Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Sayembara Gandawati

Senin, 11 Januari 2016

KISUTA.com - Bulan bersinar redup di Negeri Atas Angin. Semilir angin malam buta di pertapaan Argo Jembangan, Resi Baratwaja berhadapan dengan anaknya Raden Kumbayana, dan anak almarhum sahabatnya Prabu Drupara, Raden Sucitra.

Baratwaja: Kumbayana, Sucitra, rasa-rasanya ilmuku sudah tuntas kalian serap. Usia kalianpun sudah dewasa, ada baiknya kalian mulai mencari jodoh kalian masing-masing.

Kumbayana: Rama Begawan, putri mana yang setara untuk berjodoh dengan kami? Terus terang aku sendiri hanya berminat mencari istri seorang bidadari. Kalau hanya putri biasa...walah...apa istimewanya Rama, rasanya malah membosankan.

Baratwaja: Jagad Dewa Bathara..ngger Kumbayana mengapa kamu begitu jumawa...segala perkataan yang engkau keluarkan jika diwarnai kesombongan, akan menghantam nasibmu sendiri Kumbayana...Ooo anakku..keluarlah dari Pertapaan abdikan dirimu di kehidupan agung, semoga alam mengajarimu lebih lembah manah..hingga engkau tidak tertelan kesombonganmu.

Kumbayana diusir secara halus oleh ayahnya karena perkataannya yang dinilai jumawa dan merendahkan martabat bidadari. Sepeninggal Kumbayana, Sucitrapun pamit untuk menambah ilmunya pada Bhisma Yang Agung di Hastinapura.

Syahdan di taman keputren Hastinapura, Resi Abyasa sedang berbincang-bincang dengan Ibu Suri Setyawati, Ratu Ambika, dan Ratu Ambalika.

Setyawati: Anakku Prabu Kresna Dwipayana..apakah sudah engkau pikirkan rencanamu lukar keprabon, kembali mengenakan busana kapanditan dan menjadi Resi Abyasa lagi anakku...lalu bagaimana dengan Ibu dan para ratu istrimu ini?

Abyasa: Ibu, Sang Khalik telah mengatur kehidupan di Mayapada ini dengan adil dan bijaksana. Bagi seorang yang sudah awas dan waspada, di dunia ini tidak ada yang dinamakan kebetulan. Waktu pagi, matahari terbit, sedang waktu sore matahari terbenam. Malam tiba dan terjadi gelap gulita. Ibu, masa lampau telah kita lalui dengan suka dan dukanya. Namun agaknya masa depan bangsa Kuru akan lebih banyak mengalami penderitaan. Kita akan memasuki keadaan yang pahit, sakit, dan penuh “dosa derita”.

Setyawati: Oh anakku, kalau demikian apa yang harus aku lakukan?

Abyasa: Ibu yang sangat kucintai. Inilah yang dinamakan “kala”, tidak bisa dihindari. Karena itu saya mohon dengan kerendahan hati, kiranya ibu tak usah menyaksikan malapetaka dan nasib sedih yang nanti menimpa bangsa Kuru. Biarlah ananda yang akan menunggu dan menyaksikan malapetaka dan nasib sedih yang akan menimpa bangsa Kuru. Sebaiknya ibu beserta ratu Ambika dan Ambalika meninggalkan kerajaan Hastina, melakukan Baktiyoga. Lelana laladan sepi, ngingsep sepuh ing sopana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budaya tulus, mesu reh kasudarman, neng telenging wanadri, sruning brata kataman wahyu jatmika. Bali alaming asuwung, anggayuh nirwana. (Menyepi kehutan, memusatkan diri pada penyerahan total, memuja Sang Pemberi Hidup, sepenuhnya pasrah dan bertobat atas segala kealpaan, dosa dan kekhilafan, hingga ajal menjemput).

Resi Abyasa kemudian kembali ke Sapta Arga setelah menobatkan Pandu sebagai Raja Hastinapura didampingi Destarasta dan Widura, serta menitipkan anak-anaknya pada Bhisma Yang Agung. Mengikuti saran anaknya Ibu Suri Setyawati atau Dewi Lara Amis beserta Ambika dan Ambalika pergi ke hutan menyepi, melewatkan hari-hari tuanya. Mereka mencuci diri dan mencoba mengurai beban dosa anak cucunya, sedemikian rupa sehingga mencapai pelepasan sukma dari raganya.

