Arjuna Berburu Cinta
KISUTA.com - Gemericik sungai Yamuna memecah batu-batu di lereng gunung Meghalaya di wilayah kerajaan Manipur. Arjuna termangu mempermainkan kakinya di kejernihan air sungai itu. Rasa perih tiba-tiba menyeruak, saat teringat Ulupi istrinya yang ditinggalkannya saat hamil muda.
”Jagad Dewa Bathara ya Jagad Pangestungkara...duh dewa betapa beratnya menanggung kerinduan ini...aaah Ulupi, bagaimana kandunganmu istriku...perpisahan ini sungguh sangat berat. Engkau wanita bijak yang terus memompa semangatku untuk melengkapi dharmaku...Ulupi, aku yakin jika semedimu diterima Hyang Widi Wasa, engkau akan menjadi manusia utuh yang luarbiasa..seorang wanita utama yang cantik berpribadi luhur...duh kekasih hatiku...sayang zaman akan memisahkan kita, ribuan tahun yang engkau butuhkan untuk kesempurnaanmu, tentu telah memusnahkan ragaku di arcapada ini.”
Arjuna menghela nafas panjang, mencoba menguatkan hatinya...tiba-tiba pendengaran Arjuna yang tajam menangkap sayup-sayup suara denting senjata beradu, dengan teriakan-teriakan marah bercampur raungan kesakitan.
Bergegas Arjuna meraih gendewanya, dan segera berlari mendatangi arah suara itu.
Di pinggir danau Loktak yang indah dan asri, tampaklah pertempuran antara seorang ksatria muda yang tampan dengan belasan perompak yang bengis. Ksatria muda itu tampak menguasai keadaan. Tubuhnya melenting kesana kemari membagikan pukulan dan tendangannya, setiap perampok yang ditampar atau ditendangnya akan terpental pingsan. Lama-lama tinggal dua perampok yang paling bengis...tampaknya merekalah pemimpin gerombolan itu.
Detya Yupranjana: Babo-babo iblis laknat pada gegojegan..heih, cah bagus, berhenti dulu .. Siapa kamu? Badanmu kecil halus, tandangmu nggegirisi...manusia apa dewa berani mengobrak abrik pasukanku...?
Arjuna mendengarkan dengan seksama, rasa penasaran akan jati diri ksatria tampan yang sakti itu membuatnya memasang pendengaran setajam mungkin.
Citranggada: Yaksa...aku Raden Citranggada, bukan dewa hanya manusia biasa yang tidak rela balamu merusak perdikan yang menjadi wilayah perlindunganku...balik siapa kamu, mengapa membuat onar di perdikan ini...?
Detya Yupranjana: Huahahahaha..Cuma manusia biasa...heh cah bagus aku Detya Yupranjana, ini adikku Kala Wantirta...sebaiknya engkau menyingkir...kemampuanmu mengalahkan pasukanku, jangan engkau jadikan kebanggaan... karena kamu pasti kalah.. Kami merampok penduduk, karena memang hanya itu kemampuan kami...kalau kami lapar, ya kami ngrampok...huahahaha...
Citranggada: Hem..Detya Yupranjana..sungguh prilaku yang tak terpuji badanmu gagah, tinggi besar, engkau rampas hak penduduk yg lebih ringkih dan lemah tubuhnya...mengapa tidak kamu gunakan kesaktian dan kegagahanmu untuk kebajikan... tentu engkau akan lebih bahagia...
Kala Wantirta: Weeeh kakang, anak ini malah ngetipris menasehati kita...sudah kita hajar saja dia...cah usil, bekerja seperti orang desa mengumpulkan rejeki itu butuh waktu, tekun dan kesabaran...heheheheh itu yang kami ngga punya...wis biar saja mereka yang kerja, nanti kami yang ambil hasilnya huahahahah...
Peperangan di antara mereka bertiga tak terhindar lagi...kedua denawa itu menggunakan senjata yang mengerikan. Detya Yupranjana menggunakan senjata bandulan berduri yang ketika diputar-putar di udara suaranya bagaikan ribuan lebah berdengung. Kala Wantirta menggunakan tombak dengan kepala tombak mirip parang bergerigi yang ada krincingannya. Dengan kasar mereka mulai menyerang Citranggada. Walaupun lawannya bersenjata, Citranggada tetap melayaninya dengan tangan kosong...di tempat persembunyiannya Arjuna makin kagum pada ksatria tampan itu. Kelincahan Citranggada sungguh luarbiasa. Dengan gesit kakinya menjejak bumi, melenting dan mendarat di pucuk bandulan Detya Yupranjana yang dihantamkan ke tubuhnya. Di atas bandulan Citranggana menambah kekuatan pada telapak kakinya yang seakan menempel pada bandulan itu dan mengendalikannya untuk melibat-libat tubuh Detya Yupranjana....melihat saudaranya keteter, Kala Wantirta berlaku curang diam-diam dia gunakan tombaknya untuk membabat Citranggada dari belakang.
Arjuna tanggap atas kecurangan ini dari balik persembunyiannya dilepaskannya anak panah yang berdesing menghantam kepala tombak Kala Wantirta...kepala tombak patah... Citranggada melompat berpindah dari bandulan yang sudah membelit Detya Yupranjana, ke bilah tombak Kala Wantirta.. ditendangnya bilah tombak itu yang berbalik menghantam tuannya sendiri...Kala Wantirta memekik saat bilah tombak menghantam pelipisnya dengan keras. Kala Wantirta jatuh berdebam, pingsan.
Citranggada segera menghampiri Detya Yupranjana yang terduduk menggeloso dilibas senjatanya sendiri, matanya melirik Arjuna yang keluar dari semak-semak masih membawa gendewa dengan anak panah tersimpan rapi di punggung... ”Hhmm...tampan juga satria ini, dialah yang membantuku memanah ujung tombak Kala Wantirta.” Hanya sesaat Citranggada memperhatikan Arjuna...sekarang pusat perhatiannya pada Detya Yupranjana.
Citranggada: Yaksa...engkau telah aku kalahkan secara adil...engkau tahu kemampuanku. Kalau aku mau, dengan mudah aku habisi kamu dan saudaramu yang sudah bathil pada penduduk perdikan ini. Yaksa...tundukkah engkau padaku? Dan maukah engkau, adikmu dan wadya balamu aku arahkan untuk kebaikanmu dan negaramu?
Detya Yupranjana: Haduuuuhhh...tobat raden...ya, saya tobat..tetapi..apa yang bisa dilakukan oleh orang kasar seperti kami raden...
Citranggada: Banyak...banyak yang bisa engkau lakukan... dengan kekuatan dan anugrah kesaktianmu, engkau bisa membantu negaramu sebagai manggala negri...singkirkan sifat malasmu...singkirkan kebanggaanmu akan kemampuanmu yang membuatmu merasa kuat memeras yang lebih lemah... lihatlah hanya melawan aku yang kau lihat lemah dan tidak berdaya...kamu sudah kalah...
Detya Yupranjana: Ya...ya..raden kami tobat dan tunduk padamu...
Citranggada mengeluarkan peluit...meniupnya...sesaat kemudian datanglah 3 pengawal berkuda yang gagah dan menghormat takzim pada Citranggada.
Citranggada: Paman Tumenggung Pranayudha, bawalah para yaksa yang pingsan, rawat luka-lukanya, ajak juga Detya Yupranjana pimpinannya ini...didik mereka di Katemenggungan untuk calon manggala negeri..jika mereka lulus, jadikan anak buahmu...jika tidak, arahkan yang baik sesuai bakat mereka...
Pranayudha: Sendika dawuh Gusti...
Tumenggung Pranayudha menepukkan tangannya, datanglah sepasukan kecil prajurit membawa gerobak, yang dipakai untuk mengangkut para Yaksa yang pingsan.
Arjuna memandang semua tingkah Citranggada dengan kagum. Setelah pasukan kecil yang dipimpin Tumenggung Pranayudha pergi, Arjuna menghampiri Citranggada.
Arjuna: Dimas Citranggana,...luarbiasa engkau membangkitkan rasa kagum di hatiku. Ksatria muda tampan sakti mandraguna dan bersifat welas asih. Kenalkan, aku Arjuna penengah Pandawa, dari keluarga Kuru, Hastinapura....Siapakah engkau Citranggada, dari mana asalmu...
Citranggada (menatap wajah Arjuna, kemudian menunduk dengan rona merah di mukanya): Hm...aku dari keluarga Manipur...perdikan ini masuk wilayah Manipur...bagaimana engkau dari Hastinapura bisa sampai di sini kakang Arjuna... mana pengawalmu...?
Arjuna (tersenyum, heran melihat Citranggada yang terlihat malu-malu menatapnya): Tidak perlu ada pengawal..aku sedang dalam pengasingan karena kesalahanku...tapi sudahlah, tidak masalah itu..Citranggada...(Arjuna mencoba meraih tangan Citranggada layaknya seorang teman yang akrab, untuk menunjukkan simpatinya...tetapi secara refleks Citranggada menepiskan tangan Arjuna, dan melompat menjauh)
Citranggada (berteriak pamit sambil menjauh dari Arjuna): Maaf kakang Arjuna...masih banyak tugas yang harus aku selesaikan....terima kasih pertolonganmu tadi...
Arjuna tertegun melihat kepergian Citranggada yang tampak tergesa-gesa, jengah dan gelisah saat tangan mereka hampir bersentuhan.
