Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Kelahiran Pandawa

Kamis, 21 Januari 2016

KISUTA.com - Senja temaram di tepi hutan Wanamarta, perbatasan Hastinapura tak jauh lagi. Melihat rombongannya keletihan, Pandu memutuskan membangun perkemahan untuk rombongan termasuk 3 putri boyongan.

Saat perkemahan sedang disiapkan, Pandu membawa gendewa dan anak panahnya sendirian menembus hutan belantara. Pandu ingin berburu, membawa 3 putri cantik jelita, Pandu ingin mencari kijang untuk santap malam yang lezat. Di tengah rimbun semak dedaunan, pinggir telaga yang sunyi Prabu Pandu melihat dua ekor kijang yang sedang bermesra-mesraan. Maka ditariknya busur, dan lepaslah anak panah tepat mengenai kijang yang jantan, sehingga mati rebah tak berkutik lagi. Tetapi tiba-tiba kijang lenyap dari pandangan mata dan berubah menjadi seorang Begawan yang bernama Resi Kimindana. Sang Resi mengutuk dan memberikan “upata” kepada Pandu dan suaranya menggema di angkasa:

“Hai, Prabu Pandu, kau raja yang tak berperikemanusiaan, tak tahu sopan santun. Senang mengganggu ketentraman orang lain. Ketahuilah hai Pandu, kau telah membunuh seorang Brahmana tanpa dosa, Kau telah melepaskan panahmu itu tanpa mengenaliku, aku sedang menghabiskan waktu bersama istriku dalam bentuk kijang. Bodoh, meski telah melihat penampilan dan keanggunan dari kijang, tidakkah kau sadar itu kijang yang berbeda. Manusia macam apa kau sebenarnya, seorang raja seperti apakah kau. Bagaimana seorang Raja sepertimu yang seharusnya waskita melihat keadaan bisa sesembrono itu. Kau juga harus menderita karena mengganggu keintiman seorang pria dan istrinya. Maka aku mengutukmu... Jika kau berhubungan dengan wanita, melakukan keintiman dengan wanita itu maka kau akan mati di saat itu juga. Tunggulah saatnya tiba.”

Dunia senyap seketika...Kijang betina istri resi Kimindana melengking histeris bela pati suaminya dengan terjun ke jurang yang terjal. Sesaat Prabu Pandu terpana, kemudian Pandu rebah, lemah lunglai tak berdaya. Saat sadar dari pingsannya Pandu berusaha menenangkan diri, dia segera kembali ke perkemahan bergabung dengan rombongan dalam kesunyian...dalam kebisuan...dalam kemuraman.

Keesokan harinya rombongan sampai di Hastinapura disambut dengan kemegahan oleh Patih Gandamana, Destarasta dan Widura.

Destarasta: Adikku Prabu Pandu yang perkasa...luarbiasa, suara kekaguman dan kebanggaan sudah mendahului kehadiranmu...lewat celoteh burung pipit dan desir maruto, aku dengar adindalah pemenang sayembara putri boja...mari berceritalah dengan kakakmu ini...

Pandu: Benar kakanda, berkat doa restu kakanda, adinda memenangkan sayembara itu..bahkan sesuai janji adinda, bukan hanya Dewi Kunti Talibrata yang berhasil dinda boyong, bersama dinda saat ini ada Dewi Gendari dari negeri Plasa Jenar dan Dewi Madrim dari negri Mandaraka. (Pandu menggandeng ketiga putri itu untuk dihadapkan pada Destarasta)..Kanda inilah ketiga putri jelita boyongan adinda..silahkan pilih salah satunya bagi kakanda...

Suasana menjadi senyap. Kata-kata Pandu yang menyodorkan ketiga putri boyongan untuk dipilih terlebih dahulu oleh Destarasta mengejutkan segenap hadirin. Patih Gandamana menatap rajanya dengan takjub, makin tinggi kekagumannya pada Sang Prabu yang selalu mengedepankan adab dan sopan santun. Tetap mendahulukan hak kakaknya walau dialah sang pemenang....hanya Maharesi Bisma yang mengernyitkan alisnya, Bhisma yang agung merasakan sesuatu yang dipendam Pandu, wajah Pandu yang biasanya pucat, kali ini bersemu kelam seakan mendung menutupi aura ketampanannya.

Desrarasta: Dinda Prabu..aah benarkah ini? Masa aku yang harus memilih dulu, ya nggaklah..engkau yang memenangkan sayembara, pilihkan saja satu untukku...jangan begitu dinda.

Pandu: Kakanda, dinda ikhlas, dan memang seharusnya begitu. Paduka kakak hamba, hamba menerima tahta keprabon ini juga karena keikhlasan paduka. Kalau hanya masalah siapa yang lebih dahulu memilih masih harus diperdebatkan..Ooo kanda jangan buat adikmu ini menjadi manusia berjiwa rendah yang tidak mengenal keikhlasan...

Bhisma: Ehm...Destarasta, ikuti saran adikmu...pilihlah salah satu dari putri yang disodorkan padamu. Dan engkau Pandu....jika kakakmu sudah memilih. Hentikan pasamuan ini, aku hanya minta engkau dan kedua putri yang tidak dipilih, bersama aku bicara tertutup di pesanggrahan eyang.

Destarasta mulai maju meraba para putri dengan mengerahkan segenap panca inderanya kecuali matanya yang buta. Saat menyentuh kulit lengan kunti, tangannya tergetar...dahi Destarasta berkerut, "Aaah putri ini sarat dengan kekuatan bathin dan mantra, pasti akan luarbiasa kalau menjadi permaisuri raja. Sayang kalau harus menemaninya dalam kebutaan. Putri ini layak untuk Pandu Raja Hastinapura."

"Siapakah ini?" tanyanya. Hadirin menjawab, putri mulia negri Boja, bunga taman Mandura Dewi Kunti Talibrata. "Aaah, inikah putri yang disayembarakan itu... Hmm..pantas...pantas..pantas sekali."

Dewi Gendari berharap-harap cemas melihat tingkah Destarasta, bibirnya umak-umik. "Ayo pilih dia..pilih dia...biarkan aku mendampingi Pandu." Harapan Gendari sia-sia, Destarasta meninggalkan Kunti, sekarang tangannya menyentuh tangan Dewi Madrim. "Wah, putri ini masih belia, seperti kertas kosong polos..hhmm, rasa kemanjaannya menonjol sekali, repot kalau bersisihan dengan si buta seperti aku, bagaimana aku memanjakannya?"

"Siapa ini?" Destarasta kembali bertanya. Hadirin menyahut, "Dewi Madrim, bunga jelita Mandaraka." Destarasta menganggukkan kepalanya.

Gendari kembali berbisik-bisik merapalkan doa. "Ooh, pilihlah dia..pilihlah gadis remaja itu, jangan aku..biarkan aku mendampingi Pandu." Hati Gendari tercekat ketika Destarasta meninggalkan Madrim dan mulai tertatih mendatanginya...Saat Destarasta hendak menyentuh tangannya Gendari sedikit beringsut hingga tangan Destarasta menyentuh pinggang dan pantatnya. "Waah..hebat putri ini memiliki postur yang kuat, dia tahan menderita, putri ini bisa memiliki banyak putra...aah wanita seperti inilah yang bisa mendampingiku sebagai orang buta...dengan anak yang banyak aku tidak akan kesepian lagi."

"Siapa ini?" Kembali Destarasta bertanya. Hadirin menjawab, "Dewi Gendari, sekar kedaton Plasa Jenar, negeri jajahan kita."

Destarasta tersenyum, inilah pilihanku, sekar kedaton negri jajahan tentu sudah merasa terhormat bersanding dengan pangeran Hastinapura, dan tidak akan mengganggu kebahagiaan Pandu. Destarasta berseru lantang. "Dewi Gendarilah pilihanku."

Bhisma, Pandu, Kunti dan Madrim sudah masuk ke bilik pesanggrahan Bhisma.

Bhisma: Pandu, disaksikan kedua putri yang akan menjadi istrimu katakan pada eyang apa yang mengganggu pikiranmu?

Pandu (berusaha menutupi kegalauannya): Eyang...masih ada yayi Widura yang belum beristri...apakah tidak sebaiknya kita minta dia memilih putri-putri ini eyang...saya sepertinya belum berminat menikah...(kepala Pandu tertunduk menghindari tatapan pada putri itu, terutama Kunti yang sudah meremas-remas hatinya)

Bhisma: Pandu, apa yang engkau sembunyikan..niatmu berangkat ke Boja adalah mencari istri...mengapa tingkahmu jadi aneh begini? Kedua putri ini anak raja besar, sebaiknya keduanya engkau peristri agar keluarga mereka bisa menerima dengan lega. Saudaramu Widura hanya putra garwa ampil, biarlah dia menemukan jodohnya sendiri.

Pandu: Duuuh eyang...(Pandu tersungkur memeluk betis Bhisma, dengan terbata-bata diceritakan peristiwa kijang yang dipanahnya dan kutukan sang Resi). Oleh karena itulah Eyang, aku bertekad seperti eyang menjalani kehidupan Brahmacarya. Tak akan menyentuh wanita siapapun yang berada di hadapanku.

Bhisma: Jagad dewa bathara..Ooallah ngger cucuku, buruk nian nasibmu Pandu. Aku brahmacarya karena niatku sendiri, bukan karena kutukan.

