Sayembara Drupadi
KISUTA.com - Senja temaram di taman Pancalaradya, permaisuri Gandawati terlihat bersinar dengan keanggunan kecantikannya. Tanpa sadar Prabu Drupada membelai bahu istrinya dengan penuh kasih.
Drupada: Gandawati istriku sayang, tak puas-puasnya kanda memandang kecantikan adinda...tetapi, senja ini aku lihat wajahmu sedikit muram ada apa istriku...?
Gandawati: Maafkan aku kanda...kita sudah mempunyai 2 anak, Drupadi dan Drestajumena. Tetapi kedua anak kita itu adalah anak pujan...hasil dari puja semedi. Drupadi muncul dari api pemujaan dan Drestajumena dari asapnya..Ooo kanda, jangan salah mengerti. Bukan berarti aku tidak mencintai anak-anak kita...aku menganggap mereka tetaplah anak-anakku walau tidak lahir dari rahimku...
Drupada: Ya..ya..diajeng, trus apa yang membuatmu tampak muram...?
Gandawati: Kanda...Dewata Agung telah mengkaruniakan kehamilan padaku, berarti kita memiliki kesempatan memiliki anak secara normal kanda...sejalan dengan kehamilan ini.. aku merasakan kerisauan untuk anak yang aku kandung kanda...
Drupada: Gandawati...singkirkan kerisauanmu...terimalah dengan syukur karunia Dewata Agung ini dinda...Jagalah kandunganmu, kalau diajeng berpikiran tidak tenang tentu akan membawa pengaruh pada jabang bayi yang dinda kandung...
Gandawati: Duh kanda, andai dinda mampu menyingkirkan kerisauan ini...kanda..Drupadi dan Drestajumena kanda pujan, dari dendam kanda pada Bambang Kumbayana...hingga, kelahiran mereka seakan membawa tujuan hidup melunasi dendam..Oooh kanda betapa seramnya...semalam, adinda bermimpi, anak yang sedang dinda kandung ini, juga akan menjadi duta pelunasan dendam oooh kanda...(Gandawati menangis terisak)
Drupada (mendekat memeluk dan mengelus-elus rambut istrinya): Dinda Gandawati mungkin itu hanya permainan perasaanmu saja...maafkan kanda, karena begitu besarnya dendam kanda pada Kumbayana yang menghinaku...aku sampai mesu diri di sanggar pamujan memohon Dewa memberikan keturunan yang bisa membantuku melunasi dendamku...lahirlah Drupadi dan Drestajumena...Oo dinda, jangan berlarut larut, bayang-bayang bahwa anak kita menjadi duta pelunasan hutang...sepertinya hanya bayang-bayang yang terbawa oleh kelahiran Drupadi dan Drestajumena...tenangkan hatimu istriku...tidak ada lagi dendam lain yang harus dilunasi...jabang bayimu akan lahir dan tumbuh normal tanpa bayang-bayang dendam masa lalu...
Suara jengkerik dan nyanyian katak, mulai menyatu dengan desir angin di sela dedaunan. Prabu Drupada membimbing istrinya memasuki bilik, karena udara mulai terasa dingin...
Di antara mega-mega berarak, sukma Dewi Amba yang membawa “Kalung Sangkara”, sampai di atas langit Pancalaradya....malam mulai larut, Prabu Drupada keluar dari peraduannya menuju ketaman. Percakapan dengan istrinya senja tadi, mulai mempengaruhinya, Drupada gelisah, dia perlu keheningan untuk menentramkan diri.
Melihat raja agung itu sedang termangu sendiri sukma Dewi Amba menghampirinya.
Dewi Amba: Salamku wahai Raja Agung Drupada...
Drupada: Jagad Dewa Bathara...engkau bukan lagi manusia utuh, wujudmu samar bayang-bayang gadis jelita yang penuh duka...wahai sang Dewi, sukma siapakah ini?
Dewi Amba: Aku Amba, putri sulung raja Giyantipura...
Drupada: Aah, Dewi Amba? Ayunda Dewi Ambika dan Ambalika, menantu Hastinapura?
Dewi Amba: Benar sekali sang Prabu...aku Amba yang tersingkirkan...pertunanganku dengan raja Citramuka dari Swantipura dibatalkan karena Bhisma yang Agung memenangkan sayembara, dan kami bertiga menjadi putri boyongan di Hastinapura. Tetapi, sesampai di Hastinapura ternyata Bhisma wadat, membuat nasibku terkatung-katung hingga ajalku....Ooo raja yang agung...aku merasakan dirimu juga menyandang dendam yang hebat...biarlah kutitipkan sakit hatiku pada Bhisma...kenakan Kalung Sangkara ini...yang aku dapatkan dari Sangkamuka putra Dewa Sangkara...siapapun yang sanggup memakai kalung ini, dia akan menjadi lantaran terlunasinya hutang patiku pada Bhisma...
Drupada: Aaah Bhisma yang Agung? Jangan sang Dewi... hubunganku dengan Bhisma sangat baik, aku sangat mengagumi dan menghormati beliau. Sang Dewi, jangan pelihara dendammu..tentu Bhisma tidak sengaja membuatmu perlaya....dan beliau jujur, karena sampai sekarangpun beliau masih wadat Brahmacarya...sumpah tidak menikah seumur hidup...
Dewi Amba: Hhmm..jujur? Terhormat? Dari sudut mana engkau melihat wahai raja perkasa?Sebelum Bhisma datang, aku sudah punya tunangan. Dia kalahkan tunanganku, hingga aku jadi putri boyongan. Tapi sesampainya di Hastina, aku tertolak karena sumpahnya. Adilkah itu buatku? Terhormatkah aku...?
Drupada tetap menolak permintaan Sukma Dewi Amba untuk memakai Kalung Sangkara, akhirnya dengan kecewa Sukma Dewi Amba melemparkan kalung itu ke atas wuwungan Sitihinggil Pancalaradya, dan menghilang dari hadapan Prabu Drupada.
Tanpa disadari oleh Drupada, perjumpaannya malam itu dengan sukma Dewi Amba, adalah awal garis merah dendam lain yang akan tersandang pada jabang bayi di gua garba Dewi Gandawati.
Waktu bergulir demikian cepat, Permaisuri Gandawati telah melahirkan seorang putri yang cantik diberi nama Dewi Wara Srikandi. Di tengah kebahagiaan memiliki putri bungsu, Prabu Drupada mengumumkan ke seantero negeri bahwa putri sulungnya yang sudah remaja, Dewi Drupadi akan dibukakan sayembara untuk mencari menantu.
Drupada menambahkan persyaratan khusus pada sayembara itu, yaitu...para peserta sayembara haruslah Raja Muda dari sebuah kerajaan, atau paling tidak Pangeran Pati (Putra Mahkota) suatu kerajaan. Drupada sengaja membatasi kriteria peserta sayembara, karena tujuannya memang memiliki menantu yang punya kekuasaan, agar tujuannya melunasi dendamnya pada Durna..Bambang Kumbayana sang Guru Besar Hastinapura bisa terlaksana.
Raja-raja muda 1000 negara menyambut pengumuman sayembara memperebutkan Dewi Drupadi dengan antusias. Dewi Drupadi terkenal sebagai putri jelita yang bijaksana. Suaranya merdu, dan kemampuannya bertutur terkenal ke seantero negri. Bagi raja-raja itu, memiliki Drupadi sebagai permaisuri adalah jaminan makin kuat dan kokohnya suatu negeri. Dewi Drupadi mendapatkan pengajaran kesusastraan dan tata negara dari Bathari Lokati yang bijaksana, bidadari pendamping Bathari Saraswati sang Dewi ilmu pengetahuan. Karena itulah kecerdasan dan kepandaian Dewi Drupadi diakui negara-negara sekitarnya.
Di Perdikan Ekacakra pinggir hutan Wanamarta, Dewi Kunti tengah berhadapan dengan Para Putra Pandawa.
Kunti: Anak-anakku, apakah kalian tidak mendengar bahwa Pancalaradya telah membuka sayembara memperebutkan putri mahkotanya Dewi Drupadi, bagaimana anak-anakku, tertarikah kalian mengikutinya?
Bima: Hooeyyy, Ibu...aku sudah punya istri cantik dan pandai...yang terpaksa harus aku tinggalkan, karena dia tidak boleh keluar dari kahyangan bapaknya..aku belum minat cari istri lagi Ibu...
Kunti (tersenyum melihat kepolosan Bima): Ya Bima, tentu bukan untuk kamu...aku malah berpikir, apa tidak sebaiknya kita carikan jodoh bagi Yudistira kakakmu...
Arjuna: Saya setuju ibu...sebagai putra sulung, sudah sepantasnya kakanda Yudistira memiliki istri terlebih dahulu...ini malah sudah kesalip kanda Bima...
Bima: hei Jlamprong, sembarangan kamu..siapa menyalip? Aku selalu menghormati kakang Yudistira...kalau Nagagini hanya mau jadi istriku..apa itu menyalip?
Arjuna (tersenyum menggoda Bima): Ya menikah mendahului kakak sulung itu menyalip namanya kanda Bima...
Yudistira: Sudahlah yayi Arjuna...memang sudah takdirnya yayi Bima mendapatkan jodohnya terlebih dahulu...tidak masalah bagiku. Kanjeng Ibu, terima kasih atas perhatian Ibu, tetapi kita masih hidup prihatin di hutan, apakah layak bagi saya meninggalkan Ibu dan si kembar untuk mengikuti sayembara...
Bima: Hem..tidak usah Mbarep kakangku yang mengikuti sayembara, biarlah aku dan Jlamprong yang akan mewakilimu membawa Drupadi sebagai istrimu...
Akhirnya disepakati bahwa Bima dan Arjunalah yang mewakili keluarga Pandawa mengikuti sayembara itu. Mereka berdua berangkat ke Pancalaradya menyamar sebagai 2 brahmana. Keselamatan Kunti dan si Kembar Nakula Sadewa ada di bawah pengawasan Yudistira di Ekacakra.
Sementara itu di Kerajaan Pancalaradya, para ksatria mencoba peruntungan untuk menyunting bunga kerajaan Panchala termasuk Duryudana dari Hastinapura, Raden Seta dari Wirata, Burisrawa dari Mandaraka, Sisupala dari Chedi dan Jarasandha dari Maghada.
Sayembara pertama yang harus dilewati adalah mengangkat busur pusaka yang sangat berat, kemudian membidik sasaran berupa burung yang tergantung di belakang roda cakra yang berputar tanpa henti. Tepat di tengah cakra terdapat lubang yang hanya dapat dilalui oleh satu buah mata atau satu anak panah. Baru pada babak awal ini, semua menemui kegagalan.
Tiba-tiba naiklah seorang teruna rupawan ke atas panggung dengan baju yang sangat sederhana, membawa anak panah. Teruna ini mendekati gendewa pusaka kerajaan yang gagal diangkat para ksatria dan raja-raja muda. Aneh bin ajaib dengan ringan gendewa itu bisa diangkat sang teruna, kemudian diselipkannya anak panah dan gendewa segera dipentang ke sasaran.
Prabu Drupada terperanjat melihat kejadian itu, sang Prabu kecewa, walaupun terlihat tampan, tetapi baju sang teruna menunjukkan dia berasal dari kasta sudra. Sang Prabu berseru, “Heiii turunlah anak muda, engkau tidak boleh mengikuti sayembara yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan ksatria ini.” Prabu Drupada berteriak-teriak mencoba menghentikan anak muda itu...tetapi dengan tenang dan senyum menawan.. anak muda itu tetap menarik busur anak panahnya...
Syuuuuttttttzz......cleeesszh...anak panah melesat dari gendewa sakti, berdesing melewati roda cakra yang berputar.....burung sriti yang ada di sangkar berputar di belakang roda cakra yang juga berputar itu tiba-tiba terkulai...mati !! lehernya telah tertembus anak panah anak muda rupawan itu...
Gempar alun-alun istana Pancalaradya, tepuk tangan gegap gempita terus membahana...
Prabu Drupada murka...betapa nekadnya anak muda ini.
Drupada: Hei anak muda, siapa kamu? Panahmu itu tidak sah karena engkau dari kasta Sudra tidak berhak mengikuti sayembara yang hanya untuk kasta Ksatria atau Brahmana ini.
Karna: Sang Prabu...mengapa harus engkau bedakan hak untuk mendapatkan putrimu itu...lihatlah, bukankah anak panahku berhasil menembus leher burung sriti yang menjadi sasaran sayembara ini? Aku Karna, anak sais Adirata dari Hastinapura...
Drupada: Hah...hanya anak kusir? Hem...tidak bisa begitu...ini hanya untuk kaum ksatria.. tahu dirilah kamu anak muda...
Duryudana: Paman Prabu Drupada....Karna memang anak Sais Kami Demang Adirata.. tetapi mulai detik ini dia juga kaum ksatria, karena sebagai pangeran pati Hastinapura.. saya tunjuk Karna, sebagai Adipati di Tlatah Awangga...jadi...dia adalah Adipati Karna...
Gegap Gempita tepuk tangan hadirin mendengar pengumuman pembelaan Duryudana untuk mengangkat kehormatan Karna. Karna memandang Duryudana dengan sinar mata penuh rasa terima kasih. Inilah awal persahabatan Karna dan Duryudana yang melintas batas hubungan bersaudaraan.
Saat Drupada termenung dalam kekecewaan atas pengumuman Duryudana untuk Karna... di atas panggung naiklah 2 brahmana muda, satu brahmana berwajah tampan dan satu brahmana berbadan tegap gagah tinggi besar.
Arjuna: Paman Drupada, mohon dipasang lagi sasaran untuk sayembara panah, saya dari kasta brahmana mencoba menjadi penengah, untuk mematahkan kesombongan anak muda ini.
Arjuna mengatakan hal ini karena terpicu keinginan untuk mengalahkan dominasi anak muda yang baru saja memenangkan sayembara panah tersebut. Tanpa sadar, inilah saat dimulainya persaingan Arjuna vs Karna, 2 anak Kunti yang terpisah jarak nasib.
Arjuna menghampiri Gandewa pusaka yang sudah diletakkan Karna di tempatnya. Sama seperti Karna yang begitu ringan mengangkat gendewa pusaka tersebut. Harjunapun dapat mengangkat gendewa itu dengan mudahnya. Dipasangnya sekaligus 3 anak panah di gendewa tersebut...semua mata memandang gerak gerik brahmana tampan ini...
Syuuuuttthhhzz....clep...clep....blesh...
Semua berdecak kagum....Proses yang sama dengan Karna saat memanah burung Sriti di dalam sangkar berputar, di belakang roda cakra berputar....Arjuna juga tepat mengenai sasaran, hebatnya lagi 3 anak panah yang dilepaskan berdesing saling membelah satu sama lain tepat di titik sasaran. Anak panah pertama tepat menembus leher burung sriti, anak panah ke 2 membelah anak panah pertama dan anak panah ketiga membelah anak panah kedua...
Kembali alun-alun Pancalaradya seakan pecah oleh sorakan , tepuk tangan dan teriakan penonton yang menyatakan kekaguman pada keahlian Arjuna...
Drupada: Aaah...luarbiasa...siapa engkau brahmana muda? Ilmumu, ini serupa benar dengan ajian Danuweda...ilmu memanah tanpa melihat sasaran dari Pandita Durna.
Arjuna : Sesungguhnya wahai paman Drupada...sayalah Arjuna murid Pandita Durna, dan brahmana yang satu lagi adalah kakak saya Bima...
Drupada: Aah...para putra Pandu Dewanata...
Arjuna: Ya Paman...kami hanya mewakili kakak sulung kami, seandainya kami berhasil memenangkan sayembara ini, maka hadiahnya adalah Hak kakak sulung kami..Rakanda Yudistira.
“Hei Arjuna...engkau menyeruak pamer kemampuanmu memanah di saat aku sudah memenangkan babak pertama ini, lihatlah...aku akan memanah burung-burung sriti yang bersembunyi di antara dahan dan dedaunan di pohon beringin di seberang alun-alun ini.” Karna berteriak, merasa panas dengan kemampuan Arjuna...tangannya dengan sigap merentangkan busur berisi beberapa anak panah...anak panah berdesing melintasi alun-alun...dari pohon di seberang alun-alun, jatuhlah 3 burung sriti yang perutnya sudah tertembus anak panah...
Penonton berteriak-teriak, bertepuk tangan dan mulai bersorak-sorak mulai memanas-manasi Arjuna untuk menyambut tantangan Karna ini.
Arjuna panas, dipentangnya gendewa dengan puluhan anak panah sekaligus...bagai hujan puluhan anak panah itu berdesing menuju pohon yang sama...ajaib, pohon itu bagai digunduli, semua daun-daunnya tertebas anak panah Harjuna, dan ternyata masih ada 2 brung Sriti yang terhalang ranting yang tidak terkena panah Karna, kedua burung itu ikut jatuh terkulai oleh sapuan panah Arjuna...
“Wuuuaaaaa, hebat....” tepuk tangan gemuruh melihat kehebatan Arjuna, dari kemampuan memanah, secara aklamasi semua penonton, raja-raja dan ksatria menganggap Arjuna mengungguli Karna.
Prabu Drupada tersenyum, Arjuna memenangkan babak pertama, harapan muncul di hatinya bahwa putra Pandawalah yang akan memenangkan sayembara ini. Babak selanjutnya adalah menghadapi Patih Gandamana, ipar Prabu Drupada, paman Drupadi. Ksatria perkasa, yang sakti dan lurus hati.
Gandamana dengan gagah melangkah menaiki panggung sayembara. Ketika Arjuna hendak melangkah, Bima menarik tangannya, sebagai isyarat dialah yang kali ini akan mengambil peran.
Gandamana: Ngger, anak-anakku putra Rakanda Pandudewanata guru dan raja besar yang aku hormati...siapa di antara kalian yang akan menghadapi aku...
Bima: Oooeyy Gandamana pamanku...aku Bima yang akan menghadapimu...
Gandamana: Oo, Bima anakku..tahukah kamu bahwa sayembara tanding ini, adalah menentukan siapa yang paling perkasa di antara kita? Tujuanku mengajukan diri, karena aku ingin menyerahkan keponakanku Drupadi pada ksatria yang tepat, yang bisa melindunginya dengan taruhan jiwa dan raga...ksatria itu harus kokoh, sakti, bahkan lebih sakti daripada aku yang sudah berangkat tua.
Bima: Ya Gandamana pamanku...aku paham maksudmu, dan aku siap memenangkan sayembara ini untuk kakakku Yudistira.
Gandamana: Bagus Bima, watakmu yang lugas, dan kesetiaanmu pada keluarga utamanya rasa hormatmu pada saudara tua, adalah watak luarbiasa yang aku kagumi dan layak diperhitungkan sebagai pelindung Drupadi nantinya. Tetapi aku tegaskan lagi...tanding kanuragan kita ini, harus mati-matian...keluarkan semua kesaktianmu tanpa ragu-ragu, karena akupun akan mengeluarkan semua kemampuanku untuk memastikan sampai seberapa saktinya engkau Bima.
Bima menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang dimaksudkan Gandamana.
Pertarungan Bima melawan Gandamana berlangsung seru dan penuh dengan tebaran ilmu-ilmu kanuragan yang luarbiasa.
Gandamana adalah ksatria perkasa yang sejak lahir sudah menjadi jagoan para Dewa. Jabang Bayi Gandamana adalah jagoan dewa yang berhasil membunuh Resi Jarwada yang menyerbu Suralaya , saat beranjak dewasa Gandamana adalah murid kesayangan Pandu Dewanata, yang menjadi Patih Raja Besar itu. Gandamana lengser sebagai pepatih Hastinapura karena kelicikan Sengkuni, yang membawa korban tewasnya Dewi Retnorini, istri Gandamana tercinta.
Bima adalah panenggak Pandawa yang sejak lahir sudah menunjukkan kehebatan, lahir dalam bungkus yang hanya bisa ditembus gading Gajahsena, Gajah Suralaya yang moksa setelah membuka bungkus Bima dan menyatu dengan raga Bima hingga kekuatannya menjadi 1000 kekuatan manusia normal dengan titisan Gajahsena ini.
Angin menderu-deru, debu berterbangan di sekitar pertarungan itu, diam-diam para penonton menyisih memberi ruang yang lebih besar bagi 2 ksatria perkasa tersebut.
Hebatnya kesaktian kedua ksatria itu membuat miris beberapa raja-raja yang diam-diam bersyukur tidak harus menghadapi Gandamana yang bagaikan banteng ketaton.
Berjalannya waktu akhirnya menunjukkan usia Gandamana yang mulai lanjut, membuatnya berkurang kelincahan. Beberapa kali tubuhnya oleng terkena pukulan Bima. Gandamana akhirnya sadar, dia telah ketemu tanding. Jika diteruskan, dia akan kalah dengan Bima.
Gandamana tersenyum, dia bahagia jika Drupadi bisa menjadi menantu Pandu Dewanata. Tulus di hati kecilnya Gandamana bersyukur, dan dia mulai merasa inilah saatnya baginya menyatu dengan istri tercintanya yang selalu dirindukannya Dewi Retnorini...ya Gandamana ikhlas, dia ingin pralaya di tangan Bima...teruna putra Pandu Dewanata.
Saat lamunannya sedang melayang, tiba-tiba Gandamana merasakan Badannya lunglai dalam kempitan Bima. Ternyata saat Gandamana memukul Bima dengan ajian Bandung Bandawasa, Bima menghindar dengan tangkas, menyerimpang kaki Gandamana, menangkap tangannya yang langsung ditelikung dalam pitingan yang kuat.
Sampai pada babak ini Gandamana merasakan Bima dalam keraguan untuk menyelesaikan tugasnya. Gandamana mulai membisikkan pada Bima dengan kesaktiannya Gandamana bisa menyalurkan suaranya begitu jelas di telinga Bima, tetapi tidak terdengar oleh orang lain. “Bima anakku, ayo jangan ragu-ragu...tancapkan Pancanakamu di dadaku...Pun Paman sangat berbahagia, pralaya di tanganmu...Hidupku tuntas sudah mengantarkan keponakanku Drupadi menemukan keluarga baru yang akan melindunginya dengan baik. Aku sudah sangat merindukan istriku...Dewi Retnorini telah menunggu sukmaku untuk bersama-sama memasuki nirwana kasedan jati...Bima, tancapkan pancanakamu, hujamkan sempurnakan hidupku..jangan ragu-ragu, aku yang memintamu anakku...aku, pamanmu Gandamana akan menyatu dalam tubuhmu melengkapi keteguhanmu sebagai ksatria utama, Bima...Bima...lakukan Nak...”
Bima memejamkan matanya sebelum menghujamkan kuku pancanakanya ke dada Gandamana....Wajah Gandamana yang Ikhlas tersenyum seperti memenuhi lamunan Bima. Saat kuku pancanaka tertancap di dada Gandamana....Ksatria perkasa itu lenyap sebagai asap putih kebiruan, yang terlihat masuk melalui ubun-ubun Bima. Gandamana moksa, sukmanya menyatu bergandengan tangan dengan Dewi Retnorini masuk ke surga, raga dan segenap kesaktiannya menyatu dengan Bima.
Prabu Drupada dengan bahagia menyerahkan putrinya Dewi Drupadi pada Bima dan Arjuna, untuk dijodohkan dengan Yudistira. Sang Prabu berpesan setelah kedua sejoli dipertemukan, mereka diminta segera dibawa kembali ke Pancalaradya untuk dinikahkan karena keluarga Pandawa sedang mengembara dalam keprihatinan. Nasehat ini disetujui oleh Bima dan Arjuna.
Beberapa bulan kemudian, berlangsunglah pernikahan Yudistira dan Drupadi secara agung dan mewah di sitihinggil Pancalaradya, dihadiri raja 1000 negara, para brahmana dan ksatria segenap negri.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


