Dharma Narayana
KISUTA.com - Padepokan Widara Kandang yang terpencil di lereng bukit Gowardhana tampak asri, Demang Sagopi menikmati kehidupan bersama keluarganya dengan penuh kebahagiaan.
Sang Demang mensyukuri nikmat karuniaNya. Dia hanya pamong praja Mandura berpangkat rendah, tetapi menerima hadiah istri yang cantik bekas kekasih para pangeran, waranggana istana yang dulu jadi rebutan Ken Sayuda, sekarang menjadi istrinya bersama anak-anak hasil hubungan gelapnya dengan para pangeran...Arya Widura dari hasil hubungan gelapnya dengan Basudewa, Arya Pragota dan Arya Adimanggala dari hubungan gelap dengan Arya Prabu Rukma, dan Dewi Larasati dari hubungan gelapnya dengan Pangeran Ugrasena.
Demang Sagopi melepaskan nafasnya sambil meneruskan renungannya...”Jagad Dewa Bathara...mungkin banyak laki-laki menertawakannya, menerima perempuan ampas para pangeran itu...yang tidak terjamin akhlaknya...apakah setia atau tetap membuka kesempatan laki-laki lain menjelajah nikmat tubuhnya... Aah Ken Sayuda mungkin terkesan murahan membiarkan para pangeran itu bermain-main dengan tubuh moleknya..tapi..apa dayanya? Dia hanya waranggana yang berusaha bertahan dengan keahliannya...sekarang, Ken Sayuda sudah menjadi istriku, aku terima bersama anak-anak gelapnya...bukankah ini karunia? Istri cantik, anak-anak yang tampan dan cantik...sementara aku? Ternyata aku malah tidak bisa membuahi istriku dan mendapat keturunan darinya...peduli demit...mungkin aku bodoh dan lemah...tapi aku syukuri nikmat ini sebagai karuniaNya...”
Nyi Sagopi: Kok ngalamun saja Pakne? Ada apa...?
Ki Sagopi: Eh, mbokne...kamu bikin kaget saja...anak-anakmu di mana?
Nyi Sagopi: Di belakang...Udawa, Pragota dan Adimanggala...seperti biasa menemani Raden Kakrasana dan Raden Narayana menggembala lembu....den Rara Ireng, bersama Larasati lagi ngronce melati di kebun...
Ki Sagopi: Nikmatnya ya mbokne...melihat mereka tumbuh...rukun dan ayem...
Nyi Sagopi: (Menggenggam tangan Ki Sagopi, dengan mata berkaca-kaca) Pakne...terima kasih...sungguh engkau laki-laki luhur budi..kau terima aku yang hina dan kotor dengan lumpur maksiat...bersama anak-anakku..tanpa menengok masa laluku...duh Pakne, kalau tidak ada sampeyan yang melindungi kami...apalah jadinya aku ini...? (mulai terisak)
Ki Sagopi: Huusss...cup..cup..cup...sudahlah..nanti dilihat anak-anak, dikiranya kita bertengkar...sudah jangan diingat-ingat masa lalumu yang menyakitkan itu...sekarang engkau istriku, simboknya anak-anakku...lepaskan masa lalumu..bertobat dan jadilah lurus di masa depan. Jika tidak ada niatanmu untuk mendekati kotoran-kotoran itu...semoga baiklah jalan kita ke depan mbokne...
Saat suasana sendu sedang menghinggapi kedua suami istri itu, Pragota anak Ken Sayuda dari Arya Prabu Rukma, berlari-lari memasuki halaman sambil berteriak-teriak....”Paaakk... Mbooookkk... Raden Narayana dan Raden Kakrasana bergulat melawan Raksesi, Siluman Kuda Raksasa dan ular besar di pinggir telaga...ayoo nonton!!”
Ki Sagopi bergegas, mengikuti Pragota menuju arah pertempuran berlangsung. Di medan pertempuran dilihatnya Narayana dan Kakrasana bertempur dengan hebatnya melawan musuh-musuhnya. Narayana dengan lincah menghadapi Kesi siluman kuda raksasa dan Putana Raseksi yang ganas, kelincahan tubuhnya melenting kesana kemari membuat musuh-musuhnya pening, sampai pada suatu kesempatan tendangannya menghancurkan kepala Putana dan tamparannya yang seperti kilat membuat retak kepala Kesi yang membuat siluman kuda itu roboh mati seketika. Hampir bersamaan dengan kemenangan Narayana, Kakrasana dengan kekuatan yang luar biasa juga berhasil merobek mulut Naga Agasura, hingga siluman ular itu mati.