Sementara itu, setelah yakin jaraknya sudah cukup jauh dari Arjuna, Citranggada melepaskan busana ksatrianya. Dilepaskannya kancing gelungnya...ternyata rambutnya panjang dan indah bergelombang, satu demi satu busana ksatria itu ditanggalkan dan berubahlah Citranggada, dari seorang ksatria tampan menjadi putri yang cantik jelita.
Sambil berkaca di beningnya air telaga, Putri Citranggada merenungkan pertemuannya dengan Arjuna.....”Duhai...itukah Arjuna kekasih para Dewa? Ksatria yang tenar dengan ketampanan dan keahliannya memanah? Arjuna yang memenangkan Drupadi putri Pancala, tetapi menyerahkannya pada kakaknya....ah tampan sekali...” Putri Citranggada memejamkan matanya...sayang Arjuna mengenalnya sebagai seorang pria...tentu tak mungkin dibukanya samarannya di hadapan Arjuna. Sang putri menentramkan hatinya, panah asmara mulai melukai hatinya.
Citranggada sebenarnya adalah putri Mahkota kerajaan Manipur. Karena putri tunggal, maka Citranggada sekaligus adalah pewaris tahta Manipur. Rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai pewaris tahta, membuatnya mempelajari ilmu kanuragan, dan gemar mengembara untuk menolong rakyatnya.
Sementara itu, Arjuna yang merasa penasaran dengan keanehan tingkah Citranggada, mulai menyelidiki siapa sesungguhnya Citranggada. Dari para penduduk di perdikan yang telah ditolong Citranggada untuk sementara Arjuna baru tahu bahwa Citranggada adalah putra mahkota pewaris tahta Manipur. Arjuna belum tahu lebih lanjut tentang kebiasaan penyamaran Citranggada.
Waktu bergulir dalam pengembaraan Arjuna, karena memang ingin mengenal lebih dekat Citranggada, beberapa hari kemudian Arjuna kembali menemukan Citranggada yang sedang bertempur dengan segerombolan penjahat di wilayah perdikan lain. Kali ini dilihatnya Citranggada kewalahan, karena keadaan memang tidak seimbang. Citranggada dikeroyok oleh lebih dari 50 begal-begal kasar. Rupanya, karena banyak begal yang sudah ditaklukkan, sebagian begal yang sakit hati berkelompok untuk membalas dendam pangeran muda itu, setelah merasa kekuatan mereka memadai, mereka mencegat Citranggada dan menjebaknya masuk ke wilayah lembah yang sempit agar bisa mereka sudutkan. Dalam kondisi terjepit seperti itulah Arjuna datang dan langsung menerjunkan diri membantu Citranggada.
Dua Ksatria tampan itu saling beradu punggung sebagai strategi menghadapi lawan yang jumlahnya lebih banyak. Citranggada merasa bersyukur atas bantuan Arjuna, rasa kagumnya makin meninggi...tetapi Citranggada sadar, Arjuna mengenalnya sebagai pria muda yang tampan...jadi dia harus tetap menahan diri...
Dengan kesaktian mereka berdua, lama kelamaan jumlah begal makin menyusut...setelah tinggal 3 begal tersisa, para begal itu memutuskan melarikan diri....namun salah satunya sempat melepaskan belasan sumpit beracun, Arjuna mampu menghindari sumpit-sumpit itu, namun Citranggada lengah, karena lega musuhnya berkurang dan pandangannya sedang tertuju ke Arjuna, salah satu sumpit mengenai dada atasnya sebelah kiri, Citranggada melenguh kesakitan...tak lama kemudian pingsan karena racun sumpit itu.
Arjuna segera memondong tubuh Citranggada dan mencari telaga untuk memberikan bantuan pada Citranggada yang terluka.
Di tepi telaga Arjuna mencoba menolong Citranggada dengan mengompres badannya yang mulai panas dengan air telaga...karena melihat bibir dan muka Citranggada mulai semburat membiru...Arjuna tanggap, tampaknya racun mulai menjalar ke darah Citranggada, dirobeknya baju Citranggada untuk melihat lukanya.
“Jagad dewa bathara.”....Arjuna terkejut, melihat buah dada Citranggada tersembul...mulai jelas segala keanehan Citranggada selama ini...tetapi melihat paras Citranggada yang pucat membiru, Arjuna segera menempelkan bibirnya ke luka itu, menyedot bisanya dan meludahkannya....beberapa kali itu dilakukan, sampai darah yang diludahkan tak lagi menghitam...di saat seperti itulah Citranggada tersadar dari pingsannya....dia memekik merasakan pelukan dan sentuhan bibir Arjuna di atas dadanya...secara refleks Citranggada menampar Arjuna, meronta melepaskan diri dan meloncat lari meninggalkan Arjuna.
Angin menderu, riak air telaga berlagu dengan celoteh katak yang tiba-tiba bising...Arjuna masih terkaget-kaget dengan peristiwa yang begitu cepat berlalu...tangannya mengusap pipinya yang membiru oleh tamparan Citranggada...Arjuna tersenyum, bisa dimakluminya tamparan sang rupawan... perawan suci mana yang sudi disentuh laki-laki seperti itu...sikap Citranggada justru menumbuhkan asmara di hati Arjuna yang mulai kosong karena kehilangan Ulupi. Arjuna menetapkan hati, rasa malu Citranggada oleh sentuhannya hanya bisa ditutupinya kalau Citranggada menjadi miliknya. Akhirnya penengah Pandawa ini melangkahkan kakinya menuju Manipur.
Prabu Citrasena mengerutkan keningnya...raja Manipur ini menatap Arjuna dengan seksama, Hhmm sungguh berani ksatria tampan ini. Memperkenalkan diri dan melamar putrinya dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.
Citrasena: Arjuna, hhmm...engkau Penengah Pandawa dari keluarga Kuru Hastinapura.. ya..ya..aku tahu kebesaran wangsa keluargamu..tetapi engkau hanya anak ketiga, yang tidak mungkin mewarisi tahta keluargamu...apakah itu berarti, engkau bisa mendampingi anakku selamanya di sini? Ingat, anakku putri tunggal..pewaris tahta Manipur.
Arjuna: Prabu Citrasena, ..aku memang hanya anak penengah Pandawa..besar kemungkinan aku tidak akan mewarisi tahta keluargaku. Tetapi, jika aku beristri..pantang bagiku menggan-tungkan hidupku pada istriku atau keluarga istriku...Prabu Citrasena, apa yang bisa aku tularkan pada anakku jika ayahnya tidak memberikan tanggung jawab yang bisa dibanggakan bagi keluarganya?
Citrasena: Arjuna andai saja anakku lebih dari satu, tentu aku bangga dengan prinsip hidupmu...tetapi, Citranggada adalah putri tunggalku...aku juga tidak akan bisa melepaskan anakku mengikutimu meninggalkan kerajaan ini...bagaimanapun keturunan kami harus berlanjut...
Arjuna: Prabu Citrasena, mengapa tidak kamu tanyakan pada putrimu Citanggada, apa pilihannya...? Jika Citranggada memilih mengikutiku sebagai suaminya, bukankah itu haknya? Sebaliknya, jika Citranggada memilih tinggal di Manipur sebagai pewaris tahtamu, akupun tidak memaksa...biarlah aku temani dia hingga akhir masa pengasinganku.
Hidup adalah pilihan...dan setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi...demikian pula dengan kisah cinta Arjuna dan Citranggada...Ketika putri rupawan ini harus menentukan pilihannya, dia memilih menjadi istri Arjuna, hanya sampai dia berbadan dua, untuk memastikan ada keturunan yang akan melanjutkan roda pemerintahan Manipur sepeninggalnya nanti.
Citrasena: Anakku ngger Citranggada..benarkah itu? Engkau hanya mau diperistri Arjuna sampai engkau hamil saja? Mengapa begitu Citranggada...?
Citranggada: Ayah...terbukanya tubuhku dan sentuhan kakang Arjuna pada bagian tubuhku, membuatku tidak bisa menghindar dari suratan takdir bahwa kami harus menikah untuk menjaga martabatku... Tetapi, kita tidak bisa menyalahkan suratan takdir untuk jalan hidup kita selanjutnya...sebagai putri tunggalmu, aku punya hak memilih untuk tetap setia pada negeri dan bangsaku..tetapi aku juga menghormati pandangan kakang Arjuna untuk kembali pada keluarga besarnya....Ooo Ayah, ketika perpisahan ada di depan mata... mengapa harus ditunda membiarkan akar-akarnya tumbuh lebih kuat, yang justru akan lebih menyakitkan ketika tercerabut? Sebagai wanita pewaris tahta, bukankah sudah mencukupi dan harus disyukuri jika aku sudah memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta nantinya...?
Kelu...bak teriris sembilu perasaan Prabu Citrasena mendengar alasan Citranggada yang begitu telak...pelukannya pada sang putri adalah pelukan kasih seorang ayah yang menghormati keputusan anaknya. Pelukan sayang seorang ayah yang sadar pada pengorbanan sang anak, demi Bangsa dan Negaranya tercinta.
Arjuna menikmati kebahagiaan selama 4 purnama bersama Citranggada, tepat saat pengasingannya berakhir, Arjuna harus meninggalkan Citranggada yang sedang hamil, dengan pesan untuk memberi nama anaknya Babruwahana jika terlahir laki-laki.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


