Narsis
Pernahkah Anda narsis? Yang bener aja, masa gak pernah sih…
KATA Narsis berasal dari cerita Yunani, tentang seorang pemuda bernama Narcissus. Dia sangat ganteng dan suka memuji dirinya sendiri. Menolak cinta banyak gadis (dan janda?).
Tidak mudah tunduk pada rayuan beracun para wanita. Sampai suatu saat dia menolak cinta Echo, yang menyebabkan Echo patah hati. Lalu Narcissus dikutuk untuk jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air kolam.
Dewasa ini, kata narsis biasanya kita pakai untuk menggambarkan seseorang yang gemar mengagumi diri sendiri. Caranya dengan memajang foto-foto diri di segala benda yang menampakkan ruang kosong. Atau di jejaring sosial. Narsis, atau narsisistik, juga bisa dimaknai lebih luas, yaitu menunjuk pada orang yang senang menonjolkan diri, angkuh, egois, atau selalu mementingkan diri sendiri.
Tidak heran kalau perilaku narsis itu berada puncaknya, ketika seseorang menginjak masa remaja atau di akhir usia belasan hingga awal duapuluhan tahun. Setelah melewati usia itu, perilaku narsis biasanya akan menurun dengan sendirinya.
Ada juga yang berpendapat bahwa perilaku narsis itu timbul ketika memberi manfaat, kemudian menurun ketika manfaatnya tidak begitu terasa lagi. Yang jelas, sifat narsis akan banyak bermanfaat ketika tidak mampu menghargai diri sendiri.
Sebuah penelitian yang diselenggarakan oleh University of Illinois menemukan bahwa, anak-anak muda yang sifat narsisnya cukup tinggi biasanya memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak narsis. Sebab, keyakinan yang besar pada kemampuan diri sendiri, bisa membantu mengarahkan remaja untuk mencoba menemukan identitasnya.
Ketika dewasa, narsisistik lebih cenderung terjadi ketika kepuasan hidup seseorang berkurang dan kita memiliki reputasi yang kurang baik. Ketika tak ada orang lain yang menghargainya, maka selalu ada kecenderungan bersikap narsisistik untuk memberi penghargaan pada diri kita. Sayangnya, hal ini justru direspons secara berbeda oleh orang-orang di sekitar kita.
Kalau orangtua yang narsisistik, biasanya punya kecenderungan tak mampu menunjukkan empati. Misalnya, berempati pada anak-anak, untuk merasakan apa yang mereka rasakan, dan mengakui perasaan tersebut. Narsisistik membuat seseorang tak mampu menunjukkan rasa kasihan dan sensitif, begitu pula kemampuan untuk memberikan dukungan moral mengenai apapun yang dialami oleh anak. Meskipun tidak setuju dengan apa yang dialami anak, setidaknya menunjukkan ada di sana untuk mereka. Orangtua yang narsistik tak akan mampu mengesampingkan perasaan dan pikiran-pikirannya sendiri, dan mengalihkan kebutuhan emosional mereka untuk memahami persoalan anak.
Tiga tipe narsisisme yang biasa dikenal adalah, pertama kesadaran yang meningkat akan kepemimpinan atau kewenangan. Contohnya, ketika mengetahui banyak hal, maka orang lain akan berdatangan untuk meminta sarannya. Nah, pasti akan muncul narsisnya.
Kemudian tipe yang kedua adalah ketika seseorang ingin pamer. Dan yang ketiga adalah seseorang yang mempunyai keinginan untuk mengeploitasi orang lain untuk kepentingan pribadinya. Biasanya keinginan ini akan timbul ketika seseorang mengalami penurunan kepuasan hidup dan tidak mengenal usia.
Menurut ilmu psikologi, narsis termasuk ke dalam gangguan kepribadian. Tepatnya gangguan kepribadian narsistik. Narcissistic personality disorder, yakni gangguan yang melibatkan pola pervasive dari grandiosities dalam fantasi atau perilaku; membutuhkan pujian dan kurang memiliki empati.
Para penderita gangguan kepribadian narsistik membutuhkan dan mengharapkan perhatian khusus. Mereka cenderung memanfaatkan dan mengeksploitasi orang lain bagi kepentingannya sendiri serta hanya sedikit menunjukkan empati. Ketika dihadapkan pada orang lain yang sukses, mereka bisa merasa sangat iri hati dan arogan. Dan karena mereka sering tidak mampu mewujudkan harapan-harapannya sendiri, mereka sering merasa depresi.
Perilaku narsis biasanya muncul disebabkan karena kegagalan meniru empati orang tua pada masa perkembangan awal anak. Akibatnya, anak tetap terfiksasi di tahap perkembangan grandiose. Selain itu, anak (dan kelak setelah dewasa) menjadi terlibat dalam pencarian, yang tak berkunjung dan tanpa hasil, figure ideal yang dianggapnya dapat memenuhi kebutuhan empatiknya, yang tak pernah terpenuhi.
Apakah kita masuk kategori orang yang narsis juga? He he he…kalau iya, segera berkunjung ke psikolog terdekat, biar segera dicarikan therapy yang tepat.***


