Selasa, 1 September 2026
Sastra & Humor
Puisi

Akar Hujan 1

Sabtu, 14 Mei 2016

Akar hujan menjalar, mencapai alas jantungku, menyerap hawa
panas dalam tubuhku. Aku menggigil dalam kelam, merindu
hangat cintamu, ibu. O, muara segala kasih sayang. Tapi, ibu,
bagaimana mungkin wajahmu bisa aku lukis dalam ingatanku?
Bila dirimu serupa jejak hujan yang diserap tanah merah,
atau sirna dibakar terik matahari? Semasih bayi, aku ditemukan
orang dalam bak sampah. Kata orang aku hampir mati disantap
seekor anjing liar, di bulan Mei yang kelam. Ibu, aku serupa
Dayang Sumbi dalam cerita lama. Tidak, Aku mirip sebutir batu
dilempar orang ke dasar sumur tua. O maut yang bengis, serupa
apa gelombang cinta ibuku kepadaku? Dalam kelam selalu aku
berteman hujan. Gelegar badai hitam sungguh kekal dalam
ingatanku.

2011

Soni Farid Maulana - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya