Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Sayembara Kunti

Senin, 18 Januari 2016

KISUTA.com - Syahdan, tersebutlah negara kecil jajahan Hastinapura yang disebut Plasajenar, atau Awu-awu Langit. Raja kerajaan tersebut adalah Prabu Keswara atau disebut juga Prabu Suwala. Sang Prabu memiliki 5 orang anak, Dewi Gendari sebagai putri sulung, Harya Gandarya, Harya Suman atau Tri Gantalpati, Surabasata dan Harya Gajaksa.

Pada kelahiran putra ketiga yaitu Harya Suman atau Tri Gantalpati inilah Bathara Dwapara menitis.

Sejak kecil Harya Suman dianggap paling cerdik diantara saudara-saudaranya. Akalnya banyak, dan bisa merekayasa keadaan untuk mencapai tujuannya.

Suatu hari Prabu Keswara secara khusus memanggil Harya Suman.

Keswara: Suman, bantulah pun Bapa mengangkat martabat kerajaan kita. Dari turun temurun kita selalu menjadi negeri jajahan Hastinapura. Sungguh hina dan menyedihkan, bagaimana akalmu agar kita bisa lepas dari jeratan kesombongan mereka.

Harya Suman: Hhmm...kalau kita menghadapi sendiri Hastinapura, itu namanya konyol Bapa, negara kita terlalu kecil berhadapan dengan Hastinapura.

Keswara: Lalu bagaimana kita bisa lepas dari cengkeraman mereka?

Harya Suman: Kita harus mencari sekutu...dan mencari sekutu yang murah biaya, waktu dan tenaga adalah melalui perkawinan. Mbakyu Gendari adalah putri yang cantik, sementara Raja Muda Hastinapura Prabu Pandu Dewanata juga ksatria muda yang tampan, sakti mandraguna Bapa...Karena itu, ijinkan aku mengantarkan Mbakyu Dewi Gendari menemui Prabu Pandudewanata, yang aku dengar mencari istri, dan sedang mengikuti sayembara di negeri Boja, untuk memperebutkan Dewi Kuntitalibrata.

Keswara: Lah..kalau Prabu Pandu ke negri Boja untuk mencari istri, bagaimana dengan mbakyumu?

Harya Suman: Hahahaha...Bapa...serahkan semuanya pada anakmu ini...masa Bapa ngga yakin dengan kecerdasanku?

Di kerajaan Hastinapura, Prabu Pandudewanata sedang berhadapan dengan Destarastra, Widura dan para Punakawan.

Destarastra: Yayi Prabu, mantapkan tekadmu untuk mengikuti sayembara di negeri Boja. Aku dengar Dewi Kuntitalibrata itu sebenarnya putri Raja Mandura...dia diangkat anak oleh Prabu Kuntiboja karena sang Prabu mandul tidak punya anak....jadi kalau adinda berhasil meminang Dewi Kuntitalibrata, kita akan berbesanan dengan 2 kerajaan besar yang akan makin memperbesar kerajaan kita.

Pandu: Kanda, niat saya mengikuti sayembara sebenarnya bukan mengarah pada perluasan kerajaan kita. Tetapi murni mencari istri dan melanjutkan trah keturunan kita. Dewi Kuntitalibrata saya dengar selain cantik, juga putri yang cerdas dan bijaksana, karena dia siswi Maharesi Druwasa. Karena itulah saya tertarik menguji peruntungan saya. Siapa tahu di perjalanan nanti ada juga putri-putri lain yang bisa saya dapatkan untuk paduka kakanda...

Destarasta: Hahahaha...dinda..engkaulah raja Hastinapura, dengan cacat netraku, sudah aku ikhlaskan hak itu...hm..tapi boleh juga kalau engkau mencarikan jodoh untuk kakakmu ini...

Sementara itu Negri Boja di bawah pemerintahan prabu Kuntiboja sedang mengadakan sayembara memperebutkan Dewi Kunti Talibrata. Barangsiapa yang dapat memanah burung di dalam sangkar yang sedang berputar, dialah yang dapat membawa pulang putri Boja tersebut. Sudah banyak ksatria yang mencoba, tetapi tidak ada yang berhasil.

Harya Suman bersama Dewi Gendari sebenarnya sudah ada diantara para ksatria pelamar. Tetapi melihat beratnya syarat yang harus diikuti Harya Suman hanya menjadi penonton bersama Gendari.

Menjelang siang, di bawah terik matahari tibalah Prabu Pandu Dewanata, di bawah kebesaran panji-panji kerajaan Hastinapura bersama para punakawannya.

Dewi Gendari yang menatap ketampanan Pandu, menelan ludah dan mulai mereka angan-angan.. “Alangkah mulia dan bahagianya jika aku bisa bersanding dengan raja muda yang tampan dan kaya itu...”

Sementara itu, mata Harya Suman tak pernah berkedip menatap wajah jelita Kunti Talibrata. “Haduuuhhh...itu wajah kok cantik banget sih...kalah mbakyuku Gendari disandingkan sama Kunti...wah...andai aku jago memanah...pasti aku akan lakukan persyaratan itu untuk mengambil Kunti sebagai istriku.....hehehe, Suman ngga kurang akal...biar saja para ksatria itu yang mencoba, nanti aku tinggal merebutnya.“ Akal licik Harya Suman terus berputar putar mencari siasat.

Semua perhatian kini tertuju di arena, saat diumumkan bahwa Prabu Pandu Dewanata memasuki arena lomba.

Pandu sangat mahir dalam ilmu memanah. Memasuki arena lomba matanya tertuju pada perut burung tersebut, disaksikan beribu-ribu pasang mata. ...anak panah Pandu berdesing melesat. Anak panah Pandu terlihat menembus sangkar. Setelah sangkar diberhentikan, ternyata anak panah Pandu menusuk perut burung tersebut.

Pecahlah sorak-sorai penduduk Boja, juga para raja dan ksatria yang telah gagal maupun putus asa. Prabu Kuntiboja sampai berdiri dari kursinya menatap penuh kelegaan bahwa akhirnya raja muda Hastinapura ini yang mampu menyunting Dewi Kunti Talibrata.

“Tunggu dulu!“ Tiba-tiba, sorak-sorai itu dihentikan oleh teriakan seorang ksatria yang sepertinya tidak puas atas hasil sayembara. Ksatria itu baru datang dan hanya diiringi 2 perempuan muda yang jelita.

Narasoma: Jangan hentikan sayembara ini, karena akupun sanggup memanah seperti ksatria pucat itu.“

Kuntiboja: Siapa engkau anak muda? Engkau sudah terlambat memasuki sayembara ini.”

Narasoma: Apanya yang terlambat? Kalau Pandu bisa memanah seperti itu, belum tentu yang lain tak mampu. Kebetulan saja dia belum menemukan lawan tanding yang seimbang. Aku Narasoma dari Mandaraka. Izinkan sayembara ini diulang kembali.“

Pandu menyetujui perjanjian tersebut untuk menjaga kehormatan negeri Boja dan Dewi Kunti Talibrata . Sangkar dan burung disiapkan kembali. Narasoma membuktikan omong besarnya..... syeeetttt BLARR !!! Ternyata, ia berhasil, bahkan lebih hebat, karena dia bisa mengenai leher burung tersebut, yang areanya lebih sempit. Maka, keputusan Kuntiboja, Pandu dan Narasoma harus bertanding memperebutkan Dewi Kunti.

Pertarungan dimulai dengan adu panah. Keduanya memang terkenal jago panah. Tak ada panah yang mengenai tubuh lawannya masing-masing. Lalu pertandingan dilanjutkan dengan tangan kosong. Pukulan-pukulan sakti Pandu banyak merepotkan Narasoma. Pandu menang di atas angin. Narasoma jadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan Pandu sampai bengap semua badannya.

Di bangku penonton Harya Suman ciuuut nyalinya melihat kesaktian Pandu. “Haduh, cilaka ternyata Pandu sakti sekali, tipis kesempatanku merebut Kunti....hem...harus puter otak lagi nih.” Harya Suman, terus mengikuti pertarungan Pandu dan Narasoma.

Narasoma kewalahan melawan Pandu. Saat terlempar jauh dari arena, Dia mengeluarkan ajian Candrabirawa.. dulunya ajian ini adalah milik mertuanya, Resi Bagaspati. Ketika Pandu hendak menyerang kembali. Dilihatnya seorang raksasa di belakang Narasoma, besarnya dua kali tubuhnya. Raksasa itu menanggapi serangan Pandu dan ganti melemparkan Pandu melewati Narasoma. Pandu terhempas.

Pandu yang masih terheran segera bangun lagi. Serangannya makin kuat dan berbahaya. Namun, si raksasa sangat tangguh. Tiba-tiba, dari mulut si raksasa keluar semburan api. Tubuh Pandu lenyap ditelan api. Namun, api itu tak berarti apa-apa bagi Pandu. Ia segera mengirim lagi serangan balasan. Diangkatnya tubuh si raksasa, lalu dilemparkannya mengenai sebuah tugu, hingga tugunya hancur. Namun, tubuh si raksasa tidak mengalami luka sama sekali. Pandu mencabut kerisnya. Secepat kilat, ia menghujamkan kerisnya ke arah perut si raksasa. Perut si raksasa bersimbah darah. Aneh setiap tetes darah si raksasa menjelma lagi menjadi kembaran si raksasa.

Kini, sekitar sepuluh orang raksasa melawan Pandu. Pandu mulai kewalahan. Di saat seperti itu, Semar dari kejauhan dengan aji pawening membisikkan cara menghadapi Raksasa Candrabairawa itu kepada Pandu. “Raden menepilah dulu... pusatkan pancainderamu pada Hyang Widi Wasa....redakan nafsumu...hanya dengan keheningan hati, keikhlasan dan penyerahan total pada sang pemberi hidup...engkau bisa memenangkan pertarungan ini.”

Pandu tanggap, dia segera meloncat, bersila bersedekap memusatkan pikirannya sesuai arahan Semar...dalam keheningan dan penyerahan total itu, Pandu merasakan tubuhnya seakan dikelilingi sinar putih kebiruan yang menyelimutinya. Dan saat para raksasa itu menyerangnya mereka pudar dan punah seakan ambles dalam keheningan.

Narasoma ternganga melihat kehebatan Pandu, habislah sudah tak ada dayanya menghadapi raja muda yang perkasa ini. Candrabhirawa adalah aji pamungkas andalannya kalau itupun tak berarti, maka layaklah dia menyerah pada Pandu Dewanata.

Narasoma: Prabu Pandu Dewanata...sudahlah aku menyerah kalah.

Pandu: Narasoma, sungguh engkau ksatria utama yang lurus bersikap, jadilah kadang sinarawediku, aku terkesan dengan kelugasanmu.

Narasoma: Prabu Pandu, terima kasih ajakanmu menjadi saudaramu, sungguh akan lebih baik jika engkau menerima adikku Madrim menjadi sisihanmu.

Pandu kaget menerima sodoran putri belia adik Narasoma, sesaat dia tercenung, Pandu menoleh ke panggung, dilihatnya Kunti dengan segala keagungannya, jiwanya seakan terbetot oleh pesona Sang Dewi...duhai, wanita di atas panggung itu memiliki keagungan sebagai seorang ratu, sesaat diliriknya Madrim... Gadis belia yang masih muda, manja, cantik dan ranum...hm... bukankah dia juga berjanji akan mencarikan jodoh untuk kakaknya?

Pandu: Narasoma, tujuanku kemari adalah memenangkan sayembara Kunti Talibrata, maka biarlah hal itu menjadi pencapaianku yang utama. Jika kau serahkan adikmu padaku, baiklah aku terima, tetapi aku tidak menjanjikan apa-apa dulu. Narasoma mengangguk menerima ucapan Pandu.

Pandu akhirnya kembali ke Hastinapura membawa 2 putri boyongan Dewi Kunti Talibrata dan Dewi Madrim. Sementara Narasoma segera kembali ke Mandaraka bersama istrinya Pujawati (Dewi Setyawati) setelah mendengar bahwa ayahnya Prabu Mandrapati mangkat dan dia ditunggu untuk menggantikan ayahnya sebagai raja di Mandaraka.

Dalam perjalanan menuju Hastinapura, Harya Suman dan Gendari mencegat rombongan Pandudewanata.

Harya Suman: Tunggu dulu Prabu Pandu...

Pandu: Siapa engkau ki sanak, mengapa menghambat perjalananku...

Harya Suman (dengan gaya menjilat): Sang Prabu yang sakti mandraguna, hamba Harya Suman dari Plasa Jenar, negri jajahanmu, hamba lihat tadi paduka menerima putri muda itu dari raden Narasoma. Kalau begitu halnya, tentu akupun boleh menitipkan mbakyuku yang jelita ini sebagai calon sisihanmu berdampingan dengan kanjeng ratu Kunti Talibrata dan akupun akan menghamba padamu untuk mengawal mbakyuku. (Dengan muka dimanis-maniskan, Harya Suman merayu Pandu, tetapi kadang kala matanya melirik Kunti yang sudah membuatnya jatuh hati)

Pandu: Harya Suman dari Plasa Jenar...hmm...baiklah engkau dan Gendari boleh ikut aku ke Hastinapura. Kebetulan di Hastinapura aku memiliki 2 saudara yang belum menikah. Karena itu sama seperti yang aku sampaikan pada Narasoma, aku terima Gendari tanpa janji apapun, karena bagaimana nantinya akan aku bicarakan dengan saudara-saudaraku.

Dewi Gendaripun naik ke Joli para putri boyongan dan rombongan Prabu Pandu Dewanata melanjutkan perjalanan ke Hastinapura beserta 3 putri dan Harya Suman yang menyatakan akan ngawulo pada Pandu Dewanata.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya