Kelahiran Kurawa
KISUTA.com - Lolong serigala di tengah malam, kukuk burung hantu, ditingkah bunyi jengkerik dan katak yang bersahutan, membawa suasana magis di Kabupaten Mandrapura Keraton Hastinapura, tempat tinggal Adipati Destarasta. Malam itu kandungan Gendari permaisuri sang Adipati mencapai usia tiga tahun lamanya. walau telah mencapai 1000 hari lebih, melampaui batas normal kehamilan, belum juga ada tanda-tanda kelahiran sang jabang bayi. Dalam balutan rasa dengki terpendam, Gendari menyuarakan isi hatinya pada Sengkuni adiknya.
Gendari: Adine pun kangmbok..yayi Gantalpati...mengapa derita dan kehinaan tidak juga hilang dari jalan hidupku yayi...
Sengkuni: Kangmbok...sudahlah, mari pikirkan bagaimana kakangmbok bisa melahirkan dengan selamat...hhmm jangan-jangan ini mantra busuk si Pandu, supaya bisa terus menguasai Hastinapura...karena kalau urut kacang, seharusnya kakang Destarastalah yang menjadi raja...bukan si Pandu...karena kakang Destarastalah si sulung itu walaupun cacat netra...
Gendari: Ya Gantalpati...suamiku menyadari kecacatannya, dia menyerahkan haknya pada Pandu...tetapi lihatlah Pandu si sombong itu...memamerkan istri-istrinya yang sekarang sudah berputra...sementara mbakyumu ini...duh Gantalpati...sudah 3 tahun aku mengandung, mengapa anakku tidak lahir-lahir.
Sengkuni: Kakangmbok...mungkin ini tanda-tanda alam bahwa putramu adalah manusia hebat yang berbeda dengan anak-anak Pandu...doakanlah agar anak-anakmu bisa mengangkat derajad kita Kangmbok...
Gendari memelihara rasa dendam dan sakit hati kepada Pandu, kebijaksanaan Pandu menyerahkan pilihan pertama kepada Destarasta yang membuatnya terpilih sebagai istri Destarasta telah merubah rasa cinta menjadi benci. Apalagi saat dilihatnya Kunti dan Madrim sudah memiliki putra-putra dari Pandu. Dendam, cemburu dan sakit hati Gendari makin menjadi-jadi. Tak ada rasa ketentraman di hati puteri Plasajenar ini.
Senja itu dengan langkah-langkah gontai menuruni tangga pualam, Gendari menyusuri jalan setapak menuju ke tamansari Hastinapura yang luas dan asri, diikuti oleh empat orang emban sebagai abdi pengiringnya. Gendari sampai di taman satwa istana. Tanpa disadari Gendari kedatangannya di taman satwa itu, telah membuat seluruh binatang buas yang ada di taman menjadi beringas, sementara binatang yang jinak serta unggas seperti gelisah dan ketakutan, seakan membawa firasat buruk.
Gendari memutuskan kembali ke istana. Langkah Gendari semakin cepat karena gerimis mulai turun, tiba tiba Gendari tersentak kaget mendengar suara harimau mengaum begitu keras. Tubuh Gendari gemetar, tak terasa Gendari merasa melahirkan di tempat di mana ia berdiri. Gendari bukan melahirkan bayi sehat dan mungil, melainkan segumpal daging yang bercampur darah mengental, berwarna merah kehitam-hitaman, daging yang baru lahir dari rahim Gendari itu bergerak-gerak serta berdenyut-denyut seakan-akan bernyawa.
Gendari memekik, marah, jijik, putus asa. Karena emosinya gumpalan daging itu diinjak injak hingga terpecah belah, lalu ditendang-tendang dengan kakinya ke arah tak menentu, pecahan serta serpihan daging yang dilahirkan Gendari tercerai berai berserakan di atas rerumputan taman. Gendari makin emosi, geram dan marah setelah itu iapun menjerit menangis histeris lalu pingsan, para emban lalu membawanya masuk ke kaputren tempat kediamannya. anehnya, setiap serpihan daging yang berserakan itu besar atau kecil tetap berdenyut dan bergerak-gerak.
Destarasta mengadukan peristiwa ini pada ayahandanya Begawan Abyasa, atas nasehat begawan Abiyasa, Destarasta memerintahkan para abdinya untuk menutupi setiap serpihan daging itu dengan daun jati. Para emban serta beberapa orang prajurit penjaga taman melaksanakan tugas yang diperintahkan, menutupi serpihan daging itu dengan daun jati, jumlahnya mencapai 99 keping.
Sementara itu Gendari yang telah siuman dari pingsannya turun dari tempat peraduannya menuju tempat pemujaan, ia memohon kepada dewa, agar cita-citanya untuk berputera banyak, bisa terkabul. Di sanggar itu tiba-tiba saja Batari Durga muncul secara gaib dan memberitahukan, apabila lewat tengah malam mendengar tangisan bayi di taman, Gendari harus cepat-cepat menghampiri, karena itu adalah puteranya. setelah memberikan pesan Batari Durgapun menghilang dari hadapan Gendari secara gaib.
Tangisan para bayi membaur dengan lolong serigala, auman singa dan suara-suara aneh yang membawa suasana menyeramkan. Dewi Gendari melangkah ke taman istana, betapa takjubnya dia melihat ada 99 bayi tergolek di taman, masing-masing ditutupi daun jati. Dewi Gendari meraih bayi-bayinya dengan terharu dan penuh kebahagiaan. Rasa keibuan Gendari menyelimuti segenap sanubarinya. Diraihnya semua bayi itu dengan penuh kasih, dibawanya semua ke kamar kabupaten Mondropura.
Bayi-bayi itu dibesarkan Gendari dan Destarasta dengan penuh kasih sayang dan disebut sebagai Kurawa...keturunan langsung dari wangsa Kuru..beberapa nama yang sangat dikenal adalah Duryudana, Dursasana, Durmagati, Citraksa, Citraksi, dan Kartawarma. Menggenapi jumlah Kurawa menjadi 100, Dewi Gendari akhirnya melahirkan putri bungsunya secara normal dan diberi nama Dewi Dursala atau Dursilawati.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


