Kumbayana Wilutama
KISUTA.com - "Haduh...aduuuh..Jagad Dewa Bathara...betapa menyakitkan deritaku ini...Oooo...dewa,...apa salah dan dosaku? Aku hanya menuntut janji Sucitra untuk menjadikanku sebagai saudara...membagi kemuliaannya...Haduuuh..mengapa sekarang dihancurkannya tubuhku oleh iparnya seperti ini."
Kumbayana terseok-seok menyeret tubuhnya yang cacat di sepanjang sungai Yamuna...sampai akhirnya di seberang sungai dilihatnya hijau pemandangan perbukitan yang indah dan teduh. Seketika hati Kumbayana tergetar dan ingin menyeberang ke bukit yang indah dan teduh itu. Karena tempatnya di seberang sungai dan tubuhnya penuh luka-luka yang belum sembuh, Kumbayana merasa tak berdaya.
Sambatnya berlanjut..."Ooo Allah dewata yang agung...nasib...nasib...aku bercita-cita punya istri bidadari, dengan tubuh serusak ini, bidadari mana yang mau kuperistri? Hhh..hhmm..Sucitra, dendamku sedalam Sungai Yamuna setinggi Gunung Anakan... Ya...baiklah...di seberang itu ada bukit yang indah...aku akan memulihkan luka-lukaku di sana dan mesu diri, gentur tapa, untuk meningkatkan kesaktianku. Tunggu pembalasanku Sucitra...haduuuh...tapii..bagaimana aku menyeberang? Haduuhhh...baiklah...wahai alam, maruta, dahana, dan tirta...dengarlah makhluk apapun yang bisa menyeberangkan aku...jika dia laki-laki, akan aku jadikan sedulur sinarawedi, kalau perempuan akan aku jadikan istri dan aku gauli untuk melahirkan anakku...duuuh..sakitnya. Kumbayana terduduk terengah-engah di pinggir sungai.
Syahdan, di balik awan dan mega-mega, seekor kuda sembrani dengan khidmat mendengarkan sambatan Kumbayana, Kuda Sembrani ini sebenarnya adalah Bidadari Wilutama yang dikutuk oleh Batara Guru karena berbuat salah di Maniloka, dianggap kurang tata krama (penthalitan) diibaratkan seperti tingkah kuda, karena itu Wilutama dikutuk menjadi kuda dan baru akan kembali menjadi bidadari jika bisa dinikahi dan disetubuhi seorang ksatria, hingga melahirkan seorang anak.
Kuda Sembrani itu mendekati Kumbayana yang masih merintih kesakitan, dengan bahasa tubuhnya, kuda sembrani itu mengelus elus muka Kumbayana, seakan memberi isyarat agar Kumbayana naik ke punggungnya.
Impian untuk segera sampai ke seberang, dan tak tahan dengan kiyut miyut tulangnya yang sakit semua, membuat Kumbayana mengikuti nuraninya menaiki punggung kuda.
Sembrani gegana (terbang) melintasi Sungai Yamuna yang luas, tidak langsung menyeberang ke bukit yang dikehendaki Kumbayana, tetapi terbang tinggi menembus awan dan mega-mega di langit. Nikmat di atas punggung kuda dengan tiupan angin sepoi-sepoi membuat Kumbayana terkantuk-kantuk dibuai mimpi.
Dalam mimpinya, Kumbayana merasakan badannya masih segar, wajah tampannya kembali, dan di hadapannya tergolek seorang bidadari cantik rupawan yang berpose pasrah...Bambang Kumbayana melepaskan hasratnya pada bidadari itu...beralaskan mega-mega yang lembut, mereka berasyik masyuk melepas gelora asmara tanpa batasan, hanya kenikmatan dan permainan nakal yang menggairahkan dua sejoli itu.
Beberapa saat diayun-ayun kenikmatan luarbiasa yang memanjakan ragawinya, Kumbayana akhirnya terbangun dari mimpi indahnya, sudah sampai ke bukit seberang.
Ada rasa kecewa saat terbangun, "Ahaaiiii mimpi yang menghanyutkan kenapa cepat usai." Kumbayana celingukan menatap di sekitar bukit, suara ringkik lirih kuda sembrani mengingatkannya bahwa kuda itulah yang telah menolongnya. Dengan lembut dibelainya surai kuda itu...aneh kuda itu terus mengikuti Kumbayana. Kumbayana berdebar..."Aah jangan-jangan kuda tadi mendengar sumpahnya sebelum menyeberang...dilihatnya kuda itu baik-baik untuk melihat kelaminnya. "A..la...mak...betina? Wah...bunting pula?" Kumbayana kebingungan, digaruk-garuknya kepalanya yang tidak gatal...wadouwww...bagaimana itu...Kumbayana jadi linglung.
Dalam kebingungannya Kumbayana melihat Kuda itu terjatuh ke tanah (ndeprok)..wah sepertinya mau melahirkan...terdorong rasa terima kasih dan iba, Kumbayana menolong Kuda yang mau melahirkan itu...
Shhhhhsshhh...bbrrtttteedddeeett....Byaaarrrr....Kuda itu mengejan dengan hebat, dari alat kewanitaannya terdoronglah anaknya yang segera ditangkap Kumbayana...wow..ajaib, anak kuda itu manusia!! Bayi laki-laki tampan mirip Kumbayana sebelum dihajar Gandamana. Berdesir perasaan Kumbayana.. Aah...mimpi itu...kuda betina...dan bayi ini? Kumbayana mencoba mereka-reka menjalin kisah, bersamaan dengan tangis pertama bayi dalam pondongannya. Kuda Sembrani yang masih lemah itu berubah wujud menjadi bidadari rupawan yang sexy memikat hati...mulut Kumbayana ternganga...wah bidadari yang bermain asmara dengannya...cantik nian, malah lebih cantik dari yang dalam mimpi...bidadari itu meraih anaknya memeluknya penuh kasih, menciuminya...dan mengembalikan pada Kumbayana sambil berujar.
"Kakang Kumbayana, aku Wilutama bidadari jelmaan dari Kuda Sembrani yang sudah engkau gauli engkau perlakukan sebagai istri hingga aku andarbini dan melahirkan anak kita ini...peristiwa kebersamaan kita yang hanya sesaat, telah memudarkan kutukan Hyang Jagatnata atasku kakang, kini aku waluyo jati sebagai bidadari lagi...karena itu, aku titipkan anak kita ini...namai dia Aswatama...carilah istri untuk menjadi ibu susunya...atas restuku, siapapun wanita pilihanmu itu, walau dia berasal dari perawan sunti, dia akan mampu menyusui anakku hingga cukup."
Kumbayana seakan tidak diberi kesempatan berbicara dengan sang bidadari...dengan senyum manis yang penuh kelembutan...diserahkannya bayi Aswatama..sayup-sayup sang bidadari berdendang tembang kinanti sembari menghilang.
Kumbayana menggendong anaknya, sambil meneruskan perjalanan mendaki bukit. Di atas bukit dilihatnya sebuah pondok yang asri dengan hiasan taman yang ditumbuhi bunga soka sebanyak 5 pohon...Kumbayana, berkata lirih. "Aah Aswatama anakku, sudah kehendak dewa, ternyata dipermudah jalanku untuk mesu diri gentur tapa, ini ada bekas pondok pertama lain..dan karena ada 5 pohon Soka...maka pertapaan ini aku sebut Sokalima.
Baru semalaman berada di Sokalima, atas doa dan kekuatan Bathari Wilutama, Kumbayana dikunjungi Resi Krepa, putra Prabu Purungaji raja Tempuru. Resi Krepa mengajak kakak perempuannya yang bernama Dewi Krepi. Dewi Krepi ini mandul, karena sampai dewasa tidak mengalami nggarap sari, dan atas petunjuk mimpinya hanya Resi Durna, nama Kumbayana setelah menjadi pertapa, yang akan mampu memberikan keutuhan perasaan sebagai wanita bagi Dewi Krepi.
Kumbayana atau Durna menatap wajah Dewi Krepi, hhmm manis juga, walau tidak secantik Bathari Wilutama, terlihat kesejukan dan keteduhan hati seorang wanita. Mungkin wanita inilah yang bisa menjadi ibu susu Aswatama. Durna menggendong Aswatama dan menyerahkannya pada Dewi Krepi. Sang Dewi menatap bayi merah yang imut itu...Naluri keibuannya menurunkan kain kembennya perlahan dan membiarkan bayi itu secara alamiah meremas-remas dadanya dan minum air susunya dengan lahap....ajaib, walaupun masih gadis belia, ternyata bayi itu bisa dikenyangkan dan tertidur pulas dalam pelukan Dewi Krepi.
Resi Krepa, lega menyerahkan kakaknya menjadi isteri Begawan Durna, sebagai Ibu Susu Aswatama.
Durna memperdalam ilmunya dan berbahagia bersama keluarga kecilnya. Namun dendam akibat hajaran Gandamana, yang membuatnya cacat seumur hidup, tak lekang dimakan waktu. Di saat merenung, rasa sakit hatinya tercurah dalam bentuk supata.
"Oohhh... Sucitra... aku melangkah keluar dari istanamu hanya berharap kau memanggilku kembali, aku berharap kau menyadari bahwa kau telah begitu kejam memperlakukanku.
Kini aku telah sampai di batas tanah kerajaan yg kaubanggakan ini dan kau masih tetap berada di sana dengan angkuh...
Aku sampai pada akhir pengharapanku akan kasih sayangmu sebagai saudaraku sendiri. Di sini aku bersumpah Sucitra...akan tiba saatnya, Pancala yg kaubanggakan tak akan menurunkan siapa-siapa...Inilah karmamu Sucitra... aku akan memintamu untuk membayarnya kelak! Dari Tanah Sokalima ini karmamu akan mengejar...!"*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


