Pak Hakim dan Almarhum Karabash
KISUTA.com - Pada zaman dahulu hidup seorang pengembala yang mempunyai seekor anjing yang luar biasa bagusnya bernama Karabash. Anjing itu memang anjing gembala yang jempolan! Tak peduli si pengembala ada atau tidak, anjing itu akan selalu melindungi biri-birinya dari serangan apa saja. Bahkan melawan serigala pun anjing itu berani mempertaruhkan jiwanya. Dan selama hidupnya, belum pernah ada serigala yang mampu mengalahkannya. Ia memang anjing yang luar biasa kuat.
Namun, pada suatu hari anjing itu jatuh sakit mendadak dan segera sesudah itu ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Si pengembala itu begitu sayang padanya sehingga ia memberikan penghormatan terakhir bagi anjingnya sebaik-baiknya, seolah-olah binatang itu seorang manusia saja. Dimandikannya anjing itu, lalu dibungkusnya dengan kain kafan, kemudian dikuburkannya di sebuah makam Muslim.
Di seluruh dunia ini ada saja orang-orang yang suka ribut-ribut, dan tentu saja di desa itu ada juga yang demikian. Orang yang suka ribut ini menemui hakim di desa itu dan melaporkan bahwa si pengembala telah menguburkan anjingnya di kuburan Muslim."Itu melanggar larangan agama, Tuan," kata si suka ribut itu. "Pikir saja, ada anjing dimakamkan dengan upacara Islam dan dikubur di tengah kuburan orang beriman pula! Saya menunut agar pengembala itu dihukum!"
Maka si pengembala itu pun dipanggil pengadilan, dan Pak Hakim bertanya, "Mengapa binatang yang kotor itu kau kuburkan di kuburan Muslim dan dengan upacara Islam? Bukankah itu suatu tindakan yang melanggar agama?"
Dalam pembelaannya, si pengembala berkata, "Tuan, begitu besarnya jasa anjing itu kepada saya sehingga semasa hidupnya saya beri hadiah ia tiga puluh ekor biri-biri. Ketika anjing itu hampir menutup mata ia berbisik kepada saya, 'Kalau saya mati, juallah sepuluh biri-biri saya sebagai biaya penguburan; kemudian jual sepuluh ekor lagi dan kemudian berikan uangnya kepada fakir miskin'."
"Jadi, baru dua puluh ekor biri-biri," kata hakim itu. "Biri-biri yang sepuluh lagi ke mana?"
"Nah," jawab si pengembala itu. "Ia menyerahkan sisa biri-birinya yang sepuluh ekor itu dalam pengawasan hakim desa ini dan Pak Hakim berhak sepenuhnya atas biri-biri itu."
Begitu gembiranya dengan berita itu, si hakim bertanya, "Siapa gerangan nama almarhum itu?"
Segera setelah si pengembala memberi tahu bahwa namanya Karabash, Pak Hakim langsung membukakan tangannya dan menengadah ke langit sambil berkata kepada semua yang hadir di persidangan itu, "Mari, Saudara-saudaraku yang beriman, kita bersama-sama memanjatkan doa bagi almarhum Karabash." das/"Humor Sufi" - kisuta.com


