Pandu Tebus Andini
KISUTA.com - Di keputren istana, Dewi Madrim mulai dilanda kesepian yang teramat sangat. Sebagai putri yang manja, Madrim jenuh, karena statusnya sebagai istri raja seakan hanya status kosong tanpa makna. Putra kembarnya lebih dekat pada kakak-kakaknya dan Dewi Kunti yang memang lebih keibuan mengasuh para putra Pandawa tanpa membeda-bedakan. Madrim jenuh, bosan, suaminya Pandu hanya indah dilihat, bangga dimiliki tetapi jauh dari belaian dan romansa, karena kutukan Resi Kimindana membuat Pandu tak mungkin menggauli istrinya.
Pandu: Yayi Madrim, aku perhatikan dari tadi wajahmu cemberut terus...mengapa tidak bergabung dengan ayundamu Dewi Kunti dan anak-anak kita...lihatlah mereka ceria bercengkerama...
Madrim: Hhmm...kakanda selalu memperhatikan ayunda Kunthi.. dan ayunda Kunthipun sempurna menjadi istri paduka.. tulus merawat anak-anak kita tanpa kecuali...begitu sempurna, begitu bahagia, seakan tidak ada kesepian yang menyergapnya seperti aku... (Madrim sesenggukan mulai diamuk kecemburuan pada Kunthi, Pandu memaklumi kemanjaan istrinya...memang jauh bedanya dengan Kunthi yang begitu ikhlas, begitu agung...Pandu menghela nafas. Dengan bijaksana dipanggilnya Kunthi, dan sambil menghibur kesedihan Madrim, diajaknya kedua istrinya bicara)
Pandu: Kunti istriku sayang, adikmu Madrim merajuk merasa jenuh dan bosan di sitana...Karena itu supaya adil aku tawarkan kepada kalian berdua, mintalah apa saja...yang bisa membuat kalian bahagia, tidak merasa bosan...aku akan memenuhi apapun keinginan kalian...
Kunti: Duh kakanda...tidak ada sesuatupun yang aku inginkan lagi...tinggal di sini sebagai istrimu, ibu anak-anakmu adalah kebahagiaan luarbiasa bagiku. Aku sangat mensyukuri peranku ini kanda..(Dewi Kunti Tulus menjawab penawaran Pandu, wajahnya yang cantik selalu bersinar tulus. Pandu memandang Kunti dengan rasa cinta yang meluap, inilah wanita sempurna yang dicintainya..betapa ingin dibelainya kulit mulus itu, didekapnya tubuh sempurna itu di dadanya...perih Pandu mengingat kutukan itu...sambil mengelus dadanya yang tiba-tiba nyeri, Pandu mengalihkan pandangannya pada Madrim)
Pandu: Bagaimana dengan engkau Madrim? Adakah yang engkau inginkan...?
Madrim: Kalau kanda menanyakan keinginanku...aku ingin bertamasya mengelilingi praja Hastinapura hanya dengan engkau saja kanda (Madrim melirik Kunti dengan kecemburuannya)
Kunti (tersenyum memaklumi kecemburuan madunya): Dinda Madrim..silahkan kanda Pandu pasti bisa memenuhi keinginanmu...biarlah aku menunggu di istana bersama anak-anak kita...kanda penuhilah permintaan dinda Madrim.
(Pandu makin tenggelam dengan cintanya pada Kunti...betapa bijaknya istrinya ini...Aah, Pandu makin merasakan pedih menyia-nyiakan cinta seorang wanita sempurna seperti ini)
Madrim: Tapi aku tidak mau berkeliling dengan kendaraan biasa yunda...kanda, ajaklah aku berkeliling melalui angkasa dengan menunggang lembu Andini, seperti Hyang Jagatnata dan Bathari Uma...
Senyap seketika suasana di keputren itu...Kunti membelalakkan matanya yang indah, tangannya menutup mulutnya...Pandu menerawang dengan alis bertaut...
Kunti: Dinda Madrim...sadarkah engkau dengan permintaanmu itu? Sungguh berat dan bisa berakibat kurang baik...gantilah dengan permintaan lain...Lembu Andini adalah kendaraan Hyang Jagatnata, kita sebaiknya tidak mengangkat diri kita setinggi itu dinda...
Pandu: Jagatdewabathara ...hm..baiklah Madrim, pantang bagiku menjilat ludahku sendiri...akan aku penuhi permintaanmu apapun akibatnya.
Pandu menyatukan segenap pancainderanya untuk menghadap Hyang Jagatnata di Jonggringsaloka, disampaikannya keinginan istrinya meminjam Lembu Andini untuk berkeliling di Hastinapura. Hyang Jagatnata didampingi Bathara Narada menyayangkan keputusan Pandu memanjakan Madrim tanpa batas.
Hyang Jagatnata: Sadarkah engkau kulup, permintaan istrimu itu mengandung dua makna...sebagai jalma manusia, dia telah menempatkan dirinya sejajar dengan aku dan istriku, penguasa Triloka, itu merupakan kesombongan luarbiasa, yang hanya bisa ditebus dengan menghuni neraka jahanam...kedua, api kecemburuan telah mendorongnya memanfaatkanmu memenuhi permintaannya yang muskil...itu berarti, dia tidak peduli lagi dengan kehidupanmu...
Pandu: Duh Pukulun...kalau memang demikian...biarlah kedua kesalahan itu menjadi tebusan hamba untuk dapat meminjam Lembu Andini...karena hanya inilah satu-satunya jalan bahwa hamba sebagai suami...sebagai laki-laki masih bisa memenuhi permintaan istri...
Narada: Oooeeyyyy...pergenjong pergenjong waru doyong...kulup..berat sanggamu...apa yang engkau ucapkan itu, mengandung makna, kehidupanmu akan segera pungkas, dan engkau akan menghuni neraka jahanam saat kematianmu tiba...sanggupkah engkau?
Pandu menganggukkan kepalanya menyanggupi syarat yang berat itu. Iba dengan nasib Pandu yang mengenaskan, Hyang Jagatnata mengakhiri pasamuan itu dengan bersabda "Pandu aku pinjamkan Lembu Andini untuk kau pakai bersama Madrim, akan aku tagih tebusannya...namun, engkau akan aku lepaskan dari neraka jahanam, jika salah satu putramu, dengan tulus dan berbhakti, berusaha mengeluarkanmu dari sana."
Pandu pulang ke Hastinapura membawa Lembu Andini, dan memanjakan Madrim berkeliling Hastinapura tanpa bercerita syarat tebusannya kepada siapapun...tetapi diam-diam, Dewi Kunti mengkhawatirkan suaminya...dia sadar membawa lembu Andini memiliki konsekuensi yang besar...pasti ada tebusan yang luarbiasa yang dijanjikan suaminya pada para Dewa...diam-diam, istri yang setia ini mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


