Bale Sigala-gala
KISUTA.com - Udara panas menyeruak membawa hawa gerah di Kasatriyan Plasajenar. Patih Sengkuni terus mengernyitkan dahinya...dendam dan dengki campur aduk dihatinya, betapa repotnya menyingkirkan keturunan Pandu Dewanata. Sejak peristiwa pasanggrahan Pramanakoti, meracuni Bratasena dan upaya membunuhnya.
Sengkuni merasakan para tetua Hastinapura, termasuk Prabu Destarasta sendiri mulai waspada dengan semua usulan-usulannya. ”Hem...kurang ajar .. alot juga anak-anak Pandu ini...huh..jangan sebut aku Sengkuni klo menyingkirkan mereka saja aku harus gagal...ya..ya...harus ada taktik yang lebih hebat..hem...kali ini akan aku lenyapkan saja sekalian semuanya...termasuk ibunya..huh Kunti, dulu aku mencintaimu, mabuk kepayang dengan kecantikanmu...tapi keangkuhanmu melunturkan hasratmu...kalau aku tidak dapat memilikimu...musnah saja sekalian bersama anak-2mu.” Api kebencian yang menyala-nyala di hati Sengkuni membuatnya jadi budak iblis, dengan rencana jahat yang bermain-main di sanubarinya.
Sengkuni: Purucona...bagaimana? Sudah paham apa yang harus kamu lakukan?
Purucona: Eee..aa..eh ehm ii.iiya Gusti Patih, membuat pesanggrahan yang indah..tetapi semua harus terbuat dari bahan yang mudah terbakar...ehm..hadouw....bagaimana ya...
Sengkuni: Hei bodoh !!, jangan ha hem..aa eem..kaya orang bego, kamu itu perancang paling top di Hastinapura...kalau memahami perintah sederhana seperti ini saja kamu plonga plongo kaya kebo begini..apa perlu saya matikan ijinmu...biar ngga bisa kerja di kerajaan ini?
Purucona: Wah jangan Gusti Patih..nanti anak istri saya makan apa?
Sengkuni: Apa urusanku dengan anak istrimu? Bagaimana ngerti nggak kamu...bangunannya harus indah, mewah, nyaman...ngga peduli berapapun biayanya...tetapi, di bangunan itu tidak ada pintu tembus ke belakang, semua tertutup rapat, hanya satu pintu di depan...dan yang paling penting...semua bahannya terbuat dari bahan yang mudah terbakar, saling berhubungan satu sama lain...disetiap sudut, simpan minyak tanah dalam bejana yang mudah pecah, supaya api bisa menjalar lebih cepat...
Purucona: Heh? Api? Wah..apa bangunannya nanti mau dibakar Gusti...
Sengkuni: Heiiss..banyak tanya kamu,sanggup nggak kamu ?? (Sengkuni melotot melihat keraguan Purucona)
Purucona: Aaa..ii...yah...bagaimana lagi...ya harus sanggup ..ya..ya baiklah Gusti..akan saya kerjakan Bale yang paduka minta.
Akhirnya walaupun dengankeraguan yang besar..Purucona membangun sebuah bangunan peristirahatan yang indah dan nyaman di atas pegunungan di luar kotaraja Hastinapura. Bangunan semi permanent tersebut dirancang kusus. Tiang-tiang bangunan diisi dengan sendawa dan gandarukem, bahan sejenis mesiu dan minyak yang mudah terbakar.
Purucona memandang bangunan hasil karyanya dengan bangga, tangannya mengelus-elus dagunya sambil manggut-manggut “hem...puas aku, bale ini benar-benar indah dan cekli..kisi-kisi keluar masuknya angin juga sempurna...jadi didalam terasa dingin...sinar matahari cukup menembus kedalam bale...aku sungguh puas dengan karyaku...eh...tapi...duh...Gusti Patih mengatakan bahwa bangunan ini akan dimusnahkan? dibakar? Lhoh apa tujuannya ya ...aduuuh aku mencium aroma kebusukan disini...tapi...ah, berurusan dengan Patih Sengkuni aku harus hati-hati...dia itu raja tega, apalagi pada kawula alit...aaahhh...sudahlah...bukan urusanku...” Purucona menggeleng-gelengkan kepalanya dalam kebingungan, kakinya melangkah gontai pulang kerumah.
Di Istana Hastinapura, Sengkuni dengan rencana liciknya ingin memusnahkan keluarga Pandawa, telah menjalin persekutuan dengan para Kurawa. Alasan Sengkuni bahwa lenyapnya Pandawa akan membuat negara Hastinapura sepenuhnya dikuasai oleh keluarga Kurawa ternyata ampuh. Mereka bekerjasama mempersiapkan jebakan untuk keluarga Pandawa. Arak, Tuak dan minuman keras lainnya mereka ramu oplosan dengan berbagai macam makanan yang bisa memabukkan disamarkan dalam masakan-masakan lezat supaya tidak ketahuan. Bahkan buah-buahanpun disisipi dengan racun tidur untuk memuluskan rencana jahat itu.
Setelah segala sesuatunya siap, Sengkuni mengundang Kunti dan kelima Pandawa bersaudara, untuk menikmati syukuran kembalinya Bima, sekaligus upaya keakraban diantara wangsa Kuru, agar selalu sentosa bersatu.
Mendengar rencana tersebut Yamawidura, yang mempunyai kelebihan dalam hal membaca kejadian yang belum terjadi, merasakan firasat buruk yang harus dihindari. Apalagi dia mendengar dari istrinya Dewi Padmarini, yang menjadi langganan istri Purucona yang berjualan daging di Pasar bahwa Purucona sudah 3 hari tidak bisa tidur karena perintah aneh dari Patih Sengkuni...”Bojo saya itu disuruh membuat Bale yang indah Den Ayu...tapi anehnya semua bahan harus mudah terbakar, malah ditiap usuk-usuk kayunya ditanam gondorukem dan minyak tanah...terus, pintunya cuma satu dari depan...jadi kalau ada apa-2 tidak ada jalan keluar...wuih..lak aneh to itu...”
Yamawidura memanggil Kanana abdinya, yang ahli membuat terowongan. Kanana diperintahkan untuk menyelidiki Pesanggrahan Bale Sigala-gala dan secepatnya membuat terowongan untuk jalan penyelamatan jika terjadi sesuatu atas pesanggrahan tersebut.
Kanana segera melaksanan perintah rahasia Yamawidura dengan sebaik-baiknya, serapi-rapinya dan secepat-cepatnya. Ia tahu bahwa sosok Yamawidura adalah titisan Bathara Dharma, dewa keadilan dan kebenaran. Ia mempunyai kelebihan dan tak tertanding di negara Hastinapura dalam hal membaca kejadian yang akan terjadi.
Kanana meyakini bahwa bakal terjadi huru-hara besar, dan terowongan yang ia buat atas perintah Yamawidura, benar-benar akan menjadi sarana untuk jalan penyelamatan. Kurang dari dua pekan Terowongan yang panjangnya lebih dari 400 langkah tersebut telah selesai. Kanana benar-benar menunjukan kualitasnya.
Petang hari sehari sebelum keluarga Pandawa mendatangi undangan di Bale Sigala-gala, Yama Widura menembangkan Kidung penenang berisi doa-doa keselamatan. Mereka terhanyut oleh syair-syair yang dikidungkan Yamawidura. Batin yang cerdas dapat menangkap bahwa melalui Kidung malam tersebut Yamawidura ingin mengingatkan agar Kunti dan Anak-anaknya jangan menanggalkan kewaspadaan dan selalu berdoa mohon terhindar dari segala mara bahaya.
Lewat tengah malam, Yamawidura menyelesaikan pembacaan mantra yang di kidungkan. Hampir bersamaan, Kunti dan Bima terlelap dalam tidur, menyusul Puntadewa, Harjuna, Sadewa, Nakula dan juga Padmarini isteri Yamawidura dan kedua anaknya Sanjaya dan Yuyutsuh.
Malam merambat pelan dilangit Panggombakan. Seakan enggan menemui pagi. Mungkin karena ia tidak sampai hati menyaksikan tragedi besar yang akan terjadi di rumah indah dan asri yang bernama Bale Sigala-gala.