Kunti: Eyang, dan kanda prabu...ijinkan hamba bicara. Kanda prabu adalah pemenang sayembara, betapa memalukan dan akan menjadi aib jika kanda menolak hadiah sayembaranya...Apa yang akan dipikirkan rakyat dan orang lain? Bisa jadi mereka menebak hadiah sayembaranya tidak sesuai dengan kehendak kanda prabu...berarti hambalah yang hina...selain itu sudah jamak jika kanda memiliki istri selir...dengan kutukan yang kanda terima, sebagai putri mahkota yang sudah terlatih menyimpan perasaan...aku ikhlas menerimamu kanda, aku bisa menjadi pendampingmu, permaisurimu...walau kita tak bisa berhubungan sebagai suami istri, aku bisa mendampingimu untuk lambang kehormatan dan martabat keprabonmu. Jika yayi Madrim tidak berkeberatan, dengan masalahmu, tidak ada alasan bagiku untuk cemburu, ambillah yayi Madrim sebagai selirmu.

Pandu memeluk Kunti dengan penuh rasa kasih, ditahannya kuat-kuat perasaan untuk bermesraan lebih jauh dengan putri jelita itu. Halus kulit sang Dewi aroma harum tubuhnya, menggetarkan hasrat kelaki-lakian Pandu, tetapi kebijaksanaan dan kedewasaan Sang Dewi membuat Pandu menaruh rasa hormat dan kagum pada Permaisurinya itu.

Rakyat Hastina menyambut perkawinan rajanya dengan sukacita, tanpa mereka tahu penderitaan yang ditanggung rajanya. Di peraduan saat bertiga dengan Pandu dan Madrim, Kunti membuka rahasia kemampuannya memanggil Dewa yang bisa memberikan keturunan, dengan mantera Adityahredaya. Pandu makin kagum dengan kemampuan permaisurinya ini. Pandu mengijinkan Kunti menggunakan ilmu itu untuk menutupi kelemahannya, dan agar Hastinapura memiliki keturunan. Pandu juga mengijinkan Kunti mengajarkan ilmu itu pada Madrim agar Madrimpun memiliki putra.

Pandu: Kunti istriku sayang, anak sulungku haruslah seorang calon raja yang memiliki kebesaran hati, sabar dan bisa mengendalikan diri dalam setiap suasana. Panggillah Dewa Dharma untuk menjadi ayah putraku.

Kunti mengikuti anjuran suaminya, dari mantra memanggil Dewa Dharma, lahirlah Yudistira.

Pandu sangat bahagia melihat kelahiran putra sulungnya. Sambil menimang sang bayi, Pandu bersabda: "Yudhistira akan terkenal akan sikap dan perbuatannya yang baik. Dan aku yakin itu, tapi perbuatan dan keputusan seorang Raja hanya bisa dilakukan saat dia mempunyai kekuatan untuk melindungi keadilan. Aku ingin punya seorang putra, Kunti. Dari seribu gajah yang ada di dalam tangannya. Dia juga harus seperti angin, terutama saat dia mempunyai kekuatan seperti itu. Sama seperti saat Dewa Bayu yang sedang marah, Dia bisa membakar hutan, menciptakan angin topan, dan menghancurkan gunung menjadi debu. Kekuatan seperti itu harus dimiliki oleh anakku…ucapkahlah mantra itu dan undanglah Dewa Bayu…Kunti.

Kunti kembali memusatkan pikirannya memanggil Bayu...lahirlah Bima yang kuat dan perkasa.

Pandu kembali menimang putra keduanya ini dengan penuh kasih. Sabdanya kembali pada Kunti: "Bima adalah lambang kekuatan dan keteguhan yang akan mendampingi saudara tuanya...tetapi Kunti, aku ingin memiliki anak yang tampan lembut, dan bisa diterima semua kalangan. Laki-laki seperti itulah yang bisa membantu kakak-kakaknya memperluas kerajaan dengan cara damai...aah, istriku sayang panggillah Dewa Indra untuk menjadi ayah anakku yang ketiga.

Kembali Kunti memusatkan panca inderanya memanggil Indra...lahirlah Arjuna yang tampan dan lembut.

Saat Pandu kelihatan begitu bahagia dengan putra-putranya, Madrim datang mendekat dan merajuk...kemesraan Pandu dengan putra-putra Kunthi cukup jelas baginya bahwa pada Kuntilah cinta Pandu tertuju..."Kakaprabu, mengapa ayunda Kunti terus yang harus melahirkan putra-putramu? Tidak layakkah aku mempersembahkan putra bagimu?"

Pandu tersenyum dan memberi kesempatan pada Madrim untuk memilih sendiri Dewa yang akan dipanggil.

Dengan kecemburuannya Madrim memanggil Dewa Aswin, dewa kembar karena Kunti sudah punya 3 putra, maka Madrim ingin dengan sekali melahirkan dia memiliki anak kembar. Madrim memusatkan bathinnya memanggil Dewa Aswin, keinginannya terkabul, lahirlah si kembar Nakula dan Sadewa dari rahimnya.

Praja Hastinapura sedang diliputi kebahagiaan dengan kelahiran para putra Pandu, tanpa ada yang tahu rahasia besar di belakang kelahiran itu. Pandu hanya menceritakan rahasia ini kepada Bhisma yang agung dan eyangnya Resi Abyasa. Kelima putra Pandu itu disebut Pandawa.*

Ira Sumarah Hartati KIusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya