Bratasena di Sumur Jalatunda
KISUTA.com - Sengkuni menyeringai licik di hadapan Destarasta dan Gendari.
Sengkuni: Kakaprabu, tidak ada gunanya menunda-nunda waktu karena merasa tidak enak, kalau bicara ‘awu’ dan ‘hak’, seharusnya padukalah si anak sulung yang memiliki hak
atas tahta Hastinapura. Duluuuu...itu duluuu, paduka mengalah menyerahkan pada Pandu khan karena..maaf ya...maaf lho ini... karena paduka buta...nha itu soal kebesaran hati paduka... tetapi, sekarang sampai keanak keturunan harusnya balik lagi ke awu dan hak...betul tidak kanda Gendari?
Gendari: Semua terserah kehendak kakaprabu Destarasta... apalah artinya aku, wanita yang hanya kanca wingking semata, tidak punya hak bersuara..sedangkan jodoh yang diharapkan sampai ajal menjemput saja, aku hanya wenang dipilih...karena itulah kututup mataku...selain menyamakan diriku dengan keadaan kakaprabu Destarasta...menutup mata berarti juga menutup semua keinginan dan impianku...
Destarastra: Yayi Gendari...halus bahasamu seperti pasrah, tetapi entah mengapa aku merasakan kekecewaan yang perih di nada suaramu. Jangan begitu istriku, engkau bukan garwa wingking semata. Ketika aku memilihmu, mata bathinku merasakan kekuatan dan kesetiaanmu...engkau wanita yang teguh...Gendari sampaikan pendapatmu atas masukan Sengkuni.
Gendari: (Dengan nada dingin) sekali lagi terserah paduka kakang...engkau punya istri dan anak, yang semestinya bisa mendapat kemuliaan karena kedudukanmu sebagai anak sulung kerajaan ini, jika keputusanmu tetap menjadikan Pandawa sebagai pewaris Hastinapura...hhmm...ya sudahlah, tidak perlu membela diri bahwa aku bukan kanca wingking semata, bukti sudah ada di depan mata..apalagi yang harus diperdebatkan...
Destarasta: Jagad Dewa Bathara...Ooo, dewata agung... perkataan kalian sebenarnya ada benarnya...tetapi mengenang lelabuhan adimas Pandu Dewanata sebagai Nata Hastinapura yang adil bijaksana, dan membawa kejayaan bagi negri ini... rasanya aku sudah mengkhianati keikhlasanku saat menyerahkan tahta ini padanya...
Destarasta tidak mampu membendung desakan Sengkuni dan Gendari, untuk mengembalikan ‘awu’ atau haknya atas tahta kerajaan Hastinapura. Keesokan harinya diumumkanlah bahwa Duryudana atau Suyudana adalah Pangeran Pati, Putra Mahkota Hastinapura, yang kelak akan menggantikan ayahandanya sebagai Raja Hastinapura.
Usai pesta penobatan putra mahkota, Sengkuni mengendus bahwa sebagian kerabat dan raja-raja tetangga kurang mendukung gagasan ini. Termasuk Bhisma yang Agung, Yama Widura, Prabu Drupada, Prabu Bathara Kresna, dan Prabu Matswapati.
“Weee ladalah, bahaya ini kalau dukungan ke Duryudana tidak bulat dan total...hem, aku harus memecah kekuatan Pandawa, agar jangan jadi duri di kelak kemudian hari...hmm..dari kelima Pandawa, tampaknya Bratasenalah yang paling kuat..ya..ya.. hehehehehe..aku punya akal, Bratasena harus musnah dulu..baru gampang mampusin mereka satu-satu heh..heh..heh.”
Sengkuni memprakarsai pembangunan pesanggrahan yang nyaman dan indah di hutan Pramanakoti, di pinggir Sungai Gangga. Pesanggrahan ini dibangun untuk memuluskan muslihatnya yang disusunnya bersama Duryudana tanpa melibatkan yang lain.
Sengkuni: Ingat ya...jangan sampai rahasia kita ini bocor, termasuk ke adik-adikmu...aku membantumu mencari akal melenyapkan Bratasena, agar mulus jalanmu menjadi raja di Hastinapura...
Duryudana: Hm...jadi itu alasannya, paman menyuruh Purucana membangun pesanggrahan Pramanakoti yang terpencil? Tapi...kalau kita sudah berhasil melumpuhkan Bratasena...bagaimana menyingkirkannya paman? Pasti nantinya akan ketahuan juga...
Sengkuni: Halah...jangan dipikir itu, pamanmu yang cerdik ini sudah menyiapkan alasan yang masuk akal biar tidak dicurigai...pokoknya kamu harus bermain rapi, jangan grusa grusu...kamu undang Bratasena ke sini, dan kita kerjai di sini.. hehehe..dia itu gagah perkasa tapi rada gegabah mudah dibujuk sudah sana...kamu bujuk dia agar mau ke sini...
Duryudana membujuk Bratasena agar mau datang ke Pesanggrahan Pramanakoti sesuai saran Sengkuni.
Duryudana: Ayolah Di...ini hanya antara kita saja, aku menganggapmu berbeda dengan yang lain, karena kita sama-sama berguru olah gada pada kakaprabu Baladewa... ayolah temani aku minum tuak, jangan bilang siapa-siapa.
Bratasena: Hhm...minum tuak? Bukankah kita tidak boleh mabuk-mabukan? Mengapa kau ajak aku melakukan perbuatan tercela....
Duryudana: Halah...jangan seperti bocah yang takut mencoba dan takut sakit....kita tidak akan mabuk...ini hanya uji coba terhadap kesaktian dan daya tahan tubuh kita. Aku sengaja memilihmu di antara para Pandawa, karena engkau yang berperawakan tinggi besar, sebanding dengan aku...ayo kita buktikan siapa lebih kuat....ya...kecuali...kamu takut menghadapi tantanganku...
Bratasena adalah ksatria yang lugas dan lugu, pantang baginya menghindari tantangan apalagi dengan ejekan sebagai pengecut...tanpa sadar dia telah masuk perangkap Duryudana dan Sengkuni.
Di pesanggrahan Pramanakoti. Berkali-kali Duryudana menambah tuak agar diminum oleh Bratasena. Setelah beberapa kali tegukan, .. karena tuak itu memang sudah dicampur dengan racun yang jahat, Bratasena merasakan kepalanya berat dan pusing, akhirnya Bratasena terkulai tak berdaya, dari mulutnya keluar busa berwarna putih.
Sengkuni segera memerintahkan Kurawa agar mengikat badan Bimasena dengan akar pohon, yang berduri dan mengandung bulu-bulu yang membuat kulit gatal dan bengkak,.. lalu diberi bandul batu yang sangat besar, dan tubuh Bratasena dilempar ke sumur Jalatunda.
Sumur Jalatunda adalah sumur keramat yang angker. Sumur ini menembus lapisan ke tujuh kulit bumi, dan aliran sungai bawah tanahnya menembus sungai gangga. Di dasar sumur bersemayam Sanghyang Nagaraja, dewanya ular dan naga, mertua Sang Bathara Wishnu, ayah dari Bathari Pertiwi. Karena sumur ini menjadi pintu masuk ke kahyangan Sapta Pertala, maka pada saluran sumur itu banyak sekali ular-ular berbisa yang menjaga kerajaannya. Ular-ular itulah yang menjadi bahaya terbesar bagi siapapun yang masuk ke sumur Jalatunda.
Saat tubuh Bratasena masuk ke Sumur Jalatunda, ribuan ular-ular langsung menyerang tubuh Bratasena dengan patukan-patukan berbisanya.
Mukjizat terjadi, patukan ular-ular beracun tersebut bereaksi dengan racun yang telah masuk di tubuh Bratasena lewat minuman, sehingga menjadi tawar dan tidak mempunyai daya pembunuh lagi.
Badan Bratasena bergetar hebat, reaksi pertempuran antar racun itu, membuatnya tak berdaya. Para panglima ular terkejut melihat betapa hebatnya ksatria muda ini, ribuan bisa ular tidak membuatnya tewas, salah seorang menteri kerajaan Saptapertala Naga Aryaka membawa Bratasena ke hadapan Sanghyang Nagaraja.
Sanghyang Nagaraja: Naga Aryaka..siapa ksatria ini...?
Naga Aryaka: Saya tidak tahu siapa dia pukulun, ribuan patukan ular berbisa tidak membuatnya tewas, malah berangsur-angsur pulih dari pingsannya...karena itulah saya bawa dia ke hadapan paduka, pukulun.
Sanghyang Nagaraja: Baiklah Naga Aryaka, engkau boleh kembali ke tempat penjagaanmu, biarlah aku yang mencari jatidiri ksatria perkasa ini.....Hei Anak muda, siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa sampai di sini...
Bratasena: (Masih lemas siuman dari pingsannya)..Hhmm...aku Bratasena, anak Pandu Dewanata dan Kuntitalibrata...di mana aku dan siapakah engkau hei Ular Naga....?
Sanghyang Nagaraja: Jagad Dewabaratha...inikah putra Kunti, Bratasena...engkau juga Bayuputra, berkat mantra Adiherdaya...Ooo ngger, kalau demikian engkau putraku juga Bratasena....sudah kehendak Hyang Widi Wasa bahwa engkau dipertemukan dengan aku, berarti aku harus menggenapi kemampuanmu yang sudah hebat bawaan lahirmu...pantas saja racun ribuan rakyatku tidak mempan untukmu. Mengapa engkau sampai tercemplung ke sumur jalatunda?
Bratasena menceritakan jebakan Duryudana dan Sengkuni dalam mencelakakan dirinya. Rasa dendam dan amarah yang tersirat dalam cerita itu, membuat Sanghyang Nagaraja memberikan nasehat padanya:
“Bratasena...redakan dendam yang ada di hatimu..sareh ngger...mari renungkan...mereka melakukan kejahatan dan menista kamu seperti itu, lihatlah pahala yang diberikan Hyang Widi Wasa untukmu....racun rakyatku, bercampur dengan racun mereka, telah menjadi tawar dan bahkan melipat gandakan kekuatan ragamu 1000 kali ditambah badanmu tidak akan mempan racun apapun juga...sekarang engkau bertemu denganku, sudah aku tekadkan...kalau aku bertemu seorang ksatria perkasa yang datang sendiri tanpa harus aku cari...itulah tandanya aku harus menularkan ilmu “tandang taksaka” dan mewariskan “Tirta Rasakundha” yang akan membuatmu bisa hidup di dalam air layaknya bernafas di daratan... renungkan itu Bratasena...lihatlah betapa adilnya Sang Kuasa mengatur proses hidupmu.. mengalir dan jalanilah pahalamu yang engkau dapatkan karena engkau didzolimi.. Bayangkan...Jika sekarang karena amuk dendammu, engkau labrak mereka dan meninggalkan kesempatanmu ngangsu kawruh mendapatkan ilmu dariku....mungkin engkau puas, dan mereka remuk olehmu...tapi apakah tidak berekor dendam baru dari keluarganya ke keluargamu...terus begitu tak ada akhirnya...balas membalas..Ooo anakku ngger, sareh.. semua ada waktunya...pahalamu sudah di depan mata, percayalah azab mereka bertumpuk menggunung hingga tiba masanya mereka menerima setimpal dengan perbuatannya...”
Bratasena terpekur mendengar nasehat Hyang Nagaraja, hatinya merasa sejuk dan tenang. Beberapa minggu Bratasena tinggal di Saptapertala, menerima ilmu dari Hyang Nagaraja dan mewarisi ’Tirta Rasakundha’. Setelah selesai menyerap ilmu Sanghyang Nagaraja, Bratasena mohon diri meninggalkan Sumur Jalatunda untuk kembali ke Pangombakan.
Sesampainya di Pangombakan, Bratasena disambut oleh paman Yamawidura, Ibunda Kunthi, Puntadewa serta adik- adiknya dengan sukacita. Karena beberapa pekan sejak diundang pesta di pesanggrahan alas Pramanakoti, Bratasena seperti hilang ditelan bumi. Kepada mereka diceritakannya apa yang dialami dari awal sampai akhir. Mendengar cerita Bratasena Yamawidura berujar “ Baik sekali nasehat Sanghyang Nagaraja untuk mengendapkan diri itu anakku. Bukan berarti kamu melupakan kejahatan dan kedzoliman mereka kepadamu....karena perbuatan bejad seperti itu tidak mungkin dilupakan...tetapi tidak langsung membalas, karena akan membuat waktu dan tenagamu tersita...percaya bahwa semua ada waktunya...itu baik sekali...belajar sabar tetapi lebih waspada...Anakku ngger Bratasena, dengan kehebatanmu ini, kamu layak menyandang nama ‘Bima” yang artinya adalah sesuatu yang hebat..dahsyat...dan kamu layak juga disebut Werkudara, yang artinya “perut serigala ” karena kamu mampu menampung makanan apapun tanpa takut keracunan lagi...
Kabar kepulangan Bratasena atau Bima di Pangombakan dalam keadaan segar bugar membuat Sengkuni, Duryudana dan warga Kurawa kelimpungan. Mereka sudah terlanjur mengabarkan kepada Raja Destrarasta bahwa Bima jatuh tenggelam di kedung Jalatunda sewaktu berpesta pora di Pesanggrahan Alas Pramanakoti. Tetapi Sengkuni yang panjang akal dengan mudah bisa mencari alasan lain yang bisa diterima Destarasta, yang juga tertutup oleh rasa syukur sang raja bahwa keponakannya masih hidup.
“Hueeh...Bratasena...Bima...heh..Pandawa jian alot seperti karet menghancurkan kalian...tapi hati-hatilah, aku Sengkuni tidak akan menyerah begitu saja....heem.. aku harus mencari akal yang lebih ampuh buat menyingkirkan mereka.” Seringai Sengkuni adalah pernik khas yang menandai berputarnya akal licik Sang Patih ini, sebagai ancaman keluarga Pandawa.*
Ira Sumarah hartati Kusumastuti - kisuta.com