Kicau burung bersautan di pagi itu. Langit Panggombakan biru cerah. Tak ada sedikit pun awan yang menggelantung. Kunti dan anak-anaknya merasakan pula cerahnya hari itu. Secerah hati mereka yang tidak pernah terhalang awan dendam dan kebencian, kendati mereka menjadi sasaran irihati. Kunti selalu mengajarkan pada putra-2 Pandawa agar tidak menaruh curiga atas undangan pesta di Bale Sigala-gala nanti sore. Lihatlah kesempatan itu sebagai sarana untuk merekatkan hubungan persaudaraan.
Pagi itu, Yama Widura menerima Kunthi dan anak-anaknya yang hendak berpamitan pergi ke gunung Wanamarta menghadiri undangan pesta di Bale Sigala-gala.
“Kakang Mbok Kunti dan anak-anakku Pandawa, kemeriahan pesta dapat dengan mudah membuat orang lupa. Oleh karenanya jangan tinggalkan kewaspadaan. Bima engkau orang yang paling perkasa diantara Ibu dan saudara-saudaramu. Padamulah aku titipkan keselamatan Ibu dan saudara-saudaramu.”
Dihantar oleh tatapan cemas Yamawidura. Kunthi dan ke lima anaknya meninggalkan Panggombakan.
Sebelum memasuki lokasi pesta Kunti dan Pandawa ditemui Kanana, utusan Yamawidura. Dengan berbisik Kanana menyampaikan pada Pandawa khususnya Bima, pintu terowongan yang terletak di sudut belakang sebelah kiri, tertutup karpet merah hati. Hanya itulah satu-2nya jalan keluar dari bahaya jika terjadi sesuatu di Bale Sigala-gala. Alis mata Bima berkerut mendengar pesan Pamannya lewat Kanana... Bima teringat licik dan culasnya Sengkuni menciderainya hingga hampir tewas di sumur Jalatunda.Tapi saat menyampai kan pada Kunti, agar mereka membatalkan undangan itu...Kunti bersabda “Anakku Bima, masihkah engkau tidak percaya pada Hyang Widi Wasa dan perlindunganNya pada kita, saat kita melakukan hal yang benar ? Anakku perjalanan hidup kita penuh dengan warna, ada kalanya kita menikmati warna-warna cerah yang membuat hidup kita semarak, tetapi ada kalanya warna kelabu menyeruak dan duka mengiris pedih bathin kita...antara disukai, dicintai dan disayangi orang...tentu akan berdampingan dengan dibenci, dicemburui, didengki dan tidak disukai orang...hidup selalu punya dua sisi anakku.. Tetapi biarlah kita selalu mengambil sisi kebajikan, agar ketika ada yang bathil mengarah kepada kita...kuat kuasa Hyang Widi Wasa menyelamatkan kita, sebagai pahala kesabaran dan keikhlasan kita...Bima, jika jalan sebaliknya yang engkau pilih...Ibu ngeri membayangkan ketika AzabNya tak mampu lagi kita hindari...Sudahlah Bima, nikmat mana lagi yang engkau ragukan hingga sulit bagimu untuk bersyukur ?...lepaskan kekhawatiranmu.. mari sambut ajakan bersatu dalam hubungan keluarga yang guyub anakku.”
Menjelang tabuh ke delapan, Kunti, Puntadewa, Bimasena, Arjuna dan si kembar Sadewa dan Nakula datang. Duryudana mendekati Sengkuni sambil berbisik. Sengkuni menolehkan mukanya kegerbang masuk. Patih Sengkuni dan Duryudana tergopoh-gopoh menyambut mereka.
Keramahtamahan Sengkuni memang berlebihan, membuat risi tamu-tamu yang hadir, selain warga Kurawa. Namun tidak untuk Kunti dan Pandawa sikap Sengkuni dan warga Kurawa dirasakan merupakan penghomatan khusus sesama saudara.
Pesta itu sungguh meriah. Para petugas yang mengurusi makanan, minuman dan acara pesta, menjalankan tugasnya dengan baik dan rapi. Aneka hidangan pesta mengalir tak pernah henti. Demikian juga acara yang dipentaskan, dengan waranggana cantik-cantik bertubuh indah sempurna, yang membuat liur Dursasana menetes menjijikan.
Para Putra Kurawa tidak dapat mengontrol diri, jiwa alu amah dan angkara murka membuat mereka meneguk arak tanpa batas, aji mumpung membuat kelakuan para pangeran itu acak kadul, akhirnya merekalah yang mabuk dan linglung.
Sengkuni menjadi binggung. Bagaimana akan melaksanakan rencananya, malam makin larut, dia harus segera mengeluarkan keponakan-2nya para Kurawa dari Bale Sigala-gala yang hendak dibakarnya. Dalam keadaan mabuk, ia kesulitan membawa warga Kurawa keluar dari Bale Sigala-gala.
Suasana berangsur-angsur hening. Dentingan perkakas yang saling beradu diantara sendok dengan gelas, mangkuk dan piring, sudah tidak terjadi lagi. Para petugas yang mengontrtol makanan dan minuman sudah berhenti melakukan penambahan hidangan. Bahkan mereka mulai mencicil untuk menyingkirkan aneka perkakas yang sudah kotor oleh sisa-sisa makanan dan minuman. Bersamaan dengan itu, datanglah rombongan petapa yang sengaja mampir untuk meminta makanan. Jumlahnya enam orang lima orang putra dan satu orang putri. Kedatangannya disambut hangat oleh para Pandawa yang masih sadar, mereka dipersilakan menikmati makanan yang masih terhidang dengan leluasa, disisi para Pandawa dan Kunti.
Sementara itu Sengkuni dan Duryudana dibuat repot mengeluarkan anak-2 Kurawa dari Bale Sigala-gala, hingga tidak menyadari bahwa di peraduan yang diperuntukkan bagi Kunti dan Pandawa, telah ada para Pertapa yang dipersilahkan Kunti untuk beristirahat. Sengkuni dan Duryudana harus berpacu dengan waktu. Jangan sampai fajar mulai merekah diufuk Timur, Bale-Sigala-gala masih utuh berdiri.
Maka dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Kunthi dan anak-anaknya, Duryudana dibantu oleh para hulubalang dan tenaga kasar yang lain, memapah keluar para pemabuk yang tak sadarkan diri. Setelah semua warga Kurawa dan beberapa orang yang mabuk di amankan di tempat yang jauh dari Bale Sigala-gala, Sengkuni mempersilakan Kunthi dan Nakula untuk beristirahat dan tidur di ruang yang telah disediakan, tepatnya di belakang ruang pesta, menyusul Bima, Arjuna dan Sadewa. Namun saat Kunthi dan Nakula menuju ke ruang belakang, mereka melihat ke enam Pertapa tidur nyenyak sekali di lantai, tidak seberapa jauh dengan pintu ruang belakang. Mereka sangat kecapaian. Dewi Kunthi menyapa lembut, “Duhai para Pertapa tidurlah di bale-bale kami, jangan di lantai...kalian adalah para insan yang selalu memayu hayuning bawana, berdoa untuk keselamatan umat, aku menghormatimu. pakailah peraduan kami.”
Baru saja Kunti selesai bersabda, dan putra-putranya selesai memindahkan para Pertapa yang tetap terlelap ke peraduan mereka....mereka dikejutkan oleh cahaya merah yang tiba-tiba saja menjadi besar. Hawa panas dengan cepat merambat ke seluruh tubuh mereka.
“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!
Kunthi teringat kepada ke enam petapa yang tidur tidak jauh dari pintu ruangan ini. Tetapi ketika akan membuka pintu, ternyata pintu tersebut telah dikancing dari luar. Kunthi sempat berteriak “ Selamat malam Sang Pertapa” Kunthi berusaha untuk membuka pintu, namun sebelum berhasil ia telah dibopong oleh Bima dan bersama para Pandhawa dibawa masuk ke pintu terowongan. Bima kebingungan setelah menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya memasuki terowongan, karena terowongan itu begitu gelap gulita. Tiba-tiba mereka melihat garangan putih yang bulunya bercahaya, berlari gesit menyusuri terowongan...keluarga Pandawa tanggap dan segera mengikuti garangan putih itu.
Sebenarnya apa yang terjadi di Bale Sigala-gala? Bale artinya bangunan rumah, Gala adalah jabung. bahan yang bisa menjadi keras seperti semen, namun mudah terbakar. Itulah alasan Patih Sengkuni menggunakan jabung sebagai bahan utama untuk membuat bangunan. Ditambah lagi dengan tiang-tiang penyangga bangunan, yang telah diisi dengan sendawa dan gandarukem, bahan sejenis mesiu yang bisa meledak. Dengan demikian jadilah pesanggrahan “Bale Sigala-gala” yang siap dibakar dan diledakan. Sengkuni yakin, bahwa Bale Sigala-gala akan mampu mengubah tulang daging Kunti dan Pandawa menjadi abu dan arang.
Saat itu Sengkuni melihat Purucona diantara hulubalang, segera diperintahkannya kurawa menangkap Purucona, dan melemparkannya ke api, agar rahasia busuknya lenyap bersama kematian Purucona.
Patih Sengkuni, Duryudana, Dursasana dan para Korawa yang lain, serta para perajurit dan pekerja pesta, dari kejauhan memandangi lidah-lidah api yang menimbulkan asap hitam pekat. Tanpa berkedip Patih Sengkuni memandangi Bale Sigala-Gala yang dibakar, untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun diantara Kunthi dan anak-anaknya menyelamatkan diri, keluar dari kobaran api. Artinya bahwa Kunthi dan ke lima anaknya hangus terbakar. Karena memang hanya tinggal enam orang yang masih berada di dalam bangunan Bale Sigala-gala, karena yang lainnya telah diajak keluar sebelum kebakaran terjadi. Yah tinggal enam orang. Kunthi, Puntadewa. Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Dan pasti tubuh mereka telah menjadi arang dan abu. Demikian pikir Sengkuni.
Wajah Sengkuni dan warga Kurawa nampak puas...pasti tidak ada yang selamat, tidak ada lagi yang menghalangi Duryudana menduduki tahta Hastinapura.
Rakyat pedusunan yang berada dibawah bukit pesanggrahan terbangun karenanya. Mereka tidak tahu-menahu latar belakang dan penyebab kebakaran Bale Sigala-gala. Mereka hanya bisa prihatin dan berduka...atas musibah keluarga Pandawa.
Pesanggrahan Bale Sigala-gala yang indah megah, tak mampu bertahan lama dari amukan api. Purucona ahli bangunan terkemuka di Hastinapura. termasuk menjadi korban keganasan api. Ia dipaksa untuk menyulut Bale Sigala-gala yang ia bangun dengan bahan yang mudah terbakar. Ketika api mulai ganas menyala, Purucona dilemparkan ke dalam api oleh beberapa pengawal yang telah dipersiapkan. Sungguh malang nasibnya si Purucona. Ia sengaja dijadikan tumbal untuk rencana besar ini.
Sengkuni dan Duryudana segera memeriksa bangunan yang telah menjadi arang itu, yang pertama mereka temukan adalah mayat Purucona, karena dilemparkan menjelang bangunan habis terbakar....menyeruak sisa-2 bangunan, dikamar belakang tempat peraduan yang disediakan khusus untuk Kunti dan anak-2nya mereka menemukan 6 mayat, satu wanita dan lima laki-2... Siapa lagi kalau bukan Kunti dan ke lima anaknya.
“Inilah mayat Kunti, walaupun sudah menjadi arang, masih kelihatan bahwa ini adalah mayat seorang wanita. Dan yang lima ini adalah anak-anaknya, yaitu: Yudhisthira, Bima, Harjuna, Nakula dan Sadewa.”
Dengan penuh kelegaan Sengkuni meyakinkan bahwa ke enam mayat yang ada, adalah Kunti dan Pandhawa lima. Dan rupanya keyakinan Sengkuni tersebut tak terbantahkan, karena ada bukti yang ditunjukan. Para rakyat bersedih. Para kawula menangis, melihat ke enam mayat yang diyakinkan Sengkuni adalah mayat Kunti dan anak-anaknya. Tidak ada yang menyuruh, para kawula pedesan yang datang, bersimpuh mengelilingi keenam mayat tersebut. Rasa hormat dan rasa cinta yang begitu tinggi yang ditunjukkan oleh rakyat Hastinapura kepada Pandawa, walaupun sudah menjadi abu, membuat Sengkuni dan Para Kurawa panas hatinya. Maka segeralah Patih Sengkuni memberikan perintah untuk membubarkan para kawula pedesaan itu. Satu persatu mereka meninggalkan puing-puing Bale Sigala-gala dengan kepala tunduk. Tanpa disadari kaki mereka menginjak-injak abu Purucona sang Arsitek yang malang.
Dengan mata berlinang airmata karena dikucek bawang merah...Sengkuni menangis pilu dihadapan Destarasta melaporkan kematian Kunti dan anak-2nya.
Destarasta: Apa ? yayi Dewi Kunti dan anak-2nya telah mati!?
Sengkuni : Ampun Kakanda Prabu. Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Api terlalu cepat berkobar dan menghabiskan Bale-Sigala seisinya. Termasuk Kakang Mbok Kunti, dan anak-anaknya, juga Purucona sang arsitek itu.
Destarastra tercenung dalam duka yang dalam, tangannya terkepal....matanya yang buta berkedip-kedip mengeluarkan airmata yang runtuh di pipinya.... Destarasta kembali menyesali kebutaannya, dengan segala keterbatasannya...dia tidak bisa mengontrol kerajaannya dengan benar. Peran Sengkuni sebagai Patih menjadi begitu besar...adik iparnya ini dia rasakan memiliki ambisi yang tak wajar..Satu hal yang masih dipegang teguh oleh Destarastra, yaitu bahwa tahta Hastinapura ini adalah titipan Pandu untuk diwariskan kepada anak-anaknya. Tinggal menunggu waktu. Yamawidura adik bungsu Destarastra ditugaskan untuk mendampingi anak-anak Pandu dan mempersiapkan lahir batin, agar pantas menjadi raja.
Ia tahu kelicikan Patih Sengkuni dan Gendari, isterinya. Jika Destarsatra mewisuda Duryudana sebagai Putra Mahkota, sama halnya dengan menjilat ludahnya sendiri, menarik tahtanya dari Pandu dan memberikannya kepada Duryudana anaknya. Jika kemarin Duryudana dijadikannya Pangeran Pati, itu bukan untuk Hastinapura...sudah disiapkannya sebuah daerah perdikan, kasatriyan yang layak untuk putranya itu.
Destarastra dapat menangkap kelicikan dan kepalsuan melalui laporan Patih Sengkuni tentang tragedi Bale Sigala-gala. Destarastra marah besar. Ia tak kuasa mengendalikan dirinya ketika mendengar kabar kematian Kunti dan Pandawa. Destarastra tak kuasa mengeluarkan kata-kata, badannya bergetar, giginya gemeretak. Dari kedua tangannya muncul asap tipis berwarna merah.
“Lebur Sekethi !” Sengkuni mendesis gemetar ketakutan, ia bangkit dari kursinya..bergeser menjauh dari Prabu Destarastra. Para Abdi, Kerabat, Punggawa, Senapati dan Permaisuri panik ketakutan. Telapak tangan Prabu Destarastra yang telah berisi aji Lebur Sekethi diarahkan ke tempat Patih Sengkuni duduk.
“Dhuaaarr”....Bllaaaarghhh!!!
Suara menggelegar menggema di sitihinggil. Kursi kepatihan lebur jadi debu, dan menyisakan lobang di lantai yang cukup besar dan dalam.
Semua diam, tak ada yang berani mengeluarkan suara. Prabu Destarastra tersengal napasnya. Ia duduk lemas di kursi raja, kursi yang banyak direbutkan orang. Pandangan bathinnya seakan menerawang jauh dan jauh sekali. Benarkah Kunti dan anak-anaknya telah mati? Rasanya tidak mungkin.
Gendari tahu persis bagaimana harus mendampingi Destarastra. Setelah cukup lama Sang Prabu dibiarkan terbang dengan pikirannya dan menyelam dalam perasaannya, Gendari mendekati Sang Prabu dan meraba dadanya dengan penuh kelembutan.
“Sang Prabu, hari menjelang senja, perlulah kiranya Sang Prabu mandi agar badan menjadi segar dan pikiran menjadi dingin.”
Destarastra tidak menolak, hanya wanita inilah yang selalu disisinya...menutup matanya untuk menyamakan dengan kedudukannya sebagai insan buta...istrinya selalu bisa membuatnya nyaman...apapun yang ada dalam sanubari wanita itu, yang adiknya begitu licik...Destarasta takluk pada kelembutan dan pengabdiannya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