Saat Sucitra sampai ke Hastinapura, oleh Bhisma dia diarahkan untuk berguru pada Prabu Pandu, karena Bhisma bertekad hanya akan mengajar ilmu pada keturunan Kresna Dwipayana saja sebagai prinsipnya menjaga raja-raja Hastinapura. Di tangan Pandudewanata, Sucitra digembleng ilmu kanuragan dengan ketrampilan penggunaan senjata bersama saudara seperguruannya Gandamana yang sudah terlebih dahulu menjadi murid Pandu.

Suatu hari, Gandamana pamit kembali ke Pancalaradya, karena dipanggil ayahnya Prabu Gandabayu untuk menjadi jago sayembara pilih menantu memperebutkan Dewi Gandawati adiknya yang cantik.

Sepeninggal Gandamana, Sucitrapun meminta ijin Pandu untuk mengikuti sayembara tanding itu, Pandu meminjamkan sumpingnya kepada Sucitra dengan harapan Gandamana mengenali dan memaknai hal itu bahwa Pandu sepenuhnya mendukung keinginan Sucitra agar Gandamana tidak berlaku keras padanya.

Pagi itu, kerajaan Pancalaradya dihadiri ratusan raja muda yang mengikuti sayembara Dewi Gandawati. Sudah ratusan ksatria dan rajamuda tersungkur dihajar raden Gandamana yang sakti...terik mentari mulai menyengat ketika raden Sucitra memasuki gelanggang sayembara.

Saat ksatria muda ini mulai mendekati panggung kehormatan, Prabu Gandabayu tersentak, dia berbisik kepada Gandamana.

Gandabayu: Jagad Dewa Bathara...anakku Gandamana, ksatria yang baru masuk ini bagai pinang dibelah dua dengan Prabu Drupara, raja tempat ayah mengabdi dulu di kerajaan Duhyapura...kenalkah engkau padanya?

Gandamana: Ah, dia adik seperguruanku di Hastinapura, namanya raden Sucitra dari negri Atas Angin anak asuh Resi Baratwaja...

Gandabayu: Berarti benar dia putra Prabu Drupara...ah Gandamana, jangan kau hajar dia, dia layak mendapatkan adikmu...

Gandamana memperhatikan permintaan ayahnya. Lagipula dia melihat Sucitra mengenakan sumping Prabu Pandu, tentu dia tahu maknanya bahwa Pandu mengirimkan Sucitra dengan segenap doa restunya. Dengan mudah Sucitra memenangkan sayembara itu. Sucitra berhasil menikah dengan Gandawati, dinobatkan sebagai raja di Pancalaradya dengan nama Prabu Drupada.

Beberapa bulan sejak penobatan Sucitra, datanglah Kumbayana yang mulai sengsara dalam pengembaraannya. Ketika mendengar Sucitra sudah menjadi raja di Pancalaradya, Kumbayana datang untuk meminta bagian kerajaan Sucitra, karena dulu Sucitra pernah berjanji membagi apapun yang dimiliki berdua dengan Kumbayana.

Di Alun-alun istana, Kumbayana dengan tidak sabar berteriak-teriak memanggil Sucitra.

"Ahoooiii..Citra..ee..Sucitra..wuee..keluarlah ini aku kakangmu Kumbayana..Di Sucitra lagi apa kamu...hehehe..ayo buktikan kesetiaanmu..ini aku kakangmu datang...bagilah kerajaanmu denganku..woiii Sucitra...."

Gandamana tersinggung melihat adik ipar sekaligus rajanya diperlakukan dengan kurang sopan. Dia keluar menegur Kumbayana, agar lebih sopan karena raden Sucitra sekarang sudah menjadi raja di Pancalaradya bergelar Prabu Drupada. Kumbayana malah mengejek dan tetap jumawa dengan sikapnya, akhirnya Ia pun menyeret Kumbayana keluar dari istana dan menghajarnya sampai cacat. Wajah Kumbayana yang semula tampan berubah menjadi buruk rupa. Setelah mematahkan hidung, tangan dan kaki Kumbayana, Gandamana meletakkan tubuh yang hancur itu di tepi sungai Yamuna.

"Hem Kumbayana....Jangan kamu bermalas-malasan mecari kebenaran, kebajikan, jalan untuk mencari bahagia dan keselamatan, agar bisa kamu raih. lepas dari perbuatan yang tidak benar. Rajinlah prihatin. Lihatlah, carilah sampai bisa ketemu, carilah yang benar telitilah jangan sampai keliru, rasakan di dalam hatimu, bersikap pekalah agar engkau tanggap."*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya