Pandu Pamoksa
KISUTA.com - Setelah mendapatkan kesempatan bertamasya dengan lembu Andini bersama istri mudanya Madrim, Pandu masih menjadi kesayangan para Dewa, dengan membantu para Dewa membasmi Prabu Nagapaya, yang merusak Kahyangan karena ingin memperistri bidadari. Atas jasa Pandu menyingkirkan Prabu Nagapaya, Hyang Jagatnata memberikan Minyak Tala, yang khasiatnya bisa membuat pemakainya tahan senjata apapun di dunia ini. Menyadari umurnya pendek akibat tebusannya saat meminjam lembu Andini, Pandu menitipkan Minyak Tala tersebut kepada kakaknya Destarastra, dengan pesan untuk memberikan pada para putra Pandawa saat mereka dewasa.
Sejak pulang dari Kahyangan mengembalikan lembu Andini dan menumpas Nagapaya, Prabu Pandu Dewanata lebih banyak tepekur bermuram durja. Perubahan ini dimanfaatkan Sengkuni, yang punya agenda licik di benak pikirannya.
Sengkuni: Maaf kakaprabu, saya lihat paduka sering tepekur sendiri..apakah hal ini karena paduka sudah tahu rencana pemberontakan Trembaka dari Pringgondani?
Pandu: Hhh..apa? (Pandu terkejut mendengar hasutan Sengkuni)..Jangan ngawur Sengkuni...apa buktinya?... Trembaka sudah menyatu dengan kita sebagai negeri yang mengakui kedaulatan Hastinapura...bahkan dia sempat ngangsu kawruh belajar menggunakan panah dengan aku.
Sengkuni: Itulah kebaikan paduka, tanpa pamrih menyebarkan ilmu ke mana-mana, hasilnya? Huh..si Gandamana saja sekarang menyeberang ke Pancalaradya...Coba perhatikan kakaprabu...Trembaka sudah melindungi kerajaannya dengan memberikan mantera palimunan ke alas wanamarta, agar orang tersesat tidak menemukan kerajaannya...kalau tidak ada niat busuk yang disembunyikan buat apa dia memasang mantera itu?
Sengkuni terus berusaha menghasut Prabu Pandu Dewanata, yang situasi bathinnya memang sedang labil. Akhirnya Prabu Pandu menugaskan Sengkuni membentuk pasukan telik sandi untuk menyelidiki kemauan Trembaka memasang mantera di Wanamarta. Alih-alih membentuk pasukan telik sandi, Sengkuni malah membujuk para putra Kurawa untuk merangsek Pringgondani dan merampok penduduknya untuk memancing kemarahan Prabu Trembaka.
Serangan pasukan Hastinapura yang dimotori oleh Sengkuni dan Kurawa berhasil memancing kemarahan Prabu Trembaka dan anak-anaknya, pada suatu kesempatan Prabu Trembaka berhasil menawan Dursasana yang paling kurang ajar dan sombong mengandalkan kekuatannya mengganggu penduduk Pringgondani.
Sengkuni secara licik segera lari menghadap Prabu Pandu. “Aduuuhhhh.. ketiwasan kakaprabu...tolonglah...Trembaka hendak mencekik Dursasana...keponakan kita itu padahal dia hanya ikut-ikutan mau belajar jadi telik sandi..haduuuh, sudah saya larang..tapi dia nekad, karena ingin berbakti pada paduka pamannya...haduuuh bagaimana ini ketiwasan-ketiwasan.” Sengkuni mewek..dengan airmata buayanya dia menangis mengguncang kaki Pandu seakan gelisah mengkhawatirkan ponakannya.
Pandu segera melayang menuju Pringgondani, dan tepat pada waktunya menangkap tangan Prabu Trembaka yang hendak meremukkan leher Dursasana.
Pandu: Jagad Dewabathara ...Trembaka!! Sungguh tak patut seorang raja sakti mandraguna melawan anak remaja...apa yang kau cari...menangpun tidak ada yang memuji, kalau kalah malah memalukan....lawanlah aku kalau engkau ingin menguji kesaktianmu.
Trembaka: Hooeyyy..Prabu Pandu, tak kusangka...lembut dan bijak penampilanmu..tapi diam-diam busuk kelakuanmu... ponakan-ponakanmu engkau biarkan merampok dan membunuh rakyatku...hm..biadab.
Dursasana: Bohong Paman...aku tadi baru mau melihat apa yang dilakukan orang-orang Pringgondani di balik kabut mantera... tiba-tiba aku ditelikung raksasa ini...aduuuh sakit banget paman...(Dursasana yang berbadan besar, mulai mewek seperti anak kecil)
Pandu: Trembaka..lepaskan ponakanku..aku hanya memerintahkan agar mereka menyelidiki kemauanmu memasang mantera di Wanamarta...padahal sebagian wilayah hutan itu masih kawasan Hastinapura...
Trembaka: Huh raja sombong...hakku memasang mantera melindungi rakyat dan keluargaku...aku mengakui kedaulatanmu sebagai sahabat, bukan sebagai bawahan...
Akhirnya terjadilah peperangan yang seru antara Prabu Pandu dan Prabu Trembaka.. kedua raja yang sebelumnya bersahabat dan saling menghormati itu tak mampu mengendalikan emosi dipicu hasutan Patih Sengkuni. Dalam suatu kesempatan, dengan telak palastra Prabu Pandu memotong leher Prabu Trembaka sehingga sang Prabu Tewas seketika, namun sebelum lehernya terkena panah Pandu, Trembaka berhasil menggores paha Pandu dengan Keris pusaka Kalanadah yang beracun.
Kemenangan atas Pringgondani, membawa duka yang mendalam karena Prabu Pandu gering, setiap malam badannya menggigil, racun Kalanadah mulai menjalar melalui aliran darahnya. Pandu sadar inilah saatnya...tebusan lembu Andini sudah waktunya digenapi..Suatu malam, Pandu berkata pada kedua istrinya, saat Kunti terus menyeka peluhnya yang dingin di dahinya dengan penuh kasih dan Madrim terus memijati kakinya sambil terisak...
Pandu: Istriku...janganlah kalian bersedih...tampaknya inilah waktunya, sesuai yang aku perjanjikan pada para dewata, bahwa aku harus meninggalkan kalian dan menghuni neraka jahanam....(Pandu menghela nafas dengan berat,...Madrim memekik, berhenti memijati dan meledak tangisnya..Kunti mengerutkan alisnya, menyangga kepala Pandu di pangkuannya)
Kunti: Kanda...apa maksud kanda? Janji apa yang kanda buat dengan para dewa...mengapa begitu kejam...
Pandu: Maafkan aku Kunti kekasihku...untuk memenuhi keinginan adikmu Madrim, bertamasya naik Lembu Andini...aku telah menebusnya dengan nyawaku yang pendek, dan nasibku harus menghuni neraka jahanam hingga kelak ada anak kita dengan bhaktinya melepaskan aku dari sana...
(Madrim menghambur ke pelukan Pandu, merebutnya dari pangkuan Kunti...diguncang-guncangkannya tubuh Pandu sambil menangis meraung-raung...)
Madrim: Kakangmas...mengapa...mengapa harus begitu...kalau memang seberat itu tebusannya...mengapa tidak kakang batalkan saja permintaanku...duuh..kakang lihatlah..engkau menjadi korban dari kemanjaanku...dan lihatlah seluruh dunia akan mencap aku sebagai istri yang tidak tahu diri....duhai dewa...cabut saja nyawaku...kakangmas...(Madrim terus menangis meraung-raung dan mengguncang-guncangkan tubuh Pandu...Kunti menahan sesak dan duka di dadanya.. dirangkulnya Madrim dan ditatanya tubuh Pandu di peraduan agar lebih nyaman)
Kunti: Madrim..berhentilah...nasi sudah menjadi bubur...jangan kau tambah rasa sakit paduka prabu dengan guncanganmu.. Kakaprabu...lelakon ini sarat dengan pameling... betapa mengerikan akibatnya ketika kita mencoba meraih angan yang jauh di atas hak kita... Kakaprabu...waktunya semakin dekat.. apa yang kakaprabu inginkan, kali ini ijinkan kami istrimu menjalankan apapun yang paduka inginkan...
Pandu: (Dengan menahan rasa sakit, ditatapnya wajah istrinya Kunti penuh kasih...betapa luarbiasanya istrinya ini...begitu bijak, begitu tenang, tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.. digenggamnya tangan Kunti dan diraihnya kedadanya)...Dinda Kunti...kalau boleh aku meminta...karena nyawaku juga akan pegat dengan racun Kalanadah ini...adalah menjadi suamimu yang sejati...aku tidak peduli, bahwa setelah kureguk manis madu cintamu, aku akan meninggal oleh kutukan resi Kimindana.. (Madrim menjerit mendengar kata-kata terakhir Pandu...jelaslah sudah...Pandu hanya mengakui Kunti sebagai istrinya, belahan jiwanya...dan siapakah dia? Gadis manja yang dipelihara sebagai hiasan semata...)
