Batu Nisan
Magrib belum tiba memang, tapi cahaya di luar sana remang
sudah. Seremang itukah cahaya di parasmu, mendaras mukaku.
Bila laut berdebur seperti suara yang bangkit dari alam kubur, saat
itulah, bintang berekor dari arah timur jauh menyeret ingatanku
akan dirimu, yang dulu pernah berkata, aku mencintaimu. Tapi
apa artinya dulu dan kini --bila dalam gelap-- kilau matamu
masih menyimpan getar, semacam debar, dan burung-burung
Attar kembali terbang menyusur alur takbir, alun dzikir.
Kekasihku, antara batu nisan, aksara purba dan lumut hijau di
sela akar pohonan; maut yang cerlang menungguku di situ, seiring
gelombang doa sapu jagat diucap para jamaah di rumahNya yang
purba, bergetar hingga ke langit jauh, hingga ribuan berhala
runtuh dalam hatiku.
2011
Soni Farid Maulana - kisuta.com


