Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Gandamana Luweng

Rabu, 3 Februari 2016

KISUTA.com - Kerajaan Hastinapura di bawah pemerintahan Prabu Pandu Dewanata terlihat tata tentrem kertaraharja, pepatih istana Raden Gandamana mendampingi rajanya dengan setia. Kesaktian Gandamana membuat kerajaan ini disegani lawan dan dihormati kawan. Hubungan yang dekat antara Pandu Dewanata dan Gandamana, membuat Sengkuni Tri Gantalpati iri.

“Huh..lagaknya si Gandamana itu, sudah seperti bayangannya Prabu Pandu saja...kalau begini caranya, bagaimana aku bisa bermain di kerajaan ini...hhmm, aku harus bisa merebut posisi pepatih kerajaan...Gandamana harus aku singkirkan..dengan menjadi pepatih, aku bisa ikut menentukan ke mana arah kebijakan negara ini, mau maju, mau hancur...aku bisa bermain...lagipula makin dekat ke kuasaan makin bebas aku menjalankan rencana-rencanaku,” Sengkuni menyeringai merasa hebat dengan pikiran-pikirannya.

Akal bulus Sengkuni, tampaknya sejalan dengan situasi yang bisa dimanfaatkannya. Pada suatu pasamuan di Pendapa Agung Hastinapura, antara Prabu Pandu dengan raja-raja jajahan dan sahabat-sahabat negara tetangga. Prabu Trembaka dari Pringgondani tak tampak hadir. Padahal Pringgondani adalah negara tetangga terdekat, yang hanya berbatasan dengan hutan Wanamarta. Sengkuni tanggap dengan terbukanya kesempatan ini, segera ditemuinya Prabu Pandu Dewanata.

Sengkuni: Kakaprabu Pandu Dewanata...tidakkah kakanda merasa heran dengan ketidak hadiran Prabu Trembaka dari Pringgondani?

Pandu: Mengapa harus heran? Aaku rasa biasa saja..mungkin Prabu Trembaka sedang ada kesibukan lain...

Sengkuni: Hhmm kakaprabu...undangan untuk para sahabat raja jajahan Hastinapura ini Paduka sendiri yang memastikannya... aneh kalau negara tetangga terdekat tidak hadir tanpa keterangan atau mengirimkan wakilnya...mengapa tidak Paduka selidiki..jangan sampai kita menggampangkan sesuatu... ternyata tersembunyi masalah besar di belakangnya.

Pandu: Apa maksudmu Sengkuni...?

Sengkuni: Yakinkah Paduka bahwa Prabu Trembaka tidak sedang menyiapkan makar karena iri dengan kebesaran Hastinapura? Lagi pula..saya dengar si Trembaka ini dulu salah satu peserta sayembara dewi Kunti yang Paduka kalahkan... apa tidak ada dendam yang dia simpan? Kirimkanlah utusan untuk menyelidiki ketidakhadirannya.

Pandu mengerinyitkan dahinya....masuk akal juga apa yang dikatakan Sengkuni, melihat Pandu mulai terkena hasutannya, Sengkuni segera mengusulkan agar Patih Gandamana dijadikan sebagai utusan Pandu ke Pringgandani untuk menyelidiki ketidakhadiran Prabu Trembaka ke Astina, apakah ingin bersekutu dengan Astina ataukah ingin memisahkan diri. Gandamana disarankan pergi sendirian tanpa pengawalan, karena yang ditempuh adalah jalan diplomasi, jalan perdamaian, jadi tidak perlu membawa pengawal agar tidak menimbulkan kecurigaan Prabu Trembaka.

Gandamana melaksanakan perintah Prabu Pandu dengan penuh dedikasi. Tanpa syakwasangka pergilah patih yang gagah perkasa ini seorang diri menuju Pringgandani.

Setelah tahu siasatnya diikuti semua oleh Pandu Dewanata, diam-diam Sengkuni mengirimkan sepasukan pengawal istana untuk mendahului Gandamana ke Pringgondani dan membuat onar di sana.

Prabu Trembaka marah mendengar pengaduan hulubalangnya bahwa ada pasukan Hastinapura yang mengacaukan perbatasan istana, membuat onar, merampok dan membunuh rakyat Pringgondani secara gerilya.

Pada saat Gandamana tiba di Pringgondani, Prabu Trembaka yang mencurigai Gandamana memerintahkan pengawalnya menangkap Gandamana dan memasukkannya ke dalam luwengan (Gua Bawah tanah) lalu ditimbun dengan batu.

Sengkuni segera menghadap Prabu Pandu Dewanata dan menyampaikan bahwa dari mata-mata Hastinapura, didengarnya Patih Gandamana telah tewas dibunuh Prabu Trembaka.

Pandu sangat sedih mendengar berita ini, sebagai pengganti Gandamana, diangkatnya Sengkuni sebagai pepatih Hastinapura, dan diperintahnya Sengkuni untuk menjemput mayat Gandamana di Pringgondani agar bisa diperabukan dengan layak.

Saat Sengkuni sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Pringgondani.. Dari luweng tempatnya di penjara, Gandamana berhasil membebaskan diri dengan aji Bandung Bandawasa..Gandamana segera menyadarkan Trembaka, bahwa tidak ada niatan Hastinapura untuk menyerang Pringgondani, buktinya dia datang sendiri untuk misi perdamaian, Lagipula kalau Hastinapura berniat menjajah Pringgondani apakah mungkin hanya mengirimkan segelintir pasukan? Penjelasan Gandamana membuka kesadaran Prabu Trembaka, bahwa mereka sedang diadu domba. Dilepaskannya Patih Gandamana dan diperintahkannya beberapa bhayangkari pengawalnya mengantarkan Gandamana sebagai itikad baik upaya perdamaian dengan Hastinapura.

Di tengah perjalanan kembali ke Hastinapura, Gandamana yang dikawal oleh bhayangkari Pringgondani diserang oleh pasukan Hastinapura yang dikirim Sengkuni. Gandamana marah dan menebak pasukan inilah yang telah mengacaukan keadaan di Pringgondani hingga membuatnya ditimbun di luweng. Gandamana ngamuk memporakporandakan pasukannya sendiri. Sengkuni kabur, tinggal glanggang colong playu, mendahului Gandamana kembali ke Hastinapura dan melapor pada Pandu bahwa Gandamana bergabung Pringgondani menyerang pasukannya sendiri. Mendengar hasutan Sengkuni, Pandu marah dan mengusir Gandamana saat Gandamana menghadap untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya.

Gandamana kecewa dengan sikap Pandu yang tidak teliti menghadapi masalah. Akhirnya Gandamana kembali ke ksatriyan Jumutmadu untuk mengajak istrinya pulang ke Pancalaradya bergabung dengan Prabu Drupada iparnya. Alangkah kaget dan sedihnya Gandamana saat mengetahui istrinya Dewi Retnorini tewas bunuh diri karena akan dipaksa melayani Sengkuni, yang mengatakan bahwa Gandamana telah tewas di Pringgondani. Dengan perasaan tersayat, Gandamana menarik cundrik yang masih tertancap di dada istrinya, menyatukan segenap Pancainderanya, memohon ijin pada Dewata Agung, untuk bisa menyatukan rasanya dengan sukma sang isteri agar tahu, apa keinginan terakhir istrinya...

Alam berduka atas perih hati sang ksatria, disaksikan semilir angin dibalut wangi bunga kemuning, sukma Dewi Retnorini, muncul di hadapan Gandamana.

Gandamana: Dinda, pujaan hatiku...tega nian kau tinggalkan aku seperti ini...tak yakinkah engkau bahwa aku pasti pulang untukmu Ooo Retnorini...

Sukma Retnorini: Duuuh suamiku sayang...aku tusuk saliro, untuk menjaga kehormatan kita...bukan aku tak percaya pada kedigdayaanmu kanda...tetapi, aku tidak mampu menghadapi dur angkara yang ada pada diri Harya Suman....kakang suamiku..aku tidak ingin menemuimu dalam raga yang sudah dikotori nafsu mesum si keparat itu kakang...

Gandamana: Manusia busuk dan Palsu si Sengkuni keparat... tunggulah istriku sayang, akan aku bantai si keparat itu, sebelum aku bersatu jiwa denganmu adindaku...

Sukma Retnorini: Tidak...jangan...jangan kotori bersihnya jiwamu dengan manusia durjana yang memang hidup untuk mengotori dunia....duhai pahlawanku...ikhlaskan aku...isilah sisa hidupmu sebelum kita bersatu, dengan kebajikan...abdikan dirimu pada keluarga kandungmu duhai suamiku...biarkanlah sang Durjana itu menyelesaikan dosa-dosanya agar puas dia nikmati siksaan di neraka jahanam nanti....suamiku...aku mohon pamit...aku tunggu kakanda di pintu nirwana...

Gandamana menghela nafas panjang...dicobanya menentramkan hatinya yang mendidih.. setelah memperabukan istrinya tercinta, Gandamana balik ke Hastinapura dicarinya Sengkuni, diseretnya ke alun-alun...di sana Gandamana menghajar Sengkuni habis-habisan, tanpa ada yang berani mencegahnya. Badan Sengkuni hancur total wajahnya yang tampan menjadi peot, matanya siwer bahunya semplah. Usai menghajar Sengkuni, Gandamana bergabung dengan Prabu Drupada iparnya di Pancalaradya dan menjadi pepatih di kerajaan itu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya