Senin, 4 Mei 2026
Sastra & Humor
Wayang

Palgunadi dan Anggraeni

Kamis, 25 Februari 2016

KISUTA.com - Parang Gelung adalah kerajaan kecil di pesisir pantai yang asri. Rajanya seorang ksatria muda tampan, berbudi mulia yang sakti bernama Prabu Palgunadi atau Bambang Ekalaya. Sang Prabu memiliki istri yang cantik jelita, putri dari Bathari Warsiki yang bernama Dewi Anggraeni. 

Dengan istri yang jelita, negeri yang indah seharusnya lengkap sudah kebahagiaan Prabu Palgunadi, namun sang Prabu merasa kebahagiaannya belumlah sempurna. Selain belum memiliki anak, sang Prabu juga merasa kemuliaan yang dia berikan kepada istri yang sangat dicintainya masih tidak sebanding. Prabu Palgunadi ingin membesarkan kerajaannya sebagai bukti cintanya pada Dewi Anggraeni. 

Palgunadi: Yayi Anggraeni, betapa beruntungnya aku memilikimu sebagai istri...seorang dara jelita putri bidadari, kenapa mau diperistri raja miskin seperti aku...? 

Anggraeni: Kakang..paduka ini bicara apa, aku mencintai kakanda apa adanya, karena budi mulia kanda, dan kesetiaan kanda yang tak ada bandingnya... 

Palgunadi: Ya istriku sayang..tetapi tahukah engkau bahwa di luar kerajaan kita, banyak ksatria tampan sakti mandraguna yang akan membuat bangga para putri jika berdampingan dengan mereka...Ah Anggraeni bagaimana jika engkau bertemu dengan mereka dan kau lihat betapa banyak kekurangan suamimu ini dibanding mereka... 

Anggraeni: Duh kakang...teganya paduka meragukan kesetiaanku...takkan ada laki-laki lain yang menggoyahkan imanku. Sejak engkau peristri, sudah kutanamkan dalam hatiku bahwa tubuh dan jiwaku hanya boleh engkau sentuh suamiku... celaka dan terkutuklah wanita yang membiarkan laki-laki lain mencoba merayunya, apalagi sampai berani menyentuhnya... walau dibalut dengan kelembutan dan laku dedemitan..duh kakang, wanita seperti itu layak menjadi kerak neraka...apakah seperti itu wujudku di matamu? 

Palgunadi: Maafkan aku istriku...keelokan wajah dan budimu, disejajarkan dengan banyak kelemahanku, kadang membuatku gamang...Oo dewa, layakkah aku mendapat anugerah isteri sesempurna dirimu... 

Anggraeni: Jangan pelihara syak wasangkamu suamiku...aku sangat berbahagia menjadi istrimu... 

Palgunadi: Yayi Anggraeni, aku bermimpi bahwa kebahagiaan kita akan langgeng, jika aku bisa melengkapi kesaktianku dengan Aji Danurwenda, sebuah ajian ilmu memanah yang hanya dimiliki Pandita Durna...

Anggraeni: Ah Pandita Durna guru besar kerajaan Hastinapura kakang? Apakah itu mungkin kanda? Bukankah Resi Durna hanya boleh mengajar para putra Kurawa dan Pandawa...? 

Palgunadi: Ya istriku...karena itulah aku berencana mendekat ke Hastinapura, kakanda akan membuat pesanggrahan di Wanamarta barang beberapa bulan, agar aku bisa melihat saat sang Resi mengajar murid-muridnya...dan diam-diam akan aku tiru pelajarannya, semoga dengan cara seperti itu, aku bisa menguasai ilmunya. 

Dewi Anggraeni adalah istri yang setia, dia selalu mendukung apapun kehendak suaminya. Saat sang suami memutuskan merapat ke Hastinapura dan membangun pesanggrahan di Wanamarta, sang Dewi selalu mendampingi suaminya. Di pesanggrahan itu Prabu Palgunadi membangun arca yang mirip Pandita Durna, di tengah malam buta, seusai sang Prabu memperhatikan dengan seksama dan sembunyi-sembunyi, cara Pandita Durna mengarahkan muridnya...Prabu Palgunadi akan mengulang setiap pelajaran dengan teliti di depan sang patung. Dewi Anggraeni selalu menemani suaminya yang tekun berlatih, dan memberikan semangat saat sang suami berhasil menyelesaikan pelajarannya. 

Demikianlah, tanpa disadari kemampuan Prabu Palgunadi melesat melampaui para putra Pandawa dan Kurawa. Ketekunan dan bakatnya yang luarbiasa, telah mengalahkan limpahan fasilitas dan kemanjaan yang melingkupi keluarga istana Hastinapura. 

Suatu hari Pandita Durna meminta para putra Kurawa dan Pandawa berburu babi hutan mempraktekkan ilmu Danurwenda, yaitu ilmu memanah tanpa melihat sasaran dengan rangkaian anak panah dalam satu jepretan. 

Durna yakin hanya Arjuna atau Karna sajalah yang akan mampu mempraktekkan ilmu Danurwenda itu. 

Hiruk pikuk para putra Kurawa berlarian membelah hutan Wanamarta, di belakangnya para putra Pandawa mengiringi dengan tenang. 

Tak berapa lama terdengar seruan heboh...di depan sebuah gua mereka melihat seekor babi hutan mati, dengan panah berendeng menancap di mulutnya...ilmu Danruwenda telah diterapkan!!! Mereka celingak celinguk mencari-cari...Arjuna atau Karnakah yang telah memanah babi hutan itu? 

Dari balik semak-semak, keluarlah Prabu Palgunadi dengan masih menjinjing gendewa dan anak panahnya. Wajahnya yang tampan tersenyum penuh kelegaan menatap buruannya. Pandita Durna yang mendengar kehebohan murid-muridnya, segera menyapa ksatria perkasa ini. 

Durna: Hhmm..Kisanak siapakah engkau, mengapa engkau berada di antara murid-muridku dan membawa palastra lengkap sambil tersenyum, apakah ini buruanmu? 

Palgunadi: Duuuh Mahaguru, terimalah sembah bhakti muridmu ini...aku Bambang Ekalaya atau disebut juga Prabu Palgunadi raja Parang Gelung...ya Guru, akulah yang memanah babi hutan itu dengan ilmu ajaranmu Danurwenda...sudah benarkah caraku guru...(Palgunadi menyembah Durna dengan takzim)

Durna: Huh lancang!!! Mengapa kau sebut aku guru? Sedangkan aku tidak pernah memberimu pelajaran. Jangan ngawur engkau...hhmm...Palgunadi ilmu yang kau terapkan memang ilmu Danurwenda...bagaimana engkau bisa mempelajari ilmuku? 

Palgunadi menerangkan dengan sopan caranya mempelajari ilmu dari Pandita Durna “Guru, dengan keyakinan dan rasa kagumku padamu, aku berlatih di bawah pengawasan patung dirimu. Dengan demikian aku tidak pernah main-main, karena engkau selalu mengawasiku, dan aku ingin membuatmu bangga dengan keberhasilanku.” 

Durna tercengang dan tersanjung, luarbiasa raja muda ini, belajar sendiri hanya berdasarkan sugestinya, tetapi hasilnya tak kalah dengan Karna dan Arjuna, dua muridnya yang paling tangkas memanah. Tetapi Durna ingat sumpahnya pada Bhisma yang agung, bahwa dia adalah Mahaguru Hastinapura, dan tidak akan mengambil murid di luar keturunan Kuru. “Palgunadi, aku bukan gurumu, dan tidak akan menjadi gurumu...karena jelas bagiku, yang bisa menjadi muridku hanyalah para putra berdarah Kuru.....Ilmu Danurwenda telah kau curi dariku. Sudahlah, aku tidak ingin memperpanjang masalah, kemasi perkemahanmu dan kembalilah ke negaramu. Jangan lanjutkan caramu mencuri ilmu seperti ini, sungguh ini patrap tercela untuk seorang ksatria.” 

Prabu Palgunadi kecewa dengan penolakan Pandita Durna, tetapi rasa hormatnya lebih tinggi dari kekecewaannya. Dengan Wajah kuyu, sang Raja muda berbalik menuju perkemahannya. 

Ketika sampai di perkemahannya, betapa kagetnya sang raja muda...istri yang sangat dicintainya, pingsan dengan sekujur tubuh pucat pasi seperti tak berdarah, di samping istrinya terlihat sinar kemilau, yang keluar dari raga ibu mertuanya Bathari Warsiki. 

Palgunadi: Aaah, diajeng Anggraeni...aduhh ada apa ini...ibu Bathari, apa yang terjadi dengan yayi Anggraeni... duuh.. yayi... bangunlah...bangunlah Anggraeni...

Warsiki: Sareh anak Prabu...istrimu sudah berhasil aku selamatkan...tadi dia melompat ke jurang untuk menjaga kehormatan dirinya...untunglah ibu mendengar jeritannya, jadi aku sempat menyelamatkan anakku, ketika dalam keputus asaannya dia melompat ke jurang.

Palgunadi: Melompat ke jurang? Yayi Anggraeni bunuh diri? Mengapa ibu? Apa yang terjadi? Aah Jagad Dewa Bathara.. Anggraeni..Anggraeni istriku (Palgunadi meraih kepala istrinya, diletakkannya di pangkuannya...dengan elusan lembut penuh perasaan, serasa ingin dihisapnya segala gelisah dan resah yang membayang di wajah pucat sang istri. Dewi Anggraeni perlahan-lahan siuman dari pingsannya...ketika dilihatnya suaminyalah yang memangkunya...naik sedu sedannya, tangannya memeluk sang suami dengan erat) 

Anggraeni: Kakangmas...aduuh kakangmas Palgunadi.. di manakah aku..sudahkah kita di surga? Kematiankah ini...? 

Palgunadi: Engkau masih hidup istriku..Ibu Bathari Warsiki menyelamatkanmu dari jurang.. apa yang terjadi istriku? Mengapa engkau mengambil keputusan nekad dan tega meninggalkanku... Ooo Anggraeni, engkau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu... 

Anggraeni: Kangmas, aku tahu besarnya cintamu padaku..karena itu aku tidak mungkin meninggalkanmu jika hanya menghadapi masalah wajar...tetapi, saat kesucianku terancam.. ragaku hendak dikotori oleh penikmat maksiat... suamiku...lebih baik tubuhku hancur ditelan bumi..daripada hidup mendampingimu dalam noda... 

Palgunadi: Aaah Anggraeni..siapa laki-laki laknat yang berani mengganggumu? Tidakkah dia tahu, engkau istriku...? 

Dengan terbata-bata Dewi Anggraeni menceritakan kejadian yang menimpanya... Di perkemahan Dewi Anggraeni merasa jenuh, saat ditinggalkan suaminya berburu. Dilangkahkannya kakinya ke luar perkemahan untuk memetik bunga-bunga hutan penghias sanggulnya. Saat sedang memetik bunga Anggraeni dikejutkan sapaan ksatria muda tampan yang mengaku tersesat karena memburu babi hutan. Ksatria itu mengaku bernama Arjuna. Melihat kecantikan Anggraeni, Arjuna merayu dengan kata-kata manis, meminta Anggraeni mau melayaninya bermain madu asmara... 

Anggraeni: Raden...sungguh tak patut engkau merayuku seperti itu..aku ini istri orang..aku mencintai suamiku.. pergilah, carilah gadis lain yang masih bebas dan bisa memenuhi hasratmu... 

Arjuna: Jangan tolak aku wahai juwita, getaran asmaraku hanya tertuju untukmu...suamimu tidak ada di sampingmu..penuhilah keinginanku, tidak akan ada yang tahu..seteguk aku nikmati kasihmu...sesaat aku akan hilang dari hadapanmu...dan engkau boleh kembali ke pelukan suamimu... 

Anggraeni: Manis ucapanmu, tetapi betapa keji perlakuanmu... kau ajari aku berkhianat pada guru lakiku? Hhm..Arjuna, ksatria apa kamu ini? Adakah kasih mengenal pengkhianatan? Kalau seperti itu kasih yang kau tawarkan...apa bedanya kasihmu dengan syahwat satru wana, yang tanpa perasaan akan menggauli betina lain, saat pasangannya mungkin sedang mengandung anaknya? Engkau ksatria, punya rasa dan tata krama...mengapa begitu kotor niatmu Arjuna...? 

Arjuna: Pedas sekali kata-katamu Anggraeni...tetapi aku tidak peduli..apa hebatnya suamimu hingga dia layak menerima cintamu yang agung...apakah ketampananku kalah dengannya, apakah keperwiraanku kalah dengannya...ayolah Anggraeni sebentar saja, nikmatilah madu asmaraku... 

Arjuna terus mendesak dan mendekati Dewi Anggraeni, akhirnya sang Dewi lari pontang panting menyelamatkan diri dari rangsangan Arjuna yang terus berusaha meraih tubuhnya. Sampai akhirnya Dewi Anggraeni terdesak ke tepi jurang. Dalam keputusasaan yang hebat, sang Dewi memutuskan bunuh diri untuk menjaga kehormatannya...saat terjun ke jurang itulah Dewi Anggraeni memekik memanggil ibunya yang akhirnya didengar oleh Bathari Warsiki, dan sang Bathari berhasil menyelamatkan putrinya. 

Betapa marahnya Palgunadi mendengar cerita istrinya. Segera Palgunadi melangkahkan kakinya mencari Arjuna di Hastinapura. Ketika sampai di Hastinapura, Palgunadi segera menantang Arjuna untuk bertarung. Saat itu, Narayana sedang bertamu di Hastinapura dan mendegar tantangan tersebut Narayana sadar bahwa Arjuna akan perlaya jika bertarung melawan Palgunadi. Karena aura raja muda ini dipenuhi oleh kebenaran dan kebesaran hati. 

Arjuna juga sadar atas kesalahannya dan menerima tantangan Palgunadi, diam-diam di hati kecilnya, diamuk rasa cemburunya Arjuna ingin membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari Palgunadi. Siapa tahu jika Palgunadi berhasil dia kalahkan, Anggraeni akan mau memilihnya. 

Kedua ksatria yang sama-sama tampan dan digdaya ini mulai berhadap-hadapan. Dalam pertarungan mereka, perkiraan Narayana benar. Kedewasaan dan kematangan sikap Palgunadi, membuatnya berada di atas angin. Berulang kali Arjuna jatuh bangun terkena pukulan dan tendangannya. Sekujur badan dan muka Arjuna sudah bengap membiru. 

Palgunadi memilik cincin pusaka Ampal di jarinya yang melindungi dari segala marabahaya dan memberi kesaktian ajian Ampal yang akan membunuh musuhnya jika ditamparkan ke arah musuhnya dari jauh. Ketika Palgunadi menggunakan ajian Ampal, Arjuna pun segera terjatuh tak bernyawa. 

Palgunadi meninggalkan medan pertarungan sebagai pemenang. Sesaat setelah Palgunadi meninggalkan arena Narayana segera mengambil jenasah Arjuna dan mengeluarkan Kembang Wijayakusuma untuk menghidupkan Arjuna kembali. Arjuna yang dihidupkan malu dan menyesal dengan kejadian ini, dan meminta tetap mati saja. 

Narayana: Adiku sing Bagus Arjuna, belum saatnya engkau tewas...karena tenagamu tetap dibutuhkan saat Barathayudha nanti...tegakkan kepalamu Di... 

Arjuna: Saya sudah membawa aib bagi keluarga..malu saya berhadapan dengan khalayak. Kekalahan ini sungguh mencoreng nama baik keluarga Pandawa. 

Narayana: Arjuna, bagus bahwa kamu masih punya malu. Itu artinya kamu bisa menyesal dan bertobat. Tetapi mengapa justru kekalahanmu yang kamu besar-besarkan Di? Engkau sadar telah membuat aib, bukankah sebaiknya engkau hentikan aib itu, dan jangan khawatir dengan nama baik keluarga...kalau si Adi mau bertobat, memperbaiki sikap dan dirimu, bukankah nama keluargamu akan membaik? Di... Arjuna ...nama keluarga itu tidak perlu dijaga berlebihan sampai menyalahkan orang yang melihat aib yang menyebar.. percayalah,..dengan bertobat memperbaiki diri, engkau telah mengembalikan nama keluargamu. 

Arjuna: Ya Kangmas...tetapi, bagi saya lebih baik saya pralaya daripada hidup pada satu masa yang sama dengan Prabu Palgunadi dan istrinya. Bukan karena saya takut tersebarnya aib saya tetapi bayangan akan Anggraeni sepertinya terus menjerat kelemahan saya...dan masalah dengan Prabu Palgunadi akan terus ada. 

Sebagai Titisan Wishnu, Narayana melihat kelemahan Arjuna pada wanita, tersandung keteguhan hati Anggraeni. 

Narayana melihat peran Palgunadi dan Anggraeni adalah lakon penyeimbang, untuk menunjukkan betapa kaum ksatria tidak selamanya lurus dalam bertindak. Melalui pandangannya yang jauh melewati ruang dan waktu, Narayana melihat, kematian Palgunadi dan Anggraeni secara terhormat akan menjadikan mereka sebagai penghuni surga, dan masalah bisa ditata lebih baik ke depan. 

Narayana menemui Durna, menyampaikan penyesalannya karena ternyata ada orang lain yang memiliki ilmu Danurwenda, dan ilmu-ilmu lain dari sang Pandita, di luar keluarga Hastinapura. 

Narayana: Paman Pandita, kalau tidak saya selamatkan dengan bunga Wijayakusuma.. murid kesayangan paduka yayi Arjuna tentu sudah tewas. 

Durna: Hhm..aku juga heran, bagaimana si Palgunadi bisa sesakti itu hanya dengan belajar sendiri didampingi patungku...sungguh hebat, bakat yang luarbiasa. 

Narayana: Paman, sebagai Guru istana Hastinapura, paduka seharusnya melihat kejadian ini sebagai ancaman bagi murid-muridmu...lagipula, dengan atau tanpa paduka..terbukti sudah bahwa aji Danurwenda bisa dikuasai sempurna oleh Palgunadi...ini artinya ilmu paduka sudah bocor keluar praja Hastinapura. 

Durna terpengaruh teguran Narayana, malam itu Durna berniat memperbaiki keadaan. Dikunjunginya perkemahan Prabu Palgunadi. 

Betapa bahagianya Prabu Palgunadi menerima kunjungan Pandita Durna, orang yang selama ini dikagumi dan dihormatinya. Diajaknya Durna ke bilik tempat patung dan sarana latihannya berada. 

Durna: Luarbiasa Palgunadi, tekad dan ketekunanmu membawa hasil yang luarbiasa..aah, andai saja murid-muridku yang lain memiliki separuh saja ketekunanmu, tentu mudah ilmuku tersalur... 

Palgunadi: Guru...mengapa tidak paduka akui saya sebagai murid...apapun yang paduka minta sebagai mahar...akan saya penuhi, asal saya diakui sebagai murid. 

(Kata-kata Palgunadi ini seakan memberi tanda bagi Durna untuk melaksanakan niatnya... inilah saatnya menyingkirkan Palgunadi, agar jangan menjadi duri bagi murid-muridnya yang lain) 

Durna: Palgunadi...engkau sudah sakti mandraguna...buktinya murid terbaikku Arjuna saja bisa engkau kalahkan. Apa yang menjadi andalanmu sebenarnya? Mengapa masih kau inginkan aku menjadi gurumu? 

Palgunadi: Duh sang Begawan...saya menampar Arjuna dengan pusaka Ampal, yang juga menjadi piandel dan pelindung saya Guru, selama pusaka ini masih ada di jari manis saya, tidak akan ada senjata yang bisa melukai saya Guru... Saya tetap ingin mengakui paduka sebagai Guru...karena sejatinya, padukalah yang layak jadi tokoh piandel saya di luar barang-barang pusaka sebagai piandel. 

Durna: Hhmm...kalau begitu, mengapa tidak kamu lepaskan saja cincin ampal itu untukku sebagai maharmu...bukankah dengan begitu, aku sudah menjadi piandelmu yang akan selalu melindungimu? 

(Tanpa berpikir panjang, Palgunadi memotong jari manisnya, karena cincin ampal tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jarinya. Dengan senyum tulus, diserahkannya jari yang masih berdarah itu bersama cincinnya pada Pandita Durna. Durna menerima jari dan cincin Palgunadi. Dengan lembut Durna mengelus-elus kepala dan punggung Palgunadi... Palgunadi lengah, dikiranya Durna ikhlas menerimanya...tiba-tiba tangan kiri sang Pandita sudah menghujamkan keris pusaka ke dada Raja Muda itu, tembus ke jantungnya. Palgunadi tewas seketika.) 

Awan hitam bergulung-gulung, angin menderu-deru..dunia ikut berduka melihat kekejaman menimpa ksatria lurus luhur budi ini.... bersamaan dengan tewasnya Palgunadi, terdengar suara miris, sayup-sayup sampai ke telinga Pandita Durna... 

“Jagad Dewa Bathara...Resi Durna, sungguh tidak kusangka, ketulusanku dan rasa bhaktiku engkau balas dengan kelicikan seorang pengecut sejati...pudar rasa hormatku padamu... ternyata selama ini, aku salah menilaimu...selama ini aku mengagumimu, memujamu dan terus berharap dapat ngangsu kawruh menjadi muridmu....ternyata, tingginya ilmu tidak sejajar dengan akhlak dan moralmu...baiklah...aku akan menunggumu di pintu akhirat.. kelak pada pecah perang Barathayudha, aku akan menitis pada ksatria utama, yang memang menjadi pepestenmu...Resi Durna...engkau boleh jumawa, tetapi karena sifatmu itu, engkau akan jauh dari bahagia....” 

Durna tercenung mendengar sabda sukma sang raja muda...tetapi dia tidak peduli...”Aah itu khan masih nanti, belum ada yang tahu terjadi apa tidak...yang penting sekarang kedudukanku sebagai guru besar Hastinapura aman.” Durna bergegas kembali ke Hastinapura sebelum ketahuan pengawal Parang Gelung. 

Malam itu Dewi Anggraeni, menyusul suaminya ke bilik latihan, karena dirasanya suaminya terlalu larut malam belum kembali keperaduan. Dewi Anggraeni menjerit histeris, melihat mayat Palgunadi dengan keris masih tertancap dijantungnya. Tanpa pikir panjang dicabutnya keris itu, ditancapkannya ke dadanya dan Anggraenipun rebah di atas dada suaminya. Dewi Anggraeni mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Baginya mati bersama lebih baik daripada hidup tanpa cinta sejatinya.* 

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya