Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Puisi

Pesan Singkat

Senin, 22 Februari 2016

Subuh tadi kau mengirim pesan singkat, menembus kabut dan
hujan dalam hatiku. Aku membalas pesanmu dengan setangkai
kata yang aku sunting dari uap es dalam kulkas. "Hangatkan
jiwaku dengan cahaya matahari yang dulu terbit dalam hatimu,"
demikian kau balas pesan pendekku. "jangan kirim gumpalan es
bagi hatiku yang menggigil merindu kehangatan masa lalu!"

Apa masa lalu apa masa depan. Apa kehangatan apa kesepian. Di
hadapan hanya langit lengang, langit subuh yang mendung.
Sesekali aku dengar suara kokok ayam jantan, lalu suara angin di
ranting bambu. "Apa yang terjadi, mengapa jarak memisah kita?
Apa yang terjadi. mengapa matahari hilang cahaya dalam hatiku?
Suara timba di sumur tua mengoyak keheningan.

"Cut!" seru sebuah suara. Seketika kenangan pun berantakan.
Wangi kembang tujuh rupa tak terambung lagi. "Sungguh jangan
beri gumpalan es bagi hatiku yang menggigil merindu dirimu. Beri
aku nyala matahari yang dulu terbit dalam hatimu," katamu dalam
pesan singkat yang kau kirim untukku berulang-ulang. Aku buka
jendela, aku merindukan udara segar dari langit yang lain.

2012

Soni Farid Maulana - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya