Durna Tagih Janji
KISUTA.com - Di Lapangan Kurusetra, Guru Durna sedang mengajar penggunaan senjata Panah kepada murid-muridnya. Satu demi satu ditanya oleh sang mahaguru, apa yang dilihat para murid di ranting pohon yang ada burung prenjak sedang bertengger.
Durna: Yudisthira...apa yang kamu lihat selain burung itu di ranting pohon seberang lapangan itu?
Yudisthira: Guru...saya melihat Awan berarak indah di langit yang biru luas...indah sekali...
Durna : Huh..letakkan busurmu...engkau tidak akan berhasil...hei Duryudana...coba lihat, perhatikan dengan seksama...apa saja yang engkau lihat di pohon seberang lapangan itu?
Duryudana: Aku melihat pohon yang besar kokoh, daunnya rimbun dan burung itu nangkring di dahannya...
Durna: Halah..sama saja..letakkan busurmu..percuma saja kalau mau dicoba....Bima..apa yang kau lihat?
Bima: Gunung yang besar di belakang pohon itu Guru...
Durna: Haduuuh ini lagi...sudah..sudah...letakkan busurmu...
Dursasana:..Uiits..aku guru..aku tahu...aku melihat ada kerbau di belakang pohon, terus banyak buah bergelantungan di pohon itu..huahahaha...aku pasti benar khan...komplit itu...
Durna: Huh...komplit?...justru itu yang akan membuat kamu gagal..letakkan busurmu Dursasana...Arjuna, apa yang engkau lihat?
Arjuna: Aku hanya melihat burung prenjak guru...tak ada yang lain...
Durna: Hhmm..burung prenjak? Apa yang kau lihat pada prenjak itu...?
Arjuna: Lehernya guru...aku hanya melihat lehernya...
Durna: Lepaskan panahmu sekarang...
Panah mendesing dari busur Arjuna, sesaat kemudian burung prenjak itu jatuh dari ranting pohon tempatnya bertengger. Para putra Pandawa dan Kurawa memburu burung yang jatuh itu, meledaklah tepuk tangan mereka saat melihat leher burung itu tertembus panah Arjuna.
Di balik tirai sanggar peristirahatan, Sengkuni memperhatikan kegiatan Durna dan para Putra Kurawa dan Pandawa dengan seringai liciknya. Saat sang mahaguru mengajak para murid beristirahat, Sengkuni segera menghampiri Durna.
Sengkuni: Hebat kakang Kumbayana...rasa penghormatan para muridmu, sepertinya sudah menyingkirkan keinginanmu untuk mengambil hakmu dan membalas dendammu ya...hehhehheh...
Durna: Apa maksudmu Dik Suman?
Sengkuni: Lihatlah anakmu Aswatama yang cuma jadi pengikut para pangeran itu...jadi suruhan sana-sini...bahkan dengan anak kusir Adirata saja masih mendingan si Karna yang disayang Duryudana....hhmm..apa sebagai bapak kakang Kumbayana tidak ingin mengangkat derajat anak dan istri...?
Durna: Pedas mulutmu menyindirku...kau pikir segala jerih payahku mengajar para pangeran ini untuk apa? Tentu untuk kemuliaan anak istriku...(Durna mulai tersinggung dengan ucapan nyinyir Sengkuni)
Sengkuni: Sampai encok kamu mengajar, kalau tidak punya tanah perdikan yang memadai dan kedudukan setara adipati...keluargamu juga ngga punya martabat...lagipula, lihatlah badanmu yang peyot itu, tanganmu yang ceko...wajahmu rusak oleh siapa? Gandamana! Tidakkah kau ingat nama jahanam itu? Huh...musuh-musuh yang menghinamu sekarang bergabung di Pancalaradya...Drupada yang ingkar janji dan Gandamana si sadis itu... lupakah engkau kakang?
Durna: (Menggertakkan gigi saat diingatkan dendamnya, tangannya terkepal) aku tidak akan melupakan dendam itu...tapi, Pancalaradya bersahabat dengan Hastinapura, tentu aneh kalau aku membalas dendam ke sana...
Sengkuni: Hei kakang...gunakan akalmu, buat apa kita ngluruk ke sana...sekarang Prabu Pandu sudah tiada..manfaatkan rasa sungkan dan hormat Gandamana dan Drupada pada almarhum Prabu Pandu...utuslah Bima dan Arjuna untuk membawa Drupada dan Gandamana ke sini..diam-diam saja...toh Kakang Destarasta yang buta tidak akan peduli hal-hal kecil seperti ini...nanti di sini, biarlah mereka dikeroyok 100 putra kurawa, sebagai satria-satria pilih tanding, tentu mereka malu menghadapi anak-anak...terpuaskanlah dendammu mempermalukan mereka...dan engkau bisa menekan Drupada untuk menyerahkan separo kerajaannya...hehhehheh...
Durna terhasut oleh akal licik Sengkuni, karena pada dasarnya rasa sakit hati atas perlakuan Drupada dan Gandamana memang tak pernah hilang dari ingatannya. Sengkuni yang culas, dengan cerdik meminjam dendam Durna untuk menuntaskan dendamnya pada Gandamana yang juga telah merusak wajah dan tubuhnya.
Pada suatu malam yang dingin, Raden Bratasena dan Arjuna menghadap Prabu Drupada di Pancalaradya melaksanakan siasat Sengkuni memancing kehadiran Drupada di Hastinapura.
Harjuna: Uwa Prabu...kali ini mohon kehadiran Uwa Prabu ke Hastinapura, karena Guru Durna sedang gering...dan menurut beliau dahulu hubungan beliau dan paduka sangat akrab seperti saudara...
(Patih Gandamana yang sangat mengasihi para putra Pandawa karena merupakan putra-putra dari guru yang dikasihinya almarhum Prabu Pandu, tidak kehilangan kewaspadaannya)
Gandamana: Anakku cah bagus Arjuna, dan anakku yang gagah Bratasena...tidak menjadi masalah kanda Prabu Drupada ke Hastinapura...tetapi...mengapa malam-malam seperti ini Hastinapura mengutus kalian anak-anak mengundang raja Pancalaradya ke sana?
Bima: Hooii..ya paman Gandamana, karena guruku sakitnya sekarang...hooii..bagaimana ini mau datang apa tidak...?
Drupada: Hehehe..Bima, engkau selalu lugas tanpa tedeng aling-aling..hm..yayi Gandamana mungkin tidak masalah aku datang ke sana..lagipula, dulu kakang Kumbayana memang sahabatku...asal tidak macam-macam saja dia...
Gandamana: Kakaprabu..perasaan saya tidak nyaman, karena ini undangan kekeluargaan memang tidak sepantasnya malam-malam membawa pasukan pengawal...karena itu biarlah saya saja yang mengawal paduka ke Hastinapura...
Drupada dan Gandamana mengikuti Arjuna dan Bima ke Hastinapura dengan damai... sesampainya di Hastinapura, kecurigaan Gandamana terbukti..setelah Bima dan Arjuna kembali ke Keputran, dalam perjalanan menuju sitihinggil tempat yang direncanakan akan bertemu dengan Durna...di tengah taman mendadak Drupada dikeroyok 100 putra Kurawa...perkelahian yang tidak seimbang 2 vs 100, itupun ditambah ledekan-ledekan licik Sengkuni yang menghina Gandamana saat mengeluarkan kesaktiannya menghajar para putra Kurawa...”Wow patih gagah braninya sama anak kuecuiiiil wooow.” Ditingkah tepuk tangan prajurit seakan melihat tontonan yang lucu, membuat Gandamana acapkali menahan pukulannya dan akhirnya Kurawa berhasil meringkus Drupada dan Gandamana.
Durna: Prabu Drupada, maafkan aku terpaksa menggunakan cara seperti ini untuk membawamu berhadapan denganku...masih ingatkan engkau dengan janjimu di hadapan ayahku Resi Baradwaja?
Drupada: Hm kakang Kumbayana sungguh hina patrapmu sebagai Begawan, mengapa laku pengecut seperti ini yang kau jalani?
Durna: Drupada...lihatlah tubuh dan wajahku...dulu aku datang padamu sebagai sahabat.. kau hina aku karena engkau merasa tidak sederajat, iparmu Gandamana menghajarku sampai cacat begini...pikirkanlah..apakah aku akan sebodoh itu mengulangi memintamu memenuhi janji? Sekarang engkau merasakan bagaimana rasanya terhina...Drupada.. aku tidak meminta berlebihan, aku hanya meminta apa yang engkau janjikan...separuh kerajaanmu serahkan padaku...akan aku kelola sebagai sebuah Kadipaten dengan anak tunggalku Aswatama sebagai adipatinya....bagaimana? Apakah engkau masih akan ingkar?
Drupada: Baiklah Kakang Kumbayana, lepaskan aku dan yayi Gandamana, aku ikhlaskan separo kerajaanku untukmu.
Durna berhasil mendapatkan separo kerajaan Panchalaradya, yang segera diberikannya kepada Aswatama sebagai Kadipaten/Kasatriyan Padhayangan, sementara Durna sendiri tetap tinggal di Pertapaan Sokalima bersama istrinya Dewi Krepi.
Sepulang dari Hastinapura, Perasaan Prabu Drupada diamuk dendam, karena merasa terhina dan dilecehkan...Sang Prabu masuk ke sanggar Pamujan, siang dan malam memohon kepada dewata agung agar mendapatkan putra yang bisa membalas dendamnya. Pada hari ke 40 dari Api Pamujan, terciptalah seorang putri jelita dengan kulit hitam manis dan rambut kebiru-biruan, dan dari asap api Pamujan tersebut terciptalah seorang putra ksatria lengkap dengan busur dan anak panahnya. Putri yang berasal dari api ini diberinya nama Drupadi, sedangkan putra yang berasal dari asap diberinya nama Drestajumena.
Setelah memiliki anak-anak yang akan menuntaskan dendamnya pada Durna, Drupada dan permaisuri Gandawati kembali memohon pada dewata agar diberi anak secara kelahiran normal...”Aku tidak peduli apakah anakku nanti wanita, atau laki-laki atau keduanya...yang penting bisa keluar dari gua garbaku kakang.” Permintaan Dewi Gandawati ini terjawab saat sang Permaisuri hamil, dan saat melahirkan tiba...terkejutlah Gandawati, putrinya cantik jelita seperti bidadari tetapi...kedhi (banci)...mungkin ini akibat permintaannya yang dijawab para Dewa...putri bungsu ini diberi nama Srikandhi.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


