Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Wayang

Kangsa Adu Jago

Senin, 22 Februari 2016

KISUTA.com - Demang Sagopi menerawang sambil memperhatikan kupu-kupu dan rama-rama yang terbang di atas bunga kenikir di pategalan.

“Aaah...Prabu Kangsadewa sepertinya sudah mulai mengendus keberadaan Raden Narayana, dan Raden Kakrasana...terbukti di pasar tadi beberapa orang sudah ribut ngomongin satrio keling dan satrio bule yang dicari-cari pengawal raja...hhmm, untunglah kedua pangeran itu sekarang sedang berguru pada para winasis...Raden Narayana ke Gunung Giripurwa berguru pada Resi Padmanaba...dan Raden Kakrasana ke Gunung Argasonya berguru pada Bathara Brahma.”

Nyi Sagopi: Pakne...ini lho teh panasnya, dari tadi aku lihat Pakne gelisah sekali...

Ki Sagopi: Perasaanku ngga enak mbokne...takut Prabu Kangsadewa segera mengirimkan utusan ke sini...Bagaimana anak-anakmu?

Nyi Sagopi: Ya Pakne...Kalau Udawa sama Pragota, sekarang lagi ngawula ke Madura ikut Prabu Basudewa, sedangkan Adi Manggala malah ngawula ke Hastinapura karena diajak sama Raden Karna Suryaputra...aku terus menjaga Dewi Wara Sumbadra dan anak kita Larasati agar waspada dan hati-hati...

Ki Sagopi: Ya..ya..ya...jadi tinggal anak-anak perempuan saja yang ada di perdikan ini ya Mbokne....hhmm...kalau begitu Mbokne, tetaplah waspada temani anak-anak gadis itu.. Kalau nanti ada apa-apa, jangan kamu perhatikan apa yang aku lakukan, segeralah lari sipat kuping lewat pintu belakang... gunakan sekoci yang terus tertambat di pohon asem pinggir sungai..larilah aliran sungai itu akan menuju Gunung Argasonya, semoga kamu dan anak-anak bisa bertemu Raden Narayana dan Raden Kakrasana....sehingga kalian aman bersama mereka...

Nyi Sagopi: Aduuuh Pakne...jangan membuat aku was..was... mengapa tidak sekarang saja Pakne ikut lari bersama kami.. ayolah Pakne, aku tidak bisa berpisah denganmu...

(mata Nyi Sagopi berkaca-kaca...terasa benar rasa cintanya pada laki-laki sederhana ini... laki-laki yang selalu bermandi peluh untuknya dan anak-anaknya...aah..baru sekarang dia rasakan..tak banyak yang sudah dia berikan pada lelaki yang seakan hidup hanya untuknya ini)

“Mbokne..perjalanan hidup kita sudah hampir sampai ke ujung..aku menikmati dan mensyukuri semua yang sudah kita lalui. Jangan kau pikirkan aku...jika aku bisa menahan para prajurit Sengkapura, dan membuat kalian aman...sungguh kemuliaan bagiku menjadi suamimu, bapak anak-anakmu... tetapi mbokne, jika kau dorong aku ikut lari bersamamu.. belum tentu kita akan selamat...mungkin malah mati sampyuh...nah, apakah itu yang akan kau berikan pada akhir hidupku... kematian konyol seorang suami pengecut yang tidak bisa menyelamatkan anak istrinya? Sudahlah mbokne...beri aku kemuliaan dan kebanggaan itu di akhir hidupku....kita akan bersatu lagi istriku sayang, di alam kelanggengan yang membuat cinta kita lebih murni dan indah...”

Daun-daun bergemerisik ditingkah sepi maruto, seakan gending sendu yang mengiringi dua hati dalam kepasrahan. Nyi Sagopi memaksakan dirinya untuk tabah. Diciumnya punggung tangan suaminya...begitu dalam, begitu lembut...inilah berpisahan yang penuh duka, pada guru laki sejati...sejenak naik sedu sedannya, untuk kemudian segera bergegas diajaknya Rara Ireng Sumbadra dan Larasati berbenah untuk meloloskan diri.

Di Gunung Giripurwa. Narayana telah tuntas berguru kepada Resi Padmanaba, yang sebenarnya pangejawantahan dari Sri Rama, titisan Wisnu sebelum dia. Sang Guru bangga akan muridnya yang mampu menyerap ajian Triwikrama serta ilmu tingkat tinggi lainnya dengan sempurna serta kuat mewarisi pusaka-pusaka andalan Resi Padmanaba yaitu Cakra Sudarsana dan Kembang Cangkok Wijayakusuma. Ajian dan pusaka-pusaka itu adalah kelengkapan senjata Wishnu di dunia. Resi Padmanaba sadar, tugasnya di dunia sudah selesai, kini adalah masa Sri Kresna, nama Narayana setelah proses Titisan Wishnu selesai dengan sempurna. Resi Padmanaba memanggil Narayana, berhadap-hadapan mereka menyatukan panca indera, uap keluar dari tubuh sang Resi bergulung-gulung membentuk awan lembut yang menyelimuti tubuhnya, sesaat kemudian sang Resi Moksa dan merasuk serta bersatu dengan Narayana muridnya. Maka kemudian berlanjutlah hidup Resi Padmanaba di dalam tubuh Narayana.

Setelah proses penyempurnaannya selesai, Narayana pergi ke Gunung Argasonya untuk mencari Kakrasana, kakaknya. Mereka bertemu dan saling menceritakan keberhasilan masing-masing. Saat itu Kakrasana telah menerima anugerah dari Batara Brahma berupa mantra Jaladara serta senjata Nenggala dan Alugora.

Mereka sepakat untuk segera kembali ke Widarakandang karena perasaan mereka tidak nyaman, kekhawatiran atas teror Prabu Kangsadewa makin menyeruak.

Sesungguhnya sebelum Narayana dan Kakrasana sampai di Widarakandang prajurit Sengkapura utusan Prabu Kangsadewa, dipimpin oleh Kala Akura, telah menyerang Widarakandang.

Pada akhirnya Kangsadewa mengendus rahasia bahwa ketiga anak Prabu Basudewa yaitu Narayana, Kakrasana dan Sumbadra ada di Widarakandang. Kecewa dan marah yang dicari tidak diketemukan, Demang Sagopi disiksa dan dibunuh. Syukurlah, Nyai Sagopi berhasil membawa lari Sumbadra dan Larasati sesuai arahan suaminya.

Dalam pelarian itu Nyai Sagopi dan kedua gadis remaja itu bertemu Arjuna yang melindunginya. Saat para raksasa pimpinan Kala Akura berhasil menyusul pelarian mereka, dengan senjata panah, Arjuna berhasil memusnahkan prajurit raksasa yang dipimpin Kala Akura. Setelah bebas dari serangan raksasa mereka sepakat untuk mencari Kakrasana dan Narayana.

Di tengah perjalanan bertemulah kedua rombongan yang mempunyai maksud sama itu. Mereka berenam, yaitu Narayana, Kakrasana, Nyai Sagopi, Sumbadra, Larasati dan Arjuna. Di sela-sela isak tangis, Nyai Sagopi bercerita tentang kematian Demang Sagopi dan hancurnya Widarakandang. Narayana dan Kakrasana menahan amarah kepada Kangsadewa sebagai biang keladi kejadian ini.

Mereka sedih karena Demang Sagopi telah meninggal dunia. Mereka pun kecewa karena tidak dapat melindungi Demang Sagopi ketika datang serangan musuh yang menewaskannya.

Nayarana tidak mau larut dalam kesedihan itu. Ia sadar kini dirinya adalah titisan Batara Wisnu yang menyatu dalam raganya. Tugasnya adalah menyeimbangkan dunia. Sepak terjang Kangsadewa adalah bentuk angkaramurka dan kejahatan. Jika hal itu dibiarkan keseimbangan dan keharmonisan dunia akan terganggu. Dari para tetangga perdikan mereka mendengar bahwa Kangsadewa sedang menggelar Adu Jago, sebagai upaya Kangsadewa menekan Prabu Basudewa dan memancing munculnya ksatria bule dan keling.

Di Kadipaten Sengkapura, Kalangan Adu Jago telah dipersiapkan, segenap undangan raja-raja tetangga dan tamu utama Prabu Basudewa dari Mandura telah hadir. Kangsadewa mengenakan baju zirahnya, dengan mata tajam, ditebarkannya pandangan ke segenap penjuru, berharap-harap menemukan ksatria bule dan keling, yang merupakan ciri-ciri Narayana dan Kakrasana. Kangsadewa merasa, dengan alasan Adu Jago inilah, dia bisa membinasakan Narayana dan Kakrasana yang diramalkan menjadi pepesthennya, menjadi pembunuhnya.

Karena tidak menemukan ksatria yang diburunya di antara penonton dan undangan. Kangsadewa mengangkat tangannya, sebagai tanda adu jago bisa segera dimulai.

Jago dari Sengkapura adalah Suratrimantra, Patih dan paman Kangsa dari pihak bapaknya dan Jago dari Mandura adalah ksatria perkasa tinggi besar dengan kuku pancanaka bernama Bilawa.

Tambur dan terompet dibunyikan bertalu-talu...rakyat, penonton dan tamu undangan bertepuk tangan gegap gempita menyambut munculnya para jago dari kedua kalangan. Dengan ketegangan yang tinggi Kangsadewa dan Basudewa duduk bersanding, mereka ingin menyaksikan pertarungan jago masing-masing. Suratrimantra naik ke panggung dan kemudian disusul Bilawa, maka pertarungan pun dimulai.

Pertarungan belum berlangsung lama, saat Suratrimantra mati terkena tusukan kuku pancanaka Bilawa. Sebelum darah mengalir lebih banyak, Suratrimantra digotong oleh dua abdinya yang bernama Kala Caruna dan Kala Mustika untuk kemudian dimasukkan ke kolam air di samping arena. Setelah masuk di kolam tersebut Suratrimantra hidup kembali dalam keadaan segar bugar, lalu maju ke gelanggang lagi.

Berkali-kali Suratrimantra mati dibunuh oleh Bilawa, tapi selalu hidup kembali. Akhirnya Bilawa kewalahan, peluh bercucuran di dahi dan dadanya, Bilawa mulai bingung menghadapi Suratimantra.

Ki Lurah Semar yang mengawal Bilawa mengetahui kesaktian Suratrimantra. Sebagai titisan Hyang Ismaya dia tahu letak kelemahan Suratimantra. Ki Lurah Semar segera beringsut menghampiri Arjuna yang menyelip di antara penonton bersama, Narayana dan Kakarasana dengan topi caping sebagai penyamaran mereka. Semar meminta Arjuna menggunakan keris pusaka Kyai Pulanggeni untuk dimasukkan ke dalam kolam. Arjuna mematuhi permintaan pamongnya itu. Segera setelah kolam dimasuki keris Pulanggeni, air kolam mendidih. Pada saat Suratrimantra, mati lagi tertusuk pancanaka, dan dimasukkan ke dalam kolam oleh anak buahnya, Badan Suratimantra langsung hancur bagai bubur, dan tidak mampu hidup kembali. Kangsadewa berang jagonya kalah...

Kangsadewa: Babo-babo iblis laknat pada gegojegan..huiiih...kalian raja ksatria, bertarung saja bisanya berlaku curang...heiih Basudewa, muslihat apa yang engkau gunakan, untuk mencurangi jagoku...hhee..aku tahu, di antara para penonton, ada anak-anakmu..si Bule Kakrasana dan si Keling Narayana..heiiih pengecut!! Ayo maju ke sini, hadapi aku Kangsadewa.

Kakrasana: Kangsadewa!!...sumbarmu seperti geledek pecah...lambang ketakutanmu akan kematian..heii anak haram...sudah tidak kurang-kurang bapakku mengampunimu, membesarkanmu hingga jadi adipati di Sengkapura...ternyata kebaikan hatinya tidak bisa meredam nafsu yaksa, yang terus bergolak mengumbar angkara murka...

Narayana: Kangsadewa...telah kau sia-siakan waktumu untuk bertobat...kini habis sudah kesempatan yang diberikan dewa...saatnya bagiku melebur jiwamu agar tidak mengotori dunia ini.

Kangsadewa: Kurangajar!!!...kalian bocah-bocah bule dan keling, sumbarmu seakan jadi wakil dewa....kemari biar aku tuntaskan sekalian hidupmu di Ngarcapada ini.

Narayana: Untuk membasmi durangkara sepertimu, tidak perlu dewata sendiri mengotori tangannya.. inilah maknanya mengapa Wishnu menitis padaku,...agar masalah jalma manusia diselesaikan juga oleh jalma manusia. Bahkan...untukmu Kangsa, cukup seorang bocah remaja yang menyelesaikan angkara murkamu...jadi jangan sombong dan jumawa.. karena sedemikianlah rendahnya dirimu yang akan tumpas di tangan anak-anak remaja.

Mendidih darah Kangsadewa mendengar ejekan Narayana segera diserbunya kedua kakak beradik itu dengan pukulan-pukulan saktinya. Aji gelap ngampar yanmg menjadi andalannya membuat tangannya membiru, dan mengeluarkan ledakan dahsyat setiapkali di timpakan kesasaran. Narayana dengan gesit berkelit dari serangan Kangsa, sementara Kakrasana menggunakan senjata Nenggala untuk menangkis pukulan sakti itu, sehingga pukulan itu berbalik ke pemiliknya dan membuat Kangsa terpelanting.

Tanpa berlama-lama dengan cepat Kakrasana menyerang Kangsadewa dengan Nenggala, dan dibarengi serangan Narayana yang melepaskan senjata Cakra ke tubuh Kangsadewa. Terkena dua senjata sakti sekaligus, yaitu Cakra dan Nenggala, Kangsadewa mati seketika. Tubuhnya hancur menjadi abu. Sang angkara murka telah tumbang. Bumi Kadipaten Sengkapura dan bumi Kerajaan Mandura kembali seimbang dan harmonis. Kedua pangeran muda itu dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Prabu Basudewa memeluk kedua putranya itu dengan Bangga dan terharu. Bilawa yang merupakan nama samaran dari Bratasena, Arjuna, Sembadra, Larasati, Nyi Sagopi dan Ki Lurah Semar beserta anak-anaknya segera bergabung dalam suasana bahagia dan haru.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya