Balada Cinta Baladewa
KISUTA.com - Asmara itu misteri sepanjang masa. Kadang datang melalui mimpi, menjalar seperti racun, membuat gila yang tertimpa, jadi tak masuk akal bagi yang menyaksikan.
Prabu Kurandageni raja Tirtakandasan, tak habis pikir mengapa putranyaKartawiyoga ke mana-mana menggendong guling kumal sambil menciuminya dan merayunya dengan mendesiskan nama...Erawati...Erawati...
Prabu Kundarageni: Hue..heh..heh..anakku ngger Kartowiyoga...apa-apaan ini? Kamu kok bawa guling pesing lagi kumal sambil menciumi dan memeluknya...hueeeii.. Kartowiyoga.. letakkan gulingmu Nak.
Kartowiyoga: Rama Prabu...lihatlah...perkenalkan...kekasihku, jantung hatiku...Dewi Erawati.. Cantik, putih, lembut, manut... heiheheheheh...jian ayu tenan..cup..cup..ih gemes aku...
Prabu Kundarageni: Wah tobat, gawat tenan...gandrung-gandrung kapirangu...sampai ngga sadar yang kamu peluk dan kamu ciumi itu guling, ya pantas manut, putih dan gemulai.. ckckck...Kartowiyoga..terpaksa pun Rama membentakmu untuk menyadarkanmu Nak.. (Sang Prabu menyiapkan Mantra “Rasa Tawar” dihentakkan dan ditepukkan ke punggung anaknya)...Kartowiyoga !!! eling ngger..sadar..waras jati katemah mulya...Blarrr !!!
Kartowiyoga: Oouueeyyy...ladalah...Kanjeng Rama, apa ini kok menampar hamba... loh..kenapa guling ini ada di sini (Kartowiyoga membuang gulingnya seperti orang bingung).. diajeng Erawati...loh kemana diajeng Erawati Rama? (Kartowiyoga seperti baru bangun dari tidur, celingukan kesana kemari)
Prabu Kundarageni: Hem...Kartowiyoga..siapa itu Erawati, di mana kamu kenal? Kok jadi wuyung begitu...
Kartowiyoga: Duh Kanjeng Rama...diajeng Erawati adalah gadis tercantik di jagad raya...putri Prabu Salya dari Mandaraka...aku melihatnya dalam mimpiku..Ooo Rama, aku tidak bisa hidup tanpanya...lamarkan aku Rama...
Sinar wajah terkejut tersaput kekhawatiran membias di muka Prabu Kundarageni. Putri Prabu Salya? Raja sakti mandraguna pemilik ilmu Chandra Bairawa yang hebat itu? Sang Prabu masgul hatinya...Prabu Salya terkenal sebagai raja yang tinggi hati, dekat dengan kerajaan-kerajaan besar seperti Hastinapura, Mandura, dan Dwarawati... Kalau dia melamar secara terang-terangan, besar kemungkinan akan ditolak. Tirtakandasan adalah kerajaan kecil kalau dibandingkan Mandaraka atau Hastinapura, secara penampilanpun keluarga mereka adalah keluarga Yaksa, yang tentu tidak sebanding dengan keelokan wajah Erawati dan para putri dari raja-raja ksatria lainnya. Akhirnya Prabu Kundarageni, mengijinkan anaknya membawa senopati dan panglima pilihan untuk menculik dan melarikan Dewi Erawati ke negara Tirtakandasan untuk akhirnya akan diperistri.
Istana Mandaraka, heboh..permaisuri raja Dewi Setyowati yang biasanya anggun dan tenang, terus berurai airmata, putri sulungnya Dewi Erawati telah hilang dari keputren setelah diawali angin ribut, dan hujan deras...hingga terdengar sayup-sayup jeritan Dewi Erawati... Ketika Sang Permaisuri dan para putri lainnya berlari ke bilik Erawati ternyata sang dewi telah hilang, meninggalkan suasana kamar yang berantakan, .. yang menandakan perlawanan sang putri pada sang duratmaka.
Prabu Salya bingung, sebagai raja perkasa yang sakti mandraguna, Salya hebat sebagai petarung, tetapi untuk olah kebatinan melacak keberadaan sang putri, Salya merasa keteteran. Akhirnya dikirimnya utusan ke negara-negara tetangga, Hastinapura, Mandura, dan Dwarawati..meminta bantuan mereka.
Kebetulan waktu itu Raden Kakrasana sedang bertamu ke Hastinapura, melatih kemampuan olah gada Duryudana, Kurawa dan Pandawa.
Bathara Kresna dari Dwarawati sebagai titisan Wisnu waskita, bahwa inilah jalan menuju jodoh kakaknya, karena itulah diusulkannya untuk mengirimkan Raden Kakrasana ditemani Arjuna menangkap sang Duratmaka.
Sesampainya di Mandaraka, raden Kakrasana meminta waktu untuk semedi di taman menghadap keputren untuk menyatukan segenap pikiran dan mencoba menelaah apa yang terjadi. Kakrasana menggunakan ilmu “Wening Suwung” sebuah meditasi untuk membuka 9 panca indera ajaran Resi Brahmakanda gurunya di Pertapaan Argosoya, yang merupakan jelmaan Bathara Brahma....”Gunakan aji Jaladara yang bisa membuatmu terbang secepat kilat, senjatamu adalah gada Alugara, untuk menumpas denawa praja Tirtakadasan, lepaskan busana kepangerananmu, kenakan kain mori yang sederhana, selamatkan sang mestika dalam wujudmu sebagai Wasi Jaladara”
Dalam keheningan yang kosong, Kakrasana seakan mendapat tuntunan apa yang harus dilakukannya. Segera dia persiapkan diri sesuai petunjuk tersebut, dia sembunyikan Arjuna di kancing gelungnya. Dalam wujud sebagai Wasi Jaladara, Kakrasana pamit pada Prabu Salya dan Dewi Setyowati, ...Wasi Jaladara segera terbang menuju Tirtakadasan.
Di Taman Tirtakadasan, Dewi Erawati terus menerus menghindar dari rayuan maut Kartowiyoga...badannya tidak mau beradu muka...mukanya terus menunduk, tetapi kewaspadaannya terjaga selalu, untuk segera menyingkir saat sang Yaksa mendekatinya.
Kartowiyoga: Wah..huehehehe...kok menghindar lagi..duhai manisku, juwitaku biarlah kupandang wajahmu...jauh-jauh kuculik engkau...selama ini bertemu dalam mimpipun sudah membuatku bahagia..kini engkau ada nyata di hadapanku... mengapa hanya punggungmu yang bisa kutatap..Oooo nasib...
Erawati: Yaksa...kembalikan aku ke Mandaraka..perbuatanmu sungguh biadab, engkau tidak bisa memaksa wanita seperti ini...
Kartowiyoga: Terus harus bagaimana menunjukkan besarnya cintaku? Kalau aku mau terang-terangan...memangnya kamu mau? Belum tentu toh? Dengan begini, paling tidak engkau bisa yakin..bahwa aku bersungguh-sungguh mencintaimu... samudra aku seberangi, hutan belantara dan gunung aku terabas, segala rintangan aku hadapi...asalkan aku bisa bersanding denganmu dewiku...Oooo Erawati, katakan maumu pasti aku penuhi, asalkan engkau menjadi istriku sayaaang...
Erawati: Yaksa...pasangan yang berbahagia...adalah pasangan yang memiliki kesamaan dalam memahami apa isi hati masing-masing...dengan cara memaksaku, menculikku.. engkau telah menutup kesempatanmu agar aku memahamimu...kembalikan aku, dan carilah wanita lain yang mau kau perlakukan dengan caramu...
Kartowiyoga: Tidak bisa...tidak bisa...cintaku hanya padamu.... apa perlu aku rudapaksa kalau begini....aaah..kelamaan...
Erawati menjerit...lari sipat kuping, begitu merasakan gemuruh nafsu sang Kartowiyoga.. seperti ada kekuatan tambahan yang menyulut keberanian putri cantik ini...tangannya menampar muka Kartowiyoga yang hampir menyeruduknya...kemudian... blasss...dengan gesit seperti kijang, gadis jelita yang sebelumnya lemah lembut ini lari menerobos semak-semak taman.... Tekad yang bulat mempertahankan kehormatannya membuat Erawati seakan memiliki ilmu meringankan tubuh... pontang panting Kartowiyoga berteriak-teriak mengejarnya... Erawati tidak peduli..dia terus berlari hingga menembus hutan... melesat meninggalkan Kartowiyoga.
Mungkin karena kehendak Hyang Agung, di tengah hutan dalam keletihan teramat sangat, putri jelita ini bertemu Wasi Jaladara, yang segera menolongnya...
Jaladara: Hhmm...nimas putri jelita...siapakah anda yang lari sipat kuping...apa yang engkau takutkan?
(Erawati memandang wajah Wasi Jaladara, ..wajah yang gagah dan dewasa...tatapan yang tajam menusuk, dalam balutan kain mori sederhana...dia merasa seakan pria ini bisa menjadi gantungan hidupnya...aahhh..pikiran ngaco..ditepiskannya godaan itu...siapa tahu dia suami orang....)
Erawati: Kisanak...maafkan aku...jangan halangi jalanku.. di belakangku ada duratmoko yang akan menistaku...biarkan aku lari...aku Erawati dari Mandaraka...menyingkirlah kisanak, jangan ikut campur..kasihan anak istrimu kalau engkau terluka.. duratmoko ini jahat sekali...dan dia juga sakti mandraguna...
Jaladara: Jagad Dewa Bathara...inikah Dewi Erawati putri Prabu Salya dari Mandaraka? Sang Dewi, aku belum punya isteri dan belum berkeluarga...jadi tidak akan ada yang kehilangan kalau aku hadapi duratmoko itu....cepatlah bersembunyilah di kantong gelungku, biar aku keluarkan sepupuku dari sana, dan biarlah engkau menggantikan bersembunyi di sana...cepatlah sang dewi, sudah tidak ada waktu lagi...
Dengan cekatan Wasi Jaladara mengeluarkan Arjuna dari kantong gelungnya dan memasukkan Dewi Erawati untuk disembunyikan...peristiwa ini dilihat Kartowiyoga yang mulai mendekati karena mengejar Dewi Erawati...
Kartowiyoga: Babo...babo..heh..begawan kupluk...kurang ajar, jangan sembunyikan calon istriku...heh...keluarkan dia..brani-braninya ya kamu umpetin kekasihku...
Jaladara: Yaksa...jangan sembarangan engkau mengucap... bagaimana mungkin seorang wanita terhormat engkau sebut sebagai kekasihmu...kalau cara mendapatkannya dengan menculik? Jika engkau sayang nyawamu, baliklah..dan lupakan Dewi Erawati.
Kartowiyogo: Eee ladalah..dasar wong dusun pinggir kali...kamu itu ngga kenal aku ya...wueh, memang dasar nasibmu harus mati di tangan Kartowiyoga...nih rasakan...
Juedeeerrrrr!!! Tangan Kartowiyoga menampar mengeluarkan api...dengan gesit Wasi Jaladara menghindar, segeralah terjadi pertarungan yang hebat diantara keduanya. Arjuna tidak mencampuri pertempuran itu tetapi segera melibatkan diri mengusir para pengawal Kartowiyoga dengan panah-panah saktinya.
Tandang Kartowiyoga yang mengerikan ternyata seperti permainan anak kecil bagi Wasi Jaladara, saat Kartowiyoga mengeluarkan senjata bandulan berduri yang mengerikan, Wasi Jaladara mengeluarkan Alugara pemberian Sanghyang Brahma...ternyata inilah pengapesan Kartowiyoga, dalam satu kesempatan kepalanya hancur terkena hantaman Alugara. Prajurit Tirtakasanpun sudah dibuat kocar kacir oleh Arjuna, sisanya segera berlari membawa jenasah Kartowiyoga.
Untuk menyelamatkan Dewi Erawati lebih lanjut, Wasi Jaladara segera menarik tangan Arjuna, digandengnya dan segera melesat menyeberangi samudra hingga mendarat di tepi perbatasan Mandaraka. Sebelum sampai ke Mandaraka Wasi Jaladara, mengeluarkan Dewi Erawati dari kancing gelungnya...
Erawati: Duuuh kisanak...dari balik kancing gelungmu, aku menyaksikan tandangmu yang perkasa...terima kasih kisanak, telah engkau selamatkan aku dari duratmoko itu..tetapi...
(wajah Erawati semburat kemerah-merahan...mukanya tertunduk seperti malu)
Jaladara: Hemm...tapi?...ada apa sang Dewi...?
Erawati: Kisanak...engkau tahu aku gadis suci, pingitan dalem keputren Mandaraka.. pantang bagiku bersentuhan dengan lelaki yang bukan sanak bukan kadang... karena terburu menyelamatkanku.. engkau telah menarik tanganku dan bahkan menyembunyikanku di kantong gelungmu...Ooo kisanak, adakah cara yang terhormat untuk menyelamatkan martabatku. (terbata-bata sang Dewi berbicara, dengan lirikan malu-malu...)
Cleeessss, berdesir hati Jaladara mendengar kalimat merdu dari sang Juwita... Arjuna tersenyum maklum, betapa beruntungnya kanda Baladewa...dengan bijak diam-diam Arjuna menyingkir menepi, memberi kesempatan kedua sejoli ini...
Jaladara: Sang Dewi...lihatlah aku...mendengar kata-katamu.. lelaki mana yang tidak bersorak kegirangan mencarikan jalan menjaga kehormatan dan martabatmu...tetapi, engkau seorang putri raja...biasa hidup bergelimang kemewahan...mampukan engkau hidup bersama pertapa miskin...yang hanya punya kain mori untuk penutup raganya... (diam-diam Baladewa menggunakan kesempatan ini untuk menguji kedalaman hati sang dewi)...
Erawati: Duuuh kisanak...apa yang kau lihat dariku? Demikian rendahkah wanita menunjukkan laku dan minatnya? Kalau hanya gelimang harta dunia yang menjadi syarat bagiku menambatkan hati...berapa banyak raja yang keputrennya sudah penuh dengan selir, atau bupati kaya raya yang diam-diam punya gendakan...akan berbondong-bondong melamarku dengan asok glondong pangareng-areng...dan aku tinggal memilih mana yang terkaya diantara mereka.... kisanak...itukah yang engkau lihat pada diriku... duhai kisanak .. tidakkah engkau ingat, saat terdesak dalam bahaya dan mengharapkan pertolonganmu.. kalimat pertama yang aku ucapkan adalah...pulanglah engkau kekeluargamu, istri dan anakmu..itu artinya pantang bagiku mengganggu imam orang lain...kisanak, karena engkau sendiri mengatakan bahwa engkau belum berkeluarga, engkau telah menyelamatkanku.. engkau telah menyentuh tanganku...maka aku rendahkan diriku untuk ngunggah-unggahi.. membuka kesempatanmu untuk memilikiku...bukan bajumu yang aku pilih..tapi dirimu.. tapi engkau juga punya hak...kalau engkau tidak mau..biarlah, tidak apa-apa...Erawati akan menutup diri pada semua laki-laki... akan aku jaga kesucianku sebagai pertapa wanita...
Jaladara: Jagad Dewa Bathara...diajeng Erawati...lihatlah baik-baik siapa aku sebenarnya...
Jruuueeenggg...lenyaplah kesederhanaan yang menyelubungi Wasi Jaladara, pakaian gemerlap sebagai Prabu Baladewa nalendra gung binatara Mandura, tampak melengkapi kegagahan penampilannya...mulut Erawati ternganga menatap sang raja muda...tiada kata yang terucap ketika raja muda ini merengkuhnya dalam pelukan mesra...hanya degup hati mereka yang bicara, dalam cinta yang agung.
Dewi Erawati tergolong wanita yang beruntung dalam pewayangan, karena ia bersuamikan Prabu Baladewa. Seorang raja yang selalu setia pada pasangannya. Prabu Baladewa dikenal sebagai tokoh wayang yang sangat setia, tidak pernah melirik wanita mana pun sampai akhir hayatnya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