Pecah tepuk tangan penduduk yang diam-diam menyaksikan pertempuran hebat para pangeran muda itu....Ki Sagopi segera memeluk kedua anak asuhnya dan berbisik-bisik membimbing mereka agar menjauhi keramaian.
Ki Sagopi: Duuuh raden berdua, mengapa mencari perhatian seperti ini...kehebatan raden berdua akan terdengar prabu Kangsa...dan itu berbahaya untuk keselamatanmu...kalian dititipkan di Widara Kandang justru untuk menjauhkan kalian dari perhatian prabu Kangsa raden...
Narayana: Bapa Sagopi...ketiga dedemit itu sudah menteror penduduk, kami tidak bisa berdiam diri...kalau karena perbuatan ini Kangsa mengetahui jatidiri kami, kami sudah siap menghadapi...jangan khawatir Bapa...
Ki Sagopi: Aaah..tapi.....paduka tidak tahu kekejaman Prabu Kangsa..paduka bertiga dititipkan di Widara Kandang khan supaya aman dari kekejaman Prabu Kangsa.
Baladewa: Huh...dulu...boleh saja kita diumpetin...karena masih bocah...tapi kalau sekarang? Mengapa terus bersembunyi seperti lagak pengecut...? Di Narayana, ada baiknya kita sajalah yang samperin si Kangsa itu...
Ki Sagopi: Aduuuh..aduuh..raden Kakrasana...sabar raden...paduka...
Belum selesai Ki Sagopi bicara...penduduk sudah berteriak-teriak sambil menyeret Narayana dan Kakrasana menuju tepi sungai Yamuna... ”Raden..ayo...bantulah penduduk di tepi sungai Yamuna..Naga Kaliya sudah meracuni sungai...banyak penduduk mati...ayo..ayo raden...”
Kakrasana dan Narayana segera mengikuti ajakan penduduk... Di tepi Sungai Yamuna, Naga Kaliya yang berkepala banyak sedang menebar teror, uap bisanya bergulung-gulung ditiupkan di bibir sungai...banyak bangkai ternak dan penduduk yang bergelimpangan menjadi bukti kekejaman Kaliya.
Narayana gemas melihat kekejian Kaliya, seperti tatit menyambar tubuhnya melenting menjejakkan kakinya di atas salah satu kepala Kaliya. Narayana berpindah dari satu kepala ke kepala yang lain, seakan menari di atas kepala naga Kaliya yang bertudung banyak. Jejak kaki Narayana, seakan memberi cap seperti bara api pada kepala Kaliya. Pertempuran yang hebat dan menegangkan berlangsung mendebarkan, sampai akhirnya Narayana sampai pada kepala Kaliya yang terakhir...terdengar bunyi ledakan yang keras, ketika kepala itu tak kuat menahan api biru yang keluar dari kaki sang titisan Wisnu...Kaliya mati hancur....Penduduk bersorai sorai bersyukur terbebas dari momok yang menakutkan itu.
Ki Sagopi segera mengajak Kakrasana dan Narayana kembali ke Widara Kandang, karena khawatir mata-mata Kangsa mengetahui keberadaan kedua pangeran muda itu.
Suatu hari, Prabu Basudewa bersama permaisuri Dewayani mengunjungi anak-anak mereka yang dititipkan di Widara Kandang. Permaisuri Dewayani memiliki sepupu yang menjadi permaisuri raja Jarasanda di Chedi. Sepupunya ini baru saja melahirkan putra, yang lahir dengan cacat memiliki mata ketiga di dahi dan tangan 4, para bhrahmana dan pendeta yang didatangkan mengatakan bahwa kutukan yang mengikuti bayi itu baru bisa hilang jika sang bayi dipangku oleh titisan Wisnu, tetapi hilangnya kutukan itu juga menjadi tanda bahwa pengapesan sang bayi juga terletak pada tangan penyelamatnya.
Basudewa tahu, Narayana adalah titisan Wisnu, karena itu diajaknya anaknya ini membantu saudaranya melunturkan kutukan pada sang bayi.
Di Kerajaan Chedi, Prabu Jarasanda dan permaisuri segera menyambut keluarga Prabu Basudewa. Sang Permaisuri Raja mengantarkan Narayana menuju peraduan sang bayi. Di kamar permaisuri, Narayana meraih sang bayi dari peraduan...digendong kemudian dipangkunya .....”Duuh Hyang Widi Wasa...dengan kuasaMu, aku pangku bayi ini bersama petaka yang mengikutinya...jika kau beri aku cahayaMu menyingkirkan petaka ini...lunturlah bersama bala yang mengikutinya...waluya jati...jati katemah mulya...tetapi, jika segala bala telah tersingkir dan jalma ini tidak bisa mensyukuri nikmat karuniaMu...biarlah tanganku yang memangkunya inipun...yang akan menyelesaikan tugasnya...menyempurnakan jasad yang ingkar...”
Ajaib mata di dahi dan tangan yang berlebih dari sang bayi musnah...bayi itu menjadi normal, permaisuri raja menangis tersedu teringat bahwa pengapesan anaknya juga terletak pada sang titisan Wisnu.
Permaisuri: Raden...raden Narayana ..duh titisan Wisnu yang mulia...beribu terima kasih bibimu yang hina ini untuk anakku Supala....tapi raden...aku tahu bahwa pengapesan anakku kelak terletak juga di tanganmu, duh dewata agung...kasihanilah bibimu ini...lepaskanlah kuasamu atas pengapesan Supala..telah kau selamatkan dia, mengapa kau ancam juga dia dengan kematiannya...
Narayana: Bibi, hentikan keluhanmu...karena demikianlah yang tersurat...aku berkuasa untuk menyelamatkannya...tetapi kuasaku juga berujung pada kematiannya untuk mencegah datangnya bala yang lebih besar...
Permaisuri (sambil terus menangis sedih): Raden...sisihkanlah rasa ibamu...lihatlah aku bibimu ini...begitu lama aku mendamba putra..saat aku memilikinya..mungkin hanya Supala ini putraku seorang...tegakah engkau mencabutnya dari kebahagiaanku?
Narayana: Bibi...haus dahagamu akan kebahagiaan, tidak akan pernah terpuaskan saat engkau tidak ikhlas menyambut karuniaNya...Supala lahir sebagai karunia...di tubuhnya terbawa petaka dan bala...aku melenyapkannya sebagai karunia selanjutnya untukmu, sehingga engkau memiliki anak yang normal...engkau bisa mengasuh dan membesarkan Supala dengan kasih sayangmu hingga tumbuh dewasa, bukankah itu juga karunia? Jika kelak, Hyang Agung memintanya kembali melalui kuasaku...belum ikhlaskah engkau dengan rangkaian karunia yang telah kau reguk?
Permaisuri: (Tercenung mendengar kata-kata Narayana) Ya raden...inilah kelemahanku sebagai jalma manusia...semakin banyak kuterima karuniaNya...semakin haus aku mendamba karunia lainnya...raden...aku hanya seorang ibu yang diliputi kasih pada anaknya... jika aku tak mampu menghentikan kuasamu...berilah aku jalan mencegah agar kuasa itu tidak engkau gunakan...apa yang bisa menghalangi niatmu mencabut nyawa anakku raden... (mata sang permaisuri menatap Narayana dengan menghiba, bibirnya bergetar penuh harap)...
Narayana: Hhmm...Bibi...aku menghormatimu sebagai bibiku, tetapi rasa hormatku yang lebih tinggi adalah pada rasa keibuanmu yang begitu tinggi, terus meminta keselamatan putramu walau belum setetespun bhakti dia berikan padamu....Inilah kasih termulia yang hanya keluar dari sang ibu sejati...baiklah Bibi...tidak akan aku cabut nyawa Supala..kecuali, dia hina aku di muka umum lebih dari 100 kali...
Petir menyambar, angin menderu-deru, satwa meringkik, unggaspun beterbangan seakan merasakan kengerian Sabda Sang Wisnu...senyap di Keputren Chedi, Sang Permaisuri lega, merasa apa yang diberikan Narayana sudah lebih dari cukup...dia yakin bisa mendidik Supala untuk mengingat-ingat agar tidak mengundang pengapesannya di hadapan Narayana.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


