaya akhirnya bisa diredakan oleh Bathara Narada. Mereka kembali ke Suralaya.
Bambang Anggana Putra yang selanjutnya bergelar Resi Bagaspati di pertapaan Argabelah. Mulai menata diri dan menerima cantrik-cantrik yang berguru padanya. Hingga suatu hari, sesuai janji Sanghyang Manikmaya, Dewi Darmastuti turun dari kahyangan. Sang dewi kemudian diperistri oleh Resi Bagaspati, mereka hidup rukun saling mengasihi dan menyayangi. Walau bentuk dan rupa Resi bagaspati kini adalah sosok raksasa, tetapi dewi Darmastuti sangat menyintainya, sangat patuh dan berbakti kepada suaminya. hingga benih-benih cinta itu kemudian berbuah melahirkan seorang anak wanita yang jelita seperti ibunya.
Resi Bagaspati dan Dewi Darmastuti merasa bahagia karena cinta mereka telah melahirkan seorang putri jelita. Namun kebahagiaan mereka berangsur surut ketika teringat sabda Batara Guru, bahwa kelak sang dewi akan kembali pulang ke kahyangan setelah ia melahirkan seorang anak. Resi Bagaspati sangat sedih karena ia akan kehilangan istri yang sangat dicintai, begitu pun dengan dewi Darmastuti yang harus meninggalkan bayi kecilnya. Kebahagiaan mereka seperti direnggut paksa, direnggut oleh sebuah kekuasaan absolut yang dibingkai dendam.
Hari-hari dilalui Anggana Putra bersama putri kecilnya, Pujawati. Ia membesarkan Pujawati dengan cinta dan kasih. Keteguhan hatinya membuat para dewa dewi penghuni kahyangan merasa terharu, kecuali Sanghyang Guru yang masih menyimpan dendam kepadanya. Oleh sebab itu Batara Narada menamakannya Bagaspati yang berarti matahari. Matahari yang bersinar terhadap bumi. Begitulah Bagaspati kepada putrinya, ia menyinari, menumbuhkembangkan semangat, memberikan penghidupan serta melindungi dengan penuh kasih sayang.
Walaupun tinggal di Pertapaan Argobelah, Resi Bagaspati mampu mencukupi kebutuhan putrinya Dewi Pujawati dengan baik. Putri kecil ini tumbuh sebagai remaja putri yang jelita dengan kebutuhan sandang yang elok terpenuhi, hal ini terjadi karena persahabatan Resi Bagaspati dengan Prabu Mandrati Raja Mandaraka, yang berjalan sejak mereka muda teruna.
Prabu Mandrapati prihatin dengan kutukan Sanghyang Manikmaya pada sahabatnya itu, dan menghibur sang sahabat agar tabah menjalani kehidupannya. Mandrapati sangat menghormati dan menyayangi Bagaspati, melihat pertumbuhan Pujawati terbersit keinginannya untuk menjodohkannya dengan Narasoma putranya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


