Selasa, 5 Mei 2026
Sastra & Humor
Puisi

Pulang Kampung

Jumat, 25 Maret 2016

Aku rindu kampung halaman. Ingin pulang ke sana. Arah mana
yang harus aku tuju? Mata batinku silau sudah oleh warna-warni
kehidupan kota besar. Telingaku tidak lagi bisa menangkap wirid
rerumputan sebab selalu dibuai oleh nyanyian dara tujuh belas
tahun, yang membuat aku mabuk dan tersungkur di ranjang
Dewi Durga segelap palung syahwatnya. Sungguh aku rndu
kampung halaman, yang bila gelap malam tiba, aku dengar suara
anak-anak mendaras Alquran di surau pinggir kolam. Dalam
hening aku dengar suara air pancuran atau suara serangga malam
yang semua itu adalah dzikir alam, menghasut hatiku pulang;
merindu kampung halaman.

Di sini di dalam kamar hotel bintang lima, aku ditemani sebotol
minuman ringan juga acara televisi yang membosankan. Sesekali
aku terima telepon atau sms dari pacar gelapku, yang entah ada
di mana. Hmm, apa yang terjadi dengan semua ini? Malaikat
bersayap tujuh atau sembilan kadang aku impikan datang;
menjemput diriku pulang ke kampung halaman, yang dirindukan
para nabi dan orang suci. Tapi aku, sungguh bukan orang suci.
Aku serupa anjing kudisan, yang mengais-ngais sampah di sebuah
tempat yang jauh. Ah. Rindu itu sungguh menghasut hatiku,
membawa aku pulang kepadaMu. Kau yang bebas dari
kehancuran

2010

Soni Farid Maulana - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya