(Ber)-bahagia-(lah)
KISUTA.com - Sukses, kaya, sehat, dan bahagia. Semua orang tentu menginginkannya. Untuk itu, harapan dan doa kerap dipanjatkan, terutama pada momentum khusus seperti
perayaan ulang tahun atau pada detik-detik malam pergantian tahun. Namun, tentu saja, harapan dan doa belum cukup untuk mewujudkan kondisi ideal itu. Perlu ikhtiar dan kerja keras.
Beragam cara dilakukan orang untuk mencapai kondisi itu. Banyak yang berhasil, tetapi tak sedikit pula yang gagal. Mereka yang berhasil umumnya mengaku, apa yang mereka raih dan rasakan adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Ya, kerja keras kata kuncinya. Seperti dikatakan Perdana Menteri Inggris yang terkenal, Winston Churchill, ”Sukses adalah kegagalan demi kegagalan (dalam berupaya) yang kita alami tanpa kehilangan antusisme.” Bos Grup Virgin yang mendunia, Richard Branson, juga menyatakan, ”Sukses adalah kepuasan karena melakukan sesuatu yang kamu senangi dan itu memotivasi orang di sekitarmu. Hal itu bisa berarti kesenangan, inovasi, kreativitas yang semuanya jauh lebih berharga dari sekadar tumpukan uang.”
Lantas, apakah kesuksesan dan kekayaan itu bisa membuat orang bahagia? Ternyata belum tentu juga. Banyak kisah yang menggambarkan betapa kekayaan berlimpah, sebagai salah satu hasil dari kesuksesan, tidak serta-merta membuat seseorang bahagia. Karl Rabeder, misalnya. Pengusaha sukses asal Eropa barat itu memutuskan untuk memberikan sebagian hartanya 3 juta euro. Ia merasa dirinya tidak bahagia dengan kekayaannya sekarang. ”Uang itu kontraproduktif, mencegah kebahagiaan datang,” katanya.
Sulit rasanya bagi kita menerima alasan Karl itu. Namun, itulah sikap yang ditunjukkan Karl. Dia ”menghilangkan” hartanya dalam jumlah cukup banyak untuk mendapat sedikit kebahagiaan. Kebahagiaan seperti apa yang diinginkannya? Hanya Karl-lah yang tahu dan merasakannya.
Secara harfiah, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram atau kondisi yang bebas dari segala bentuk yang menyusahkan. Namun, persepsi soal kebahagiaan bagi setiap orang berbeda-beda. Saya, misalnya, sangat bersyukur dan berbahagia melihat anak-anak tumbuh dan berkembang sehat. Saya pun akan sangat bahagia jika bisa segera melunasi cicilan rumah. Namun, kebahagiaan itu harus saya tahan hingga batas waktu kredit habis... delapan tahun lagi.
Jika dibandingkan dengan keluarga Ny Herawati (almarhumah), saya tentu jauh lebih bahagia. Ibu nahas warga Bojongsoang, Kabupaten Bandung itu mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Awal Maret lalu, ia nekat terjun ke sungai bersama anaknya, Andika (4 tahun). Polisi menduga, latar belakang tragedi itu masalah ekonomi. Artinya, selama hidupnya, almarhumah mungkin tidak pernah mendapatkan keterteraman, ketenangan, terlebih lagi kebahagiaan. Tragis, memang.
Sekali lagi, kebahagian bisa dipersepsi dan dirasakan berbeda-beda karena hal itu menyangkut soal rasa sehingga menjadi sangat personal. Namun, tanda-tandanya bisa dilihat. Menurut Ibn Abbas ra, ada sejumlah indikator kebahagiaan. Salah satunya, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah Swt dengan ikhlas. Memang, kita terkadang atau bahkan kerap kecewa dengan apa yang kita dapat, padahal kita merasa sudah berupaya maksimal. Kecewa? Pasti. Akan tetapi, apakah dalam kekecewaan bakal ada kebahagiaan?
Indikator lain adalah harta yang halal. Bukan kuantitas, tetapi kualitasnya. Nah, persoalan kuantitas inilah yang kerap mengemuka sebagai keluhan. Dalam banyak kasus, harta (baca: ekonomi) selalu menjadi faktor penyebab ambruknya ”kebahagiaan” rumah tangga. Data Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama menunjukkan, dari rata-rata 2 juta orang yang menikah setiap tahun se-Indonesia, terdapat 10 persen perkara yang berakhir dengan perceraian atau rata-rata 200.000 kasus. Dari jumlah itu diketahui bahwa 70 persen disebabkan faktor ekonomi. Artinya, dalam kasus ini, harta atau kekayaan ternyata bisa menciptakan atau menghancurkan kebahagiaan.
Namun, tentu saja, harta dan kekayaan tidak selamanya menjadi penentu kebahagiaan seseorang. Kekayaan belum tentu bisa membeli kebahagiaan. Seperti kata The Rolling Stones, ”My riches can't buy everything/I want to hear the children sing… (As Tears Go By).” Dan, bagi saya, hidup ”pas-pasan” adalah kebahagian tersendiri -- pas mau makan di restoran, pas ada yang mentraktir; pas mau jalan-jalan ke luar negeri, pas ada penugasan dari kantor... he...he. Semangat pagi, berbahagialah....***


