Srikandi
KISUTA.com - Semburat sinar keemasan menyentuh bale-bale permaisuri Pancalaradya Dewi Gandawati, dengan penuh kasih sayang sang permaisuri menjalin rambut putri bungsunya Dewi Srikandi sambil memberikan nasehat.
Gandawati: Srikandi anakku sayang, mbakyumu Drupadi sudah menjadi istri Yudistira. Cepat atau lambat, dia akan ikut suaminya meninggalkan kita. Engkau harus lebih banyak belajar ‘keputrian’ anakku...jangan bermain-main terus dengan para putra sentana...engkau ini sekar kedaton, putri raja.. berlakulah sebagai putri yang lemah lembut nak...
Srikandi (merajuk manja): Aaah ibu...males aku, ngga enak klemar klemer seperti gadis-gadis itu. Rasanya lemah ngga punya daya...wanita tidak harus seperti itu ibu..aku suka olah kanuragan, kemarin Demang Brindil mengajari aku “Tendangan Sabet Pungkur” ...wuuuaah, asyik ibu...coba lihat ini.
Srikandi meronta dari pelukan ibunya yang sedang menjalin rambutnya..memasang kuda-kuda, kemudian memperagakan jurus yang baru dipelajari.....szzettt, pyar..!!...jambangan di kamar Permaisuri Gandawati pecah terkena tendangan Srikandi....Sang Permaisuri terpekik kaget, Srikandi tertawa puas...
Gandawati: Aduuuh, Srikandi...tandangmu kok seperti ini.. lihat..engkau memecahkan jambangan bunga ibu...
Srikandi: hihihi..Ibu...jambangan itu untuk contoh sasaran tendanganku...nanti minta Rama Prabu beli lagi...bagaimana ibu? Hebat khan tendanganku? Ibu sekarang aman bersamaku...
Gandawati: Duh anakku...kamu ini seorang putri, wanita utama...mengapa bertingkah polah seperti laki-laki...lihatlah mbakyumu Drupadi yang ayu, anggun dan selalu penuh kelembutan mengapa engkau tidak bisa seperti dia?
Srikandi: Ibu mengapa selalu membandingkan aku dengan mbakyu Drupadi? Jangan samakan aku dengan ayunda Drupadi..Srikandi adalah Srikandi.. aku punya watak sendiri dan aku tidak mau ikut-ikutan seperti ayunda Drupadi...Ibu, jangan kecewa karena aku suka ketangkasan dan ilmu beladiri...kelak akan terbukti, akupun bisa membawa kebanggaan dan kebahagiaan pada ibu...
Dewi Gandawati menghela nafas panjang...Srikandi memang berbeda, putri bungsunya ini gesit, tangkas dan tidak bisa diam.
Pengawal memberikan kabar pada sang Permaisuri bahwa kehadirannya di tunggu di Sitihinggil karena keluarga Pandawa dan Ibu Kunthi akan memboyong Drupadi ke Hastinapura. Sang Permaisuri bergegas mengikuti pengawal ke Sitihinggil, meninggalkan Srikandi yang juga meninggalkan Keputren menuju taman istana.
Di Taman Istana, Srikandi merenung..matanya menatap tajam Wuwungan Sitihinggil dari arah taman istana. Di pucuk wuwungan itu tergantung “Kalung Sangkara”...kalung sakti milik Dewi Amba, pemberian Sangkamuka putra Dewa Sangkara. Dengan perantaraan kalung itu, sukma Dewi Amba akan menitis pada si pemakai kalung, dan akan menjadi lantaran pelunasan dendamnya pada Bhisma yang Agung.
Kalung Sangkara yang tergantung di wuwungan Sitihinggil itu mengeluarkan sinar panca warna yang indah sekali berbalut sinar matahari pagi. Di Pandangan mata Srikandi kalung ini seakan melambai-lambai mengundangnya untuk mengambil dan mengenakan Kalung itu.
Tidak tahan dengan rasa penasarannya, diam-diam Srikandi mengambil ancang-ancang untuk melompat ke arah wuwungan Sitihinggil, tubuhnya melenting ke arah pohon beringin di belakang pendapa, dari dahan tertinggi di pohon beringin itu tubuhnya melenting meloncat ke arah atap Sitihinggil, dengan lincah Srikandi terus memanjat atap dan bergerak menuju puncak wuwungan. Setibanya di puncak wuwungan, diambilnya Kalung Sangkara itu, dan dikenakannya ke lehernya.
Seorang Pengawal yang melihat tingkah Srikandi di atas wuwungan berteriak “Putri Srikandi memanjat wuwungan...Putri Srikandi mengambil Kalung Sangkara...Kalung Sangkara dipakai sang Putri!!!”
Kagetlah Prabu Drupada yang baru saja memberangkatkan putrinya Drupadi diboyong keluarga Pandawa ke Hastinapura. Sang Prabu bergegas berlari ke halaman istana untuk melihat apa yang terjadi.
Drupada: Jagat Dewa Bathara ya jagad pangestungkara.. Srikandiiii !!!...turun kamu !!!..apa yang engkau kerjakan?!!
(Rasa khawatir Prabu Drupada akan kutukan Amba yang tersampir di kalung itu, yang menjadikan si pemakai kalung menjadi duta dendam Amba...membuat sang Raja naik pitam)
Srikandi dengan cekatan turun dari wuwungan, dengan kalung indah yang tersampir indah di leher jenjangnya putri ini tampak makin jelita, Srikandi tersenyum bangga dan menyembah ayahnya.
Drupada: Srikandi! Lepaskan kalung itu...! (sang Prabu menghardik putrinya)
Srikandi (mengerutkan alisnya...aneh, ayahnya tidak pernah bersuara keras padanya): Tidak Rama Prabu, aku suka kalung ini...biarkan aku tetap memakainya...
(Drupada panik mendengar tolakan Srikandi, terdorong rasa khawatirnya Sang Raja mencoba membetot kalung itu dari leher putrinya...tetapi kalung itu seakan menyatu dengan Srikandi... merasa tak senang dengan tingkah ayahnya, Srikandi menepiskan tangan Prabu Drupada dari kalungnya...daya kalung sakti itu ditambah kekuatan tepisan tangan Srikandi membuat Prabu Drupada terhuyung-huyung hampir jatuh...yang segera dirangkul oleh permaisuri Gandawati)
Gandawati: Anakku Srikandi...mengapa engkau kelewatan dan kurang ajar pada ayahmu?
Srikandi: Ibu..ibu juga menyalahkan aku? Hanya karena mengenakan kalung ini, ayah dan ibu berbuat kejam padaku... aku suka kalung ini...aku tidak mengganggu siapapun....kalau aku dianggap kurang ajar karena mempertahankan kalung ini...baiklah... Rama, Ibu...aku pamit...aku akan menjauh supaya tidak kurang ajar pada Rama dan Ibu...
Srikandi meloncat lari ke luar istana tanpa menoleh lagi... permaisuri Gandawati pingsan melihat kekerasan hati putrinya, tinggallah Prabu Drupada bingung antara merawat istrinya yang pingsan dan mengejar putrinya...tangannya memberi tanda pada para pengawal untuk menyusul Srikandi....beberapa pengawal tanggap, segera mengejar putri yang minggat itu.
Srikandi mengerahkan segenap ilmunya, melesat sambil berurai airmata. Putri yang cerdas ini sadar, orang tuanya pasti memerintahkan para pengawal untuk menghalang-halangi kepergiannya. Dia harus secepatnya keluar dari Pancalaradya.
Sambil terisak, Srikandi membayangkan raut muka ibunya yang terlihat tegang saat membentaknya...aah...ibu yang selama ini begitu lembut dan penuh kasih padanya....Sambil terus berlari, Srikandi menggelengkan kepalanya seakan ingin menepis rasa sakit hatinya... ”Kurang ajar ???” Bagaimana mungkin perbedaan sudut pandang dianggap sebagai ‘kekurang ajaran’? Tanpa sadar Srikandi telah jauh meninggalkan tlatah Pancalaradya, dan mulai memasuki wilayah kerajaan Manimantaka, di pinggir sebuah telaga Srikandi berhenti melepas lelah, di bawah pohon yang rindang putri ini menutupi wajahnya, tersedu dalam duka...”Ibu, mengapa ibu marah padaku...aku hanya menginginkan kalung ini, kalung ini terbuang di wuwungan. Bukan milik siapa-siapa..aku tidak mengambil milik orang lain...akupun mengambil dengan usaha yang tidak mudah..Ooo Ibu...ibu tidak adil menuduhku kurang ajar pada Rama...kanjeng ramalah yang bertindak kasar padaku...aku hanya membela diri...membela kalung milikku....” Angan-angan Srikandi berputar-putar mencari jawaban atas ketidak adilan yang dia rasakan...
Dalam lamunan berselimut duka itu...lamat-lamat Srikandi mendengar namanya dipanggil, saat dia menoleh mencari sumber suara...tampaklah bayangan samar-samar wanita jelita mengambang di atas telaga...
Amba: Srikandi....aku Amba, putri kerajaan Kasi...kalung Sangkara yang engkau kenakan itu, dulu milikku Srikandi...engkau cantik dan pantas mengenakan kalung itu...
Srikandi (refleks tangannya memegang kalung di lehernya): Ini kalungmu Amba? Mengapa ada di wuwungan keratonku?
Sukma Dewi Amba menceritakan kisahnya, dari saat dikalahkannya tunangannya Prabu Citramuka dari Swantipura oleh Bhisma, sampai dia dan adik-adiknya diboyong ke Hastinapura oleh Bhisma, hingga kematiannya yang tragis oleh Bhisma.
Amba: Sukmaku mengembara mencari orang yang bisa memberikan keadilan atas nasibku di tangan Bhisma, tetapi tidak ada satupun raja atau ksatria yang bersedia berhadapan dengan Bhisma, hingga aku bertemu Hyang Sangkamuka, putra Dewa Sangkara, aku mendapatkan kalung Sangkara itu darinya...melalui perantaraan kalung itu, sukmaku akan menitis pada orang yang bersedia mengenakannya...hingga kelak, dendamku akan terlampiaskan dengan perantaraan pemakai kalung itu, saat perang besar di Padang Kurusetra...
Srikandi: Aah Amba, malang benar nasibmu...engkau mengalami ketidakadilan lelaku... sama sepertiku...ya, aku akan tetap mengenakan kalung ini, aku mau menjadi lantaran agar engkau mendapatkan keadilanmu Amba...
Amba: Terima kasih Srikandi...sungguh engkau wanita pemberani, bahkan ayahmupun segan berhadapan dengan Bhisma...mengapa engkau malah berani menawarkan diri kepadaku nini...
Srikandi: Amba..mendengar ceritamu, aku merasakan nasib tak berpihak kepadamu, sama sepertiku...Orang memandang Bhisma ksatria utama yang teguh memegang sumpahnya... untuk siapa? Keagungan siapa? Benarkah itu pengorbanan untuk ibu tirinya? Mulya untuk Bhisma dan keluarga besarnya, tetapi sengsara dan tidak adil untukmu Amba... karena itu, biarlah aku abdikan diriku di tengah pusaran nasib ini...kalau Hyang Widi Wasa meridhoi, semoga jalan terbaiklah yang akan kita hadapi...
Sukma Dewi Amba tersenyum, sungguh terkandung kebijaksanaan yang dalam pada pendapat Srikandi...Dewi Ambapun menitis pada diri Srikandi.
Di saat Srikandi hendak melangkah melanjutkan pengembaraannya.... datanglah Bathara Narada mencegat Srikandi...
Narada: Uuuooyy..perkencong-perkencong waru doyong...bareng gede kok katon moblong-moblong...ngger titah ulun Srikandi, sareh disik ngger...
Srikandi: Pukulun...tumben paduka datang dan menghalangi langkah hamba, ada apa pukulun...
Narada: Ooeeyy..titah ulun Srikandi, kahyangan geger karena perawan sunthi sepertimu oncat...minggat dari praja...Adi Guru Hyang Jagatnata menyuruhku memberikan petunjuk padamu...agar kepergianmu dari Pancalaradya ini, bisa memiliki arti...bukan hanya untuk masa depanmu tetapi juga untuk orang-orang di sekitarmu...
Srikandi: Wah, terima kasih pukulun...kalau demikian, apa petunjuk dewata yang bisa aku jalankan pukulun...
Narada: Engkau harus menyamar sebagai ksatria muda, agar aman di perjalanan...wajahmu cantik, tubuhmu indah...kalau engkau mengembara seperti ini, tentu akan banyak godaan di tengah jalan...Ooeeyy...Srikandi gunakan nama Bambang Kandihawa sebagai nama samaranmu...
Srikandi: Menyamar sebagai laki-laki dengan nama Bambang Kandihawa? Wah sepertinya asyik...apa hanya itu saja pukulun...
Narada: Ooeyy..hehehehe...tentu saja tidak cah ayu...kalau sudah menjadi Bambang Kandihawa, pergilah ke negeri Manimantaka, ikuti sayembara memperebutkan Dewi Durniti putri Prabu Dike...ketahuilah ngger...walaupun prabu Dike itu Raksasa...tetapi putrinya cantik jelita karena ibunya bidadari...
Srikandi: Lho..lho...nanti dulu Pukulun...aku ini wanita...masa disuruh menyamar jadi lelaki, trus memperebutkan putri? Kalau aku menang, trus putri itu jadi istriku? Bagaimana ini?
Narada: Hahaha...di situlah nanti lakonmu bergulir Srikandi...ikuti saja, waspada dan hati-hatilah ngger......wis ya..ulun pamit makayangan...
Bathara Narada menghilang dari pandangan...tinggallah Srikandi termangu membayangkan apa yang akan dihadapinya nanti.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


