Halimun Biru
disungkup halimun biru, rumah demi rumah di lembah serupa
barisan pekuburan. Tak ada suara musik, atau suara orang
melintas ruang; selain desir angin dan risik dedaunan di
tangkai pohonan. Dalam hening aku mendengar denyut
jantungmu begitu lelah, seperti detik jam dengan baterai yang
lemah. Dari atas bukit ini, di sebuah kafe yang lengang; --aku
mencari hangat matahari dalam sorot matamu. nyala rokok
yang kau hisap, berpindah tempat; dari bibirmu yang mungil
ke dalam asbak; --asapnya mengepul, menyatu dalam kelam,
dalam hidup yang muram. "Semula aku mengira, hidupku tak
serumit ini dalam kisahmu. Sungguh, kau serupa mayat yang
membusuk dalam hatiku," katamu. Suaramu yang lembut
menggelegar dalam kepalaku, serupa ledakan bom
menghancurkan hotel bintang lima di Jakarta dan kota-kota
tak terduga, siit incuing ngear di batinku. Matamu seketika
tampak suram maut dan detik jam bersarang dalam nadiku.
Angin. Angin sungguh dingin di situ, membunuh segala lagu
dalam ingatanku. Dan kau membisu di sisiku.
2005
Soni Farid Maulana - kisuta.com


