Arjuna Puruita Ing Asmara (2)
KISUTA.com - Di pertapaan Nagaloka, Bagawan Kanwa sedang menerima pisowanan Cantrik Anantasena. Saat mereka berbincang-bincang, datanglah Cantrik Danawilapa, yang memberitahukan kedatangan Adipati Karna dan keluarga Kurawa.
Mereka ingin mengikuti sayembara. Cantrik Anantasena keluar menemui Adipati Karna. Adipati Karna menyatakan ingin mengikuti Sayembara. Anantasena mengatakan bahwa syaratnya harus mengalahkan dia terlebih dahulu. Adipati Karna menyetujui syarat itu, mereka bertanding dengan seru, namun dalam satu kesempatan, Cantrik Anantasena mengerahkan ilmu Bayuastra, Adipati Karna tidak kuat melawannya, terbang terbawa angin ke Hastinapura, demikian juga dengan bala Kurawa yang mengeroyok Anantasena, ilmu Bayuastra telah menerbangkan mereka terbawa angin, kembali ke Hastinapura.
Satu demi satu para ksatria dan raja-raja muda yang mengikuti sayembara di Nagaloka kalah melawan Cantrik Anantasena, ada yang babak belur oleh pukulan saktinya ada yang terbang dihantam ilmu Bayuastra dikembalikan ke negaranya.
Akhirnya Arjuna maju memasuki medan sayembara, Cantrik Anantasena menyambutnya dengan penuh semangat, sama dengan semangatnya ketika mengalahkan peserta sayembara lainnya. Ketrampilan Arjuna dalam Olah Kanuragan ternyata mengungguli Cantrik Anantasena. Usianya yang jauh lebih muda juga membuatnya lebih bertenaga, Cantrik Anantasena mulai tersengal-sengal, nafasnya memburu. Sang Cantrik melompat menjauhi Arjuna dan mulai merapal Bayuastra.....Wuuuussshhhhzzz...gelombang angin bak topan badai menghantam Arjuna, tetapi seperti batu karang yang kokoh, Arjuna seperti tertancap di tanah, tak bergeming...kasut kencana menunjukkan daya gunanya. Mata Cantrik Anantasena terbelalak...aah bagaimana mungkin satria yang perawakannya halus tak seberapa ini bisa menghadapi ajiannya....kembali dipusatkannya pikiran untuk menambah daya kesaktian Bayuastra......Zzzztttt Whloouuusshhhhzzzzz.....deru angin menderu-deru bergulung-gulung seperti topan berputar...sseettttt...bleg !!...bukan Arjuna yang tergeser oleh angin, tapi Cantrik Anantasena yang pingsan kecapekan.
Arjuna dipertemukan dengan Endang Ulupi calon istrinya, berdesir hati Arjuna, ternyata benar kecantikan Endang Ulupi serupa benar dengan Dewi Anggraeni almarhum. Tetapi Arjuna terheran-heran...mengapa sekilas dilihatnya Endang Ulupi sebagai gadis yang sempurna, tetapi samar-samar acapkali kedua kaki wanita jelita itu seakan berubah menyerupai ekor ular besar dengan badan separuh manusia...
Begawan Kanwa: Ada apa raden? Wajahmu menyiratkan kebingungan...
Arjuna: Aaaa...aa..eehmm...(Arjuna tergagap-gagap sulit mengutarakan keheranannya, matanya terus menatap kaki Endang Ulupi)
Begawan Kanwa (tersenyum memaklumi kegagapan Arjuna): Raden...aku memaklumimu. Ketahuilah, kami ini bangsa Naga..aku sudah bertapa ribuan tahun untuk bisa berwujud sempurna sebagai manusia, tetapi anakku Endang Ulupi ini...belum terlalu lama bertapa, karena itulah terkadang wujud naganya masih berbayang...terlebih, dia baru saja kehilangan suaminya yang terbunuh oleh bangsa Garuda...ya raden, Ulupi adalah seorang janda...janda kembang, karena perkawinannya dengan suaminya hanya seumur jagung... bagaimana raden, apakah itu menjadikan masalah untukmu?
Kali ini Arjuna yang ternganga mendengar cerita Begawan Kanwa...Bangsa Naga? Janda? Sekali lagi Arjuna menatap wajah Endang Ulupi...duhai betapa jelitanya wanita ini...apa artinya janda dan bangsa naga...
Arjuna: Sang Begawan, tidak masalah bagiku bahwa yayi Endang Ulupi adalah bangsa naga...tak masalah juga bagiku bahwa dia seorang janda...hatinya yang bersih terpancar pada parasnya, aku sudah jatuh hati pada putrimu Begawan.
Begawan Kanwa: Syukurlah kalau begitu...tapi raden, masih ada lagi satu syarat yang harus engkau penuhi...
Arjuna: Aah apakah itu?
Begawan Kanwa: Seperti tadi sudah aku sampaikan...untuk bisa sempurna berwujud manusia, Ulupi harus melanjutkan semedinya yang terputus oleh perkawinan kalian nanti. Oleh karena itu raden, engkau hanya boleh bersanding sebagai suami istri dengan Ulupi selama 2 purnama...dan jika kelak kalian memiliki putra, setelah remaja anakmu akan aku suruh menemuimu raden...karena ibunya masih harus melanjutkan semedinya kembali.. Bagaimana raden?
Arjuna merenung...Aaah...pelajaran apa yang terkandung pada lelakunya yang aneh ini.. menikah dengan bangsa naga yang sudah janda...tetapi hanya 2 purnama...kemudian harus berpisah menjalani garis hidupnya masing-masing. Arjuna menghela nafas, Ulupi begitu jelita, inilah karunia yang tak ingin dilepaskannya...2 purnama mereguk madu asmara?... mungkin perjalanan hidupnya memang tidak boleh berhenti terlalu lama untuk bersenang-senang.....Akhirnya Arjuna menyanggupi syarat-syarat yang diajukan Begawan Kanwa.
Menjadi suami Ulupi adalah kebahagiaan luarbiasa bagi Arjuna, selain cantik Ulupi juga istri yang bijaksana dan cerdas. Banyak hal dipelajari Arjuna dari istrinya yang kenyang dengan asam garam kehidupan, menjadi janda di usia belia tetapi mampu meredam dendam pada bangsa Garuda yang menjadi musuh bebuyutan para naga yang bahkan telah membunuh suami pertamanya.
Dua purnama usai sudah, dengan berat hati Arjuna harus meninggalkan istri tercintanya sesuai janjinya pada Begawan Kanwa, demi kebaikan mereka bersama. Hal lain yang lebih memberatkan Arjuna adalah karena Ulupi sedang hamil muda, buah kasihnya dengan Arjuna.
“Ulupi kekasihku, istriku...berat sekali hati ini meninggalkanmu kekasih...tetapi apa yang sudah aku sepakati dengan ayahmu, adalah janji seorang ksatria...engkau harus melanjutkan semedimu...akupun harus menyelesaikan pengasinganku. Jika bukan di Arcapada ini, mungkin kelak di kasedan jati kita akan berkumpul kembali....Ulupi, terimalah kasut kencana ini, simpan untuk anakku kelak saat dia ingin menemui aku...jika putraku lahir, namakan dia Bambang Irawan jika terlahir laki-laki...jika terlahir sebagai wanita, aku serahkan nama yang pantas darimu....Ulupi, kepergianku semoga menyimpan kasih dan cintaku dalam kenanganmu, sehingga utuhlah sosokku sebagai Bapak yang akan engkau ceritakan ke anakku yang tidak aku tunggui kelahirannya.”
Arjuna mencium lembut kening istrinya...memeluknya erat...dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Nagaloka menembus belantara Wanamarta.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


