Arjuna Puruita Ing Asmara (1)
KISUTA.com - Pagi yang cerah, cericit burung-burung dan bau sedap bunga-bunga seakan harmoni indah suasana penganten baru Yudistira dan Drupadi.
Kedua sejoli itu diberikan keistimewaan mereguk madu asmara oleh keluarganya. Untuk sementara waktu mereka ditampung Prabu Drupada di kasatriyan Madupeni di tlatah Pancalaradya, sebelum Drupadi diboyong oleh keluarga Pandawa.
Ibu suri Kunthitalibrata wanti wanti berpesan kepada para putra Pandawa yang lain, jangan mengganggu suasana bulan madu Yudistira. Hal ini perlu disampaikan karena hubungan antar saudara itu begitu dekat, sehingga terkadang mereka mengabaikan kepentingan pribadi saudaranya saat ada keperluan yang mendesak. Ibu suri Kunthi bahkan mengancam, siapapun yang mengganggu Yudistira saat sedang berduaan di kamar bersama Drupadi, akan diasingkan 6 Purnama menjauh dari keberadaan keluarga Pandawa, agar bisa merenungkan kesalahannya.
Di luar Kasatriyan Madupeni, Arjuna sedang beranjangsana ke padukuhan di pinggir Pancalaradya. Kebetulan di Padukuhan itu ada serangan begal dan rampok yang dipimpin oleh Kala Mercurawa. Dengan kesaktian dan ketangkasannya bertanding, Arjuna mampu menyingkirkan para Yaksa yang mengganggu ketentraman penduduk berdampingan dengan Drestajumena.
Namun, Kala Mercurawa mendatangkan lagi puluhan anak buahnya yang bergelombang berdatangan dari gunung-gunung dan hutan di sekitar padukuhan tersebut. Arjuna, pamit pada Drestajumena untuk mengambil pusakanya.
Bergegas Arjuna kembali ke Kasatriyan Madupeni untuk mengambil gendewa dan anak panahnya. Pusaka-pusaka tersebut disimpan di kamar Yudistira yang dianggap paling aman. Tanpa memperhatikan suasana dalam kamar, Arjuna bergegas masuk mengambil pusaka-pusaka tersebut. Ternyata di dalam kamar Yudistira dan Drupadi sedang berasyik masyuk.. Drupadi menjerit malu, melihat Arjuna masuk tanpa permisi mengambil senjata-senjatanya.
Arjuna (menutup mata saat melihat Drupadi sudah telanjang separuh badan): Aduuh, maaf ayunda, ampuni aku...aku hanya ingin mengambil pusakaku, karena penduduk di padukuhan sedang diserang rampok para yaksa...
Drupadi terisak menyembunyikan dada dan wajahnya pada pelukan suaminya...
Yudistira: Dimas...lancang sekali engkau masuk kamar kami tanpa permisi...mengapa tidak mengetuk pintu dulu, agar kami tahu ada yang mau masuk...
Arjuna: Ya Kanda...ampuni kelancanganku, mata batinku tertutup oleh keinginan segera menuntaskan tugasku sebagai ksatria, membasmi dur angkara.
Yudistira: Hhmm, Dimas Arjuna...selesaikan tugasmu sebagai ksatria...tetapi..usai itu, kita bicarakan kelancanganmu yang membuat wirang istriku...
Arjuna menganggukkan kepala dan segera bergabung dengan Drestajumena menghancurkan perlawanan Kala Mercurawa. Terdorong perasaan bersalahnya Arjuna berperang dengan emosi yang tinggi, Yaksa bala Kala Mercurawa terpanggang panah apinya yang dilepaskannya bersamaan dalam satu jepretan dengan beberapa puluh anak panah. Kala Mercurawa kalap menyerang Arjuna, tetapi perampok ini memang bukan tandingan Arjuna, Kala Mercurawa tewas dengan tusukan keris pulanggeni. Tiba-tiba mayat Kala Mercurawa lenyap berubah menjadi Kasut Kencana, dan terdengarlah bisikan di telinga Arjuna “Ngger, anakku...pakai dan gunakan kasut kencana itu, aku Bathara Indra bapamu, dengan kasut kencana pusaka itu, badanmu akan sekokoh Gunung Himalaya, tidak akan ada badai atau topan yang mampu mengangkatmu anakku.”
