Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Semangat pagi...

(Ber)-bahagia-(lah)

Sabtu, 16 Januari 2016

KISUTA.com - Sukses, kaya, sehat, dan bahagia. Se­mua orang tentu menginginkannya. Untuk itu, harapan dan doa ke­rap dipanjatkan, terutama pada momentum khu­sus seperti perayaan ulang tahun atau pada detik-detik malam pergantian tahun. Namun, tentu saja, harapan dan doa belum cukup untuk mewujudkan kondisi ideal itu. Perlu ikhtiar dan kerja keras.

Beragam cara dilakukan orang untuk mencapai kondisi itu. Banyak yang berhasil, tetapi tak sedikit pula yang gagal. Mereka yang berhasil umumnya mengaku, apa yang mereka raih dan rasakan adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Ya, kerja keras kata kuncinya. Seperti dikata­kan Perdana Menteri Inggris yang terkenal, Winston Chur­chill, ”Sukses adalah kegagalan demi kegagalan (da­lam berupaya) yang kita alami tanpa kehilangan antusis­me.” Bos Grup Virgin yang mendunia, Richard Branson, juga menyatakan, ”Sukses adalah kepuasan karena mela­kukan sesuatu yang kamu senangi dan itu memotivasi orang di sekitarmu. Hal itu bisa berarti kesenangan, inovasi, kreativitas yang semuanya jauh lebih berharga dari sekadar tumpukan uang.”

Lantas, apakah kesuksesan dan kekayaan itu bisa mem­­buat orang bahagia? Ternyata belum tentu juga. Banyak kisah yang menggambarkan betapa kekayaan berlimpah, sebagai salah satu hasil dari kesuksesan, tidak serta-merta membuat seseorang bahagia. Karl Rabeder, misalnya. Pengusaha sukses asal Eropa barat itu memutuskan untuk memberikan sebagian hartanya 3 juta euro. Ia merasa dirinya tidak bahagia dengan kekayaannya se­karang. ”Uang itu kontraproduktif, mencegah kebahagia­an datang,” katanya.

Sulit rasanya bagi kita menerima alasan Karl itu. Namun, itulah sikap yang ditunjukkan Karl. Dia ”menghilangkan” hartanya dalam jumlah cukup banyak untuk mendapat sedikit kebahagiaan. Kebahagiaan seperti apa yang diinginkannya? Hanya Karl-lah yang tahu dan me­ra­sakannya.

Secara harfiah, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram atau kondisi yang bebas dari segala bentuk yang menyusahkan. Namun, persepsi soal kebahagiaan bagi setiap orang berbeda-beda. Saya, misalnya, sangat bersyukur dan berbahagia melihat anak-anak tum­­buh dan berkembang sehat. Saya pun akan sangat bahagia jika bisa segera melunasi cicilan rumah. Namun, kebahagiaan itu harus saya tahan hingga batas waktu kre­dit habis... delapan tahun lagi.

Jika dibandingkan dengan keluarga Ny Herawati (al­marhu­mah), saya tentu jauh lebih bahagia. Ibu nahas warga Bojongsoang, Kabupaten Bandung itu meng­akhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Awal Maret lalu, ia ne­kat terjun ke sungai bersama anaknya, Andika (4 tahun). Polisi menduga, latar belakang tragedi itu masalah ekonomi. Artinya, selama hidupnya, almarhumah mungkin ti­dak pernah mendapatkan keterteraman, ketenangan, terlebih lagi kebahagiaan. Tragis, memang.

Sekali lagi, kebahagian bisa dipersepsi dan dirasakan berbeda-beda karena hal itu menyangkut soal rasa sehingga menjadi sangat personal. Namun, tanda-tandanya bisa dilihat. Menurut Ibn Abbas ra, ada sejumlah indikator kebahagiaan. Salah satunya, hati yang selalu ber­syu­kur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah Swt de­ngan ikhlas. Memang, kita terkadang atau bahkan kerap kecewa dengan apa yang kita dapat, padahal kita merasa sudah berupaya maksimal. Kecewa? Pasti. Akan tetapi, apakah dalam kekecewaan bakal ada kebahagiaan?

Indikator lain adalah harta yang halal. Bukan kuantitas, tetapi kualitasnya. Nah, persoalan kuantitas inilah yang kerap mengemuka sebagai keluhan. Dalam banyak kasus, harta (baca: ekonomi) selalu menjadi faktor penyebab ambruknya ”kebahagiaan” rumah tangga. Data Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama menunjukkan, dari rata-rata 2 juta orang yang menikah setiap tahun se-Indonesia, terdapat 10 persen perkara yang berakhir dengan per­ceraian atau rata-rata 200.000 kasus. Dari jumlah itu diketahui bahwa 70 persen disebabkan faktor ekonomi. Artinya, dalam kasus ini, harta atau kekayaan ternyata bisa menciptakan atau menghancurkan kebahagiaan.

Namun, tentu saja, harta dan kekayaan tidak selama­nya menjadi penentu kebahagiaan seseorang. Kekayaan belum tentu bisa membeli kebahagiaan. Seperti kata The Rolling Stones, ”My riches can't buy everything/I want to hear the children sing… (As Tears Go By).” Dan, bagi saya, hidup ”pas-pasan” adalah kebahagian tersendiri -- pas mau makan di restoran, pas ada yang mentraktir; pas mau jalan-jalan ke luar negeri, pas ada penugasan dari kantor... he...he. Semangat pagi, berbahagia­lah....***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya