Mahaguru Durna
KISUTA.com - Pandita Durna mengernyitkan dahinya, dilihatnya sang istri Dewi Krepi bersimbah peluh menyapu halaman pertapaan Sokalima. Durna mengelus dadanya..."Ahai..kenapa kepapaan ini yang harus aku berikan pada istriku yang tulus..Ooo Krepi, engkau putri raja Purungaji, mengapa harus menderita bersuamikan pandita cacat buruk rupa seperti aku..." Sang Pandita, turun dari bale-bale, dihampirinya sang istri, digandengnya, diajaknya duduk di bale-bale.
Durna: Krepi istriku sayang, maafkan aku yang tidak bisa memberimu kebahagiaan, selayaknya hakmu sebagai sekar kedaton Purungaji.
Dewi Krepi: Kakang Kumbayana...omongan apa ini? Aku sudah berbahagia di Sokalima yang damai ini. Para cantrik hormat padaku, anak kita Aswatamapun, jadi pelengkap kebahagiaanku di sini. Kakang janganlah gunakan ukuran duniawi untuk kebahagiaan kita.
Durna: Aah Krepi, walaupun engkau tidak pernah meminta, tetapi sebagai suamimu, aku merasa ada yang kurang. Tidak dapat dipungkiri, kita tidak bisa keluar dari kebutuhan duniawi, martabat dan kehormatan itu istriku. Akupun tidak ingin anakku hidup serba kekurangan sebagai anak pandita yang miskin.
Dewi Krepi menghela nafas panjang, dia sadar Bambang Kumbayana atau Resi Durna memang memiliki kecongkakan di dalam sanubarinya. Walaupun sudah menjadi pandita, ambisi meraih kebahagiaan duniawi tak pernah sirna dari hatinya. Teringat kata-kata suaminya yang dibalut dendam dan irihatinya pada Sucitra yang telah menjadi raja Pancalaradya bergelar Prabu Drupada..."Krepi...dendamku pada Sucitra tidak berhenti di Sokalima ini, suatu hari aku akan memboyongmu dan anakku Aswatama masuk ke istana, karena sesuai janjinya...aku berhak memiliki separo dari kekayaannya..huh.. tidak sudi aku berdiam diri, aku akan mesu diri, dan kelak akan aku cari kekuatan untuk membalas dendamku pada Sucitra dan iparnya Gandamana yang sudah merusak ragaku..."
Suatu hari Pandita Durna mengikuti iparnya Resi Krepa yang menjadi salah satu guru pendamping Kurawa dan Pandawa, membantu Bhisma yang agung. Saat itu Pandawa dan Kurawa yang masih remaja bermain bola di tanah lapang.Tiba-tiba bola itu melayang tinggi dan jatuh ke dalam sumur yang dalam. Kurawa menuduh Puntadewalah yang melempar bola itu. Puntadewa membantah, Pandawa yakin bahwa kakak sulungnya ini tidak pernah bohong, mereka membela Puntadewa. Pertengkaran pun terjadi, Durna segera maju melerai mereka.
Setelah mendengar alasan pertengkaran mereka, Durna mengajari mereka cara mengambil bola dari dalam sumur. Durna mengambil segenggam rumput alang-alang dan membentuknya menjadi semacam anak panah. Satu persatu,anak panah yang terbuat dari batang rumput itu dilemparkan ke dalam sumur, tepat pada bolanya. Batang rumput berikutnya diarahkan ke rumput yang terdahulu, sehingga anak panah rumput itu menjadi semacam rantai,yang akhirnya dapat digunakan untuk menarik bola keluar dari sumur.
Kemahiran yang luar biasa ini menarik perhatian Arjuna, yang langsung mengusulkan agar Durna bersedia menjadi guru mereka. Pendapat Arjuna disetujui oleh Resi Bhisma yang berkenan mengangkat Resi Durna menjadi guru besar di Kerajaan Astina,dengan syarat ia hanya mengajar pada para pangeran, yaitu Kurawa dan Pandawa. Ia tidak boleh membagi ilmunya pada orang lain, selain keluarga kerajaan itu. Durna menyetujui syarat ini karena melihat inilah kesempatannya menyusun kekuatan. Sejak saat itu Durna memboyong keluarganya ke Hastinapura dan bergelar Mahaguru Durna.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