Arjuna mengenakan kasut kencana itu dan menyembah asal datangnya suara yang dia yakini sebagai kehadiran Bathara Indra.
Di bangsal Ksatriyan Madupeni, sepupu Pandawa.. Prabu Kresna ikut hadir saat diadakan sidang menentukan hukuman untuk Arjuna atas kelancangan pada Yudistira dan Drupadi.
Kresna: Yayi Yudistira...bagaimana keputusanmu Dimas... seperti kita dengar bersama, alasan Arjuna memasuki peraduanmu adalah untuk mengambil pusaka yang dipakai untuk menghalau perusuh.
Yudistira: Benar sekali kanda..tetapi, kelancangan yayi Arjuna, sudah membuat istri saya menangis karena malu... kelancangan ini tidak semestinya diabaikan...sebagai seorang suami, wajib bagi saya menjaga kehormatan dan martabat istri saya kanda...
Kresna: Hhmm...lebih berat istri ya daripada adik kandung? (Kresna menggoda Yudistira)
Yudistira (sambil mengerutkan keningnya): Duh kanda, jangan benturkan adab kepantasan dengan perasaan saya pada yayi Arjuna dan yayi Drupadi....Jika adab dan tata krama dilanggar, maka tindakan akan menjadi tanpa aturan...rusaklah semuanya apalagi dalam pelanggaran kepantasan ini, ada istri saya yang dilukai perasaannya oleh adik saya... walaupun itu tidak sengaja, atau untuk kepentingan mulia...tetap saja kanda...apa sebutannya bagi suami yang tidak mampu melindungi dan menghadirkan rasa nyaman di hati istrinya? Saya menyayangi yayi Arjuna, justru karena saya menyayanginya, saya wajib meluruskan perbuatannya yang tidak pantas...Yayi Drupadi adalah istri saya, kakak ipar yayi Arjuna, selayaknya dia menghargai kakak iparnya sama dengan caranya menghargai saya...
Arjuna: Kanda Bathara Kresna...sudahlah, saya mengakui kesalahan dan kelancangan saya. Biarlah saya jalani hukuman saya, yang akan mencuci rasa jengah ayunda Drupadi sekaligus mengikis perasaan tak patut yang mulai mengganggu hamba kanda...
Demikianlah kebesaran hati para putra Pandawa, mereka bisa menyisihkan perasaan demi adab yang mereka luhurkan. Arjuna meninggalkan Pancalaradya untuk menjalani pengasingannya selama 6 purnama.
Yudistira memeluk adik penengahnya ini, saat Arjuna pamit pada kakak sulungnya. “Yayi Arjuna, jalani lulakumu ini sebagai pelajaran hidup, doaku menyertai perjalananmu adikku. Buka matamu dan mata bathinmu, reguklah pelajaran hidup di luar saudara-saudaramu dengan bijak, pulanglah sebagai Arjuna yang lebih memahami adab dan tatakrama.”
Arjuna meninggalkan keluarga Pandawa dengan ikhlas menjalani pengasingannya selama 6 purnama. Di perjalanan Arjuna mendengar bahwa Begawan Kanwa dari Nagaloka sedang mencari menantu untuk putrinya Endang Ulupi. Santer terdengar bahwa Endang Ulupi adalah wanita yang cantik jelita, yang memiliki kemiripan wajah dengan Dewi Anggraeni, wanita pertama yang pernah menggetarkan hati Arjuna, tetapi menolaknya karena sudah menjadi istri Prabu Palgunadi.
Arjuna melangkahkan kakinya menuju pertapaan Nagaloka untuk mengikuti sayembara memperebutkan Endang Ulupi.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


