Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Semangat pagi...

Perbuatan Terutama

Minggu, 17 Januari 2016

KISUTA.com - Dalam sebuah kesempatan, Ibnu Mas'ud bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, perbuatan apa yang paling disenangi Allah? Rasulullah menjawab: "Shalat tepat pada waktunya". Ibnu Mas'ud bertanya lagi, kemudian apa? Rasulullah menjawab: "Hormat kepada ayah ibu". Ibnu Mas'ud terus bertanya, kemudian apa? Rasulullah menjawan: "Berjihad di jalan Allah".


Shalat merupakan media komunikasi makhluk dengan khalik. Dalam shalat, kita menghadap langsung kepada Allah, dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Maka, kesempatan untuk menghadap itu tidak pantas diabaikan atau ditunda-tunda. Seharusnya, kalau Allah telah memanggil kita untuk menghadapnya melalui perantaraan muadzin, segeralah datang dengan penuh kesiapan. Terutama terkait dengan shalat lima waktu sehari semalam. Yang demikian itu merupakan yang paling disenangi Allah SWT.


Perintah shalat diturunkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah SAW tanpa melalui perantara malaikat Jibril seperti halnya perintah ibadah-ibadah lainnya. Dari peristiwa tersebut, Allah mendudukan shalat sebagai ibadah yang sangat utama dalam Islam, sehingga shalat diposisikan sebagai "tiangnya" agama. Shalatlah yang membedakan antara umat Islam dengan orang-orang kafir dan shalat pula yang membedakan antara umat Islam yang mensyukuri nikmat Allah dan yang mensia-siakannya.


Begitu pentingnya shalat bagi agama Islam sehingga Allah "mengundang" langsung Nabi Muhammad SAW untuk menerima perintah kewajiban tersebut, karena dalam pelaksanaannya shalat merupakan hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Shalat yang dilaksanakan dengan khusyuk dan istiqamah, menjadi "komunikasi" antara manusia dengan Allah. Dialog spiritual ini mampu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi sehingga membuat kita optimis menjalani kehidupan. Apalagi shalat yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk syukur terhadap nikmat dan karunia yang diberikan Allah.


Umat Islam yang tidak menjalankan shalat, bukan saja masuk dalam golongan orang-orang kafir, tetapi juga tidak mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diterimanya. Padahal, optimis pada kenikmatan Allah, akan mengantarkan kita pada kehidupan yang sebenarnya. Ingatlah bahwa hasil di dunia bukanlah titik akhir, karena masih ada kehidupan akhirat.


Sayangnya, masih banyak umat Islam yang tidak mensyukuri nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah. Perbedaan pendapat, perbedaan nasib, perbedaan warna kulit, perbedaan budaya, dan banyak lagi perbedaan bukan disyukuri sebagai nikmat, tetapi justru dijadikan alat untuk saling membenci, saling menghujat, dan yang paling parah saling menyerang bahkan saling membunuh. Kondisi sosial masyarakat saat ini termasuk sebagian umat Islam ada dalam keadaan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah.


Mengaca dari berbagai peristiwa yang terjadi dewasa ini, marilah kita introspeksi diri. Mungkin selama ini shalat yang kita laksanakan belum khusyuk dan tumaninah, sehingga hanya menjadi bagian dari ritual agama tanpa mampu mengambil manfaaatnya yang begitu besar bagi kehidupan kita. Marilah kita bersama-sama berusaha melaksanakan shalat secara khusyuk dan istiqamah dan semata-mata untuk Allah SWT, sehingga kita akan merasakan nikmat yang diberikan-Nya.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya