Selasa, 1 September 2026
Sastra & Humor
Wayang

Bambang Sitija

Minggu, 13 Maret 2016

KISUTA.com - Kahyangan Untarasegara terlihat sepi. Suasana suwung dan hampa, bukan hanya menghinggapi para wasu, dayang dan penghuni kahyangan lainnya, tetapi terutama juga menghinggapi permaisuri Bathara Wisnu, yaitu Bathari Pertiwi, putri Sanghyang Nagaraja dari Kahyangan Saptapertala.

Di puncak kegelisahan dan kesepiannya, sang Bathari meminta ijin Sanghyang Girinata untuk kembali ke Kahyangan Saptapertala, membawa kedua buah cintanya dengan Sanghyang Bathara Wisnu, Bambang Sitija dan Dewi Siti Sendari.

Di Kahyangan Saptapertala, Sanghyang Nagaraja menerima dengan bahagia kehadiran putri terkasih dan cucu-cucunya.

Nagaraja: Anakku Pertiwi...Ooallah ngger, menjadi Bathari yang menguasai tanah berdampingan dengan Bathara Wisnu..kok malah membuatmu terlunta-lunta kembali ke Bapa...adakah yang merisaukan hatimu nini...?

Pertiwi: Ooh..tidak Bapa, tidak apa-apa..memang inilah yang harus nanda jalani sebagai hapsari...dewa dan dewi memiliki tugasnya masing-masing..kadang kami tidak bisa bermain dengan perasaan kami sendiri. Ketika kanda Bathara Wisnu mengambil hamba sebagai istrinya, berdampingan dengan ayunda Bathari Laksmi yang sudah terlebih dahulu mendampinginya, namun belum dikaruniai keturunan...ananda sadar...tugas Hyang Wisnu, bisa sewaktu-waktu meninggalkan kami...Untunglah ananda memiliki 2 orang anak dari Hyang Wisnu, berarti sempurnalah kewajiban nanda sebagai istri.

Nagaraja: Hhmm...mengapa kamu tidak mengikuti suamimu menitis ke dunia? Malah Bathari Laksmi yang menitis ke Dewi Rukmini...dan sekarang menjadi permaisuri Bathara Kresna ngger? apakah tidak cukup rasa katresnanmu pada suamimu?

Pertiwi: Duh Bapa...rasa katresnan itu cukup tidak cukup, rasanya tidak bisa diukur dari kebersamaan semata...saya sudah memiliki keturunan dari Hyang Wisnu, yang masih harus saya rawat dan saya bimbing..sedangkan yunda Laksmi belum memiliki keturunan, itulah sebabnya atas seijinnya, saya diambil Bathara Wisnu sebagai istrinya seijin ayunda Laksmi.... Sekarang Hyang Wisnu, turun ke bumi sebagai Bathara Kresna, karena itu sudah kami sepakati yang akan mendampingi adalah Bathari Laksmi yang menitis pada Dewi Rukmini...semoga takdir Hyang Agung akan terwujud, bahwa di dunia, Bathari Laksmi melalui Dewi Rukmini, akan memiliki putra dari Bathara Kresna.

Nagaraja: Aah..luarbiasa mulia dan besar hatimu anakku Pertiwi...tak heran akhirnya Sanghyang Manikmaya memberi tugas sebagai Bathari yang mengelola tanah dan segala yang dihasilkannya padamu...ternyata engkau memang punya kebijaksanaan yang tinggi anakku....ya..ya...Bapa bangga padamu Pertiwi...

Saat sang Nagaraja sedang bercakap-cakap dengan Bathari Pertiwi...masuklah Raden Bambang Sitija, remaja gagah putra Bathara Wisnu dan Bathari Pertiwi...

Sitija: Ibu...Eyang...kebetulan semua berkumpul di sini...

Nagaraja: Hahahaha...cucuku Sitija, mengapa engkau katakan kebetulan? Ibumu anakku, jadi kahyangan inipun rumahnya juga...mengapa kau katakan kebetulan? Ada apa ngger cucuku...?

Sitija: Ya eyang...aku bilang kebetulan, karena ada hal yang ingin aku tanyakan, dan rasanya akan komplit jawabannya kalau dijawab oleh ibu dan diperkuat oleh eyang...

Nagaraja: Apa itu ngger...?

Nagaraja: Ketika kami meninggalkan Kahyangan Untarasegara, aku pernah bertanya pada Ibu... apakah kami akan berkumpul dengan ayah kami? Di kerajaan ayah kami? Ibu hanya tersenyum saja, tidak menjawab....nah, kami sudah tinggal di sini cukup lama eyang.. wajar kalau aku bertanya ...mau sampai kapan? Mengapa kami tidak ke tempat ayah kami?

Siapakah nama ayah kami di dunia ini?

Sesaat suasana menjadi hening, Bathari Pertiwi menatap wajah Sanghyang Nagaraja seakan meminta ijin menjawab pertanyaan anaknya. Sanghyang Nagaraja tersenyum bijak, dengan isyaratnya, dipersilahkannya Bathari Pertiwi menjawab pertanyaan anaknya.

“Sitija anakku, ayahmu adalah dewa yang mumpuni yaitu Hyang Bathara Wishnu, karena itulah kita bisa tinggal di Kahyangan Untarasegara, namun sebagai dewata agung... seringkali ayahmu harus menitis pada raja manusia, untuk memerangi angkara murka, mengalahkan kebathilan. Saat itu Ibu menjadi istri ayahmu dan melahirkanmu anakku.. putra yang sudah diidamkan sekian lama oleh ayahmu, maupun kakekmu Sanghyang Girinata. Setelah kelahiranmu sebagai putra pertama kami, Bathara Guru nampak bahagia, Melihat putera Batara Wisnu seorang laki-laki, maka Bathara Guru menginginkan agar cucunya, dapat menjadi satria yang sakti mandraguna. Oleh Bathara Guru, diperintahkannya ayahmu membawamu ke kawah Candradimuka, kamu dilemparkan ke dalam kawah Candradimuka. Kamu sebagai bayi digodog di dalam kawah yang magma dan laharnya sampai berpijar, panas sekali. Kemudian Bathara Guru memerintahkan para Dewa melemparkan pusaka-pusaka yang dibawa, ke dalam kawah. Maka pusaka pusaka Kahyangan yang dilemparkan ke dalam kawahpun menjadi bubur bersama bayi mu. Kini adonan bayi sudah bercampur dengan cairan kental senjata pusaka-pusaka Kahyangan, terbentuklah bayi baru, Bayi itu merah menyala. Bayi pun diambil kembali oleh ayahmu dari dalam kawah. Ayahmu Bathara Wisnu memberi nama puteranya, Raden Sitija, karena ia berasal dari tanah, seperti aku ibumu yang bernama Pertiwi. Setelah beberapa bulan kemudian lahirlah adikmu, puteri yang molek, Bathara Wisnu memberi nama Dewi Siti Sendari.”

Sitija: Hem...kalau kami berdua anak Bathara Wishnu yang agung...mengapa kami merasa seakan tidak punya Bapa Oo Ibu...ke mana Bapa kami sekarang?

Pertiwi: Ayahmu sudah menitis ke raja manusia, yang memerintah kerajaan Dwarawati bergelar Sri Bathara Kresna...

Sitija: Kalau begitu mari kita ke sana Ibu....mari kita berkumpul dengan ayahku...

Wajah Bathari Pertiwi memucat, dia tak kuasa mengikuti kemauan anaknya...Pertiwi sadar, sebagai Bathara Kresna... pendamping Wishnu adalah Bathari Laksmi, tugasnya sudah selesai, kini tugasnya adalah Bathari Pertiwi...Dewi Tanah...dia bangga dengan tugas itu dan cukup mandiri untuk menjalaninya, tetapi mengertikah anak-anaknya pada tugas dan tanggung jawabnya di luar kedudukannya sebagai istri Wishnu? Bathara Nagaraja tanggap dengan kegagapan putrinya... Dirangkulnya Bambang Sitija...

“Ngger cucuku Sitija, engkau sudah besar, sakti mandraguna, sebaiknya engkau sendiri yang datang pada ayahmu...ajaklah adikmu Siti Sendari agar dia tidak kesepian di sini dan kelak bisa mendapatkan jodoh diantara kaum manusia.”

Dewi Siti Sendari: Ibu...engkau adalah bidadari yang cantik, sempurna sebagai pendamping ayahanda Bathara Wisnu, mengapa bukan Ibu yang mendampingi rama pukulun, sekalian bersama kami anak-anakmu...(Siti Sendari bertanya dengan polos, merasakan ketidakadilan ayahnya pada ibunya)

Bathari Pertiwi: Anakku ngger...aku ibumu telah menerima anugerah kebahagiaan dengan kelahiran kalian anak-anakku... sedangkan Bathari Laksmi, belum memiliki putra dari ayahandamu...dengan mendampingi ayahmu menitis di dunia diharapkan Bathari Laksmi juga akan mendapatkan keturunan ngger...

Dewi Siti Sendari: Hem....kalau hanya itu ukurannya untuk membagi keadilan...betapa naifnya cinta laki-laki pada istrinya....kalau begitu apakah lebih baik aku tidak memiliki anak biar dikasihani dan dicintai suamiku selamanya...?

Blarr!!! Petir menyambar, guruh sahut-sahutan menggelegar...Bathari Pertiwi dan Sanghyang Nagaraja terperanjat...rasa marah dan kecewa Siti Sendari, ternyata disaksikan langit dan bumi....Bathari Pertiwi tak mampu berkata-kata untuk menterjemahkan pertanda alam ini, hanya pelukan dan air mata yang mengalir di pipinya yang muncul menyingkapi keadaan.

Bathara Nagaraja dan Bathari Pertiwi membekali kedua remaja rupawan itu dengan ilmu dan bekal secukupnya dalam upaya menemui ayah mereka yang sekarang berwujud sebagai Bathara Kresna.

Agar Bathara Kresna ingat kepada kedua puteranya, oleh Bathara Nagaraja, Sitija diberikan sebuah pusaka peninggalan Bathara Wisnu. Pusaka Cangkok Kembang Wijayamulya, yang kesaktiannya sama seperti pusaka Wijayakusuma yang ada di tangan Bathara Kresna. Oleh kakeknya, dipesankan agar Sitija berhati-hati menjaga pusaka Cangkok Kembang Wijayamulya dan jangan sembarangan menggunakannya.

Setelah berpamitan dengan ibu dan kakeknya, Sitija dan Dewi Siti Sendari berangkat mencari ayahnya di Negeri Dwarawati. Di perjalanan Sitija tidak menghiraukan pesan kakeknya, wataknya yang selalu ingin tahu, membuatnya mencoba menghidupkan bangkai seekor burung dara, atau merpati. Bangkai burung itu disentuh dengan pusaka kahyangan Cangkok Kembang Wijayamulya, sehingga menjadi raksasa yang menakutkan. Raksasa itu diberi nama Detya Kala Mahundara. Tidak hanya sampai di situ, Sitija menemukan ancak kecil tempat sajian, lalu oleh Sitija, disentuh dengan pusaka Cangkok Wijayamulya, berubah menjadi raksasa yang menakutkan. Raksasa itu diberi nama Ancakogra. Sambil tertawa-tawa kegirangan karena punya pengawal dua raksasa, Sitija dan adiknya melanjutkan perjalanannya ke Dwarawati, di jalan Sitija menemukan bekas rongsokan dandang tempat penanak nasi, segera disentuh dengan pusakanya, maka berubahlah menjadi raksasa juga dan diberi nama Detya Kala Dandangbiku. Demikian seterusnya,ketemu dengan rongsokan sabuk, terus disentuh dengan pusaka Cangkok Kembang Wujayamulya juga menjadi raksasa, diberi nama Detya Kala Timangdapur. Menemukan lagi pecahan tempayan, disentuhkan lagi ke pecahan tempayan itu, berubah menjadi raksasa, diberi nama Yayahgriwa, setiap menemukan sesuatu di sentuhnya dengan puaka cangkok Kembang Wijayamulya, sehingga dari satu raksasa menjadi dua raksasa dan seterusnya,sehingga menjadi satu pasukan raksasa, yang membuat ketakutan orang orang yang ditemui di jalanan.

