Bima dan Nagagini
KISUTA.com - Terowongan yang gelap dan panjang. Bima memanggul Kunti, Nakula dan Sadewa. Arjuna dengan pusaka pulanggeni, berada di depan untuk membuka jalan dan memotong juntaian akar-akar pohon yang menembus tanah, karena terowongan itu ada di bawah hutan Wanamarta.
Berjalan paling belakang adalah Yudhistira, yang mencoba mengamati jangan-jangan ada yang membuntuti mereka. Keluarga Pandawa sangat mengandalkan hewan Garangan Putih, yang berlari lincah di hadapan mereka. Mereka pasrah. Musibah bale sigala-gala, mengoyak sanubari mereka. Betapa keji para sepupunya berencana memusnahkan mereka. Inikah arti guyub? Ke mana kasih antar saudara itu menyingkir? Mengapa dengki mencengkeram rasa hingga rasa iri mengalahkan kebajikan, dan semua berakhir pada persaingan? Untuk sesaat, Pandawa menyisihkan luka perasaan mereka. Saat ini yang penting selamat dulu. Garangan putih itulah andalan mereka, keluar dari terowongan yang gelap dan panjang itu.
Sesaat kemudian, tampak sinar samar-samar di depan terowongan. Garangan Putih itu meloncat keluar dari terowongan. Kuarga Pandawa mengikuti. Ternyata mereka tepat berada di tepi telaga di tengah-tengah lebatnya hutan Wanamarta.
Garangan putih itu tampak meloncat ke ranting pohon besar. Tia-tiba keluar asap putih menyelubungi grangan putih itu. Musnahlah hewan sejenis musang itu, terganti wajah dewata yang gagah berwibawa namun separuh badannya adalah ular naga yang besar.
Kunti: Pukulun....siapakah andika...terima kasih telah menolong kami, ibu dan anak dalam perwujudanmu sebagai garangan putih.
Antaboga: Hem..Nini Dewi Kunti pemegang mantra sakti Adityaherdaya...Aku Hyang Antaboga dari Kahyangan Saptapertala. Dai wangsit yang aku terima, menjadi tugasku menuntun kalian keluar dari kesulitan...sekaligus memenuhi keinginan putriku bertemu dengan putramu Bimasena.
Bima: Haaa...Ular besar...jangan sembarangan engkau berucap..sejelek jeleknya aku, aku tidak mau disuruh kenalan dengan ular perempuan anakmu itu...
Antaboga: Hhaha...terserah kamu mau apa tidak...lihatlah dulu anakku ini...Nini.. nini Dewi Nagagini, keluarlah engkau ngger...
Dari balik semak-semak yang menutupi goa tepi telaga itu, keluarlah seorang putri yang cantik sekali, dengan busana kehijauan bermotifkan sisik ular, putri ini mencerminkan keanggunan dan kelembutan yang sempurna... Mata Bima melotot, tiba-tiba dadanya berdebar-debar...mulutnya sedikit menganga...waaah...anak ular kok secantik ini...bagaimana bisa...?
Antaboga: Hhaha...Bima..mengapa lidahmu kelu? Bingung ya kok aku punya anak cantik? Hehehe..aku ini Dewa walaupun Dewanya ular...istriku juga bidadari bernama Dewi Supreti...jadi kalau aku punya anak yang cantik...ya wajar to...?
Kunti: Pukulun..sudahlah, jangan paduka goda anak saya yang bodoh ini...jadi apa maksud pukulun memperkenalkan nini Dewi Nagagini pada anak saya...?
Antaboga: Mungkin sudah takdirnya...anakku jatuh cinta dengan Bima dalam mimpinya dan meminta aku mencarikan kekasih pujaan hatinya...hem...namanya ditangisi anak, aku mencoba bersemedi untuk mencari jawab...siapa lelaki yang disukai anakku...ternyata putramu yang gagah inilah calon mantuku...
Bima yang lugu, tersipu-sipu menjadi topik pembicaraan, dengan bahasa tubuhnya, Arjuna, Nakula dan Sadewa terus menggoda kakaknya...yang membuat Bima hanya bisa mendelik, dan bolak balik tarik nafas.
Dewi Kunti tersenyum melihat suasana yang tiba-tiba senyap. Pandawa dijamu oleh Hyang Antaboga dan Dewi Nagagini.
Dalam kesempatan itu Hyang Antaboga dan Dewi Kunti memberi kesempatan pada dua sejoli itu untuk lebih mengenal satu sama lain. Beberapa hari kemudian, diselenggarakan pernikahan antara Bima dan Dewi Nagagini.
Sanghyang Antaboga berharap, Bima bisa memenuhi harapan Nagagini, sebagai Imam yang baik, panutan yang layak dibanggakan bagi keluarganya.
Pada malam pengantin, saat Bima dan Dewi Nagagini berada di kamar pengantin yang disebut “Pasamiran” cara Bima merayu istrinya lain daripada yang lain. Istrinya yang bertubuh kecil sangat cantik itu diontang-antingkan seperti barang yang akan dilempar.
Inang pengasuh Dewi Nagagini yang melihat kejadian ini segera melapor kepada Hyang Antaboga. Hyang Antaboga terkejut, tidak mengira kalau Bima berperangai kasar kepada istrinya.
Antaboga segera merubah dirinya menjadi ular naga dan memasuki kamar “Pasamiran”. Namun di sana dia mendapatkan anaknya Dewi Nagagini senang dipangku dengan mesranya oleh Suaminya.
Dewi Nagagini yang tahu bahwa ular naga itu adalah ayahnya bertanya mengapa ayahnya memasuki pasamiran. Ular naga itu menjelaskan tentang laporan yang diterimanya dari inang pengasuh Dewi Nagagini.
Dewi Nagagini dengan tersipu-sipu menjelaskan bahwa ia merasa nikmat sekali diayun-ayun oleh suaminya dengan cara diontang-antingkan itu.
Sanghyang Antaboga yang sangat menyayangi anaknya itupun akhirnya mundur dan merubah rupa kembali menjadi manusia. Ia mengelus dada dan tersenyum memikirkan ulah anak dan mantunya.
Beberapa bulan tinggal di Kahyangan Saptapertala, keluarga Pandawa lain di luar Bima, mulai merasa bosan dan ingin kembali ke Panggombakan., Dewi Kunti segera menemui Hyang Antaboga.
Kunti: Pukulun, sudah cukup lama kami di sini...rasanya sudah cukup aman bagi kami kembali ke Kasatriyan Panggombakan... atas seijin paduka..biarlah Nini Dewi Nagagini mengikuti suaminya bersama kami pukulun...
Antaboga: Aah...Dewi Kunti...anakku masih hamil muda, tentu lebih aman baginya tinggal bersamaku di sini...lagipula...sudah aku putuskan Nagagini aku persiapkan untuk tetap berada di Saptapertala ini bersama aku dan ibunya...
Kunti: Duh pukulun...mohon kebijaksanaan paduka...Bima anakku masih muda, jika dia dipisahkan dari istrinya, bagaimana masa depannya nanti pukulun...
Antaboga: Kunti...dari penglihatan bathinku...Bima adalah Ksatria utama yang tenaga dan kesaktiannya sangat dibutuhkan untuk memayu hayuning bawana....aku mempertahankan anak perempuanku di sini...bukan berarti kami menjerat pengabdian Bima untuk dunia... anakku tengah menantikan kelahiran buah kasihnya dengan Bima.... Maka...bersama langkahmu dan keluargamu...aku ijinkan Bima meneruskan kehidupannya...dia boleh menikah dengan gadis lain yang akan menurunkan putra-putra yang hebat...kelak, sesuai takdirnya Bima akan awet bersama seorang ratu yang bijak...menantumu yang terakhir...
Tak ada tangisan pilu dari Nagagini saat Bima pamit meninggalkannya bersama keluarga Pandawa...
“Jangan ragu suamiku...aku ikhlas melepaskanmu, karena demikianlah yang tercatat dalam perjalanan hidupku...aku adalah persinggahanmu untuk lahirnya seorang ksatria perkasa... aku tahu engkau suami yang setia dan tidak berpaling dariku...tetapi kanda Bima engkau adalah ksatria penghancur kebathilan, engkau masih harus mencari jatidirimu...dan itu tidak bisa dihalang-halangi oleh seorang Nagagini...pergilah suamiku sayang...lengkapilah dharma hidupmu di masa depan.”
Keluarga Pandawa pamit pada Hyang Antaboga, Bathari Supreti dan Dewi Nagagini.. mereka melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan Nakula-Sadewa menangis karena kelaparan.
“Bima dan Arjuna, pergilah kalian kekanan dan kekiri sampai kalian temukan makanan untuk adik-adikmu dan kita semua. Jika sudah kalian dapatkan, ceritakan bagaimana cara kalian mendapatkan makanan itu...Ibu akan menentukan makanan mana yang layak untuk adikmu, dan nanti sisanya untuk yang lain.”
Bima dan Arjuna segera berangkat sesuai permintaan ibunya. Saat di tengah hutan, Bima bertemu resi Hijrapa yang menangis berpelukan dengan istri dan anak-anaknya.
Bima: Hoooeyyy pertapa...apakah doa dan keikhlasanmu tidak bisa membawa damai...hingga engkau harus tersedu seperti itu.
Hijrapa: Ksatria gagah...mampukah seorang ayah menahan dukanya saat dia harus mengantarkan anak sulungnya sebagai mangsa denawa? Siapakah engkau?
Bima: Hem..aku Bima panenggak Pandawa...mengapa anakmu harus dijadikan mangsa denawa...?
Hijrapa: Bima, raja kami Prabu Budawaka atau Dawaka atau prabu Baka...adalah raja yang doyan makan daging manusia... dan hari ini giliran anak sulungku menjadi mangsanya..Aku tidak mampu melawannya Bima...
Bima: Kalau begitu, bawalah aku..akuilah aku sebagai anak sulungmu...
Resi Hijrapa membawa Bima ke hadapan Prabu Dawaka dan mengakuinya sebagai anak sulungnya, sang Prabu gembira melihat perawakan Bima yang tinggi besar..”Huahahaha...bakal kenyang aku makan anak muda ini...huahahahaha...”
Tawa Dawaka terhenti dan tercekat di tenggorokan karena ketika mulutnya menganga lebar untuk menggigit tengkuk Bima, dengan gesit bima menghindar, memiting dan memuntir lehernya...secepat kilat kuku pancanaka Bima menghujam tenggorokan Dawaka. Raja yang kejam itu tewas seketika. Dengan kesaktiannya Bima mengobrak abrik kerajaan Manahilan hingga segenap senopati dan panglima takluk serta menyerah padanya.
Resi Hijrapa sangat berbahagia medapat pertolongan Bima, ditanyakanlah pada Bima apa permintaannya yang pasti akan diturutinya. Dengan polos Bima hanya meminta dua bungkus nasi untuk adik-adiknya. Resi Hijrapa terharu mendengar keluguan dan kesederhanaan Bima, diberikannya permintaan Bima disertai janji, bahwa kelak dia dan keluarganya sanggup menjadi tumbal Pandawa saat peperangan besar Baratayudha. Sebagai seorang resi,..Hijrapa memiliki pandangan jauh ke depan dan siap mengorbankan dirinya untuk kebajikan.
Saat sampai di tempat peristirahatan ibu dan saudara-saudaranya, Bima melihat Arjuna telah berada di samping ibunya dengan beberapa bungkus makanan. Bima menyerahkan dua bungkusan makanan itu kepada Dewi Kunti dan menceritakan bagaimana usahanya mendapatkan bungkusan makanan itu. Dewi Kunti menepuk-nepuk bahu Bima untuk menunjukkan kebanggaannya...nasi bungkus dari Bima diserahkan pada Nakula dan Sadewa, sabdanya, “Anak-anakku..nasi yang didapatkan Bima dengan perjuangan dan keringat, tetapi dihiasi kejujuran tanpa pamrih berlebihan aku serahkan pada Nakula dan Sadewa...semoga memperkuat batin kalian, membersihkan watak-watak manja dan enggan berbuat..karena sesungguhnya, seorang ksatria akan mendapatkan kenikmatannya melalui keringat dan perjuangannya. Arjuna mari kita bagi nasi yang engkau dapatkan dari penduduk yang engkau minta dengan kelembutanmu...untuk makan ibu, kakak-kakakmu dan engkau...karena saat usia kita bertambah dewasa, bukan lagi kekuatan ragawi yang kita unggulkan, tetapi kemampuan wicara, kebijaksanaan dan ketulusan...Anak-anakku mari kita nikmati makanan siang ini.”
Dewi Kunti menikmati makan bersama anak-anaknya dengan penuh kebahagiaan, walau duduk bertelekan akar pohon di tengah hutan belantara.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


