Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

"Lempa Lempi Lempong"

Jumat, 12 Februari 2016

KISUTA.com - Sepotong tembang yang masih saya ingat, "Lempa lempi lempong, ngadu pipi jeung nu ompong". Tembang ini sering didendangkan saat bermain di kampung kelahiran saya di Desa Puspahiang, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya.


Ini merupakan bagian dari tembang yang dibuat para karuhun Sunda. Saya ingat kembali tembang itu tatkala menyaksikan kampanye Pilpres.


Awal tembang ini berbunyi, "Ayang-ayang gung, gung goongna rame". Syair tembang itu sepertinya menggambarkan keramaian perhelatan Pilpres. Panggung didirikan dan konvoi kendaraan diadakan di mana-mana. Namun jangan harap keramaian dan kebernasan debat antara Hillary Clinton dan Obama. Levelnya masih terlalu jauh. Untuk menirunya, masih terlalu jauh. Demokrasi kita, baru seumur jagung jika dibandingkan dengan demokrasi di negeri Paman Sam. Keadaan kampanye Pilpres tak lebih seperti "ngadu pipi jeung nu ompong" tadi.


Siapa yang ompong? Secara alami, kalau bukan bayi, pastilah manula (manusia lanjut usia). Meski ada juga ompong yang terjadi karena sesuatu yang tidak alami yang tidak akan dibahas di sini. Baik bayi maupun manula, punya kesamaan dalam hal pikirannya. Yang pertama memang belum bisa berpikir, yang kedua banyak lupa pada apa yang dipikirkannya alias pikun.


Jadi, keduanya tak akan tertarik jika melihat debat ala capres Amerika. Manusia-manusia ompong ini mungkin hanya tertarik jika diberi makan dan hiburan. Tapi mau bagaimana lagi? Saat dalam keadaan krisis, saat harga-harga melambung tinggi, sehingga untuk mendapatkannya pun harus antre, kampanye pilpres jelas menjadi hiburan tersendiri.


Acara bagi-bagi kaus, sembako, hiburan dengan artis dangdut, serta saling umbar janji merupakan hiburan untuk melupakan penderitaan. Toh, semua janji tak akan diingat lagi. Seperti layaknya manusia ompong akan cepat lupa.


Masih menyitir lanjutan tembang tadi, "Menak Ki Mas Tanu, nu jadi wadana, naha maneh kitu tukang olo-olo, loba anu giruk, ruket jeung kumpeni". Syair ini masih relevan dengan keadaan sekarang. Jabatan wedana, setingkat di atas camat, saat itu sudah dipandang hebat bagi seorang pribumi mengingat jabatan yang lebih tinggi seperti gubernur hanya untuk orang-orang Walanda (baca: Belanda) alias kumpeni.


Lirik lagu itu juga mengingatkan, jangan sampai sikap "tukang olo-olo" seperti kebanyakan orang Belanda masih dipelihara saat menjadi pemangku kekuasaan sehingga banyak yang membenci, terutama apabila kekuasaannya tak berpihak pada rakyat (diibaratkan dengan kompeni, sebagai simbol kekejaman).


Dalam lagu itu juga digambarkan, "Niat naek pangkat, katon kagorengan, ngantos kanjeng dalem". Para capres-cawapres yang akan berlaga, harus kembali meresapi lirik tembang ini. Niat dan keinginan untuk "naek pangkat" jangan berbekal kejelekan atau saling menjelek-jelekkan sesama capres-cawapres. Sebab, bagi masyarakat, keinginannya sederhana saja, yaitu menjalani kehidupan dengan damai, rukun, sejahtera dengan harga-harga bisa terjangkau. Itu saja!***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya