Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Kelahiran Kresna

Selasa, 26 Januari 2016

KISUTA.com - Masa berjalan demikian pesat, ternyata Kangsadewa adalah adipati yang sewenang-wenang, kekejamannya menjadi-jadi. Rakyat Sengkapura hidup dalam ketakutan. Tak puas dengan kerajaan kecilnya, Kangsadewa merencanakan makar merebut Mandura dari Basudewa.

Kekacauan di Arcapada akibat kekejaman Kangsadewa ini membuat Hyang Girinata memerintahkan Bathara Wisnu menitis ke dunia bersama Bathara Laksmanasadu. Karena dulu sewaktu Rama memerintah Ayodya telah dijanjikan kelak akan menitis ke dunia bersama Laksmana maka sekarang janji itu digenapi. Bathara Wisnu menjelma bersama Bathara Laksmanasadu. Tetapi penitisan itu melalui perantara. Bathara Wisnu menjelma dalam wujud harimau putih, sedangkan Bathara Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Bathara Basuki ingin ikut menjelma bersama Hyang Laksmanasadu.

Saat itu Raja Basudewa bersama Ugrasena yang sedang berburu, didatangi prajurit yang memberi tahu, bahwa ada harimau putih bersama ular naga. Raja Basudewa turun mendekat ke tempat harimau dan ular naga. Tanpa diduga, cepat bagai kilat, harimau dan ular naga tersebut menyerangnya dengan berani. Raja menghindar, lalu melepaskan panah. Panah tepat mengenai sasaran, dan tubuh harimau tersebut tergolek. Keajaiban terjadi, tubuh harimau segera menghilang. Beralih sinar putih kebiruan yang melesat ke istana Mandura dan masuk ke perut Dewi Dewaki. Saat Ular naga menyerang, sekali lagi Basudewa melepaskan anak panah, Tubuh ular menghilang berubah wujud menjadi Bathara Basuki dan Bathara Laksmanasadu, dan Bathara Basuki merasuk kepada Dewaki, isteri Basudewa, sedangkan Bathara Laksmanasadu masuk ke rahim Dewi Kunti adik Basudewa di praja Hastinapura.

Dengan berjalannya waktu Kangsadewa tahu bahwa ayah kandungnya adalah Gorawangsa, bahkan Kangsapun tahu bahwa pengapesannya (takdir kematiannya) ada ditangan anak Basudewa dari Dewi Dewaki. Oleh karena itu Kangsa menyerang Mandura, dan menjebloskan Basudewa beserta Dewi Dewaki ke penjara.

Kangsa, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan terbunuh di tangan putra kedelapan Dewaki. Maka sejak Basudewa dan Dewaki di penjara, Kangsa membunuh setiap putra yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap puteranya yang baru lahir mati di tangan Kangsa.

Duka Dewaki, didengar oleh Dewi Badrahini, sahabat Dewaki putri raja Parang Gupita, saat membesuk Dewaki di penjara, Dewi Badrahini menawarkan kandungannya yang masih suci, untuk menyelamatkan anak ke tujuh Dewaki. Ajaib, menjelang sang bayi lahir, perut Dewaki kempes, atas kuasa dewata janin itu sudah berpindah ke rahim Dewi Badrahini di praja Parang Gupita. Janin inilah yang kelak akan lahir sebagai Baladewa titisan Bathara Basuki, jasa Dewi Badrahini yang membawa janin titipan Dewi Dewaki membuatnya diperistri oleh Basudewa berdampingan dengan Dewaki.

Kempesnya perut Dewaki membuat Kangsa lega dan menganggap anak ketujuh Dewaki mati sebelum dilahirkan.

Beberapa bulan kemudian Dewi Dewaki hamil kembali anak yang kedelapan. Kangsa mulai meningkatkan kewaspadaannya siap membunuh sang bayi jika dia lahir.

Menjelang kelahiran sang bayi, turunlah Bathara Narada bersabda pada pasangan Basudewa dan Dewaki, "Oooeeeyyy..ngger Basudewa dan Dewaki...ketahuilah, penderitaan kalian akan segera berakhir, kekejaman Kangsapun akan segera tumpas...para dewa akan menyelamatkan anak kalian, bayi kedelapan ini adalah titisan Hyang Wisnu, namai dia nantinya sebagai Nayarana atau Kresna...untuk keamanannya, titipkan dia pada Demang Sagopi dan istrinya di Widoro Kandang, biarlah mereka tumbuh dewasa bersama anakmu Baladewa yang dilahirkan Badrahini ...Dewaki bawalah anak Nyi Sagopi bayi perempuan bernama Larasati, bayi peteng hubungannya dengan Haryo Prabu Rukma..Uiii hehehe...jian hebat Ken Sayuda ini...kamu Basudewa bisa-bisa para pangeran 3 bersaudara membuahi satu perempuan beramai-rama...heeiii..ya sudahlah, sekarang Ken Sayuda yang jadi Nyi Sagopi sudah tobat....biarlah dia selamatkan anak-2mu sampai mereka kuat menghadapi Kangsa...ngger...itu pesanku..semoga kalian selamat, dan tetap rukun menjalankan amanah kalian..."

Ajaib, dengan selesainya pesan Bathara Narada, pintu penjara terbuka lebar-lebar, semua penjaga seperti disirep. Basudewa dan Dewaki menyelinap dikegelapan menuju Widoro Kandang, menukarkan bayi yang dilahirkan Dewaki dengan bayi perempuan yang dilahirkan Nyi Sagopi.

Basudewa: Sagopi dan Sayuda, aku titipkan anak-anakku sesuai petunjuk dewa, rawatlah dengan baik hingga mereka dewasa, dan punya kekuatan untuk melawan angkara murka. Tembangkan macapat ini sebagai bekal kehidupan mereka.

Setelah selesai berpesan, pasangan Basudewa dan Dewaki kembali lagi ke penjara, membawa bayi perempuan nyi Sagopi.

Pagi harinya, Kangsa sudah siap-siap membunuh anak kedelapan Dewaki..terkejutlah Kangsa saat tahu anak Dewaki adalah bayi perempuan yang cantik mungil. Kangsa meraih bayi itu untuk memeriksa dengan teliti, sang bayi kelihatan manja dan menggemaskan, matanya yang berbinar menatap Kangsa seakan minta dimanjakan...meledaklah tawa Kangsa, "Huahahahahaha...ternyata para dewa sudah ketakutan dengan keberanianku membunuh semua anak Dewaki yang lahir....hingga kutukan itu dihentikan sendiri oleh mereka...anak kedlapan ini jadi perempuan bukan laki-laki...badarlah kutukan ini..hueheeheehe..Basudewa dan Dewaki, dengan badarnya kutukan, aku bebaskan kalian, hiduplah bersama bayimu kembali ke kerajaanmu, tapi ingat...keadaan sekarang berbalik, Manduralah negri jajahan Sengkapura...ingat itu ...."

Basudewa dan Dewaki dibebaskan.

Setelah bebas dan hidup bersama kedua istrinya, Basudewa memiliki tambahan anak dari Badrahini yang dinamainya Lara Ireng atau Sumbadra titisan dari Dewi Widowati, bersamaan dengan kelahiran Janaka atau Harjuna putra ketiga Dewi Kunti dengan Hyang Indra melalui mantra Adityahredaya, yang juga ketitipan Bathara Laksmanasadu manitis ke Harjuna ini.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya