Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Narasoma Krama, Bagaspati Tiwas

Kamis, 14 Januari 2016

KISUTA.com - Seekor kupu-kupu yang sayapnya bak tirai surgawi, terbang memamerkan keindahannya. Gadis jelita yang menatap keindahan kepak sayap kupu-kupu itu tersenyum simpul sendiri. Matanya yang berbinar indah bak kilauan berlian, terus mengikuti arah kupu-kupu itu terbang. Sampai mata itu terbelalak, saat sang kupu-kupu bertemu dengan pasangannya, dan terbang beriringan dengan segala kemegahannya.

Aah, kupu-kupu yang indah, engkau sudah menemukan pasanganmu...
Bahagia sekali, saat hatimu terajut seia sekata menuju asamu...

Gadis Jelita itu menarik nafas panjang, sesaat segala keceriaan seakan tersapu mendung, kepalanya menunduk..sampai didengarnya bunyi dehem di belakangnya.

Bagaspati: Anakku Pujawati...mengapa tiba-tiba wajahmu meredup?

Pujawati: Rama Begawan....ehm...ngga apa-apa Rama...(Pujawati makin dalam terpekur)

Bagaspati: Pujawati, jangan ada yang engkau sembunyikan dari Rama...sepeninggal ibumu ke kahyangan. Kita hanya tinggal berdua. Selayaknya engkau bisa mempercayai Rama untuk setiap hal yang membuatmu risau.

Pujawati: Jangan salah mengerti Rama...bukan ananda tidak mempercayai Rama...tetapi...(lidah Pujawati kelu...bagaimana dia menyampaikan kerisauannya pada ayah yang sangat dicintainya...dalam kebingungannya tanpa terasa airmata menggenangi pelupuk matanya).

Bagaspati: (memeluk bahu anaknya, Pujawati memeluk erat ayahnya, tanpa kata-kata tercurahlah segala pendaman perasaannya. Pujawati menangis terguncang dalam pelukan kasih sang Ayah. Bagaspati tidak lagi mengejar keingintahuannya. Sebagai ayah yang bijak, resi yang Sakti, dia sudah bisa meraba kerisauan hati anaknya).

Pujawati sedang dirundung kesepian yang teramat sangat. Dia hidup hanya dengan ayahnya seorang brahmana raksasa di Pertapaan Argobelah. Tanpa ada rekan seusia, tanpa ada pasangan tercinta. Kecantikan Pujawati sangat luarbiasa, tetapi lelaki mana yang berani mendekatinya? Bagaspati adalah brahmana resi yang memiliki kedudukan tinggi. Kewibawaannya sebagai brahmana dan kesaktiannya yang sangat tinggi dengan ajian Candrabirawa yang sulit tertandingi seakan benteng kokoh bagi Dewi Pujawati putrinya. Tidak sembarang pria berani mendekati sang putri. Bahkan para raja pun harus berpikir dua tiga kali untuk berani meminang Dewi Pujawati.

Resi Bagaspati yang ditakuti dan disegani merupakan batu panghalang bagi putrinya untuk mendapatkan jodoh.

Dengan kedalaman bathinnya, Bagaspati mampu meredakan emosi Pujawati, lembut dibimbingnya sang putri kembali ke pertapaan, sambil menasehatinya bahwa kerisauannya akan segera sirna, karena sebagai resi pinunjul Bagaspati merasakan jodoh Pujawati sudah dekat.

Di kerajaan Mandaraka, Prabu Mandrapati memanggil putranya Pangeran Pati Narasoma yang sudah berangkat dewasa.

Mandrapati: Anakku Narasoma, engkau kini telah dewasa, sudah saatnya bagimu mencari calon permaisurimu...Bagaimana Narasoma, apakah engkau sudah memiliki tautan hati?

Narasoma: Hahahaha...kanjeng Rama, mana sempat hamba mencari kekasih hati. Hari-hari hamba sudah padat dengan gemblengan ilmu tata pemerintahan, kanuragan dan olah bathin. Lagipula, maaf Rama, di Mandaraka ini jujur belum ada gadis yang mampu menggetarkan hati ananda.

Mandrapati: Hem.. Kalau begitu Narasoma, cobalah engkau pergi ke Pertapaan Argobelah. Di pertapaan itu aku punya sahabat masa kecil yang bernama Bambang Anggana Putra, Setelah dewasa dan menikah dengan seorang bidadari, namanya berganti menjadi Resi Bagaspati. Aku dengar Resi Bagaspati memiliki seorang putri yang jelita, cobalah kamu lihat....maklum saja ibunya Bidadari, tentu dia gadis yang istimewa.

Narasoma menyetujui usulan ayahnya. Keesokan harinya Pangeran muda ini berangkat sendiri dengan kuda Dadung Awuk kesayangannya.

Sebelum sampai di pertapaan Argobelah, di tepi Telaga Warasangin, Narasoma mendengar suara merdu yang menembangkan tembang macapat serat Wulangreh Pupuh Asmaradana.

Narasoma mengintip pemilik suara merdu itu. Tiba-tiba hatinya tergetar, kakinya melayang serasa tidak berpijak kebumi...duhai cantiknya wajah itu, dengan tubuh sempurna yang terbungkus kemben agak basah, sepertinya putri jelita ini baru selesai mandi di telaga. Kesederhanaan busananya dan kesegaran parasnya justru menonjolkan pesona sang dara jelita.

Narasoma segera menyapa si Jelita seakan takut kehilangan kesempatan.
Narasoma: Duhai gadis rupawan, siapakah andika...suara merdumu menghiasi hutan ini dengan irama surgawi.

Pujawati (terkejut dan terpana menatap wajah tampan Narasoma, ksatria ini mirip benar jejaka yang hadir dalam impiannya.) Aku Pujawati putri Resi Bagaspati dari pertapaan Argobelah...siapakah engkau wahai ksatria?

Narasoma (hatinya meloncat-loncat kegirangan...ah jadi inikah putri sahabat ayahnya, putri sang bidadari...woww..kalau yang seperti ini, rasanya tidak perlu lagi dia bandingkan dengan yang lain) Ooh, adindakah Dewi Pujawati? Kalau begitu kebetulan sekali. Aku datang ke sini memang bermaksud mengunjungi pertapaan Argobelah dan bertemu dengan adinda..ternyata benar kata ayahku, engkau sungguh cantik rupawan..kalau begitu, mari, antarkan aku bertemu dengan ayahandamu...

Pujawati tersenyum sumringah, saat membawa Narasoma bertemu ayahnya. Saat bertemu Resi Bagaspati terkejutlah Narasoma...Raksasa...Resi Bagaspati seorang Brahmana Raksasa...Rambutnya Gimbal, badannya gembrot, suaranya menggelegar kulitnya hitam...aduuuh...bagaimana dia bisa punya putri secantik Pujawati?

Narasoma yang termangu menatap wajah Resi Bagaspati, menimbulkan perasaan tak nyaman di hati pertapa sakti ini. Ketajaman batin Begawan Bagaspati meraba ada tanda-tanda kurang baik pada diri Narasoma yang tampak sedikit angkuh.

Bagaspati lantas sibuk berolah batin mencermati Narasoma, menimbang antara sikap keangkuhannya dan rasa cintanya kepada Pujawati. Akhirnya tibalah saatnya Bagaspati menyimpulkan, bahwa Narasoma memang angkuh dan tidak cocok dengannya. Tetapi cinta Narasoma kepada Pujawati benar-benar sangat kuat sehingga dapat diharapkan kelak akan menggantikannya menjadi pelindung terbaik bagi putrinya.

Dengan kebijaksanaan seorang ayah yang sangat mencintai putrinya, Bagaspati menerima kehadiran Narasoma, memberinya kamar tersendiri untuk menginap. Membiarkan kedua sejoli itu mengenal lebih dekat satu sama lain, dalam beberapa hari.

Dugaan Bagaspati ternyata benar. Diam-diam Narasoma mendekati Bagaspati ketika Pujawati tidak sedang bergabung, Dia berkata bahwa dia sangat mencintai Pujawati meskipun harus menderita seumur hidup. Bagaspati lantas bertanya kenapa harus menderita. Narasoma memainkan sebuah teka-teki, "Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata di dekat bunga mekar itu, terdapat seekor binatang buas yang menyeramkan yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila binatang buas penunggu itu telah terbunuh”. Narasoma mengatakan, dia akan menderita seumur hidup karena di satu sisi dia tidak mampu berpisah dengan Pujawati. Namun di sisi lain dia harus menanggung malu karena menjadi menantu seorang raksasa yang papa.

Bagaspati meradang, duhai beratnya menjadi seorang Bapa..Andaikan bukan Narasoma yang sangat dicintai anaknya, tentu sudah ditelannya hidup-hidup. Sadar bahwa kemarahannya jika tidak dihentikan akan berakibat fatal bagi anaknya. Akhirya Bagaspati hanya menghela napas panjang sambil ngelus dada.

Bagaspati: Heh Narasoma, kelewatan kamu… Kalau saja anakku tidak jatuh cinta padamu, hari ini engkau hanya tinggal nama saja. Sekarang berkatalah jujur… apa yang akan kamu lakukan terhadap anakku seandainya aku tiada?

Narasoma: Resi Yaksa, andaikan kamu tidak ada, anakmu akan kujadikan satu-satunya istri yang aku cintai dan aku lindungi dengan segnap jiwaku.

Bagaspati: Hai pemuda congkak, apakah kata-katamu itu sumpah seorang ksatria?

Narasoma: Betul, itu sumpahku, Engkau dan jagad seisinya menjadi saksi.

Bagaspati memanggil putrinya, Dewi Pujawati yang sedang tidur seraya menyampaikan nasihat yang lengkap dan padat yang dilantunkan dalam tembang sinom parijata.

Narasoma dan Pujawati memahami dan menyanggupi untuk melaksanakan nasihat sang ayah tanpa syarat. Bagaspati meresmikan pernikahan putri tercintanya melalui upacara singkat yang hanya disaksikan oleh para cantrik Argobelah. Selesai peresmian, Bagaspati menyuruh Pujawati tidur kembali. Pujawati pun bergegas ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Bagaspati percaya bahwa Pujawati anak yang patuh kepada ayahnya.

Setelah Pujawati pulas tidur dan para cantrik kembali ke asramanya, Bagaspati melanjutkan percakapannya dengan Narasoma. Kali ini sangat serius. Intinya adalah mewariskan seluruh kesaktiannya termasuk ajian Candrabirawa kepada sang menantu nan congkak. Narasoma pun menerima warisan itu dengan gembira. Seusai prosesi pewarisan, Bagaspati berkata:

Bagaspati: Narasoma suka maupun tidak suka, engkau sekarang sudah menjadi menantuku… kuwariskan seluruh kekuatanku kepadamu dengan ikatan sumpahmu untuk mencintai dan melindungi anakku dengan nyawamu seumur hidupmu. Jika kelak engkau berkhianat, maka engkau akan menerima kutukanku hancur lebur dengan kenistaan tanpa hargadiri.

Selesai mengucapkan nasehat terakhirnya, Bagaspati menghembuskan napas yang terakhir kalinya. Narasoma pun segera memusnahkan jenazahnya dengan membakarnya.

Pagi-pagi Dewi Pujawati bangun tidur mencari sang ayah sambil membawakan minuman hangat seperti yang biasa dilakukannya sehari-hari. Namun kali ini sang ayah tidak tampak di ruangan semedi seperti biasanya. Pujawati menanyakannya kepada Narasoma.

Narasoma: Dinda Pujawati, engkau tidak perlu menanyakan ayahmu lagi. Mari ikut bersamaku pulang ke negeriku Mandaraka (Madras).

Pujawati: Sendika dawuh kangmas, tapi aku harus ketemu dengan ayah dulu, setidaknya untuk berpamitan.

Narasoma: Istriku Sayangku, bukankah ayahmu semalam telah menasihatimu untuk mematuhiku?

Pujawati (pasrah dan berkaca-kaca matanya): Ooo, Kangmas...apakah ini artinya Bapa Begawan sudah pralaya? Itukah maknanya beliau pamit padaku dan ingin berbicara empat mata padamu?

Narasoma mengiyakan pertanyaan istrinya, menghibur istrinya bahwa itulah jalan yang terbaik bagi keluarga mereka, karena Sang Begawan juga ikhlas menyerahkan semua ilmunya ke Narasoma untuk melindungi Pujawati. Pujawati menggigil dalam duka ketika berdoa di makam ayahnya, betapa pedihnya perjodohannya harus ditebus dengan kematian sang ayah. Malam itu juga Pujawati pun diboyong Narasoma ke Mandaraka tanpa sepengetahuan para cantrik.

Sesampainya di Mandaraka, Narasoma dinobatkan menjadi raja oleh ayahnya yang sudah renta dengan jejuluk Prabu Salyapati. Dewi Pujawati juga dinobatkan menjadi permaisuri dan untuk mengenang kesetiaannya yang tanpa syarat, Narasoma memberinya nama Dewi Setyawati.

Seusai penobatan Prabu Mandrapati menanyakan mengapa Resi Bagaspati tidak diajak serta ke Mandaraka, Prabu Mandrapati menyatakan kerinduannya pada sahabatnya itu.

Narasoma mengisahkan dialog dan kesepakatan yang diambil antara dia dan Resi Bagaspati saat melamar Pujawati.

Prabu Mandrapati kaget dan tidak menyangka anaknya begitu congkak dan tidak tahu diri sampai membuat sahabatnya tewas berkorban demi kebahagiaan anaknya. Mandrapati marah, akhirnya mengusir Narasoma keluar dari Mandaraka, dan baru boleh kembali jika Mandrapati telah mangkat.

Kaget dengan amarah sang ayah pada kakaknya, Sekar Kedaton Mandaraka, Dewi Madrim ikut bersama pasangan Narasoma dan Setyawati keluar istana Mandaraka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya