Antareja
KISUTA.com - Awan bergulung, dengan tiupan angin bak pusaran, satru wana berlarian seakan tahu musibah sedang mengintip. Tersebutlah negri indah di lereng Himalaya, Bantalatelu atau Jangkarbumi, dengan rajanya yang sakti Prabu Nagabaginda.
Prabu Nagabaginda berwujud manusia dengan kepala naga, yang mampu merubah dirinya (Tiwikrama) menjadi Naga Raksasa. Di masa mudanya, Nagabaginda adalah saingan Antaboga dalam memperebutkan gelar “Sanghyang” dewa ular. Namun olah kebathinan dan pengendaliaan wataknya kalah dengan Antaboga, sehingga gelar Dewa Ular diberikan Bathara Guru pada Antaboga. Kekecewaan berikutnya adalah ketika Bathari Supreti yang cantik dan lembut, diserahkan kepada Antaboga sebagai istri sang Dewa Ular. Nagabaginda ngamuk. Dia berusaha merebut Supreti dari Antaboga, namun dapat dikalahkan oleh sang Dewa Ular.
Sejak kekalahan tersebut, Nagabaginda mesu diri, dia bertapa dan terus berlatih olah kanuragan untuk meningkatkan kesaktiannya.
Hari ini tepat 40 tahun tapa bratanya, kesaktiannya meningkat dengan tajam, Wisa Agni yang dimilikinya kini memiliki titik didih bisa melelehkan besi baja, hantaman tangan dan kakinya akan menghancurkan bukit karang. Nagabaginda juga punya kemampuan terbang dan memiliki kekuatan belitan untuk meremukkan apa saja.
Nagabaginda bangun dari tapanya, dengan gelegak dendam yang ingin dituntaskannya. Dipanggilnya Patih Wisasarpa, yang selama ini mewakilinya memimpin kerajaan.
Nagabaginda: Hueii Wisasarpa...jangan enak-enak duduk sambil ngorok, hayooo siapkan wadyabala, kita serbu Saptapertala, ambil Bathari Supreti calon permaisuriku...bunuh si Antaboga ular tua itu...
Wisasarpa: Ooo..sabar...sabar sang Prabu, paduka baru bangun dari tapa...cobalah redakan amuk di hati Paduka...mengapa selalu hanya Bathari Supreti yang paduka kejar... masih banyak Bathari cantik-cantik yang masih segar-segar di Suralaya...carilah yang lain, jangan istri orang...
Nagabaginda: Ngga peduli istri orang..kalau aku cinta dia mau apa? Huh...aku juga lebih ganteng dari Antaboga..aku yakin kalau Supreti ketemu aku..pasti dia mengenang masa-masa indah kami memadu asmara di masa muda...cintaku awet Patih..walau dia sudah jadi istri orang, ya ngga papa aku sampaikan cintaku padanya...siapa tahu akhirnya dia mau sama aku...
Wisasarpa: Haduuhh..amit-amit Gusti...jangan lanjutkan kesesatan paduka itu...carilah yang masih bebas..hindari cari perkara...dulu saja paduka sudah kalah sama Hyang Antaboga, apa mau diulangi peristiwa memalukan itu?
Nagabaginda yang brangasan akhirnya bisa diredakan oleh patih Wisasarpa, dengan janji.. dipinangkan kembaran Bathari Supreti yang bernama Bathari Suparti yang masih bersemayam di Jonggringsaloka bersama para bidadari lain.
Merasa persiapannya sudah matang, rombongan utusan ini berangkat ke Kahyangan Jonggringsaloka. Mereka ditemui oleh Batara Narada, yang menjelaskan bahwa tidak ada bidadari yang diperuntukkan Prabu Nagabaginda. Solah Tingkah dan perwatakan Nagabaginda tidak sesuai untuk didampingi bidadari. Batara Narada mempersilahkan Patih Wisasarpa kembali pada rajanya dan mencarikan jodoh Nagabaginda dari golongan mereka sendiri atau putri manusia yang mau diperistri.
Patih Wisasarpa tidak terima dengan arahan Narada, terjadilah peperangan.
Batara Brahma mengawali dengan mantra giri pawakanya, Batara Indra dengan kalajaksanya, Batara bayu dengan angin sakti. Pasukan Bantalatelu kocar-kacir menerima sapuan para dewa. Perlawanan Patih Wisasarpa dengan ajian wisa sardulanya kalah dengan Batara Bayu yang menggunakan ajian Bayu Rotra.
Kekalahan Patih Wisasarpa membuat Nagabaginda marah besar dan mengobrak abrik Kedewatan. Batara Guru yang faham dengan kemarahan Nagabaginda dengan mantra saktinya mengangkat tinggi Kedewatan hingga tidak dapat dijangkau oleh Nagabaginda.
Dari wangsit yang diterimanya, Batara Guru tahu tidak ada yang dapat mengalahkan Nagabaginda selain cucu Anantaboga, yang masih ada dalam kandungan Dewi Nagagini. Maka diutuslah Batara Narada, Batara Brahma, Batara Bayu dan Batara Indra turun dari kahyangan untuk menuju ke istana Saptapertala tempat bersemayamnya Sanghyang Antaboga.
Di Saptapratala Dewi Nagagini baru saja melahirkan seorang bayi dari perkawinannya dengan Bima yang diberi nama Bimasunu. Oleh para duta dewa bayi ini dimandikan air suci hingga seketika badannya menjadi besar. Setelah itu Sanghyang Antaboga melumuri seluruh badan cucunya dengan air liurnya yang membuat Bimasunu kebal terhadap senjata.
Bimasunu segera dibawa para duta dewa ke Suralaya sebagai jagoan para dewa menghadapi Nagabaginda.
Nagabaginda: Bojleng-bojleng iblis laknat pada gegojegan,heih anak muda..siapa engkau? Ke mana pada dewa itu? Anak kemarin sore disuruh menghadapi aku..huh.
Bimasunu: Naga lepus..tidak usah sesumbar, hadapilah aku Bimasunu, anak Nagagini, cucu Hyang Antaboga...
Nagabaginda: Wuiih kurang ajar..cucu si peyot Antaboga...yah, sebelum kakekmu aku binasakan, engkau dulu yang mati di tanganku...Yiiiaaah...
Nagabaginda menyerang Bimasunu, terjadi pertarungan yang hebat diantara keduanya. Ternyata dari lahir Bimasunu memang sudah membawa kesaktian yang hebat, tubuhnya licin dan gesit, dengan air liur Hyang Antaboga tubuh Bimasunu juga kebal senjata dan racun. Nagabaginda mulai kewalahan, dengan menjejakkan kakinya mengerahkan seluruh sisa tenaganya Nagabaginda berniat menyergap Bimasunu untuk serangan terakhir... Bimasunu waspada, segera dia amblas bumi saat sang Nagabaginda melenting...Bimasunu muncul kembali didekat bekas pijakan Nagabaginda... cerukan bekas telapak kaki itu dia jilat dengan Upas Dahananya.... Di Udara Nagabaginda memekik...”Aaarrghhhhccchhh... terdengar bunyi berkeretak...tubuh Nagabaginda dimulai dari misai-misai dan sisik-sisiknya mulai membiru, dan akhirnya seperti hangus terbakar...jatuh tak bernyawa ke bumi. Itulah kehebatan Upas Dahana Bimasunu, yang akan membunuh lawannya, hanya dengan menjilat bekas telapak kakinya.
Akhirnya Prabu Nagabaginda dapat dibinasakan oleh Bimasunu, sebelum menitis kepada Bimasunu, Nagabaginda menyerahkan negara Jangkarbumi, dan Bimasunu dinobatkan di kerajaan Jangkarbumi bergelar Prabu Antareja.
Suatu hari Antareja mengutarakan keinginannya mencari Bapaknya pada ibunya...
Nagagini: Sabarlah anakku, belum saatnya engkau bertemu ayahmu..yang sekarang juga masih menjalani tapa bratanya. Selesaikan dulu pendadaranmu sebagai pemimpin. Antareja anakku, sebagai Rajamuda Jangkarbumi, engkau adalah pemimpin negri ini, sudahkah kau pegang kautaman seorang pemimpin Nak?
Antareja: Apa itu ibu?
Nagagini: 9 Kautaman pemimpin adalah Jujur, Berani, Tegas, Cakap, Teguh, Adil, Bijaksana, Cerdas, Sehat...
Antareja: Hem...banyak sekali...uraikan satu demi satu ibu, supaya jelas bagiku...
Nagagini: Pemimpin itu harus Jujur anakku..satunya hati dan perbuatan..satunya lahir dan batin...jika seorang pemimpin mendustai orang yang dipimpinnya..bayangkanlah, kehormatan seperti apa yang dibangun di atas dusta? Hati-hatilah dengan kejujuran ini Nak, jangan mainkan kekuasaanmu untuk mendustai kejujuranmu.
Antareja: Hem..aku memang tidak suka berbohong...aku suka apa adanya..semoga tidak susah bagiku menjadi jujur.
Nagagini: Bagus anakku...yang kedua Berani...sebagai ksatria utama dan seorang pemimpin, engkau harus punya keberanian untuk menentukan sikap, menghadapi bahaya, melindungi mereka yang engkau pimpin dan mempertahankan kebenaran. Jangan terombang ambing dalam keraguan, yang akan membuatmu lemah seperti pengecut...ingat anakku, ketenangan dan kebahagiaan mereka yang engkau pimpin karena rasa aman di bawah perlindunganmu, akan memperkuat kharismamu sebagai pemimpin sejati...
Antareja: Ya ibu..tidak ada yang bisa membuatku takut untuk mempertahankan kebenaran...jangan kuatirkan itu...
Nagagini: Berikutnya adalah Tegas...artinya jelas, terang, benar dan pasti.. seorang pemimpin harus bisa menunjukkan bahwa keputusannya memang didasarkan suatu hal yang sudah pasti, benar, terang dan jelas...jangan biasa main patpat gulipat..sembunyi-sembunyi seperti laku duratmoko, pengecut dan maling.. tunjukkan sikap ksatriamu..katakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah.. jangan tergoda untuk memainkan keadaan karena busana kekuasaanmu...
Antareja: Ya ibu..aku akan jaga itu, karena akupun muak dan benci dengan manusia yang busuk dan palsu seperti itu.
Nagagini: Anakku sayang, pemimpin juga harus Cakap.. punya kemampuan, mahir, tangkas, cekatan. Semua didasarkan atas perhitungan yang cermat, untuk keberhasilan yang akurat. Pemimpin tidak boleh sembarangan, grusa grusu, sembrono berbuat yang akhirnya malah mencelakakan rakyat yang dipimpinnya...
Antareja: Untuk yang ini, aku masih harus terus belajar bersama eyang dan ibu.
Nagagini: Tentu anakku..karena itulah pahami dulu pendadaranmu ini, tidak perlu tergesa-gesa mencari ayahmu..Antareja seorang pemimpin juga harus Teguh. Tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Teguh itu harus menyatu antara tindakan, nilai dan prinsip. Seorang memiliki keteguhan jika tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya. Bukan orang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Pemimpin yang teguh bukan manusia dengan banyak wajah dan penampilan yang disesuaikan dengan kepentingan pribadinya. Keteguhan menjadi watak kunci bagi seorang pemimpin. Pemimpin yang teguh dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi tindakannya.
Antareja: Sungguh tidak mudah menjadi pemimpin ibu...
Nagagini: Benar Nak, karena itu tidak layak hanya untuk pamer dan kebanggaan saja...seorang Pemimpin juga harus Adil...tahu kemampuannya dan bagaimana mengalirkan kemampuan itu untuk tanggung jawabnya. Tidak berat sebelah, tidak memihak, tidak pilih kasih...bodoh sekali jika kemampuanmu untuk memenuhi tanggung jawab saja belum becus...sudah kamu gunakan saranamu untuk hal lain hanya untuk mendapat pujian lain..Ooo anakku itu tindakan yang picik dan tidak adil, bagi orang-orang yang butuh tanggung jawab utamamu engkau penuhi dulu. Berikutnya adalah Bijaksana. Engkau harus menggunakan akal budimu, hidupkan nuranimu, biarlah memancar berkat Hyang Widi Wasa yang akan menuntunmu dalam kebenaran lakumu...
Antareja: Hem...semoga aku punya kepekaan untuk itu Ibu...
Nagagini: Harus anakku..karena itu olahlah bathinmu, gentur tapamu..jangan hanya makan, minum dan tidur membuang waktumu..selanjutnya seorang pemimpin harus Cerdas. Anakku orang pintar belum tentu cerdas, sebaliknya orang cerdas tidak selalu pintar. Pintar berkaitan dengan kemampuan otak dalam berpikir, sedangkan cerdas tidak hanya kemampuan berpikir, tetapi juga dipadukan dengan hati nurani dan kemampuan bathinnya. Pandai membaca situasi dan bijak mencari jalan keluar setiap masalah.
Antareja: Ya..ya..Ibu, sudah ada 8 lalu apa yang ke 9 ibu...?
Nagagini: Yang terakhir anakku..Pemimpin itu harus Sehat, jasmani dan rohani... percuma saja semua kautaman tadi engkau miliki, kalau jasmanimu lemah.. tetap saja orang akan mudah menggulingkanmu. Demikian juga kalau rohanimu yang lemah...Aah sungguh tak layak menjadi pemimpin.
Antareja begitu bangga memiliki ibu seperti Nagagini..ibu yang tegar, cantik, anggun dan bijak...Rasa penasarannya untuk bertemu ayahnya dan mengenal lebih dekat seperti apakah ayahnya untuk sementara tertahan karena arahan ibunya....diam-diam Antareja melamunkan ingin mendapatkan pendamping sesempurna ibunya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


