Bima Bungkus
KISUTA.com - Saat Gendari dan Destarasta sedang sibuk membesarkan 100 putranya, di keraton Hastinapura sendiri sedang prihatin. Putra kedua Kunti yang lahir dalam bungkus, sudah bertahun-tahun tidak bisa dibuka bungkusnya. Berbagai senjata sudah digunakan untuk membuka bungkus itu, aneka aji kesaktian juga sudah dicoba untuk membuka bungkus itu, semua sia-sia, tak ada hasil. Akhirnya datanglah wangsit bahwa bungkus itu harus dibuang ke hutan Krendawahana.
Bergantian para Putra Pandawa setelah remaja, menjaga bungkus itu. Akhirnya Sengkuni membawa para Kurawa berupaya memusnahkan bungkus itu dengan cara berpura-pura membantu membuka bungkus itu, namun tidak berhasil.
Di sisi lain hutan Krendawahana, di pertapaan Wukir Retawu Bagawan Abiyasa mengatakan kepada Arjuna bahwa saudaranya sedang menjalani karmanya, ia akan lahir menjadi satria utama, dan akan mendapat wahyu jati.
Meditasi alamiah sang bayi dalam bungkus ini, mengguncangkan dunia, membuat Jonggringsaloka gerah, kawah Candradimuka mendidih... Untuk menghentikan kegoncangan itu Batara Guru menyuruh putranya Gajahsena, yang berupa gajah memecah bungkus yang akan melahirkan Manusia Sejati, dan memerintah Dewi Umayiyi agar memberinya teman memberi ajaran tentang tujuh macam hal mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sebagai calon manusia ia harus sanggup mengerjakannya.
Dalam bungkus berwujud bayi ia masih berada dalam taraf mertabat Akhadiyat, artinya pada tingkat pertama. Masih jauh perjalanannya menuju martabat Insan Kamil yang merupakan tingkatan Manusia Sempurna.
Dalam perjalanannya ia melalui 'martabat terakhir' (martabat wuntat) yaitu permulaan menjadi benih (manusia). Pada martabat Akhadiyat ia diberi nafsu mutmainah yang berwarna putih, selanjutnya diberi nafsu amarah yang berwarna merah. Ketika memasuki alam jisim (alam jasad) ia telah mempunyai wujud jasmaniah, karenanya mempunyai keinginan makan minum dan berketurunan, tidak berbeda dengan hewan. Bedanya, ia akan diberi budi luhur; namun bila ia menolaknya,ia tidak dapat masuk surga, ia akan mengembara pada akyan sabiyah. Ketika telah berada pada alam misal diberi nafsu aluamah. Kemudian akan melalui alam arwah karena telah dimasuki roh. Ada sembilan macam roh yang masuk, yaitu: roh ilapi. Roh Robbani, roh Rokhani, roh Nurani, Roh sejati, roh Rahmani, roh jasmani, roh nabati, dan roh Rewani.
Semua itu tadi merupakan badan Hyang Guru yang menggerakkan (tindakan) manusia. Dalam alam Kabir ia telah bersatu dengan sembilan roh (Hyang Guru), ia dipakai sebagai sarana (penampilan Hyang Guru) di dunia. Semuanya telah tertulis dalam Lohkilmakpul yang berupa Ngelmi Kadim.
Setelah selesai diberi ajaran, Dewi Umayi memberinya busana berupa cawat kain bang bintulu berwarna merah, hitam, kuning, putih, pupuk, sumping , gelang, porong, dan kuku Pancanaka. Kemudian Dewi Umayi minta diri dengan mengatakan bahwa semua yang diajarkannya telah menyatu dalam dirinya.
Gajahsena sesuai perintah Hyang Guru segera membuka bungkus itu dengan gadingnya. Setelah bungkus itu pecah, karena terkejut bocah lelaki yang keluar dari bungkus itu mencengkeram Gajahsena dan berkelahi bergulat dengannya. Gajahsena dipegang oleh Sang Bocah dan dibantingnya, jasadnya musna tetapi rohnya masuk ke diri anak tersebut, yang secara ajaib berubah menjadi ksatria perkasa.
Setelah Gajahsena menyatu pada diri sang teruna turunlah Hyang Narada, menenangkan sang teruna yang kebingungan.
Narada: Oooeyyyy perkencong...perkencong waru doyong....hoiii anak Pandu...berhentilah engkau mengamuk...sareh...sareh...tenangkan dirimu...Gajahsena telah menyatu dalam ragamu, maka mulai saat ini namamu adalah Bratasena...
Bratasena: Hhmmm...namaku Bratasena...anak siapa aku ini?
Narada: Engkau putra kedua Dewi Kunti dengan raja Hastinapura Prabu Pandudewanata ngger...hehehe...Bratasena, engkau sekarang sudah menjadi teruna perkasa. Saatnya kau uji kesaktianmu yang sudah diisi para dewa sejak dalam bungkus. Bratasena basmilah dur angkara yang manjing pada diri raja raksasa Kala Dahana, patih Kala Bantala, Kala Maruta, dan senapati Kala Ranu. ....Oooeeyyy......njereng kloso tengah pendapa bocah pidekso blaka suta...kariyo slamet ngger ulun balik mring kahyangan...
Bratasena mematuhi permintaan para dewa tanpa bertanya-tanya lagi, keempat Dur Angkara yang meresahkan Ngarcapada itu ditumpasnya dengan gagah berani. Setelah mereka dikalahkan, roh mereka masuk ke dalam Bratasena . Dengan demikian sifat-sifat unsur alam yang empat yaitu, bumi, api, angin dan air telah menyatu dalam dirinya.
Keluarga Kerajaan Hastinapura menyambut Bratasena dengan sangat bahagia. Ibu Kunti memeluk putra keduanya itu dengan berlinang airmata....Prabu Pandu mendekap putranya dengan penuh kebanggaan...”Hei para satria pangembating praja..saksikanlah, putraku raden Bratasena, juga aku beri nama Bima atau Werkudara nama yang menyiratkan kekuatan, keberanian dan keperkasaan ..anakku akan tinggal di kasatriyan Jodipati, hormati dia sebagai Pangeran Hastinapura sama seperti anak-anakku yang lain”...Gegap gempita sorak sorai ksatria dan pejabat negeri menyambut Bima, yang gagah, tinggi besar dan lugas ini.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