Madrim: Tidaaaakkk!!!...Oh kanda...jangan tambah siksaanmu padaku dengan cara seperti ini...(dengan sorot mata penuh kecemburuan, Madrim menatap mata Kunti)...lihatlah ayunda.. betapa tidak adilnya, dalam setiap kesempatan Kanda Prabu hanya melihat dirimu.. Ayunda berhasil memikat kanda prabu dengan kelembutanmu, dan menyingkirkan aku sebagai si manja yang tak berarti apa-apa...mengapa bukan aku kanda...mengapa bukan aku yang kau pilih untuk mereguk manisnya hubungan sebagai istrimu...kanda akan meninggal begitu hubungan itu selesai...dan sebagai istri, selayaknya siapapun yang menemanimu menjalani hubungan suami istri harus ikut pralaya dengan menerjunkan diri patigeni...Kanda (Madrim kembali merajuk memeluk Pandu)...aku juga istrimu..akulah yang membuatmu berjanji pada para dewa...seharusnya akulah yang menyelesaikan perjalanan hidupmu...lagipula, aku tak akan sanggup membesarkan dan menemani anak-anak kita sepeninggal kakaprabu....(Madrim menangis terisak-isak)
Kesunyian adalah tabir misteri ketika duka dan kebingungan menyergap hati manusia.. Pandu merenung, semua yang dikatakan Madrim masuk akal...matanya memandang wajah Kunti yang tampak makin jelita dan matang, sinar surya membuat pipi Kunti kemerah-merahan dalam pesonanya... Tangan Pandu terus meremas tangan Kunti seakan berkata, Kuntilah pilihannya...tetapi...
Kunti menghela nafas panjang...dia menerawang...sejak remaja perjalanan hidupnya sungguh tak lumrah dijalani manusia biasa...rahasia terbesar yang menghantuinya di kala malam tiba adalah..Putranya Karna yang dirawat kusir Adirata...putranya dengan Bathara Surya yang disembunyikannya dari khalayak termasuk Pandu....duh Dewa...semua memandangnya sebagai wanita suci, bijak dan lembut...termasuk Pandu suami yang sungguh-sungguh dicintainya...tetapi dia sendiri merasa, dirinya penuh noda dan kotor...Kunti balas meremas tangan Pandu dengan kasih, diangkatnya kepala suaminya didekapnya di dadanya agar Pandu merasakan debar jantungnya, ditingkah sedu sedan yang coba disembunyikannya...
Kunti: Kanda kekasih hatiku...terima kasih atas kehormatan yang kanda sampaikan tentang keinginan kanda yang terakhir...sungguh, jika dinda bertahan dengan nafsu manusiawiku.. takkan ada yang bisa menghalangi kita...tidak juga tangisan dinda Madrim (dengan kerling matanya, Kunti seakan menegur kecemburuan Madrim yang tak ada habisnya)..Tapi kanda.. kalau sekarang aku persilahkan kanda memenuhi keinginan kanda yang terakhir itu dengan dinda Madrim..bukan berarti cintaku tak sebesar Madrim...sekali kita berbuat, setelah itu lenyaplah sudah...Oo kanda, kutukan resi Kimindana adalah sebuah isyarat, bahwa hubungan kita jauh lebih suci dan langgeng dari hubungan ragawi...akan aku jaga dan rawat dengan kehormatanku kanda...dan aku akan membesarkan anak-anak kita tanpa kecuali dengan segenap cinta dan tanggung jawabku, sebesar cintaku pada paduka...(Pandu memeluk Kunti dengan segenap perasaannya...rasa bangga, terima kasih dan cinta memenuhi rongga dadanya...dan ternyata itu dirasakannya nikmat sekali)
Malam itu, Prabu Pandu Dewanata mangkat setelah menjalani hubungan suami istri dengan Madrim...masyarakat Hastinapura hanya tahu bahwa rajanya mangkat karena Kalanadah.
Sidang Dewan Kerajaan, mengantarkan perabuan sang Raja dan Patigeni Dewi Madrim dengan kemegahan yang layaknya diterima oleh Raja besar seperti Prabu Pandu Dewanata. Setelah Pandu wafat, tahta kerajaan Hastinapura, diserahkan pada Destarastra untuk mewakili anak-anak Pandu yang baru berangkat remaja.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