Di Dwarawati, pasukan Sitija membuat keonaran, sehingga Pasukan Dwarawati tidak memperkenankan Sitija dan Siti Sendari masuk ke dalam istana Dwarawati.

“Heh...aku ini putra Bathara Wisnu, yang sekarang menjadi Prabu Sri Bathara Kresna...masa mau ketemu bapakku sendiri dilarang?”

Sitija marah, pasukannya dikerahkan untuk menerobos pertahanan Dwarawati. Gegerlah suasana di alun-alun istana yang menjadikan Prabu Kresna serta Patih Setyaki dan Patih Udawa segera keluar. Prabu Kresna memisahkan kedua pihak agar nenghentikan pertempurannya, Sitija dan Siti Sendari diperkenankan memasuki istana Dwarawati.

Kresna: Kisanak, siapakah kamu...anak muda rupawan dikawal pasukan raksasa aneh, sembarang amuk di Dwarawati apa maksudmu?

Sitija: (Sesaat diperhatikannya Prabu Kresna, di hadapannya... raja yang gagah berwibawa meski kulitnya hitam kebiruan, ditariknya tangan adiknya Siti Sendari, mereka berdua berdatang sembah di hadapan Prabu Kresna)

“Ayahanda, terimalah sembah sungkem kami berdua... sesungguhnya kami datang untuk berbhakti padamu....sejak kami tumbuh dewasa di kahyangan Saptapertala...hanya ibu Bathari Pertiwi dan Eyang Sanghyang Nagarajalah yang membimbing kami...kami rindu padamu Ayah...”

Kresna: (Kaget dan bingung mendengar penuturan Sitija... walaupun Hyang Wisnu menitis pada Narayana, atau Sri Prabu Bathara Kresna...kehidupan Hyang Wisnu selama ini membaur dalam kehidupan Narayana...kehidupan masa lalunya di kahyangan Untarasegara, tentu terselimuti kabut...Prabu Kresna menyangsikan kedua anak muda itu anaknya. Walaupun keduanya meyakinkan bahwa ibunya bernama Bathari Pertiwi dan Kakeknya Bathara Nagaraja dari Kahyangan Ekapratala di istana Jalatunda. Prabu Kresna tetap tidak bisa menerima penjelasan itu). Hem...jangan menjual cerita yang aneh anak muda...istriku adalah Dewi Rukmini...dan aku tidak pernah menikah sebelumnya...usiamu juga tidak terpaut terlalu jauh denganku...pantaskah kita disebut Bapak dan anak?

Sitija dan Dewi Siti Sendari terpekur mendengar sanggahan Prabu Kresna...tampaknya saat menitis pada Prabu Kresna, Bathara Wisnu telah tersamar kehidupan kadewatannya... Sitija ingat pesan kakeknya, agar pusaka Cangkok Kembang Wijayamulya ditunjukkan kepada Bathara Kresna titisan ayahnya. Setija mengeluarkan pusaka Cangkok Kembang Wijayamulya pemberian kakeknya. Melihat pusaka Cangkok Wijayamulya, Prabu Kresna terhuyung-huyung seperti mau pingsan...Patih Setyaki dan Udawa segera tanggap, merangkul rajanya dan mendudukkan Prabu Kresna di tempat yang teduh.

“Jagad Dewa Bathara ya Jagad Pangestungkara...ya...ya...aah, Sitija...Siti Sendari...kemarilah Nak, kalian memang anak-anakku dari Bathari Pertiwi...Semoga Hyang Kuasa mengampuni kekhilafanku..Oo...anak-anakku...” Karena keampuhan daya penyembuh Cangkok Wijayamulya, Roh Bathara Wisnu dalam diri Prabu Kresna seperti disadarkan pada masa lalunya...dia menjadi teringat kembali dengan Kakek Nagaraja dan Bathari Pertiwi.

Setelah melepas kerinduan dengan anak-anaknya, oleh Prabu Kresna cangkok kembang Wijayamulya dijadikan satu dengan Kembang Wijaya Kusuma.

“Anakku Sitija, ketahuilah..sesungguhnya aku memiliki musuh, seorang raja raksasa bernama Prabu Bomantara dari Prajatista. Raja ini bengis dan kejam, banyak rakyatnya yang berlari meminta perlindungan ke Dwarawati...Aku ingin engkau pergi ke Prajatista untuk menaklukkan Prabu Bomantara. Sebagai putraku yang sudah digodog di kawah Candradimuka, aku yakin engkau bisa mengalahkan Prabu Bomantara.”

Sitija menyanggupinya permintaan Prabu Kresna. Dengan membawa pasukan raksasa jadi jadian, dan ditambah beberapa kompi prajurit Dwarawati, Sitija menyerang kerajaan Prajatista. Tak lama kemudian terjadilah perang besar antara kedua pasukan. Pasukan Prajatista terdesak mundur, sampai akhirnya, Prabu Bomantara pun tewas.

Tanpa disadari Sitija sukma Bomantara masuk ke dalam tubuh Sitija.

Prabu Kresna sangat bangga dengan keberhasilan Sitija ini, sebagai ungkapan kebanggaannya, dinobatkannya Sitija menjadi raja di kerajaan Prajatista yang sudah menjadi daerah taklukan Dwarawati.

Setelah menjadi raja di Prajatista. Sitija terus berusaha melebarkan kerajaannya. Sebenarnya hal ini terjadi karena pengaruh buruk keserakahan yang mengikuti sukma Bomantara yang menitis pada Sitija.

Pancatnyana: Huehehehe..Gusti...jadi raja gung binatara, tanpa pendamping permaisuri cantik apa ya enak...huahahhahahah...

Sitija: Patih Pancatnyana...hehehe...sepertinya engkau bisa membaca kebutuhanku...tapi..putri mana yang bisa aku lamar...aku harus dapat yang pilihan, cantik dan anak raja besar biar sekalian kita kuasai kerajaannya...

Pancatnyana: Wuuess...apa ngga kebalik tuh...bukankah seharusnya menantu sungkem pada mertua ? Kalau paduka kuasai kerajaannya, berarti mertua yang harus hormat pada menantunya dong?....hahahah

Sitija: Ngga masalah itu wong dia dapat menantu raja besar dan besan titisan Hyang Wisnu, bodoh kalau ngga mau...

Pancatnyana: Kalau begitu coba paduka sampaikan keinginan paduka itu pada Prabu Narakasura dari kerajaan Surateleng. Putrinya dari permaisuri Dewi Yadnyagini yang bernama Dewi Hagnyanawati adalah putri jelita...

Atas usulan patih Pancatnyana itu Sitija melamar Dewi Hagnyanawati, sekaligus permintaan agar kerajaan Surateleng mau bergabung dengan Prajatista. Menerima lamaran bernuansa keangkuhan ini Prabu Narakasura menolaknya. Terjadilah peperangan antara Kerajaan Surateleng dengan Kerajaan Prajatista.. Prabu Narakasura dalam peperangan tersebut tewas, di tangan Sitija. Saat nyawa Prabu Narakasura pecat dari raganya berubahlah Prabu Narakasura menjadi seekor burung raksasa. Sitija memberi nama burung raksasa itu, Wilmana yang dijadikannya tunggangannya. Akhirnya kerajaan Surateleng dan Kerajaan Prajatista dijadikan satu menjadi negara baru, bernama Trajutrisna dan Sitija yang menjadi rajanya, dengan gelar Prabu Boma Narakasura dan menjadikan Dewi Hagnyanawati sebagai permaisurinya.

Untuk sesaat Sitija dan Siti Sendari merasa bahagia bersanding dengan ayahnya. Sitija berkuasa di negerinya, sedangkan Dewi Siti Sendari tinggal bersama ayahnya di Kerajaan Dwarawati..tak ada seorangpun yang menyangka, musibah dan petaka mengintip kebahagiaan ayah dan anak itu, dari dendam raja-raja yang ditaklukkan...dendam Bomantara, dan dendam Narakasura yang mengelilingi Sitija.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya